
"Gitaaaaa!"
Karin berteriak, memanggil nama sahabatnya yang berada di depan, lumayan jauh dari jaraknya namun dapat dijangkau dengan berlari.
"Pelan-pelan!"
Balas Gita, setelah menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya begitu heboh.
"Aaaww panas panass!"
Karin menyerahkan nampan yang berisikan 2 mangkuk bakso itu kepada Gita, dengan segera, Gita langsung menerima.
"Kan pake nampan! kok panas?"
Protes Gita, kembali berjalan mengikuti Karin yang lebih dulu berlalu.
"Karin tungguin dong!"
Sembari menaiki anak tangga, Gita tampak kesusahan mengejar Karin yang berjalan terburu-buru, karena 2 mangkuk berisi bakso ada di genggamanya.
*Brakkk!
Seisi kelas terkejut, mereka serempak langsung menoleh ke arah Karin, yang tiba-tiba saja mendorong paksa pintu yang tertutup rapat sebelumnya.
Karin menatap bangku yang di hafalkanya, sebagai bangku Freya. Dengan segera, Karin langsung menghampiri 2 anak cewek yang asing, duduk di bangku tersebut.
"Ini bukanya bangku Freya?"
Kedua anak cewek itu menggeleng heran, nada Karin meninggi, bawaan sejak lahir.
"Karin! lo apa-apaan sih?!"
Karin menoleh dan langsung menghampiri Gita yang berhasil menyusulnya, kini berada di depan pintu kelas Freya.
"Freya kemana ya?"
Gita langsung memasang raut wajah heran, matanya memperhatikan seisi kelas, namun tidak mendapati Freya. Gita langsung mundur 3 langkah, mendongakkan kepala keatas, membaca papan kelas yang tertera.
"11 ipa 3? KARINNNN!"
Gita langsung melotot tajam, pantas saja tidak ada Freya, ini bukan kelas Freya.
Karin tersenyum lebar, setelah memukul kepalanya sendiri.
"Oke-oke! ke sebelah!"
Pungkas Karin bersemangat, kembali mendahului Gita.
Gita yang merasa tak enak pun langsung menundukkan kepalanya kepada seisi kelas, meminta maaf karena kecerobohan sahabatnya itu.
..
"Frey!"
Sapa karin, mengejutkan Freya yang masih tertidur dengan tangan dilipat untuk alas kepalanya.
Freya pun langsung mengangkat kepalanya, mencoba untuk memfokuskan pandanganya yang masih tampak samar-samar.
"Ih.. jangan kaya gitu Kar!"
Celetuk Gita, sembari meletakkan nampan bakso dan langsung duduk bersebelahan dengan Karin, menghadap Freya.
"Masih ngantuk ya?"
Tanya Karin, seraya mengusap pipi Freya singkat.
Freya pun mengangguk, setelah mengucek matanya. Kemudian menggeleng, membuat Karin dan Gita saling melemparkan tatapan.
"Ahh, yaudah, nih denger ya, denger baik-baik!"
Karin langsung mengeluarkan lipatan kertas dari saku seragamnya, kemudian menyodorkan kertas tersebut kearah Freya.
Gita pun ikut penasaran, sembari menyuapkan bakso ke mulutnya.
"Iiih Gitaa! itu punya Umi, lo kan nggak pesen!"
Bentak Karin, setelah mendapati Gita yang memakan bakso bawaanya tanpa izin.
"Iya nanti gue ganti.."
Jawab Gita, tampak begitu santai, meneruskan menyantap bakso.
Freya yang masih tidak paham dengan kertas yang diberikan Karin, langsung membuka lipatan kertas tersebut.
***Salam kenal, cewek cantik!
Lo tau, diantara sekian banyak penghuni cewek di sekolah ini, cuma lo yang menarik perhatian Gue, Langit Sebastian.
Boleh kenalan? nanti jam 3 sore, ada cowok utusan yang bakal ngambil surat ini lagi.
Artinya, lo bales ya...
Hitung sampai 5, 1... 2 ... 3 ...
Waktu habis! Gue nggak bisa berpaling dari lo, pakai guna-guna ya***?
__ADS_1
Deg! Freya melotot tajam kearah sahabatnya, Karin terutama.
"KENAPA?!"
Tanya Karin gelisah, hendak meraih kertas di genggaman Freya itu. Namun, Freya lebih dulu menyembunyikanya dibalik tubuhnya. Karin pun mengerutkan keningnya heran.
