Suami Presdir Ku Yang Bucin

Suami Presdir Ku Yang Bucin
Chapter 2 Naga Yang Bereinkarnasi bagian 1


__ADS_3

Setelah memesan taksi, Xiao Yue duduk di dalam mobil sambil terus-menerus menggeser layar hp nya ke atas dan kebawah.


Wajahnya geram ketika melihat berita buruk tentang kakaknya yang selalu muncul di laman pertama sosial media. "Hmph! Kalian terlalu luang sampai-sampai kelihatan sibuk mengurusi kakakku." Kesalnya.


Andai ada orang yang melihatnya, mungkin mereka berpikir kalau dia ada dendam dengan hp nya. Karena sangking jengkelnya, Xiao Yue mendecihkan lidahnya dan menyimpan kembali ponselnya. Ia duduk bersandar sambil melipat kedua tangannya di dada. Xiao Yue Cemberut.


Kakakku bukan selebriti, penyanyi juga bukan. Kurang kerjaan sekali mereka, setiap hari selalu nyinyir padanya. Gerutu batinnya.


Setelah beberapa lama dalam taksi. Akhirnya ia pun sampai di rumah sakit dimana kakaknya dirawat. Xiao Yue merogoh uang dari dalam tasnya dan membayar si supir taxi. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sakit membawa hatinya yang harap-harap cemas. Xiao juga sudah menyiapkan bubur sehat dan buah-buahan segar.


Barangkali mungkin kakak terbangun dan ia pasti akan lapar. Harap batinnya memasang senyum tipis di wajahnya.


"Bagaimana dokter dengan kondisi kakakku?" Tanya Xiao Yue menghampiri dokter yang baru saja keluar dari bangsal kakaknya.


"Kondisi fisik kakak anda sudah pulih. Namun kami belum bisa memastikan kapan dia akan sadar. Sebagai dokter, saya sendiri hanya bisa berharap pada kemauan kakak anda untuk hidup" Terang dokter itu lalu ia pun berlalu.


Xiao Yue hanya bisa mengangguk pelan dan sekarang ia menunduk meratapi kondisi kakaknya yang sudah sebulan di rumah sakit. Xiao Yue mendekap rantang susun yang ia bawa. Ia melirik ke arah buah-buahan yang ada di kantong plastik dan bubur yang ia bawa. Xiao Yue melepas nafas beratnya dan menggelengkan kepalanya perlahan.


Mo Qian Qian, kakaknya terkenal dengan sifat egois, sombong dan boros, terutama gaya hidupnya yang hedonis. Ia sangat suka berfoya-foya, mungkin...jika kedua orang tua mereka masih hidup, Xiao Yue tidak akan terlalu memikirkan akan uang yang ia hamburkan tapi dengan kondisi kehidupan mereka saat ini, jujur, Xiao hanya bisa menelan pahit kecut saat kakak nya tidak mendengar nasehatnya dan lebih memilih untuk bergaul dengan orang-orang yang ia anggap teman.


Sedangkan Alasan kenapa kakaknya terbaring koma di rumah sakit adalah karena masalah cinta. Tidak ada yang tahu pasti kronologinya. Tapi, Qian Qian di temukan dekat tepi pantai dengan luka di bagian kepala dan beberapa bagian tubuhnya.


Orang-orang yang mengenalnya dan membencinya memposting berita itu sebagai tindakan bunuh diri karena cintanya yang ditolak. Bagaimana tidak, ia selalu saja mencari cara atau alasan untuk mendekati Jun Chen Jie, seorang aktor muda yang tampan yang sedang naik daun. Xiao Yue sebenarnya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kakaknya mengingat mereka pernah menjalin hubungan di waktu mereka masih SMA. Lalu, karena karir, Chen Jie meninggalkan Qian Qian.


Xiao Yue melihat tubuh kakaknya yang sudah mendingan. Perban di lengan, kaki dan kepalanya sudah di lepas. Tapi, sampai kapan ia harus menunggu untuk kedua kelopak mata itu terbuka.


Xiao menarik kursi dan duduk di sisi ranjang kakaknya. Ia mengambilnya sebuah piring dan pisau yang ia simpan di lemari. Kemudian tangannya meraih sebuah apel dari dalam kantong plastik belanjaannya.


"Kakak, kapan kamu akan bangun. Aku tahu kamu dulu memiliki kenangan bersama Chen Jie itu, tapi kenapa kamu masih mengharapkan sesuatu dari laki-laki yang mencampakkan mu?" Seolah ia berbicara dengan kakaknya namun pada kenyataannya Xiao Yue hanya bergumam sendiri sambil mengupas apel di tangannya.


Setelah mengupas satu buah apel dan memotong menjadi beberapa bagian kecil. Xiao Yue dengan senang hati memijat beberapa bagian tubuh Qian Qian. Ia memijat pada otot-ototnya terutama pada bagian kakinya agar tubuh Qian Qian tidak kaku ketika ia terbangun nantinya. Sungguh ia sangat perhatian dan menyayangi Qian Qian.


Matahari sudah mulai hampir tenggelam. Xiao Yue lupa kalau dia akan menginap malam ini. Ia harus membeli makan malam untuk dirinya.


Xiao Yue berjalan keluar dari rumah sakit menuju supermaket terdekat. Setelah memilih makanan instan, sialnya hujan turun cukup deras ketika ia baru saja membayar belanjaannya.


"Apakah kalian tidak menjual payung?" Tanya Xiao Yue pada kasir penjaga toko.

__ADS_1


"Maaf, beberapa saat yang lalu pelanggan sebelumnya telah membeli stok terakhir kami." Balas kasir itu ramah.


