Suami Presdir Ku Yang Bucin

Suami Presdir Ku Yang Bucin
Chapter 15 Benang Merah Yang Tersambung Kembali


__ADS_3

Qian Qian kehilangan kesadarannya. Dia pun dilarikan ke rumah sakit, sementara ketiga orang itu telah diamankan oleh pihak berwajib saat Jian Yu mengalahkan kedua pria itu dan melaporkan mereka pada polisi.


Setelah beberapa jam berlalu, Qian Qian akhirnya siuman. Dia bangun dari tidurnya sambil memegangi kepalanya yang masih berdenyut sakit. Dia ingat sebelum dirinya pingsan, sesuatu yang terasa tajam seolah menembus masuk ke dalam kepalanya.


Sedikit ingatan dari pemilik tubuh asli yang ia dapatkan mampu membuatnya tak sadarkan diri.


"Ini...Aku dimana?" Tanya Qian Qian pada dirinya yang sendirian dalam ruangan itu.


Ruangan itu tidak terasa asing, dia melihat sekeliling dan benar duganya, ruangan itu adalah sebuah kamar rumah sakit.


Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ku lihat. Jika memang seperti itu, maka aku benar-benar ibu dari Xiao Rui dan istri Jian Yu. Tapi....


Siap tidak siap dia harus menanggung beban itu. Setelah jiwanya memasuki tubuh Qian Qian, itu artinya dia harus menerima semua yang ada dalam kehidupan wanita itu. Hanya saja untuk berpikir kalau dirinya akan menjadi seorang istri dari pria yang bahkan ia tidak tahu, sulit baginya untuk membayangkan akan seperti apa kedepannya.


"Kakak! Kakak, kamu sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Apakah ada yang sakit?"


Xiao Yue segera menghampiri ranjangnya saat ia masuk ke dalam dan melihat Qian Qian sudah bangun.


Qian Qian menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, apa yang terjadi?"


Xiao Yue meletakkan sebuah kantong plastik di meja di sampingnya. Ia menjelaskan sedikit kejadian tentang ketiga perusuh itu dan saat Qian Qian menghantam sisi meja.


"Waktu kepalamu membentur meja, kakak langsung pingsan. Kak Jia- Tuan Lin segera menangani para pengacau itu dan membawa mu ke rumah sakit." Jelasnya


"Benarkah? Lalu dimana dia sekarang?"


Ada sesuatu yang ingin ku pastikan


"Tuan Lin baru saja pulang. Dia tadi cukup panik saat melihat hidung kakak tiba-tiba berdarah."


Qian Qian memegangi pundak Xiao Yue. "YueYue. Sepertinya aku ingat sesuatu."


Walaupun sedikit, tapi sekarang aku tahu hubungan apa yang ku miliki dengan orang itu. Pantas saja aku merasa tidak asing saat berbicara dengannya.


"Sesuatu? Apa itu kak?"


"Sebelum itu, aku ingin kau jujur menjawab ku. Dalam Lima tahun belakangan ini, sebenarnya apa yang telah terjadi padaku dan bagaimana kehidupanku?"


"Itu..." Xiao menggaruk pipinya dan memalingkan pandangannya dari Qian Qian.


Ia kembali menoleh dan melihat wajah serius Qian Qian. Xiao Yue menghela nafasnya. "Baiklah. Kehidupan mu sangat buruk. Semenjak kakak menikah dengan kakak ipar, kakak selalu terlihat depresi dan putus asa. Apalagi saat Xiao Yue lahir. Hidupmu menjadi lebih tidak karuan. Merokok, mabuk-mabukan, setiap hari pulang malam bahkan kakak tidak terlihat seperti seorang ibu." Xiao Yue meraih kedua tangan Qian Qian dan menggenggamnya erat-erat.


"Maaf. Aku tidak ingin mengatakan ini karena aku tidak ingin kakak terjebak oleh masa lalu yang suram itu. Aku senang melihat kakak sudah berubah dan menjadi lebih ceria. Tidak apa-apa kalau kakak ingin kembali menjadi yang dulu lagi, yang selalu manja dan suka bersantai di rumah, tapi aku tidak ingin kakak menghabiskan hidup kakak di dunia malam dengan cara seperti itu. Aku hanya ingin kakak bahagia."


