
Qian Qian berbalik menengok ruangannya. Ia baru sadar saat mencium ruangan itu ternyata dipenuhi aroma obat-obatan. Wajahnya menjadi gelap, ia tersentak, kakinya yang gemetar mundur selangkah demi selangkah, dengan kesal, ia pun segera berlari meninggalkan ruangan itu.
Dimana jalan keluarnya?
Ia melihat ke kiri dan kanan. Ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Qian Qian berhenti lalu berbalik mencari jalan lain untuk menjauhi suara itu. Qian Qian berlari menuruni tangga, ia memaksakan dirinya meski wajahnya sudah begitu berkeringat dan kelelahan.
Tak ada satupun orang yang memperhatikan Qian Qian. Dimana orang-orang yang seharusnya mengawasi kamera? Dimana para perawat yang seharusnya berjaga di malam hari? Entah takdir baik atau buruk baginya, namun Qian Qian merasa bersyukur karena akhirnya ia melihat jalan keluar.
Apa yang terjadi dengan tubuh ku? Aku merasa begitu lemah dan lelah?
Rasa takut mulai muncul dalam hatinya, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa begitu tak berdaya. Nafasnya semakin memendek namun ia terus berlari keluar gedung dan pada saat ia diluar, ia lebih terkejut lagi melihat gedung-gedung tinggi dan jalan yang di penuhi dengan lampu-lampu terang dan berwarna warni. Wajahnya memucat, apakah karena kaget atau putus asa? Qian Qian dengan mulut terbuka mengamati sekelilingnya. Di bawah langit basah Qian Qian takjub sekaligus heran dengan pemandangan yang ia lihat.
Setelah cukup lama berdiri di bawah hujan tanpa bergerak se inci pun hingga ia basah kuyup, seorang wanita menghampirinya dengan tergesa-gesa. Wanita muda itu datang dengan raut wajah kesal.
"Apa yang kamu lakukan di luar sini? Jangan-jangan kamu masih mau berbuat konyol lagi?"
Xiao Yue kesal, marah namun juga ia sedih melihat Qian Qian. Perasaannya bercampur aduk, apakah karena begitu mencintai orang itu sampai-sampai ia nekat untuk melakukan hal yang sama? Xiao Yue menggelengkan kepalanya, ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat karena marah pada orang telah yang menyakiti kakaknya.
"Sudah kak! Sudah! Buat apa kamu melakukan semua ini? Memangnya kamu gak liat kalau dia tuh gak peduli?! Liat Kondisi kakak sekarang! Sedikit pun dia tuh gak peduli sama kakak." Tegur Xiao itu dengan tegas dan tergesa-gesa.
Kakak? Kakak? Dia terus memanggilku seperti itu? Tapi siapa dia? Apakah dia memiliki hubungan denganku?
Qian Qian terus menatap Xiao Yue itu tanpa sepatah kata pun.
"Kita masuk ya kak. Nanti kamu sakit lagi." Bujuk Xiao Yue lembut lalu ia menggigit bibir bawahnya dan menggenggam tangan Qian Qian.
Apa? Masuk? Tidak! Apa jangan-jangan wanita ini berkomplot dengan orang-orang yang ingin mencelakai ku? Tapi... Entah mengapa dadaku terasa hangat ketika ia menggenggam tangan ku.
Qian Qian tanpa sadar tak bisa menepis perasaan yang mengganjal di hatinya itu. Ia tak kuasa untuk menarik dan melepaskan tangannya dari wanita itu.
__ADS_1
Ketika Xiao Yue berjalan masuk dengan menarik tangannya kakaknya. Ia tertahan, Xiao Yue menoleh kebelakang melihat Qian Qian yang tidak bergerak sama sekali. Qian Qian terus menatap dirinya dengan ekspresi datar. Dia terus melihatnya wajahnya, mengamatinya dari bawah ke atas, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bertanya.
"Kau...Siapa?"
Xiao Yue tersentak, bagai petir besar sedang bergemuruh tepat di belakang telinganya.
Wajahnya menunjukkan ketidak percayaan. Tangannya yang menggenggam Qian Qian bergetar ketakutan. Ia kembali mendekati Qian Qian. Xiao Yue mendekatkan wajahnya dengan wajah Qian Qian.
Xiao Yue tertawa pahit, ia mengira kalau Qian Qian sedang menggodanya
"Kakak jangan bercanda deh, aku tidak punya waktu meladeni mu. Ayo masuk, hujan semakin lebat." Serunya sambil menunjukkan pakaiannya yang mulai ikut basah kuyup.
Qian Qian melihat tangan yang tadi Xiao Yue genggam. Ia mengelusnya karena penasaran darimana datangnya perasaan hangat tadi. Qian memiringkan kepalanya heran dan ia sama sekali tidak mengerti.
