SUAMI DARI MASA DEPAN

SUAMI DARI MASA DEPAN
Flashback 1


__ADS_3

Berdasar kejadian yang sebenarnya, Langit Sebastian, tahun 2004 saat hari pertama masuk kelas 12.


--------------------------------------


Langit saat itu masuk terlambat, ia datang saat sekolah hampir usai. Tepat pukul 14.30 siang, Langit memarkirkan motornya dihalaman sekolah. Disambut sapaan Bima dari atas koridor kelas lantai 2.


Senyum menyeringai menghiasi bibir langit, saat menatap Bima kawanya itu. Dengan langkah yang gagah penuh percaya diri, Guru laki-laki bertubuh besar bernama Iwan itu segera lari menghampirinya seraya menyodorkan tongkat berbahan rotan.


Begitu juga Bima, menepuk pundak Dito bermaksud untuk membantu kawanya, Langit Sebastian.


"Aih.. gob**k ngapain dateng kalau kitanya mau balik!"


Ucap Dito kesal, langsung berlari menuruni tangga mengikuti Bima.


Tidak nampak wajah bersalah dari Langit, ia justru sengaja berlari pelan untuk menggoda guru yang mengejarnya itu.


"Jangan lari-lari atuh pak, nanti asmanya kumat! HAHAHA~"


Celetuk Langit asal sampai tertawa terpingkal-pingkal.


Pak Iwan masih terus berlari mengejarnya, ia nampak memegangi dadanya yang mulai terasa sakit dan sesak. Laju larinya melemah saat ditengah lapangan. Pak Iwan menghentikan langkahnya. Ia memegangi lututnya dengan nafas yang terengah.


"Kurangajar, anak gemblung!"


Teriak Pak Iwan dari lapangan, terik siang membuatnya semakin berkeringat.


Tawa Langit semakin menjadi-jadi, saat kedua kawanya datang menghampiri.


*Buugh!


Langit memegangi kepalanya yang baru saja terkena pukulan dari Bima. Matanya menjadi membulat tajam menatap Bima, sembari meraih kerah seragamnya.


"Si mon**t malah gebuk!"


Tegas Langit, disambut dengan jambakan dirambutnya dari arah belakang.


Langit melepaskan cengkramanya dari kerah baju Bima. Rambut kepalanya yang ditarik kebelakang, membuatnya berbalik badan menunduk kesakitan.


"Aa-aaduhh! aduh sakit wan!"


Erang Langit setelah menatap sepatu coklat tua yang dikenakan oleh Pak Iwan, guru yang semula mengejarnya tadi.


"Apa kamu bilang?!"


Bentak Pak Iwan gaduh. Disusul dengan Bima dan Dito yang mulai menciut polos, lalu bergegas lari meninggalkan Langit yang sudah tertangkap basah.


"Engga pak-- woi! Bim!! BIMAAA!"


Teriak Langit memanggil kawanya itu yang sudah berlari menjauh darinya.


Tangan Pak Iwan berpindah menjewer telinga kiri Langit. Langit kembali mengerang kesakitan, tanganya menahan-nahan tangan Pak Iwan agar tidak menjewernya lebih kuat.


"Aah!aaaduhhh! pakk nanti telinga saya lepas!"


Teriak Langit lagi, mendongakkan kepalanya menatap Pak Iwan dengan melas.


"Haaalah! kamu itu bisanya kurangajar sama guru! Ayo ikut bapak, nanti tak suruh nguli!"


Tegas Pak Iwan, sembari menghantamkan rotan ditanganya kearah pantat Langit.


Dengan kalah kedudukan, Langit menuruti langkah Pak Iwan yang masih menjewer telinganya itu.


Sial, awas aja nih Bima sama Dito. Berani lu pada ninggalin gue? liat nanti.


Ucap Langit dalam hati, masih mengerang kesakitan karena telinganya terasa panas dan hampir lepas dari kepala.


"Kamu ini benar-benar ya! berisik sekali padahal suka buat gaduh!"


Pungkas Pak Iwan melepaskan jeweranya di telinga Langit, seusai sampai di depan ruang guru.


"Ya karena saya Gaduh jadi suka berisik. Aa-aduhh telinga saya beneran hampir lepas pak!"


Ucap Langit membantah perkataan Pak Iwan, sembari tanganya memegangi telinga kirinya itu.