"Nggak papa, aku ke toilet sebentar ya, mau cuci muka.."
Pinta Freya terpaku, setelah membaca isi surat tersebut.
"..."
Karin dan Gita menatap heran kepergian Freya, merekapun saling bertatapan.
"Emangnya itu apa Kar?"
Tanya Gita penasaran, menghentikan makanya.
Karin tampak antusias, tubuhnya menghadap ke samping, ke arah Gita, lalu menatap lekat-lekat.
"Kakak kelas! ngirim surat ke Freya..."
Ucap Karin, nadanya melengking, lalu menutup mulutnya sendiri dengan tanganya.
Respon Gita tampak biasa, ia melanjutkan kembali untuk menyantap bakso di hadapanya. Karin pun heran, kenapa sahabatnya ini tampak santai, tidak seperti reaksinya.
"Freya kan udah biasa dapet surat dari cowok, mau kakak kelas, adek kelas, bebas!"
Karin memicingkan matanya, setelah ucapan Gita barusan. Tanganya pun meraih mangkuk bakso yang masih utuh, lalu menyantapnya setelah melihat jam tanganya, hampir bel masuk.
"Bukan.. ini kakak kelas WSB, tau kan?"
Ucap Karin, sembari makan.
Gita nampak terkejut, tanganya langsung membanting sendok di genggamanya.
"William Sunda Bu?! SUMPAH LO?!"
Karin mengangguk singkat, tidak menoleh kearah Gita yang baru saja terkejut, melakukan reaksi yang sama dengan dirinya sebelumnya.
Tiba-tiba seseorang datang, berdiri di hadapan mereka yang duduk terbalik, lalu orang itu duduk di bangku yang se meja dengan Karin dan Gita.
Karin dan Gita pun mengangkat kepalanya, masih dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Eh?! GANTENG!"
Ucap Gita dengan asal, ia langsung menyeka kuah bakso yang belepotan di mulutnya, lalu menatap sosok Samuel Gefaran, teman sebangku Freya.
Karin pun terpaku, menatap sosok cowok di depanya, tanganya langsung memukul bahu Gita keras.
"Aduuh!"
"Kalau udah selesai, bisa keluar? saya mau belajar."
Pungkas Samuel dingin, sembari mengeluarkan buku dari kolong meja.
Karin menggeleng, senyumnya lebar, menatap Samuel yang tak antusias menatapnya itu.
"Nggak! kita nunggu Freya.. nama kamu siapa?"
Karin langsung mengulurkan tanganya ke arah Samuel, berharap akan di salami.
"Samuel"
*Tteng! tengg..!
Bel masuk, tanda istirahat sudah selesai. Karin dan Gita langsung membereskan bekas makanya, lalu meninggalkan kelas Freya dengan segera. Samuel pun hanya menatap kepergian mereka, tanpa sepatah kata pun padahal, Karin mencoba akrab untuk pamit keluar.
"Kalian udah mau balik ke kelas?"
Tanya Freya, menghadang Karin dan Gita, yang tak sengaja bertemu di depan kelas.
"Frey.. nanti kenalin sama Samuel ya, hihi"
Bisik Gita, mendekat di telinga Freya.
Setelah itu, Karin dan Gita langsung berlari dengan tergesa, hendak mengembalikan mangkuk ke kantin.
Freya sedikit terkejut, setelah bisikan Gita. Dengan tangan yang masih basah, Freya mengibaskan tanganya sembari masuk kedalam kelas.
"Udah selesai?"
Freya tersenyum, kearah Samuel yang sudah duduk di bangku sebelahnya.
"Tadi itu temen-temen kamu ya?"
Freya mengangguk cepat dan langsung duduk, seraya mengikat rambutnya.
Samuel memperhatikan Freya, yang tampak cantik saat sedang mengikat rambutnya seperti ini. Tanpa sadar, Samuel tersenyum. Freya pun menyadari dan langsung menoleh menatap Sam.
"Ada apa?"
Tanya Freya yang sudah selesai mengikat rambutnya. Senyumnya ramah, menghentikan senyuman tak sadar Sam.
Akhirnya, Samuel pun memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Freya.
__ADS_1
"Kamu ditanya-tanya nggak sama temenku?"
"Tanya apa?"
