
Orang tua dinda tengah bersiap-siap mengemas pakaian ke dalam koper. Pak Bagas sempat menawarkan untuk tinggal lebih lama. Namun, mereka menolaknya secara halus karena mereka tidak nyaman tinggal berlama-lama. Banyak yang harus mereka kerjakan di desa dan sebentar lagi musim panen akan tiba.
Setelah sudah selesai berkemas, orang tua dinda berpamitan dengan keluarga pak Bagas dan juga Dinda.
"Nak, baik-baik di sini ya. Kamu sudah menjadi istri orang, patuhi dan turuti apa kata suamimu ya. Jika kamu merindukan kami, telepon lah kami atau kalau perlu pulang ke desa. Sekalian jalan-jalan ajak suamimu juga ya. Kamu sudah lama tidak pulang sejak kamu kuliah di sini," kata ibu Dinda bernama Widya memberikan nasehat kepada anaknya.
"iya Bu, kabari Dinda jika sudah sampai ya," kata Dinda.
"iya Nak," Widya mengangguk pelan. "Nak Adam, tolong jaga anakku dengan baik-baik. Meski terkadang dia cerewet, kamu yang sabar menghadapinya. Aku tahu kau anak yang baik," kata Widya, wajahnya mulai sendu dan melirik ke arah Dinda.
Adam menganggukkan kepalanya.
Tidak lama kemudian, taksi yang menjemput mereka datang. Orang tua Dinda pun masuk ke dalam taksi.
Setelah keberangkatan orang tua Dinda, mereka pun masuk ke dalam rumah. Dinda dan Melinda berjalan di depan, sedangkan pak Bagas dan Adam berjalan di belakang.
Adam ingin berbicara sesuatu kepada ayahnya. "Ayah, Adam ingin bicara sesuatu? Ini penting," kata Adam dengan nada serius.
"hmm, katakanlah. Ayah akan mendengarkannya."
"Tapi bukan di sini, kita bicara berdua di ruang kerja ayah."
Ayahnya pun menyetujuinya, kemudian mereka melangkah pergi menuju ruang kerja pak Bagas.
Sesampainya di ruang kerja, pak Bagas bertanya apa yang ingin di bicarakan. Hingga Adam serius ingin bicara berdua dengannya.
Awalnya Adam hanya diam saja tidak berani bicara tapi pak Bagas tidak bisa menunggu lama karena sebentar lagi ia akan pergi ke kantor.
Hari Minggu yang seharusnya libur kerja, tapi pak Bagas malah masuk kerja. Mungkin saja pak Bagas mau mengerjakan pekerjaan yang tertinggal karena sehari tidak masuk kerja. Dan juga janjinya dengan Baskoro bertemu di kantor.
Adam menghela napas pelan, Adam memberanikan diri bicara. Adam mengakui bahwa dirinya mendengar percakapan pak Bagas dengan pak Herman tadi malam. Adam ingin membantu memberikan solusi tentang masalah itu.
__ADS_1
Tapi pak Bagas menyuruhnya untuk tidak perlu ikut campur masalah ini. Adam bersikeras untuk meminta mendengarkan perkataannya terlebih dahulu. Pak Bagas pun akhirnya mau mendengarkannya.
Ini kesempatannya, untuk apa ia kembali ke masa lalu tapi tidak ia pergunakan waktunya. Inilah saatnya ia yang akan mengubah masa depan menjadi lebih baik. Karena ia sudah tahu seperti apa di masa depan.
Adam memberi solusi untuk merekam percakapan mereka dari awal hingga akhir dengan ponsel secara diam-diam. Dan menyuruh seseorang untuk memata-matai Baskoro. Mengumpulkan informasi juga mencari bukti-bukti untuk memenjarakan Baskoro.
Pak Bagas berpikir ini solusi yang bagus dan ia menyetujuinya. Pak Bagas belum terpikirkan solusi itu. Ia pun menelepon seseorang yang terpercaya dan berpengalaman untuk melakukan tugas penting itu.
Adam tersenyum solusinya di terima oleh ayahnya. Adam tidak menyadari dia sudah melanggar janji. Tanpa sadar sudah merubah dan akan terpengaruh di masa depan. Adam melupakan tujuannya ke masa lalu hanyalah untuk membahagiakan istrinya.
