
"Apa kau mengiyakan ajakannya? kau sudah tahu kan dia seorang penipu," kata pak herman dengan nada kesal.
"Belum sama sekali. Aku menyuruhnya besok akan datang menemui di kantorku untuk membahasnya."
"apa perlu kita telepon polisi? selama ini dia belum tertangkap semenjak kejadian itu. Ini kesempatan kita untuk menangkapnya," ucap pak Herman dengan antusias memberikan solusi.
"hmm... kita tidak bisa menangkapnya sembarangan. Kita memerlukan bukti yang kuat agar dia bisa di tangkap polisi. Jika tidak, usaha kita akan jadi sia-sia," ucap pak Bagas tangan kanannya sambil memegang dagunya.
Memang kalau di dunia hukum, semua harus memerlukan bukti-bukti kuat berupa alat, barang bukti dan juga saksi. Jika sudah dapat semuanya, maka orang yang dituduhkan bisa di jadikan tersangka. Dan akan di lakukan penyelidikan lebih lanjut oleh polisi.
Apalagi masalah yang terjadi pada pak Herman sudah 15 tahun yang lalu. Bisa jadi bukti-bukti itu sudah hilang, maka orang yang dituduhkan tidak bisa di tangkap.
"Kau benar, padahal dia sudah ada di depan mata. Tapi kita tak bisa berbuat apa-apa," pak Herman dengan lesu.
"kau tenang saja, aku yang akan memikirkan caranya supaya dia bisa masuk penjara. oh ya, ini sudah larut malam. Kamu dan istrimu menginap lah di sini pasti kalian juga sudah lelah mengurus acara tadi."
"aku banyak berterimakasih kepadamu. Selama ini kau sudah banyak menolongku. Bahkan, aku pun tidak menyangka kau akan meminang anakku untuk di jadikan menantu di keluargamu. Aku berutang budi padamu."
"tidak perlu ada berutang budi antara satu sama lain. Justru kau sudah ku anggap keluargaku sendiri," pak Bagas tersenyum sambil menepuk pundak pak Herman.
Setelah percakapannya selesai, mereka pun keluar dari ruang kerja pak Bagas.
Sebelumnya mereka tidak tahu, Adam diam-diam mendengarkan semua percakapan mereka di balik pintu luar hingga selesai. Sebelum mereka keluar dari ruang kerja, Adam sudah beranjak pergi ke kamar sebelum ketahuan.
Awalnya Adam sudah ke kamar bersama Dinda. Tapi Adam merasa canggung, ia pun keluar meninggalkan Dinda sendirian di kamarnya. Saat Adam menuruni dari tangga lantai dua, ia melihat ayahnya dan bapak mertuanya berjalan menuju ruang kerja. Ia pun mengikuti tanpa di ketahui oleh mereka.
Ruang kerja pak Bagas berdekatan dengan dapur. Jadi jika Adam ketahuan, ia akan beralasan dari dapur mencari minuman karena kehausan.
.....
Ketika Adam sudah tiba di kamarnya. Dinda masih duduk di pinggir ranjang menunggu Adam. Adam pun duduk di sampingnya, ia mengerti maksud Dinda karena ini adalah malam pertama mereka tidur berdua.
"habis darimana mas?" tanya Dinda dengan nada pelan.
"eh.. aku keluar sebentar, aku kehausan mencari minuman ke dapur tadi. Kau nggak tidur? Ini sudah larut malam lho!" Adam ingin memegang tangan Dinda tapi ia tahan sebelum dapat izin dari pemiliknya.
"aku sedang menunggu kamu, mas," kata Dinda sambil kepalanya menunduk tidak berani menatap Adam.
__ADS_1
Baru pertama kali mendengar kata 'mas' dari Dinda membuat jantung Adam jadi berdegup kencang.
"e hmm.. Menunggu aku untuk apa?" tanya Adam pura-pura tidak mengerti. Ia ingin mendengar penjelasan dari Dinda.
Dinda menggigit bibirnya, ia malu mau menjelaskan bagaimana kepada Adam.
Beberapa menit kemudian, Dinda pun memberanikan diri menjelaskannya dengan pelan, "untuk melakukan 'itu' yang biasa pasutri lakukan di malam pertama."
