
"Ibu, Ayahku sudah datang." Kata Xiao Rui sambil menunjuk ke arah mobil tipe SUV yang baru saja datang dan berhenti di tepi jalan.
Qian Qian spontan berbalik untuk melihat sosok ayah yang selalu meninggalkan anaknya sendirian sampai hari hampir malam.
Seorang pria tinggi dengan perawakan berkarisma mengenakan setelan hitam turun dari mobil dari kursi belakang. Dia berjalan ke arah mereka.
Pria itu mengenakan setelan hitam dengan kemeja putih dibaliknya yang membuatnya terlihat formal. Ditambah lagi dengan celana panjang hitam yang serasi dengan atasannya serta tanpa adanya perhiasan selain jam tangan di lengannya, pria itu memberikan kesan dewasa dan terlihat bijaksana. Matanya yang hitam dengan pandangan tajam serta hidung mancung dan potongan rambut rapi dengan sedikit poni melengkung yang menutupi sisi dahinya membuat pria itu terlihat makin berkarisma.
Walaupun dirinya saat ini bukanlah penggemar dari mode pakaian atau perhiasan dengan brand ternama, tapi dari penampilan dan aura pria itu, Qian Qian tahu kalau orang yang berjalan mendekati mereka bukanlah seorang pria biasa yang mungkin bisa ditemui di sembarang tempat.
Berdasarkan ingatannya juga ketika ayah dan ibu Qian Qian masih hidup. Pria itu terlihat lebih seperti seorang pengusaha besar dari perusahaan top. Qian Qian ingat dengan para orang tua atau bos-bos yang biasanya datang ke acara keluarga mereka dulu.
Pria itu berjalan dengan pelan ke arah mereka.
Seorang guru wanita sekolah Xiao Rui datang dan menyapanya dengan sopan. "Halo Tuan Lin."
"Aku agak lambat, maaf sudah merepotkan anda." Balas Jian Yu. Biarpun dia memiliki posisi yang tinggi, tapi dia menjawabnya dengan sopan dan rendah hati.
"Anda terlalu sopan, kami sama sekali tidak keberatan." Guru wanita itu lalu menoleh dan melihat Xiao Rui. "Putra Anda sedang bermain dengan wanita yang disana. Anda tidak perlu cemas Tuan Lin, saya melihat keduanya begitu akrab dan Xiao Rui juga sangat senang ketika dia bersama dengan wanita itu."
"Benarkah? Syukurlah kalau seperti itu."
Tentu saja dia senang karena wanita itu sebenarnya adalah ibunya. Hanya saja, Jian Yu masih bertanya-tanya tentang hal aneh di depan matanya. Qian Qian yang ia kenal tidak mungkin menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan Xiao Rui seperti apa yang ia lihat saat ini. Bahkan, ia tidak sudi ketika anak itu mendekatinya.
Melihat ayahnya makin dekat, Xiao Rui melompat turun dari ayunan. Dia segera berlari dengan kaki mungilnya itu untuk menyapa ayahnya. Tak lupa ia juga mengucapkan sampai jumpa pada gurunya.
Mata Qian Qian bertemu dengan mata pria itu. Dia menghampiri mereka untuk menyapa."Halo...Tuan Lin."
Lin Jian Yu. Ayah dari Xiao Rui terbelalak karena terheran-heran. Qian Qian menyapanya dengan baik. Biasanya wajah Qian Qian selalu menunjukkan ekspresi jengkel ketika mereka bertemu.
Apa..yang terjadi?
Dia melihat ekspresi wajah Qian Qian yang datar dan seperti tidak mengenalinya.
Lin Jian Yu terdiam untuk berpikir sejenak. Ia meminta waktu kepada keduanya untuk menelepon sebentar.
"Xiao Yue"
{Ya, ada apa kakak ipar?}
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan Qian Qian? Kenapa dia terlihat seolah dia tidak mengenal ku?"
{......Apakah kakak ipar sudah bertemu dengannya?}
"Iya."
{Kakakku....dia mengalami amnesia. Setelah sadar dari koma nya, kakakku kehilangan ingatannya.}
Jian Yu terkejut. Ia berbalik sepintas untuk melirik Qian Qian yang sedang asik bercengkrama dengan Xiao Rui. Pantas saja. "Lalu, bagaimana hasil pemeriksaan menurut dokter?"
{Dokter bilang kalau dia baik-baik saja. Tapi setelah dilakukan tes, Sepertinya kakakku kehilangan ingatannya akan 5 tahun sebelumnya. Maaf, aku lupa mengatakannya padamu. Dan juga soal surat cerai itu..., aku belum menyerahkannya pada kakakku.}
"Um, tidak apa. Itu... tidak masalah, yang penting aku sudah tahu semuanya dan dia baik-baik saja." Hatinya kembali lega setelah mendengar jawaban Xiao Yue.
Meskipun ia berencana menceraikannya tapi sebenarnya itu hanyalah paksaan dari Qian Qian yang terus saja memintanya.
Jian Yu tahu, Qian Qian memang bukanlah sosok istri dan ibu yang baik bagi dirinya dan bagi Xiao Rui, tapi entah mengapa hatinya tatkala terlanjur terikat pada wanita itu.
Jian Yu menutup telponnya dan kembali kepada mereka.
