SUAMI DARI MASA DEPAN

SUAMI DARI MASA DEPAN
Penasaran


__ADS_3

Hari ini Langit tidak datang terlambat. Mengingat, ia harus sedikit merubah sikapnya yang dulu, untuk memikat hati Freya, sosok Istri di masa depanya itu.


"Selamat pagi", begitulah sapa langit terhadap guru yang berjaga di pintu gerbang. Langit disambut beberapa kawanya, yang kebetulan juga berada di parkiran. Sembari memarkirkan motor miliknya dan turun, Langit memantapkan pandanganya ketika tak sengaja melihat Freya baru saja melewati gerbang.


"Yuk rapat!"


Pinta Langit dengan bersemangat, mengajak Bima dan ketiga temanya lagi.


"Rapat apanya rapat, gelo."


Sahut Bima sedikit ketus, disusul dengan langkah mereka memasuki lapangan sekolah.


Di depan Langit, tampak Freya yang berjalan sendirian, menuju kelasnya. Tak sedikit yang menyapa Freya sedari tadi, sampai membuat Langit cukup kesal.


Bima dan ketiga temanya, menuju ke segerombolan anak cowok yang diyakini WSB, berlawanan dengan langkah Langit yang hendak mengikuti Freya.


"Woy, Langit!"


Teriak Rangga dari kejauhan, yang mendapati Langit berbeda arah sendiri.


Freya pun tampak terkejut, mendengar nama Langit di ucapkan oleh seseorang. Saat itu juga, ia menoleh kebelakang, mendapati Langit, kakak kelas yang mengajaknya berkenalan kemarin. Langit pun turut berhenti, ketika Freya menoleh ke arahnya.


"Ini kakak kelas yang menghampiriku di depan kelas, dia baru saja mengikuti ku?" Pikir Freya dalam hati. Lalu segera melanjutkan langkahnya menaiki setiap anak tangga.


Langit tidak dapat mengikuti Freya menuju kelas, ia tak ingin bertemu dengan guru pelajaran. Akhirnya, Langit segera berlari, menyusul Bima dan kediaman Rangga serta beberapa anggota WSB lainya yang sedang berkumpul di bawah pohon.


Bima pun memicingkan matanya, setelah kehadiran Langit yang baru sampai, padahal mereka berjalan bersama.


"Nah, pemimpin kita tersayang udah dateng, langsung aja. Lang, rencana lu apa?"


Ucap Dito tiba-tiba, disusul dengan ekspresi anggota WSB lainya yang menanti ucapan Langit.


Langit yang belum sepenuhnya ingat itu, langsung memukul kepala Dito.


"Nantilah, baru juga semalem kita nerima undangan."


Ucap Langit dingin, sembari duduk.


"Tahan, tadi lu ngapain ke tangga? bukanya ikut kita."


Tanya Bima, seraya memutarkan telunjuknya, mengarah pion WSB yang tadi datang bersamanya.


Langit melirik sekilas, lalu kembali menghisap gulungan daun yang barusan ia linting itu. Tidak menggubris pertanyaan Bima yang di lontarkan padanya.


"Aih.. ngerti nih gue, lu tertarik kan sama Fre--"


*Trangg! trangg! trangg!!


"BUBAARRR!!"


Ucapan Dito tertahan, suara gaduh panci yang di pukul berkali-kali mengagetkan para anggota WSB. Langit dan yang lainya pun, kompak segera bangkit berdiri, mencoba fokus untuk menatap sosok yang baru saja mengagetkan mereka itu.


"Karyo! WOI CABUTT!"


Seru Rangga yang memberi peringatan untuk anggota WSB yang lain.


"Ah sial, rambut gue--"


Drap!drap drap!


Seketika lorong kelas menjadi ramai suara pijakan sang pembuat gaduh, yang berlari menghindari sosok Guru, yang bernama Karyo itu.


Merekapun terlihat gesit berpencar, masuk kelas, lewat tangga lain sampai mengumpat di dalam toilet. Seketika, Pak Karyo, sang Guru itu tidak mendapati keberadaan segerombolan murid yang diburunya. Langkahnya terhenti di depan kelas lantai 2, nafasnya pun terasa tak beraturan.


