
Akhirnya hari pernikahan mereka tiba. Pagi hari, saat di kosan Dinda, ibunya dan Dinda sedang mengemasi barang dan pakaian dimasukkan ke dalam koper. Sedangkan ayahnya ingin memberitahukan kepada pemilik kosan tentang kepindahan Dinda dengan alasan akan mencari kosan di tempat lain.
"Apa semuanya sudah selesai?" pak Herman masuk ke dalam kosan.
"iya pak," kata Dinda.
"tidak ada yang tertinggal kan?" pak Herman memerhatikan barang bawaan Dinda.
Dinda menggangguk kepala.
Pak Herman membawa dua koper sedangkan Dinda dan ibunya membawa sebagian sisa barang di dalam kantong keresek. Mereka pun berpamitan dengan pemilik kosan sambil menunggu taksi.
Tak berapa lama kemudian taksi pun datang menjemput mereka. Pak sopir memasukkan barangnya ke bagasi. Mereka pun berangkat menuju rumah kediaman pak Bagas.
Saat di perjalanan, di dalam taksi, ibunya mencoba mengobrol dengan Dinda karena terakhir kali bertemu mereka dengan wajahnya yang terlihat sedih.
"Nak, apa kau masih marah kepada kami?" tanya ibunya kepada Dinda. Dan pak Herman diam-diam ikut mendengarkan obrolan mereka.
Dinda menggeleng kepala dengan pelan, "tidak Bu, Dinda sudah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi."
"berarti kamu mau memaafkan kami berdua?" ibunya menggenggam tangan Dinda.
Dinda menganggukkan pelan.
"terimakasih ya nak," ibu Dinda tersenyum lalu memeluk Dinda. Pak Herman ikut tersenyum juga.
Akhirnya mereka pun sampai di kediaman pak Bagas. pak herman dan sekeluarga di sambut ramah oleh pak Bagas dan istrinya. Semua barang Dinda di bawa ART pak Bagas.
Untuk sementara barang-barang Dinda diletakkan di kamar tamu lantai satu. Mereka pun mengobrol santai di ruang tamu. Melinda memulai awal pembicaraan dengan Dinda.
"Nak, apa kau gugup? Karena hari ini, hari pernikahanmu," tanya Melinda.
"I-iya Tante," Dinda menjawab dengan gugup.
__ADS_1
"kamu jangan panggil aku Tante. Mulai sekarang kamu panggil aku ibu, ya! Kan sebentar lagi kamu akan menjadi menantu ibu."
"Baik Bu," Dinda tersenyum.
"Ya udah, kamu istirahat saja dulu di kamar tamu. Ayo, ibu akan mengantarkan kamu ke kamar," Melinda beranjak berdiri mengantar Dinda ke kamar tamu.
Dinda mencari-cari sosok calon suaminya itu tapi tidak muncul sedikitpun di hadapannya. Ia sangat penasaran dengan calon suaminya itu.
Saat berjalan menuju kamar, merasa ada yang memantau dirinya. Ia mendongakkan kepalanya ke atas tertuju di lantai dua, ia melihat sesosok lelaki berbalik badan berjalan menuju kamarnya. Ia tak sempat melihat wajah lelaki itu.
Saat sampai di kamar, Melinda dan Dinda duduk di pinggir kasur. Melinda meminta Dinda untuk beristirahat dan mengatakan penata rias akan datang. Kemudian Melinda beranjak pergi meninggalkan Dinda di kamar tamu.
.......
Setelah itu, Dinda pun merebahkan tubuhnya di ranjang. Karena bosan, ia pun mengambil ponselnya di dalam tas, ia belum sempat memeriksa pesan masuk dari kemarin. Dinda belum tahu video telah beredar di kampus tentang dirinya. Karena ia sibuk dengan kedatangan orang tuanya kemarin.
Ketika ia membuka layar ponselnya, ia terkejut saat melihat video itu. Banyak yang memberikan komentar di video tersebut, komentarnya banyak yang mencela dan memaki bukan untuk Dinda tapi untuk Robin.
Dinda hendak berterimakasih dengan orang yang menyebarkan video itu. Berkat orang itu, ia akan merasa aman saat kuliah nanti. Ia juga mendapatkan kabar dari di grup chat nya. Ketika video itu tersebar, di saat itu juga Robin mendapatkan diskors selama 3 bulan.