"Ayah, ayah. Bagaimana kalau kita makan malam bersama. Aku lapar karena menunggu ayah." Pinta Xiao Rui dengan suara manjanya sambil ia mengelus perut kecilnya.
Qian Qian segera menolaknya dengan sopan. "Tidak perlu Tuan Lin. Lagipula aku juga senang bermain dengan Xiao Rui. Dia anak yang penurut dan juga menggemaskan."
Qian Qian terkekeh lalu ia pamit dengan membungkuk sedikit. Saat ia berbalik dan ingin kembali ke motornya, tangan kecil Xiao Rui menarik ujung bajunya.
"Ib-bibi~ mau ya, ikut makan bersama kami? Ayah akan membawa kita untuk makan makanan yang lezat."
Xiao Rui menarik-narik ujung baju Qian Qian. Tangan mungil dan mata memelas serta suaranya yang menghangatkan hati membuat Qian Qian luluh.
Qian Qian melihat mata polos itu seakan merindukan kasih sayang ibunya. Mengingat tentang Xiao Rui yang tidak diinginkan oleh ibunya, Qian Qian tidak punya pilihan lain. Ia pun berbalik, menunduk dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Umm...tapi aku harus menghubungi orang rumah dulu. Soalnya adikku orangnya khawatiran." Ucap Qian Qian lalu ia menelpon Xiao Yue.
Beberapa saat kemudian, Qian Qian menutup telponnya.
"Aku sudah menelepon adikku. Dia bilang tidak masalah."
Qian Qian melihat motornya dengan ekspresi cemas. Jian Yu mengikuti arah pandangan Qian Qian. Ia tahu apa yang Qian Qian pikiran saat ini. Jian Yu berbalik menoleh pada Ming Yu, ia memberikan kode dengan tatapan matanya.
__ADS_1
Ming Yu menghela nafasnya. Ia segera keluar dari mobil dan naik ke atas motor Qian Qian.
"Jangan khawatir Nona Mo. Asisten ku akan membawa motor anda kembali ke rumah anda."
Perasaan dilema Qian Qian pun lenyap.
"Nona Mo, silakan." Ucap Jian Yu dengan sopan sambil ia membukakan pintu mobil untuk Qian Qian.
Qian Qian berterima kasih. Ia masuk ke dalam mobil. Setelah Qian Qian dan Xiao Rui duduk. Jian Yu menutup pintunya dan memasuki mobil dari sisi satunya.
Dari pakaian dan etikanya barusan, Qian Qian tahu kalau pria itu adalah seseorang yang kaya dan berpendidikan. Sikapnya begitu ramah, mulai dari saat ia menyapanya sampai ia membukakan pintu mobil untuknya.
Jian Yu menyetir mobil dan mereka pun sampai di restoran terdekat. Tidak begitu berkelas namun tidak juga terlihat sederhana. Jian Yu memilih tempat yang tepat sesuai dengan apa yang Qian Qian kenakan.
Baginya untuk membawa Qian Qian ke restoran berkelas atas, itu seakan ia berusaha mempermalukan Qian Qian yang saat ini mengenakan pakaian dan dandanan yang sederhana. Hanya mengenakan jeans biru dan kemeja putih sederhana dengan alas kaki berupa sepatu kets yang juga berwarna putih. Penampilan casual Qian Qian yang tidak pernah ia dapati. Jian Yu tidak membencinya.
Ketiganya lalu duduk di dekat jendela. Restoran itu terlihat tidak dalam jam ramai. Xiao Rui memilih untuk duduk lebih dekat dengan Qian Qian.
"Nona Mo, silakan pesan apa saja yang anda inginkan." Kata Jian Yu dengan sopan saat seorang pelayan datang dan memberikan mereka buku menu.
Qian Qian melihat-lihat menunya. Jujur ia tidak tahu harus pesan apa, harus makan apa. Kepalanya berputar-putar tidak bisa memilih. Dia penasaran dengan ini dan itu dan ingin mencobanya sebisa mungkin. Tapi sebagai orang yang beradab, Qian Qian tersenyum tipis. "Umm...aku... ikut pesanan Tuan Lin saja."
"Baiklah." Jian Yu tersenyum lebar. Qian Qian dengan ekspresi kebingungan tampak imut di matanya.
Sembari menunggu pelayan mengantarkan pesanan mereka. Jian Yu mengeluarkan kartu namanya. Qian Qian menerimanya dan membacanya pelan-pelan. "Lin...Jian Yu. Presiden Direktur LM Group."
Qian Qian berkedip-kedip kebingungan.
Presiden... direktur? Apa maksudnya dia ini presiden yang itu ya? Heeehh.
"Hah!! Presdir LM Group!?"
Otaknya seperti baru saja tersambung setelah membaca kartu nama itu. Orang yang duduk di depannya adalah seorang Presdir dari perusahaan ternama di kota T saat ini.
Jian Yu lagi-lagi tertawa melihat ekspresi terkejut Qian Qian. Sungguh, apa yang ia lihat saat ini adalah sesuatu yang baru pertama kali.
"Nona Yi tidak perlu terlalu sopan untuk memanggil ku Tuan Lin. Namaku Lin Jian Yu. Panggil saja Jian Yu."
"Um..eh, eh...Namaku Mo Qian Qian. Anda, maksudku kamu juga boleh memanggilku Qian Qian."
__ADS_1