
"Apa dokumen ini akan ayah tandatangani?," tanya Adam sambil menunjuk dokumen tersebut.
"Iya, memangnya ada apa?" jawab pak Bagas sambil menatap adam.
"Lebih baik ayah jangan tandatangani dokumen itu. Jika tidak ingin terjadi sesuatu pada perusahaan ayah ke depannya," ucap Adam menyarankan kepada ayahnya.
pak Bagas heran apa maksud Adam berkata seperti itu.
"Tolong jelaskan padaku, mengapa aku tidak boleh menandatangani dokumen ini? Apa ada masalah dengan perusahaannya?" pak Bagas bertanya dengan keheranan.
Adam menggangguk. "tapi Adam tidak bisa menjelaskannya. Pokoknya ayah jangan tandatangani. Jika ingin saham perusahaan ayah tetap stabil."
Pak Bagas memeriksa kembali dokumen tersebut. Saham perusahaan tersebut memang sedang mengalami penurunan. Makanya, mereka ingin kerjasama dengan perusahaan pak Bagas sebagai investornya. Sebagian besar perusahaan lain ada yang sudah menginvestasikan ke sana. Hanya pak Bagas yang belum menandatanganinya.
Pak Bagas berpikir bahwa anak semata wayangnya ini belum berpengalaman dalam pekerjaan ini. Tapi, anaknya seperti sudah mengetahui tentang perusahaan dan berpengalaman bertahun-tahun.
Pak Bagas mencoba untuk mempercayainya kali ini. Jika orang lain, ia tidak akan percaya. Siapa lagi yang akan meneruskan perusahaannya selain Adam.
"Baiklah, ayah akan percaya padamu untuk kali ini saja," ucap pak Bagas.
Adam tersenyum, ayahnya mempercayai dirinya.
Pak Bagas kembali bekerja, membuka laptopnya. Kemudian Adam duduk sambil membaca buku majalah. Menunggu pekerjaan ayahnya selesai.
Adam melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 12.30 wib. Jam makan siang sudah terlewati, sedangkan ayahnya masih belum menyelesaikan pekerjaannya.
Akhir-akhir ini ayahnya sangat sibuk, hingga pola makan menjadi tidak teratur. Adam khawatir dengan keadaan ayahnya.
Sebagai anak, Adam pun berinisiatif ingin mengajak ayahnya makan siang bersama. Agar ayahnya tidak terlalu memikirkan pekerjaannya dulu.
Pak Bagas mengiyakan ajakan Adam. Pak Bagas menyelesaikan pekerjaan dengan cepat supaya Adam tidak menunggu lama.
__ADS_1
Setelah selesai, mereka pun pergi keluar dari kantor untuk makan siang.
Tidak jauh dari kantor pak Bagas, ada sebuah restoran seafood. Akhirnya, mereka memutuskan untuk makan siang di sana. Memarkirkan mobilnya di depan restoran tersebut.
Mereka pun memilih duduk di pinggir dekat jendela. Tak lama kemudian pelayan di restoran datang menghampiri mereka. Memberikan buku menu makanan dan pelayan siap mencatat pesanan mereka. Mereka melihat-lihat menu makanan satu persatu.
Adam menjadi memikirkan ibu dan istrinya di rumah. Apakah mereka sudah makan atau belum. Adam pun meminta pelayan agar pesanannya untuk di bungkus saja. Adam tidak jadi makan siang di restoran itu.
Pak Bagas mendengar Adam yang berkata demikian. Hanya mengikuti saja, ia juga tidak nyaman makan di luar sedangkan istri dan menantunya hanya makan di rumah.
Pak Bagas kagum dengan kepedulian Adam terhadap keluarga. Kini Adam sudah berubah tidak seperti dulu.
...........
Di kediaman rumah pak Bagas, ART sedang bersih-bersih perabotan di ruang tamu. Terdengar suara telepon rumah berdering, ART pun menerima teleponnya.
"Baik pak, saya akan memberitahu nyonya," ART menutup telepon. ART itu pun langsung menghampiri Melinda dan Dinda yang sedang sibuk di dapur untuk membuat makan malam.
"Nyonya, nona, tadi bapak telepon bilang tidak perlu membuat makanan. Bapak sudah membeli makanan di luar untuk makan di rumah," ucap ART itu.