Qian Qian mengalihkan pandangannya dan kembali melihat Xiao Yue "Adik?"
Qian Qian tidak ingat dengan gadis di depannya itu. Hanya saja, dirinya memang merasa akrab dengannya.
"Xiao...Yue...Adikku..?"
~DIIIINGG~
Dengungan hebat tiba-tiba menusuk telinga hingga ke bagian terdalam kepalanya. Qian Qian memegang kedua kepalanya dan menjerit kesakitan. Ia terjatuh di atas kedua lututnya sambil memegangi kedua sisi kepalanya yang terasa nyeri seperti ditusuk tusuk.
Melihat Qian Qian yang merintih kesakitan, Xiao Yue semakin yakin kalau kakaknya benar-benar tidak bercanda. Ia memegangi tubuh Qian Qian agar tak jatuh ke tanah sambil memanggil-manggil namanya. Xiao Yue makin panik, ia melirik ke kiri dan ke kanan namun tak ada pejalan kaki yang lewat, hanya mobil yang berlalu lalang di jalan raya yang seperti tak memperdulikan mereka. Tak ada cara lain, Xiao Yue terpaksa harus memapah kakaknya kembali ke dalam gedung rumah sakit.
Tatkala ia sudah hampir sampai di depan pintu, petugas kemanan yang melihatnya segera berlari dan menghampirinya. Namun saat petugas keamanan itu ingin membantunya, seorang pria berjas dengan postur tegak menghentikannya.
"Biar aku saja." Singkat ucapannya, lalu ia mengambil Qian Qian dari pundak Xiao Yue dan segera menggendongnya menuju bangsalnya kembali.
__ADS_1
Xiao Yue tak berkata apapun, ia mengikuti pria itu dari belakang hingga mereka masuk ke dalam ruangan. Pria itu membaringkan tubuh Qian Qian dengan pelan di atas ranjang dan berbalik pada Xiao Yue.
"Apa yang terjadi?" Pria itu dengan wajah khawatir bertanya pada Xiao Yue.
Xiao Yue menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Saat aku kembali kakak sudah ada di luar tadi." Ia sendiri heran kenapa tidak orang yang memperhatikannya.
Seorang perawat tiba-tiba memasuki ruangan itu. Melihat sosok pria yang berdiri di depan matanya, perawat wanita itu menundukkan kepalanya dan tak berani menatap pria itu. Perawat itu dengan takut berkata. "Maafkan kami atas kelalaian kami, Tuan Muda."
Alis pria itu menekuk tajam dan wajahnya tampak kesal. Ia menatap tajam perawat itu.
Kelalaian katamu?
Pria itu memijat salah satu pelipisnya mencoba menahan amarahnya. "Panggil kan dokter sekarang." serunya pada perawat itu dengan tegas.
Pria itu berdiri lebih dekat dengan Qian Qian. Ia membelai kesamping rambut yang menutupi salah satunya satu mata Qian Qian. Ia memandangi sosok gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku ingin kau mengganti pakaiannya." Ucap pria lalu ia keluar sejenak dan kembali membawa pakaian baru dan di berikannya pada Xiao Yue.
Xiao Yue menutup gorden penghalang ranjang pasien. Ia mengganti pakaian Qian Qian. Tak lama setelahnya, Xiao membuka gorden itu lagi.
Pria itu menekan pelan titik di antara alisnya. Ia mengulurkan tangannya kebelakang untuk meminta sesuatu dari asistennya yang sedari tadi mengikutinya.
Asisten itu lalu memberikan sebuah amplop coklat pada pria itu. Dia melihat Qian Qian sekali lagi dan berbalik pada Xiao Yue.
"Aku sudah menandatanganinya. Ini adalah permintaannya, jika dia benar-benar ingin mengakhiri semuanya, katakan padanya untuk membawa surat cerai ini ke pengadilan oleh dirinya sendiri." Jelasnya sambil memberikan amplop itu pada Xiao Yue.
Wajahnya tampak masam, bibirnya yang mengerut menandakan kalau ia tidak setuju dan berat hatinya ketika ia harus membayangkan gadis yang sangat ia cintai harus meninggalkan dirinya.
Xiao Yue melirik ke amplop coklat itu.
__ADS_1
"Baiklah. Akan ku sampaikan padanya nanti." Kata Xiao Yue saat ia mengangkat kepalanya untuk melihat pria itu.
Dalam hatinya, Xiao Yue tidak ingin melakukannya. Bagaimanapun juga, pria yang ada di depannya itu adalah orang yang sangat cocok untuk kakaknya. Xiao Yue merasa kalau Lin Jian Yu adalah tipe laki-laki ideal yang kelak bisa memberikan kebahagiaan pada kakaknya.