Terpaksa Xiao Yue hanya bisa menunggu hujan reda. Ia berdiri di depan supermarket sambil menenteng kantong plastik yang berisi makan malamnya. Waktu terus berputar Namun hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan reda, malahan hujannya semakin deras.


Merasa bosan, Xiao Yue kembali masuk ke dalam supermaket dan membeli segelas kopi lalu ia duduk dekat jendela sambil menunggu hujannya selesai. Xiao menatap langit dan jalanan yang basah sambil meneguk kopinya dengan pelan.


...***...


"Wahai kawan lamaku. Aku benar-benar tak ingin melakukan ini tapi kami sangat membutuhkannya."


Pria itu, Sang pahlawan mengerutkan bibirnya menahan pahit karena takdir yang ia pegang.


"Tak perlu berkecil hati. Aku telah hidup begitu lama, aku juga sudah melihat mu dari sekecil kacang hingga menjadi pahlawan besar seperti ini." Suara canda naga itu menggema memenuhi goa. "Aku senang karena kau telah mengajarkan banyak hal padaku, kau juga telah mengajakku melihat hal-hal menarik di dunia ini." Naga itu lalu tersenyum dan memejamkan matanya. "Lakukanlah wahai Sang pahlawan yang akan membawa kedamaian di Aria."


Pahlawan itu menarik nafas panjang. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Kemudian dia menarik pedangnya dengan tangan yang gemetar.


"Haaaaahh...!!!" Pahlawan itu berteriak sekencang-kencangnya dan berlari ke arah sang naga. Pedang yang ia hunuskan kemudian dia tancapkan ke dada naga itu.


Demi perdamaian dunia, demi kembalinya cahaya di Aria, demi umat manusia, demi...demi...


Sang pahlawan menangis, ia melihat tangannya yang berlumuran darah. Air mata mengalir membasahi pipinya dan mulai menghalangi pandangannya. Selagi pedang itu tertanam di dada Sang naga, pahlawan hanya menunduk dengan rasa sesal.


Demi siapa aku bertarung?


Demi siapa aku hidup?


Isak tangis nya ikut membuat sang naga lirih.


Naga itu menggerakkan tangannya dengan pelan. Ia menyentuh kepala pria kecil di hadapannya dengan ujung kukunya yang besar lalu berkata "Dasar cengeng. Si cengeng kecil ternyata tidak berubah dari dulu hingga sekarang."


Pahlawan itu melepas pedangnya. Ia mengambil dan memeluk erat jari sang naga yang mengelus kepalanya.


"Kau tak perlu sedih. Jika seandainya aku tak mati, maka aku yang akan melihat mu mati. Setidaknya, aku tidak perlu membawa kesedihan itu hingga ribuan tahun selanjutnya. Jadi, aku bersyukur."


Pahlawan itu tak merespon, ia tetap tenggelam dalam isak tangisnya.


Padahal aku sudah mengalahkan raja iblis. Aku sudah mendamaikan seluruh ras. Aku sudah melindungi keselamatan umat manusia tapi kenapa saat semuanya baik-baik saja, Aria membutuhkan jantung naga agung untuk menghindari kehancurannya?

__ADS_1


"Bocah cengeng. Kurasa aku sudah tidak bisa bertahan lama lagi"


Mendengar itu, pria spontan mengangkat wajahnya dan melihat sang naga. Matanya sudah mulai kehilangan cahayanya.


Naga itu terkekeh "Kau adalah pahlawan hebat dunia ini. Berbanggalah karena kau telah menaklukkan Sang Naga Agung."


Suara naga itu terdengar semakin melemah.


"Pahlawanku... Aku bersyukur bisa bertemu dengan mu..."


Sang Naga Agung pun mati meninggalkan sahabatnya yang berduka. Gema suaranya tak lagi terdengar, tubuhnya yang begitu besar tak lagi bertenaga. Tinggallah sang pahlawan yang tetap memeluk erat jari milik naga itu.


...***...


Di ruangan yang sepi tanpa ada siapapun, dari luar jendela terdengar gemuruh guntur yang menggelegar. Hawa dingin dari jendela yang terbuka masuk menerpa tubuh Qian Qian yang sedang koma.


Hujan begitu deras dan Xiao Yue belum kembali. Ketika suara guntur dengan keras berbunyi, Qian Qian membuka matanya seolah suara keras itulah yang membangunkannya.


Ia duduk di atas ranjang, menengok ke kiri dan ke kanan, Qian Qian memasang ekspresi heran seolah ia tidak tahu dia ada dimana.


Apa yang terjadi padaku? Ini...dimana?"


Qian Qian membuka selimut yang menyelimuti kakinya.


Ini....Sejak kapan aku berubah wujud? Bukankah aku sudah mati?


Merasa ada yang aneh dengan tangannya, Qian Qian melirik ke tangan kanannya dan melihat sebuah jarum dan selang kecil terhubung dengan tangannya itu. Wajahnya terkejut.


Apa ini? Apa mungkin... jangan-jangan aku sedang dijadikan bahan eksperimen?


Qian Qian panik dan segera mencabut jarum infus yang tertancap di tangannya. Ia lalu turun dari ranjang, karena kakinya baru digerakkan setelah beberapa lama, Qian Qian kehilangan keseimbangannya dan hampir saja terjatuh, beruntung ia menahan dirinya dengan kedua tangannya.


Aneh...


Tubuhnya begitu kelelahan, nafasnya tidak stabil dan ia mulai terengah-engah. Perasaan takut memenuhi hatinya.


Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

__ADS_1


Qian membuka pintu dan melihat lorong rumah sakit begitu sunyi tanpa ada siapapun.


Dimana ini? Kemana aku harus pergi


__ADS_2