"Bocah-bocah nduablekk tenan! Mesti kelakuane biliem SB opo kui, bener tak catet wes to jenengmu kabeh."


Celetuk Pak Karyo, masih membawa panci dan spatula yang entah di dapatkanya darimana.

__ADS_1


Tak lama, Pak Karyo pun kembali menuruni tangga, dan saat itu juga, anak WSB yang belum masuk kelas, langsung keluar dari tempat persembunyianya.


"Gila.. guru jawa itu, gesit juga ya haha!"


"Sssst! brisik gob**k nanti dia balik lagi--"


Belum sempat Langit menyelesaikan ucapanya kepada Dito, seseorang yang di kira Pak Karyo muncul dari tangga, sedang menuju keatas. Langit dan teman-temanya pun kembali dibuat kocar-kacir.


Saat menyadari bahwa itu bukan Pak Karyo, melainkan petugas kebersihan, Langit menatap sengit teman-temanya.


"Siapa tadi yang lari duluan?"


Tanya Langit terhadap 9 anggota WSB tersisa yang masih bersamanya itu.


Teman-temanya itu saling menyalahkan satu sama lain, sehingga tidak ada yang mengaku. Langit pun memutarkan bola matanya malas.


"Sekarang kita masuk kelas masing-masing."


Pungkas Langit. Dibalas dengan tatapan asing teman-temanya.


"Serius lu Lang? kita nggak mau bobok aja di sarang?"


Celetuk Dimas, memastikan ucapan Langit yang asing di dengarnya.


"Serius, kalo emang lu mau tidur, yaudah gak masalah. Gue masuk kelas dulu,"


Jawab Langit dengan santai, sembari menarik baju Dito untuk ikut melangkah bersamanya.


...


Di dalam kelas XI IPA 4.


"Ibu mau, kalian aktif dalam tugas kelompok kali ini ya!"


Pungkas guru itu setelah selesai menuliskan nama-nama yang sudah di kelompokkan.


Keberuntungan tidak memihak Freya, namanya berada di kelompok yang anggotanya sama sekali tidak dikenal olehnya. Walaupun begitu, Freya tetap memberanikan diri, hendak menghampiri salah satu cewek di baris depan yang masih duduk sendiri dan di yakini juga sekelompok denganya.


Belum sempat Freya beranjak dari kursinya, ada cowok yang menghadapnya. Freya segera mendangak, menatap sosok itu.


"Kamu kelompok 2 kan?"


Ucapnya tiba-tiba. di balas dengan anggukan Freya pelan.


"Saya Samuel"


Sambungnya sembari mengulurkan tangan pada Freya yang masih tertegun menatapnya.


"Ah- iya.. aku Freya!"


Balas Freya setelah menyalami tangan Samuel, lalu tersenyum ramah.


Samuel pun memberi tahu bahwa teman-teman yang sekelompok denganya sudah duduk di meja belakang. Freya sedikit malu, karena salah mengira, kalau murid cewek dibarisan depan yang hendak dihampirinya itu, bukan bagian dari kelompok 2.


Mereka saling berkenalan ketika sudah duduk berkelompok. Guru perempuan yang mengawasi pun masih sibuk mencatat sesuatu di buku agendanya. Sosok ceria Freya keluar, dirinya menjadi sangat akrab dengan para anggota di kelompoknya itu, terutama Samuel, yang pertama kali mengajaknya berkenalan.


Setelah berdiskusi cukup lama, sampai menghabiskan pelajaran pagi ini, Freya dengan percaya diri mengumpulkan hasil kerja kelompoknya kepada guru tersebut. Rasa puas ada di dalam kelompok Freya, mereka merasa telah melakukan pekerjaan dengan baik.


Tak selang lama, bel tanda usainya mata pelajaran pertama pun berbunyi, suasana kelas sedikit ramai, suara meja di geser, kursi yang diangkat lalu diletakkan kembali di mejanya masing-masing. Freya juga turut beranjak, hendak kembali ke bangkunya.