"Sembrono! bangga kamu malahan??! ya Alhamdulillah kalau lepas..!"


Ucap Pak Iwan, kini nadanya mulai kesal.


Langit mengusap-ngusap telinga kirinya dengan cepat, bulu kuduknya berdiri, merinding sekilas.


"Enak aja, nanti kepala saya nggak utuh dong pak, nanti nggak keliatan sangar lagi.."


Jawab Langit lagi, mukanya tak kalah masam.

__ADS_1


"Ooo la bocah gemblung!"


Balas Pak Iwan semakin kesal, tanganya hendak memukul kepala Langit, namun tertahan. Guru perempuan bernama Siska keluar dari dalam ruang guru.


Langit mengelus dadanya, pertanda kepalanya selamat dari hantaman maut tangan Pak Iwan.


"Ada apa to pak?"


Tanya Bu Siska kepada Pak Iwan yang melenggangkan tanganya di pinggang, menatap Langit kesal.


"Itu buk, kepala saya mau dipuk--"


Celetuk Langit tiba-tiba namun tidak tuntas.


"Ngawur! kamu kalau ngadu yang jujur dong!"


Pungkas Pak Iwan dengan tegas.


Bu Siska alih-alih kasihan menatap Langit, menjadi tertawa. Kemudian berlalu meninggalkan Pak Iwan dan Langit yang masih berdebat.


"Pak, saya mau bantu Bu Siska. Bukunya banyak."


Celetuk Langit mencari celah untuk kabur seusai Bu Siska berlalu.


"Heh! sini! siiini kamu!"


Pungkas Pak Iwan menarik Langit dari belakang, menghentikan langkah Langit yang hampir lari.


Belum sempurna Langit berbalik,


*Tinggg ...! tringg.. tingg..!


Lonceng sekolah dibunyikan dari dekat bendera, tanda jam pulang sekolah.


Wajah Langit menjadi senang dan bebas, senyum di bibirnya begitu lebar. Pak Iwan mendecak malas menatap murid nakal seperti Langit.


Tak lama murid-murid mulai memenuhi koridor kelas, mereka berhamburan keluar kelas dengan tas dipunggungnya masing-masing.


Pak Iwan segera melepaskan tanganya dari seragam yang dikenakan Langit. Tak enak hati karena murid-murid menatap mereka heran, ada juga yang menyapa Pak Iwan dengan ramah.


"Pamit pak, Assalamualaikum!"


Pungkas Langit, lalu berbalik lari dari kediaman Pak Iwan semula.


"Hehhh!! Langit kelas 12 berhenti!!"


Teriak Pak Iwan sembari mengarahkan rotanya kepada Langit yang berlari membelakanginya itu.


Murid-murid yang melaluinya pun nampak heran dan bingung, membuat Pak Iwan mengatur nafasnya agar tenang lalu berjalan masuk kedalam ruang guru.


Langit yang merasa sudah tidak berada di jangkauan Pak Iwan pun memelankan laju larinya, ia kembali berjalan santai. Seragamnya yang sudah acak-acakan keluar, Langit malah menjadi pusat perhatian serta teriakan histeris dari anak-anak cewek yang dilewatinya.


"YOOOO! MY GOB**K BROTHER!"


Sorak salah satu anak dari kumpulan cowok yang sedang nongkrong di kantin terbuka.


Langit menyadari suara tersebut, dengan senyuman polos, ia menghampiri kumpulan kawanya.


"Mana Bima sama Dito!?"


Ucap Langit setelah bersalaman dengan teman-temanya itu, lalu duduk ditengah kumpulan mereka.


Tak lama, dari dalam kantin muncul sosok yang dicari Langit, Bima dan Dito.


"Nahh ini! si bang**t baru keluar, tepuk tangan!"


Celetuk Langit dengan tegas, ia menyeringai sembari memulai tepukan, disusul dengan suara tepuk tangan yang gaduh dari teman-temanya.


Bima dan Dito menghampiri kumpulan Langit dengan cengengesan. Namun pandangan Langit teralihkan kearah 2 anak cewek yang melewati kumpulanya dengan asyik mengobrol, tanganya membawa mangkuk bakso.


*Phiiwwwit!


Cuitan dari Rangga membuat Langit menoleh, mendapati Rangga yang ternyata juga menatap kearah kedua cewek tersebut.


Bima dan Dito yang sudah duduk sempurna pun ikut memandangi sosok 2 orang wanita yang melewati kumpulanya.