Dari kejauhan muncul sosok jubah hitam yang kini mulai memerhatikan Adam. Sosok jubah hitam itu akan mengawasinya agar tidak terulang kembali.
.....
Setelah percakapannya selesai dengan ayahnya, Adam berjalan menuju kamarnya.
Saat Adam membuka pintu kamar, ia melihat Dinda sedang duduk di atas ranjang. Adam sempat melihat Dinda sedang menyeka air matanya. Dan matanya bengkak seperti habis menangis, lalu Adam duduk di sampingnya.
Adam mengatakan sesuatu kepada Dinda, "aku nggak tahu apa yang orang tua kita pikirkan untuk menjodohkan kita. Tapi yang aku tahu, mereka ingin kita agar tidak terjerumus pergaulan yang buruk. Orang tuamu pasti khawatir tentangmu yang tinggal sendirian di kota ini. Mereka takut terjadi sesuatu denganmu dan juga tidak ada yang menjagamu di sini. Oleh sebab itu, kita ambil hikmahnya dari semua yang sudah terjadi."
Dinda mendengarkan kata-kata Adam memang benar. Ia tidak terpikirkan sebelumnya tentang itu.
Adam melirik Dinda kini mulai tenang. Adam tersenyum, dia mencoba menghiburnya agar tidak sedih lagi.
"apa kau ingat saat di kantin kampus? Beberapa hari yang lalu, aku melihatmu kau hendak makan bersama temanmu tapi kau bilang aku orang aneh. Memang aku orang aneh ya?"
Dinda mencoba mengingatnya. Ketika ia sudah ingat, Dinda membelalakkan matanya.
"Jadi, yang di sebut-sebut oleh mahasiswi di kampus adalah dia, Adam. Anak populer di kampus itu. Kenapa aku baru menyadarinya, pantas saja aku seperti mengenalnya," batin Dinda merasa tak percaya dia menikah dengan orang populer di kampusnya.
"Melihat dari respon kamu, kamu sudah mengingatnya." Adam melirik Dinda, "yah sayang sekali, kamu terlalu sibuk sih dengan tugas kampusmu itu. Sehingga tidak mengenali sosok suaminya ini."
__ADS_1
Adam mendengar Dinda terkekeh dengan pelan. Berarti dia berhasil sudah menghiburnya.
"Aku janji setelah ujian semester ini, kita pergi berlibur ke desa bertemu orang tuamu. Aku penasaran gimana suasana di desa," ucap Adam.
"Dan juga.. besok kau masuk kuliah seperti biasa. Kamu tenang saja soal biaya kuliah, biar ayah yang akan mengurusnya," Sambungnya.
Seketika Dinda menoleh pada Adam, dia di perbolehkan melanjutkan kuliahnya.
"beneran mas, aku boleh kuliah?" wajah Dinda mulai terpancar senang.
Adam mengangguk pelan.
Wajah sedih Dinda seketika berubah bahagia, mendengar ia di perbolehkan kuliah kembali. Saking senangnya, tanpa sadar Dinda langsung memeluk Adam. Adam kaget dengan Dinda yang tiba-tiba memeluknya, ia balas pelukannya dengan hangat. Hanya beberapa saat saja Dinda pun tersadar, dia melepas pelukannya. Lalu suasana menjadi canggung.
"eh.. Apa barang-barang kamu masih di lantai bawah? Ku lihat tidak ada barang kamu satu pun di sini," tanya Adam, agar suasana tidak canggung kembali.
"I-iya mas.. barangnya ada di kamar tamu belum sempat di pindahkan ke sini. Barangnya hanya sedikit saja mas," jawab Dinda dengan gugupnya.
"Kalau begitu, biar aku yang akan membawa barangmu ke sini," Adam bangkit dari duduknya. Ia pun melangkah berjalan keluar kamar.
Saat Adam menuruni tangga, ia tersenyum sendiri mengingat yang terjadi tadi.
......
Ddrrrtt.. Ddrrrtt..!!!
Suara ponsel bergetar, menerima pesan masuk di ponsel Adam. Saat membuka layar ponsel, ada satu pesan masuk dari ayahnya. Menyuruhnya datang ke kantor, membawakan dokumen yang tertinggal di ruang kerja.
Adam tersenyum, ini sesuai dengan perkiraannya. Saat sampai di kantor, pasti ia akan berpapasan dengan Baskoro. Orang yang ia benci seumur hidupnya.
...****************...
__ADS_1