Tak lama, seorang guru datang memasuki kelas, memecah obrolan mereka.
"Nanti aja deh.."
Ucap Freya lagi sembari tersenyum.
**
"Lang ayo Langgg! kita nggak usah pelajaran si botak.."
Rengek Dito, membuat Langit tak fokus.
Dito pun tersenyum, saat Langit tiba-tiba beranjak dari kursinya. Kelas hampir di mulai, namun Langit dan Dito berjalan keluar, meninggalkan kelas. Sang ketua kelas pun tidak berdaya, hanya memperhatikan mereka berdua meninggalkan kelas.
"Nanti beliin gue yang manis-manis!"
Dito mengangguk semangat, mengikuti langkah Langit. Di sepanjang koridor pun, Dito mengetuk jendela kelas yang terdapat anggota WSB. Memberi sinyal untuk keluar, dan benar saja, anggota WSB lainya pun membuntut di belakang.
Langit melompat dari lantai 2, walaupun kesusahan, tapi ia ingat, kalau dulu sering melakukan hal ini. Banyaknya tiang untuk berpegangan, menjadi taktiknya untuk turun.
*Srakkk!
Suara ranting pohon yang terkena tubuh Langit, Dito menatap Langit dari atas, yang sudah berhasil turun ke bawah. Tak lama, Dito menyusul Langit, melakukan hal yang sama.
"Yang nggak mampu lompat, sana lewat tangga!"
Celetuk Langit mendangak ke atas, kemudian langsung berlalu dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celana.
..
Rangga dan Dito asyik bermain PS, jari tanganya mahir menekan stick PS tersebut. Sarang perkumpulan WSB terasa ramai, beberapa anak juga ada yang tidur di atas matras yang sudah tak terpakai.
Langit tersenyum miring, sembari menghisap rokok di sematan jarinya. Sekilas teringat di benaknya, kalau dirinya di masa SMA benar-benar nakal.
"AAAAH! ****** kau, mampuss!"
Suara bising yang dikeluarkan Dito, terbawa emosi akan permainanya. Tak lama, Brian datang bersama Bima, dengan kantung makanan di tanganya.
Anggota WSB yang berada di dalam pun, langsung bersemangat menyambut Brian dan Bima. Mereka langsung berebut mengambil makanan yang sudah di keluarkan Bima dari dalam kantung.
"Lang,"
Sapa Brian, menjabat tangan Langit dan langsung duduk di sebelahnya.
Langit pun menoleh ke arah Brian, menunggunya mengatakan sesuatu.
"Masalah undangan alsaka, kita disuruh bawa cewek."
Pungkas Brian.
Langit tampak santai, sembari menghisap rokok di tanganya lagi.
"Yaudah bawa"
Brian langsung menatap Langit dalam. Yang lain masih tampak asyik dengan kegiatanya masing-masing. Brian pun lebih mendekat, mencoba untuk memastikan ucapan Langit barusan.
"Kita kan tau, anak WSB mana ada yang pacaran, cuma beberapa."
Langit menoleh, sembari mematikan puntung rokoknya kedalam asbak.
"Siapa aja, bawa."
Brian tertawa kecil, meremehkan ucapan Langit. Langitpun langsung berdiri, lalu keluar dari ruangan tersebut.
"Ash.. Bim, ikut gue!"
Pinta Brian, langsung menarik baju Bima.
Mereka pun menyusul Langit, yang sedang duduk dibawah pohon.
"Lang ngapain? masuk sini!"
Langit menggeleng, tidak menuruti permintaan Brian. Tubuhnya bersandar di batang pohon, kemudian memejamkan matanya. Brian dan Bima menyusul, setelah celingak-celinguk memperhatikan sekitar.
"Nanti jam 3, temuin cewek namanya Freya Adara, kelas 11 ipa 4."
Pinta Langit, setelah membuka matanya, menatap Brian dan Bima.
"Freya?"
Celetuk Brian tak paham.
Lain dengan Bima, ia mengangguk mengerti, kemudian melirik jam tanganya, menunjukkan pukul 2 siang.
"Minta surat yang gue kasih, terus tanya, udah di bales apa belum"
"Kenapa sama dia?"
Tanya Brian lagi, mengerutkan keningnya, masih penasaran.
"Dia, cewek yang bakal gue ajak ke pesta alsaka."
__ADS_1
Langit tersenyum miring, Brian pun tampak terkejut.
****