
Selagi memulihkan kesehatannya kembali, Qian Qian telah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Kesehariannya saat ini adalah membantu Xiao Yue dalam mengurus kedai kecil mereka.
Qian Qian yang saat ini tidak tahu apapun tentang apa yang telah ia perbuat dalam masa lima tahun itu, tapi berdasarkan dari ingatan sebelumnya, dia yakin kalau dirinya yang dulu tidak melakukan apapun yang berarti. Oleh karenanya, Qian Qian memulai hari yang baru dengan lembaran berbeda.
Bahkan waktu hujan deras itu kau tidak peduli dengan kesehatan mu dan telah banyak meluangkan waktu mu untuk kakakmu yang tidak berguna ini.
Kedai makanan milik keluarga mereka memang terbilang sederhana. Tempatnya tidak begitu strategis dan kebanyakan pelanggan memesan makanan dari rumah atau kantor mereka. Siswa kampus, pekerja kantoran atau kadang-kadang orang yang berlalu lalang. Pelanggan mereka cukup beraneka ragam meski jumlahnya tak begitu banyak karena Xiao Yue lebih memprioritaskan pesanan take away. Saat waktu makan siang dan sore kebanyakan orang ingin memesan makanan dari luar jadi terkadang ketika Paman Jiang tidak dapat mengantar, Qian Qian yang akan melakukannya.
Walaupun kecil dan sederhana, salah satu yang membuat Xiao Yue tetap mempertahankan kedai itu adalah karena tempat itu adalah salah satu peninggalan terakhir dari mendiang orang tua mereka.
Qian Qian tidak bisa membayangkan betapa kerasnya perjuangan adiknya itu. Mungkin, yang menyebabkan Xiao Yue tidak ingin mengatakan tentang apa yang terjadi selama masa lima tahun itu karena dia tidak ingin Qian Qian tenggelam dalam masa lalunya.
Qian Qian telah selesai mengantar semua pesanan pelanggan mereka. Kebetulan ia lewat di depan taman yang waktu itu. Qian Qian memperlambat laju motornya, tanpa sadar menengok ke samping dan memikirkan bocah kecil yang waktu itu memanggilnya ibu. Kali ini, Qian Qian melihatnya lagi sedang duduk sendirian di bangku taman. Bocah kecil itu tampak sedang menunggu seseorang, ia melihat Qian Qian dengan matanya yang besar nan menggemaskan.
Langit sudah hampir gelap, kenapa dia belum pulang? Apakah ayahnya belum datang menjemputnya?
Karena perhatiannya teralihkan, ia tak memperhatikan lubang yang cukup besar yang ada di depannya. Qian Qian mengendarai motornya terus hingga menginjak lubang itu, kemudian dia kehilangan keseimbangannya dan dia pun terjatuh.
Konyol....kenapa aku bisa jatuh begini...Malunya...
Syukurlah Qian Qian tidak mengalami luka berat. Dia duduk di atas tanah dan mengecek sebentar keadaan motornya, terutama bagian kotak penyimpanan makanan yang ada di ujung jok. Ketika ia ingin bangkit, dia mendengar suara langkah kaki kecil dengan cepat mendekatinya.
"I-ibu!" Bocah kecil itu memandanginya dengan penuh cemas dan mata yang basah.
Qian Qian berdesis menahan pedihnya luka gores yang ada di salah satu sikunya ketika ia bergerak.
Uuhh... sakit, tubuh ini benar-benar lemah.
"Ibu...Ibu tidak apa-apa?" Tanya bocah kecil itu dengan suara lirih.
Qian Qian tersenyum lembut dan mengangguk. "Aku tidak apa-apa kok."
Bocah kecil itu segera membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah plester obat.
"Tolong ulurkan tangan ibu." Pintanya lalu Qian Qian mengulurkan tangannya ke depan bocah kecil itu. "I-ibu...jangan bergerak ya."
__ADS_1
Pipi cerah yang tampak kenyal itu memerah saat ia menyentuh Qian Qian. Tangan kecilnya terasa hangat ketika membersihkan kotoran pasir yang ada di sekitar luka Qian Qian kemudian ia meniupnya dengan pelan dan lembut. Apa yang dia lakukan begitu hati-hati.
Qian Qian kagum. Anak siapa ya dia...Ah~ benar-benar menggemaskan. Dia didik dengan begitu baik.
"Xiao Rui. Apa yang sedang kamu lakukan disana?" Seorang guru wanita memanggilnya lalu datang menghampiri mereka. "Kamu tidak boleh berlari keluar seperti itu, sebentar lagi ayah mu akan datang menjemputmu." Ujarnya.
Xiao Rui menggelengkan kepalanya. "Bu guru tidak perlu khawatir. Ayahku mungkin akan sedikit lama. Katanya, dia masih ada urusan di kantor." Dia kemudian menunjuk Qian Qian "Aku... ingin menemani bibi ini sebentar, tadi dia terjatuh dan terluka. Tidak apa-apa kan bu?" Lanjutnya bertanya dengan sopan dan lembut pada guru wanita itu.
Guru itu turut cemas melihat Qian Qian. "Apakah kau baik-baik saja?"
Qian Qian terkekeh "Tidak apa-apa, ini hanya luka gores."