Rona merah timbul di wajah Adam. ia pun bertanya, "Apa kau sudah siap untuk melakukannya?"
Dinda terdiam beberapa saat.
"baiklah, kalau kamu belum siap. Tidak apa-apa, aku nggak mau memaksa kamu untuk melakukannya. Kalau begitu, kita tidur saja karena aku sudah begitu lelah," Adam bangkit berjalan menuju ranjang tidurnya.
"Maaf, aku sudah membuatmu kecewa mas."
"tidak perlu minta maaf, itu bukan salahmu. Kita jalanin saja hubungan ini karena kita baru saja saling kenal," Adam tersenyum.
Karena sudah larut malam, dan lelah setelah acara akad tadi. Akhirnya mereka pun tidur seperti biasa dan tidak melakukan apa-apa.
.....
Dinda yang baru saja dari dapur membantu menyiapkan sarapan. Ia melangkah berjalan ke kamar Adam, ia mau mengajak suaminya untuk sarapan bersama di ruang makan.
Saat Dinda sudah masuk ke kamar, ia terkejut melihat pemandangan yang tak lazim di depannya. Dinda pun berteriak kencang yang membuat semua penghuni rumah heboh.
"Aaa ..." teriak Dinda sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Adam terkejut melihat Dinda sudah berada di kamar. Adam baru saja selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi. Bertelanjang dada dan hanya memakai handuk saja. Adam berjalan ke arah Dinda, mencoba menenangkan Dinda supaya orang tuanya tidak datang ke kamarnya.
"Sst .. Diam lah, tolong jangan berteriak. Nanti orang tua kita datang ke sini. Mereka mengira kita sedang melakukan yang aneh-aneh," kata Adam.
Dinda pun langsung patuh kata Adam dan ia pun terdiam. Ia lepas kedua tangannya dari wajahnya tapi pemandangan itu masih ada bahkan terlihat jelas. Dinda memalingkan wajahnya.
Adam melihat wajah Dinda terlihat memerah seperti tomat. Adam tersenyum miring, ia pun ingin mengerjai dinda.
"kenapa wajahmu memerah begitu?" tanya Adam sambil menatap wajah Dinda.
__ADS_1
"mas, tolong pakai bajunya," Dinda masih tidak berani menatap Adam yang masih pakai handuk.
"kenapa memangnya? Toh, nanti kau juga terbiasa melihatnya. Coba lihat aku," Adam menggoda Dinda.
"mas, aku siapkan bajunya ya. Semua orang sudah menunggu kita di ruang makan," Dinda melangkah berjalan menuju lemari, ia mengambilkan baju dan celana Adam.
Adam menghela napas, "baiklah."
"mas, aku sudah siapkan bajunya di atas ranjang. Aku keluar dulu ya," kata Dinda kakinya melangkah keluar kamar.
Adam terkekeh mengingat tingkah Dinda tadi. Ia pun segera memakai pakaian kaos berlengan pendek dan celana pendek yang panjangnya selutut.
....
Akhirnya Adam datang, ia pun duduk bersebelahan dengan Dinda. Semua orang di ruang makan hanya tersenyum saja. Melihat tingkah kedua pengantin baru itu. Mereka pun mulai makan bersama.
"Adam, tadi ibu dengar ada yang teriak-teriak di kamarmu. Memangnya ada apa?" tanya Melinda.
Dengan santai Adam menjawab, "ah, tadi Dinda melihat Adam lagi..." belum selesai bicara tiba-tiba Dinda menginjak kaki Adam, "...Ahh, sakit."
"eh, kenapa nak?" Melinda kaget.
"nggak apa-apa kok, Bu" Adam tersenyum.
Ketika Dinda hendak minum air putih.
Tiba-tiba Melinda berkata, "Gimana malam pertamanya?"
Dinda mendengar mertuanya bicara seperti itu, tiba-tiba tersedak minuman. Membuat Adam dan orang di ruang makan panik.
"Kamu nggak papa kan, nak? Pelan-pelan minumnya. Nggak di jawab juga nggak papa kok," Melinda tersenyum.
Dinda menggangguk kepala.
"pertanyaan aneh ibu yang membuat Dinda tersedak," batin Adam hanya menggelengkan kepala.
...****************...
__ADS_1