Guru Bahasa Indonesia, bernama Pak Arif, memasuki kelas XI IPA 4 ini. Singkat cerita, karena Pak Arif cukup muda dan sudah pernah mengajar Freya di kelas 10, Freya pun biasa memanggil akrab dengan sebutan Mas Arif. Tidak hanya Freya, mungkin banyak yang sudah memanggilnya seperti itu.


"Pagi... ini pertemuan pertama saya ya? di tahun ajaran baru ini."


Ucap Pak Arif memecah keramaian kelas.


"Mas! wali kelas kita ya?!"

__ADS_1


Seru salah satu murid cewek.


"Ehm.. Iya."


Jawab Pak Arif dengan tersenyum, sembari meletakkan tumpukan buku tebal di atas meja guru.


YEESS! WUHUUUUU!


Langsung kelas menjadi ramai, karena sorakan murid-murid yang tampak senang. Pak Arif pun langsung meminta seisi kelas untuk tidak ramai, karena akan menganggu kelas sebelah.


"Karena saya wali kelasnya, saya rubah tempat duduk ya??"


Pintanya bersemangat, berdiri memandang ke arah murid-muridnya.


Beberapa anak sempat menolak, namun lebih banyak yang menurutinya. Freya pun ikut berdiri sembari membawa tas ranselnya, lalu maju ke depan. Sekarang, semua murid di kelas sudah berdiri di depan, menyisakan bangku dan meja kosong. Tak menunggu lama, Pak Arif langsung mengatur anak-anak yang ditunjuknya, untuk mengisi bangku-bangku tersebut. Hingga tiba saat nama Freya dipanggil, disandingkan dengan Samuel di barisan tengah ke dua dari belakang.


Freya sempat terkejut, karena mendapat teman sebangku seorang laki-laki. Sebelumnya ia duduk dengan murid cewek, yang kebetulan hari ini sedang sakit, jadi Freya tak sempat berkenalan lebih. Samuel tersenyum setelah Freya duduk di sebelahnya.


"Untung saja aku udah kenalan duluan sama Samuel, bagus deh.." Pikir Freya dalam hati, sembari melepaskan tas ranselnya.


...


"Hoi! cewek rambut panjang seragam ketat!"


Teriak Langit dengan tegas, matanya tertuju ke cewek yang sedang mengantri bakso.


Karena Langit tidak mendapat respon dari cewek tersebut, akhirnya Langit memutuskan bangkit dari bangku kantin, langsung berjalan menghampiri cewek tersebut.


"Nah kumat lagi penyakitnya.."


Celetuk Brian, sembari menyuapkan nasi ke mulutnya.


Anggota WSB yang lain pun sempat menoleh sebentar, penasaran dengan siapa yang Langit maksud.


*Grep


Cewek tersebut menoleh kebelakang, setelah pundaknya ditarik Langit.


"Apaan-- maaf kak!"


Ucap Karin, setelah menyadari strip merah 3 yang berada di saku seragam Langit.


Karin merasa tidak enak, karena nadanya yang sedikit membentak tadi. Jujur saja, ia terkejut karena seseorang menarik pundaknya, disaat dirinya sedang fokus mengantri bakso.


"Lo temenya Freya kan?"


Pungkas Langit setelah itu.


Karin mengerutkan keningnya, bertanya-tanya bagaimana bisa Kakak kelasnya ini bisa tahu soal Freya, sahabat dekatnya itu.


"I-iiya.."


Jawab Karin seadanya, sedikit ragu.


"Nih kasihin ke Freya, suruh baca bener-bener."


Ucap Langit, sembari menyerahkan lipatan kertas dari saku celananya kepada Karin.


Karin pun langsung menerima lipatan kertas dari Langit. Namun, saat hendak menanyakan maksud dari surat ini, Langit sudah berbalik meninggalkanya, kembali duduk di dalam kumpulan WSB.


"Non.. ini baksonya, sambel ambil sendiri ya"


Karin langsung memasukkan surat tersebut kedalam saku bajunya, kemudian mengeluarkan uang untuk membayar.


Saat melewati kumpulan kakak kelasnya itu, Karin sempat melirik kearah Langit, namun Langit tidak membalas tatapanya, padahal dengan jelas ia sempat menyadari Karin yang baru saja lewat dengan membawa 2 mangkok bakso di atas nampan.


****

__ADS_1


__ADS_2