"Tapi bibi, lukanya jangan sampai basah, nanti sembuhnya akan lama." Timpal Xiao Rui.
Qian Qian mengelus kepala Xiao Rui. Dia tidak menyangka bocah kecil itu akan berkata seperti itu.
"Um. Akan ku ingat kok."
Guru yang memperhatikan keakraban keduanya merasa tenang dan sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk meninggalkan Xiao Rui padanya.
"Kalau begitu nona, maaf merepotkan mu untuk menemani Xiao Rui." Ucapnya sopan.
Setelah guru itu pergi, Xiao Rui tiba-tiba berjongkok di depan Qian Qian.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Qian Qian penasaran.
"Aku hanya melihat luka lainnya di kaki ibu."
Qian Qian tersenyum dan merasa senang. Bagaimana bisa anak seusianya begitu pengertian dan penuh perhatian.
Keduanya kemudian duduk bersama di taman itu. Qian Qian mengangkat kedua lututnya dan mendekapnya dengan lengannya. Dengan senyuman hangat ia bertanya pada Xiao Rui. "Namamu....siapa?"
Entah mengapa, Xiao Rui tiba-tiba terdiam begitu saja ketika wajah penuh senyum Qian Qian mendekatinya. Qian Qian melihat Xiao Rui yang seperti orang linglung itu begitu menggemaskan. Dia tak bisa menahan rasa ingin menyentuh pipi cerah yang kenyal dengan warna kemerahan-merahan itu.
Jarinya seolah bergerak sendiri menyentuh pipi Xiao Rui. "Nama ku Mo Qian Qian. Siapa namamu?" Tanya Qian Qian sambil memencet-mencet pipi Xiao Rui dengan telunjuknya.
__ADS_1
Xiao Rui segera tersadar. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Qian Qian. "Namaku Lin Zi Rui. Ibu...bisa memanggilku Xiao Rui." Bocah kecil Xiao Rui tersipu malu.
Zi Rui? Nama itu terdengar tidak begitu asing di telinganya. Qian Qian seperti pernah mendengarnya tapi dia tak tahu dimana atau kapan itu.
Nama yang bagus.
"Hari sudah hampir larut? Kenapa ayah mu tidak segera datang?"
"Ayah masih rapat."
"Hmm... apakah dia selalu seperti ini? Lalu bagaimana dengan ibu-" Qian Qian menghentikan kalimatnya. Ia lupa kalau hubungan Xiao Rui dan ibunya tidak begitu bagus.
Sesaat kemudian Xiao Rui menunduk dengan wajah cemberut. Qian Qian benar-benar kesal kalau memikirkan anak sepandai dirinya tidak diinginkan oleh ibunya sendiri.
"Ibuku....mungkin aku bukan anak yang baik, jadi dia tidak menginginkan ku." Ucapnya dengan nada pelan.
Owh~ Suaranya yang tadinya terdengar manis dan mampu melembutkan hati seseorang kini terdengar begitu sedih. Qian Qian seperti merasakan sayatan di hatinya ketika mendengar kalimat bodoh itu.
Tidak masuk akal. Dia masih sangat kecil dan sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Bagaimana bisa ada ibu setega itu yang tidak menginginkan anaknya.
Qian Qian tidak ingin menanyakan hal itu lebih jauh. Ia segera mengganti topik. "Apakah kau lapar? Kebetulan aku bawa bekal bakpao."
Qian Qian lagi membawa makanan yang sama. Tapi kali ini bakpao itu tidak dia dapatkan dari bibi yang bekerja di klinik melainkan ia membawanya dari rumah. Karena kekhawatiran Xiao Yue, Qian Qian tidak bisa menolak ketika adiknya yang sangat peduli padanya memberinya sebuah bekal.
Xiao Rui mengangguk cepat terlihat begitu lucu. Dia mengambil bakpao yang diberikan oleh Qian Qian dan memakannya dengan lahap.
Terakhir kali dia langsung menerima makanan yang ku berikan padanya dan kali ini dia juga langsung menerimanya begitu saja. Dia begitu naif. Ini tidak baik! Apa mungkin ayahnya tidak mengajarkannya untuk tidak menerima makanan pemberian orang lain begitu saja.
Qian Qian merasa prihatin dengan perkembangan Xiao Rui. Jika dibiarkan seperti itu, mungkin bisa saja seseorang akan menipunya di masa depan atau mungkin akan ada yang menculiknya.
Qian Qian dengan tegas berkata pada Xiao Rui. "Kedepannya kamu jangan terima pemberian orang kain dengan gampangnya oke?"
Xiao Rui berpikir sejenak, wajahnya tiba-tiba menjadi murung. "Um. Tapi ibu kan orang yang baik bukan orang jahat."
Qian Qian menghela nafas panjangnya. Dia tidak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
Setelah lama menghabiskan waktu bersama hingga matahari telah sampai di penghujung horison. Guru wanita yang tadi kembali menemui mereka. Dia berkata kalau ayah Xiao Rui baru saja menelpon dan akan segera sampai di sekolah.
Qian Qian tidak merasakan waktu yang berlalu. Kedua lalu berpisah dengan sebuah pelukan hangat.