*BRAKK!


Suara hantaman meja datang dari Langit, membuyarkan pandangan kawan-kawanya hingga kembali fokus menatap Langit. kedua anak cewek tersebut sudah berlalu, meninggalkan kumpulan Langit yang gaduh.


"Naon sih Lang??!"


Ucap Rangga yang menjadi kesal.

__ADS_1


"Siapa mereka?"


Tanya Langit, sembari mengeluarkan bungkusan rokok dari saku bajunya.


Tatapan teman-teman disekeliling Langit menjadi bulat menatap tajam, sebagian celingak-celinguk memperhatikan sekitar.


Tiba-tiba datang anak cowok dari arah belakang, menyaut rokok yang sudah disematkan di mulut Langit.


"Apasih Breng**k!"


Langit menoleh kearah orang yang baru saja merebut rokok miliknya itu, namun ia sedikit terkejut.


"Sam? bentar, apa-apaan lu?!"


Pungkas Langit, meraih kembali rokok digenggaman Samuel, adiknya itu.


Langit mendapati batang rokok ditanganya yang sudah patah, tembakaunya keluar. Langit beranjak dari kursinya setelah membuang rokok tersebut sembarangan. Tanganya diletakkan kedalam saku celana, menatap rendah sosok adiknya itu.


Bima tidak tinggal diam, ia hendak menghentikan Langit yang mulai terbawa emosi.


Tidak tampak sedikitpun gerak-gerik takut dari Samuel, ia menatap Langit dengan berani.


"Kenap Sam? hah, kenapa?!"


Tanya Langit dengan nada yang menyombong, pandanganya menusuk ke mata Samuel lekat.


"Pulang."


Jawab Samuel singkat, membuat Bima tak jadi berkutik. Tanganya yang hendak mengajak Samuel untuk pergi, tertahan.


"Lu kira gue anak kecil, nggak ah lu aja sana yang pulang, hehe~"


Balas Langit dengan nadanya yang menyebalkan.


Samuel tidak melanjutkan lagi perdebatanya, ia memungut rokok yang dilemparkan Langit tadi lalu berbalik meninggalkan keberadaan Langit.


Langit menyunggingkan bibirnya, menatap kepergian adiknya yang konyol barusan, lalu mendapati Samuel yang membuang rokok ditempat sampah.


"Lang, lu jangan keras-keras ke adek lu.."


Pungkas Rangga sembari menarik tangan Langit, mengajaknya untuk kembali duduk.


Langit menuruti dan segera duduk, begitu juga Bima yang kembali duduk ditempatnya.


"Gimana kalau si Samuel kita rekrut kesini?"


Celetuk Brian dengan cengengesan.


Langit menatap tajam sosok Brian dihadapanya, menandakan bahwa Langit sama sekali tidak setuju dengan ucapan bodoh Brian barusan.


"Hehe anj**g serius amat, yaudah enggak."


Celetuk Brian lagi setelah keheningan.


"Lang, lu mau tau siapa 2 cewek tadi?"


Ucap Rangga tiba-tiba.


Langit menatap Rangga, tanganya meraih makanan ringan dihadapanya,


"Terusin."


Jawab Langit singkat.


"Freya sama Karin, primadona kelas 10 tahun lalu.. hehe"


Pungkas Rangga penuh percaya diri.


"Terus?"


Respon Langit dingin, disambut tatapan serius tidak percaya dari teman-teman yang mengelilinginya.


"Ini anak dasarnya gob**k mana paham urusan cewek, udah langsung cabut aja kita~"


Celetuk Dito tiba-tiba, sembari memulai lebih dulu untuk beranjak meninggalkan Langit.


Begitu juga yang lain, mengikuti Dito untuk beranjak dari kursi. Langit memicingkan matanya menatap kawan-kawanya yang turut mengikuti Dito. Dengan segera, Langit menyusul kawan-kawanya, berada dibaris depan.


Anak-anak yang semula di depan pun menyingkir, mempersilahlan kumpulan Langit yang hendak berjalan. Mereka yang nampak lemah dimata Langit, malah menjadi histeris saat dilewati.


"Berisik woy! be ri sik!"


Celetuk Brian mengeja kata-katanya, diarahkan kepada anak cewek yang tampak mengagumi dirinya dan teman-temanya itu.

__ADS_1


__ADS_2