15 menit kemudian terdengar suara mobil datang di depan rumah.
Kemudian Adam dan pak Bagas masuk ke rumah membawa beberapa bungkusan makanan untuk makan siang dan malam.
Melinda bertanya apa mereka sudah makan siang atau belum. Ternyata tidak, mereka ingin makan bersama di rumah. Pak Bagas bilang ini ide dari Adam. Melinda terharu mendengar hal itu. Mereka pun akhirnya makan bersama.
...........
Malam pun tiba, setelah makan malam, Adam dan Dinda berjalan masuk ke dalam kamar. Mereka duduk di tepi ranjang. Dinda melirik Adam sekilas, bingung mau bilang sesuatu kepada Adam. Adam yang sedang sibuk dengan ponselnya, kemudian menaruh ponselnya di ranjang.
Adam melihat Dinda sedang kebingungan, ia bertanya ada apa. Kedua tangan Dinda mengepal erat, Adam masih menunggu jawaban dan menatap Dinda.
__ADS_1
Dinda mengatakan ingin pernikahannya untuk di rahasiakan. Saat di kampus, Dinda meminta Adam untuk tidak saling kenal. Dinda takut para mahasiswa tahu tentang pernikahannya. Memang Adam adalah suaminya, tapi karena kepopuleran suaminya, Dinda menjadi takut di gosipkan hal yang aneh apalagi para mahasiswi di kampusnya itu.
Adam mengerti maksud perkataan Dinda. Menyembunyikan rahasia adalah hal yang sulit. Seiring berjalannya waktu, rahasia ini pasti akan terbongkar.
Adam mendengkus pelan, "baiklah, jika itu mau mu. Tapi jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan membiarkannya begitu saja."
Sebagai suami, Adam akan melindungi jika terjadi sesuatu pada Dinda. Adam tidak ingin lengah seperti kemarin.
Dinda tersenyum dan berterimakasih pada Adam.
Adam tahu ini terlalu berat bagi Dinda. Pasalnya Dinda adalah mahasiswa teladan dan bisa mendapatkan beasiswa di kampusnya. Dinda sudah berusaha keras untuk masuk kuliah itu. Jikalau terjadi rumor yang tidak mengenakkan tentangnya. Pasti beasiswanya akan terganggu nanti.
Berbeda dengan Adam yang hidupnya tidak ada pantangan sekalipun. Apapun yang Adam mau pasti akan terjamin. Kehidupan Adam sangat berbanding balik dengan Dinda.
Pernikahan mereka bagaikan langit dan bumi. Ketika orang kaya menikah dengan orang miskin adalah hal yang tabu di masyarakat. Tapi kalau sudah takdir dan jodoh tidak bisa di pungkiri.
..........
Di ruang kerja, pak Bagas duduk di sofa. Ia masih memikirkan rencana Adam tadi siang. Untuk memberikan sejumlah uang kepada Baskoro dan menyuruh Baskoro bekerja di kantornya sebagai staf kebersihan. Hal itu, bisa memudahkan untuk mengintai gerak gerik Baskoro di kantor.
Adam mengatakan berjanji akan menggantikan uang tersebut. Ketika Adam sudah bekerja di kantor pak Bagas nantinya. Tapi jumlah uang yang akan di berikan sangat banyak.
Pak Bagas berpikir apakah Baskoro mau bekerja di kantornya sebagai staf kebersihan? Jika Baskoro menolak, tidak masalah. Niat baik Adam memberikan kesempatan kepada Baskoro. Agar dapat pekerjaan lebih baik dan tidak ada lagi niat jahat yang di perbuat Baskoro.
Pak Bagas menghela napas berat. Ia mengambil ponsel di sakunya, mencari nomor telepon Baskoro.
Pak Bagas menelepon, tidak berapa lama kemudian telepon langsung di angkat Baskoro.
"Halo..." kata Baskoro.
"Aku menyetujui kerjasama dengan mu dan aku akan mengirimkan uang ke rekening mu malam ini," ucap pak Bagas.
__ADS_1
"Benarkah?" Tanya Baskoro seperti tidak percaya. Bagas mudah sekali di tipu olehnya. Tidak sia-sia usahanya kali ini mengeluarkan uang untuk membuat laporan perusahaan yang palsu.
...****************...