Suami Presdir Ku Yang Bucin

Suami Presdir Ku Yang Bucin
Chapter 1 Dilema Kecil Xiao Yue


__ADS_3

Ketika fajar menyingsing, Mo Xiao Yue telah lebih dulu bangun dari tidurnya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Terlihat wajah manis dan imut dari pantulan cermin. Bibir berwarna merah muda merona dan kulit putih bagaikan porselen mahal itu membuatnya tampak menawan bak lukisan seorang bidadari.


Setelah menyikat giginya, Xiao Yue turun ke lantai bawah mengenakan kaos sederhana dan jeans biru panjang. Pagi-pagi buta sebelum matahari terbit, Xiao Yue sudah berdiri di depan toko, ia tampak bersemangat, Xiao Yue mendorong ke atas pintu besi dan mengeluarkan spanduk kecil miliknya.


Di umurnya yang 19 tahun, Xiao Yue telah menjalankan restoran peninggalan mendiang ayahnya. Meski kecil dan penghasilan tak seberapa, Xiao Yue tak pernah putus asa.


Lelah keringat yang bercucuran membasahi sisi wajahnya di pagi hari, Xiao Yue menghela nafas leganya dengan wajah penuh senyuman.


"Fyuh... akhirnya selesai." Sambil ia mengelap keringat di dahinya.


Xiao Yue menepuk-nepuk kedua tangannya untuk menghilangkan debu yang menempel lalu berjalan ke dapur.


"Aku harus memastikan stok sayur dan bahan lainnya cukup untuk dua hari." ucapnya sambil mencuci kedua tangannya.


Xiao Yue mulai mengecek setiap isi lemari dan kulkas sambil membawa sebuah buku kecil dan pulpen.


"Oke, kayaknya ini sudah cukup." Ia menutup bukunya setelah mencatat bahan-bahan yang ia butuhkan.


Xiao Yue lalu mengikat rambutnya dengan model ekor kuda. Ia mengambil celemek yang tergantung di sudut ruangan dan mulai memasak. Berbicara tentang darimana ia belajar memasak, Xiao Yue mulai memikirkan kelangsungan hidup dia dan kakaknya semenjak ia masih duduk di bangku SMA. Xiao Yue bersyukur karena mendapatkan izin untuk bekerja paruh waktu meski statusnya masih sebagai seorang pelajar. Dari sanalah awalnya ia memiliki pengalaman di dapur.


Suara desis panci mulai memenuhi dapur. Xiao Yue menuangkan bahan makanannya satu persatu. Matanya menatap cairan saos berwarna merah yang ada di atas panci. Bau yang wangi bisa tercium hingga ke seluruh ruangan. Namun, Tiba-tiba tangan Xiao Yue tak bergerak. Spatula kayu yang ia pegang tak lagi mengaduk soas itu, pandangannya menjadi kosong ketika perhatiannya teralihkan oleh sesuatu yang membuat batinnya lelah dan gelisah berhari-hari.


"Kapan kakak akan bangun..." Gumam bibirnya pelan.


Ketegaran hatinya terkikis kian hari karena cemas memikirkan kakaknya yang belum sadar dan masih terbaring di rumah sakit.

__ADS_1


Meski harus melepaskan cita-citanya dan berhenti melanjutkan studinya hingga ke jenjang kuliah. Xiao Yue tetap semangat dan bahagia menjalani hari-harinya.


Ia berjuang sendirian demi perawatan kakaknya. Selepas kakaknya dari ruang ICU, ia bersyukur karena biaya rumah sakit menjadi lebih murah. Yah... meski telah melewati masa kritis. Kakaknya belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka matanya.


Xiao Yue tersentak dan sadar ketika saos yang ia aduk mulai meluap dari panci. Suara desisan dari saos yang menetes ke atas kompor segera menariknya kembali dari lamunannya.


"Ahh...! Gawat, Gawat." Dengan panik ia mematikan kompor dan segera mengambil wadah untuk memindahkan saos itu.


"Hampir saja gosong." Wajahnya jadi kusut ketika memikirkan kalau ia harus membeli bahan lagi karena kelalaiannya.


~ TRING ~


Suara bel pintu menandakan kalau ada orang yang datang. "Sepertinya mereka sudah tiba."


Xiao Yue merapikan sedikit isi dapur lalu melepas celemeknya dan berjalan keluar menyambut kedua karyawannya.


"Selamat pagi Xiao Yue." Sapa balik Paman Jiang.


"Pagi~ Yue Yue" Balas Yan Ya penuh ceria.


Paman Jiang dan Yan ya adalah dua karyawan yang selama ini telah menemaninya mengelola restoran. Awalnya Paman Jiang adalah pelayan khusus yang bekerja dibawah Ayahnya. Namun, ketika kedua orang tuanya meninggal. Paman Jiang memutuskan untuk mengabdikan dirinya di restoran kecil satu-satunya aset terakhir milik ayah dan ibu Xiao Yue.