......
Sore pun tiba, akhirnya para penata rias datang untuk merias Dinda. Dinda pun bersiap-siap untuk di rias, duduk di depan cermin dengan cahaya lampu yang sangat terang.
Sedangkan Adam hanya di berikan pakaian saja berupa peci dan jas pengantin berwarna putih. Meski begitu, saat Adam memakainya menjadi terlihat gagah dan menawan. Mereka belum bertemu sama sekali sampai acara akad di mulai.
Pukul 19.00 malam tiba, Adam, penghulu, para saksi suruhan pak Bagas dan para keluarga inti pengantin pria dan wanita sudah duduk di ruang tamu. Meski acaranya hanya terbilang sederhana saja.
Pertama kalinya Adam merasakan gugup yang luar biasa. Hari ini ia akan melakukan ijab kabul, pernikahan yang menyatukan dua insan menjadi satu keluarga. Di sahkan secara agama dan negara.
Berbeda dengan yang dulu, Adam terpaksa melakukannya karena perjodohan orang tuanya. Setelah menikah, ia tidak peduli dan mengabaikan istrinya. Mereka hanya berpura-pura mesra di depan orang tuanya.
Kini Adam duduk di depan penghulu. Adam berlatih pengucapan dengan penghulu sebelum acara di mulai.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Dinda keluar dari kamar tamu. Dinda yang sudah berdandan dan memakai pakaian kebaya pengantin berwarna putih. Serta di jilbabnya dihiasi dengan kuncup bunga melati. Ia menjadi terlihat cantik dan anggun. Ia berjalan di temani ibunya di sisinya menuju Adam yang sudah menunggunya.
Saat itu juga Adam terpesona dengan kecantikan Dinda. Matanya tak berkedip sedikitpun hingga Dinda duduk di sampingnya. Tanpa sadar ia mengatakan sesuatu kepada Dinda.
"Hari ini kamu sangat cantik," bisiknya di telinga Dinda. Membuat wajah Dinda tersipu malu.
Acara pun dimulai, semua orang terdiam mendengarkan dengan seksama dan penuh hikmat. Penghulu pun memulai pengucapan ijab qobul. Saat kata "tunai" dari penghulu, Adam pun menjawabnya dengan lancar tanpa di ulang lagi.
Penghulu menanyakan para saksi di samping para pengantin. Para saksi pun mengatakan "sah" untuk mereka. Akhirnya malam ini juga mereka pun menjadi sah suami istri. Mereka pun menandatangani surat nikah. Dan berfoto bersama berserta keluarganya.
Momen-momen yang indah ini tak kan Adam lupakan dalam hidupnya.
........
Setelah acara selesai, Adam dan Dinda menuju kamar lantai dua. Sedangkan orang tua mereka masih mengobrol di ruang tamu.
Tiba-tiba ponsel pak Bagas berdering di dalam celana. Saat ia buka ponselnya terdapat nomor panggilan tak ia kenal. Kemudian ponsel itu berdering kembali, ia beranjak pergi untuk menerima telepon itu.
Saat pak bagas mengangkat telepon itu. Ia mendengar suara yang ia kenal. Suara yang tidak lain adalah Baskoro. Baskoro meneleponnya menagih janji kepada pak Bagas untuk bekerja sama beberapa hari yang lalu. Lalu pak Bagas menjawabnya untuk bertemu di kantornya besok siang.
Setelah itu, pak Bagas menutup teleponnya. Lalu ia kembali ke ruang tamu. Ia mengajak pak Herman untuk mengobrol sesuatu di ruang kerjanya. Pak Herman mengiyakannya.
Saat sudah di dalam ruang kerja, pak Bagas ingin mengatakan sesuatu kepada pak Herman.
"Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu?" pak Bagas mulai berbicara dengan nada serius.
"Ada apa?" tanya pak Herman.
"ini tentang Baskoro, aku tahu ini bukan waktu yang pas untuk berbicara seperti itu. Karena ini momen pernikahan anak kita. Tapi, aku mau kau tahu tentang hal ini. Beberapa hari yang lalu, baskoro datang ke kantorku. Dia mengajakku untuk mengerjakan sebuah proyek besar."
Wajah kebahagiaan pak Herman kini berubah menjadi marah mendengar hal itu.
...****************...
__ADS_1