Awalnya keluarga mereka adalah keluarga yang mapan. Meski tak begitu masyhur seperti beberapa kepala keluarga besar lainnya. Namun kekayaan mereka juga tak sedikit. Merambah di bisnis pariwisata, ayah dan ibunya memiliki cukup banyak aset yang besar. Namun, karena kematian dari keduanya. Perlahan semua kekayaan itu mulai berkurang. Kurangnya orang yang mampu mengelola perusahaan dan tekanan dari beberapa pihak, membuat keluarga mereka terpaksa mundur dari daftar keluarga yang cukup berpengaruh di kota itu. Sanak kerabatnya sendiri berusaha untuk memalingkan wajah ketika tahu kedua orang tua mereka meninggal dan keduanya menjadi yatim piatu dan bangkrut.


Paman Jiang sangat menyayangkan hal itu. Miris. Ia pun memutuskan untuk membantu keduanya hingga sekarang. Melihat mereka tumbuh besar, Paman Jiang turut bahagia. Kadang ia berpikir bahwa betapa indahnya kalau Tuan yang pernah ia layani dulu melihat kedua putri mereka tumbuh dewasa, tak ada yang lebih penting lagi selain menyaksikan keduanya tumbuh selagi dirinya masih sanggup.

__ADS_1


Kalaupun berbicara tentang kedua putri itu. Paman Jiang lebih memilih Mo Xiao Yue ketimbang kakaknya Mo Qian Qian. Kepribadian Xiao Yue yang cerdas dan dewasa berbanding terbalik dengan Qian Qian yang hidup dalam dunia hedonisme nya.


Kala itu, Paman Jiang bersama Xiao Yue yang masih muda pergi menjual sisa aset perusahaan dan memasukkan uangnya ke dalam bank. Dana, saham dan kolega mereka hilang satu demi satu, bahkan ada beberapa orang yang memilih untuk memutuskan kontrak walau harus membayar denda. Paman Jiang khawatir, demi kebaikan dan kelangsungan hidup mereka untuk di masa depan. Paman Jiang tak punya pilihan lain selain menjual sisa aset yang tersisa. Apalah daya, ia bukanlah asisten pribadi yang selalu menemani ayah atau ibu mereka. Dirinya hanyalah pelayan biasa.


"Uang ini untuk masa depan kalian nantinya." Paman Jiang memberikan buku tabungan dan kartu ATM nya saat itu pada Xiao Yue.


Karena tak ingin dicap tidak adil atau takut Xiao Yue di tuduh serakah. Ia juga memberikan jumlah yang sama pada Qian Qian. Sayangnya, mengingat kepribadian buruk putri tertua itu, Paman Jiang hanya bisa berharap dalam hatinya semoga Qian Qian tidak menghambur-hamburkan uang itu.


"Paman Jiang...Paman Jiang..." Panggil Xiao Yue dari sebelah meja kasir.


Paman Jiang tersadar dari lamunannya dan segera menghampiri Xiao Yue.


"Ada Apa Xiao Yue?"


Xiao Yue menatap Paman Jiang tidak enak dan canggung. "Apa benar tidak apa-apa jika aku menginap di rumah sakit dan meninggalkan kalian?"


Paman Jiang melihat Yan Ya yang sudah selesai memakai seragamnya dan siap bekerja. "Lihat bukan?" Kata Paman Jiang sambil menunjuk Yan Ya yang bergaya dengan mengangkat jempolnya pada mereka.


"Kita sudah membicarakan ini tempo hari. Kamu pergilah dan rawat kakakmu." Seru lembut Paman Jiang.


"Beneran Paman? Yakin baik-baik saja kan?" Lagi-lagi dengan wajah murung dan cemas Xiao Yue bertanya.


"Yue Yue, pergilah. Serahkan restorannya pada kami. Lagi pula ini kan hari kerja, pelanggan gak bakalan banyak kok." Tambah Yan Ya meyakinkan Xiao Yue setelah ia meletakkan sapu di dalam gudang.


Xiao Yue menghela nafasnya. "Baiklah karena kalian bilang begitu. Makasih Paman Jiang. Yan Ya juga, Makasih ya."

__ADS_1


Yan Ya menunjukkan senyum lebar dan melambaikan tangannya untuk menyuruh Xiao Yue segera berganti pakaian dan berangkat ke rumah sakit. Mereka berdua saling melirik sekilas. Paman Jiang dan Yan Ya menaikkan kedua lengan baju mereka dan menangguk.


Setelah berganti pakaian, Xiao Yue akhirnya pamit pada keduanya. Yan Ya mengangkat tangan kanannya, ia mendengus sambil memperlihatkan otot kecilnya. Wajah sombong dan dada membusung itu benar-benar membuat Xiao menahan tawanya.


__ADS_2