Qian Qian mengelus pipi Xiao Yue, ia mendekatkan kepalanya dan menempelkan dahinya dengan dahi Xiao Yue. Qian Qian memandang lembut adiknya. "Sungguh, aku bersyukur mempunyai adik sepertimu." Ucapnya lalu ia beranjak turun dari ranjang.


"Kakak mau kemana?"


"Aku ingin menemui dia. Ada sesuatu yang harus ku katakan padanya."


Sesuatu yang sangat penting.


Menebak raut wajah dan sikapnya, Xiao Yue sepertinya tahu kemana Qian Qian akan pergi. Ya. apalagi kalau bukan menyusul suaminya. "Apa kau yakin?"

__ADS_1


"Ya. Tenang saja, aku tidak akan membuat mu mencemaskan ku lebih sering lagi." Qian tersenyum dan mengangguk.


...****************...


"Xiao Rui. Ada apa?"


Langkah Xiao Rui terhenti dan ia menengok kebelakang.


"Aku...aku masih ingin bersama ibu."


"Tidak Xiao Rui. Besok kita tidak akan bertemu dengannya lagi dan kau akan pindah sekolah."


"Kenapa? Tapi ayah aku masih ingin bersama ibu..." Rengeknya.


Setelah sekian lama dia merindukan kasih sayang seorang ibu dan akhirnya dia mendapatkannya, kenapa mereka harus berpisah lagi.


Dia tidak tahu alasannya. Dari apa yang ia lihat, ibunya saat ini tampak tidak membencinya. Ibunya bahkan mengelus kepalanya, mengusap pipinya dan menemaninya makan. Mereka bercanda dan bercerita bersama.


"Jangan merepotkan ibumu lagi. Cepat atau lambat mungkin....dia akan kembali seperti dulu lagi." Hati Xiao Rui tiba-tiba nyeri mendengar pernyataan ayahnya.


Apakah benar ibu akan kembali seperti dulu lagi. Apakah dia tidak akan menginginkan ku lagi? Tidak! Aku harus memastikannya.


Xiao Rui menggelengkan kepalanya sambil menatap Jian Yu dengan mata berkaca-kaca.


Aku benci mengakuinya tapi tidak ada yang bisa kulakukan ketika dia benar-benar tidak ingin melihat ku dan menggunakan nyawanya lagi untuk mengancam ku.


"Tidak.... tidak mau...aku mau ibu...huhuhu..." Xiao Rui mulai menangis sambil ia menarik paksa tangan ayahnya yang begitu kaku. Dia ingin kembali ke dalam rumah saki untuk menemui ibunya.


"aku mau ibu...huhu...ayah...aku ingin melihat ibu." Air mata Xiao Rui makin deras mengalir.


Jian Yu menukik alisnya memandangi anaknya dengan wajah sedih. Ia turut kasihan melihatnya. Baru saja Xiao Rui mendapatkan kasih sayang ibunya yang selama ini ia idam-idamkan tapi pada akhirnya dia harus melepasnya.


Jian Yu menguatkan hatinya. Ia menaikkan sedikit nada suaranya. "Lin Zi Rui!" Tegasnya. "Berhenti menangis dan segera masuk ke dalam mobil."


"Tunggu!" Suara Qian Qian menghalangi mereka untuk melangkah maju.


"Nona Qian Qian, ada apa?" Tanya Jian Yu dengan formal. Ia berpura-pura agar mereka terlihat asing.


"Aku...aku ingin menanyakan sesuatu padamu."


"Silakan."


"Itu.... kenapa kau tidak segera mengatakannya." Suara Qian Qian terdengar pelan. Sebenarnya ia sendiri masih bimbang dengan keadaannya. Tapi saat melihat wajah kecil yang imut itu bersedih dan penuh dengan air mata. Hati Qian Qian tidak kuat menahannya. Jika benar dia adalah ibu dari bocah kecil itu. Betapa bodohnya dia selama ini.


"Hmm..?"


"Aku bilang kenapa kau tidak memberitahu dan malah berpura-pura di depanku!" Ucapnya sedikit lantang.


"Maaf aku tidak mengerti apa-."


"Aku ingin tahu, apakah Xiao Rui benar adalah anakku."


Jadi...dia sudah ingat ya.

__ADS_1


Untuk sesaat, Jian Yu terdiam. Ia menutup matanya beberapa detik lalu melihat tepat ke dalam mata Qian Qian.


".....Ya"


"ka-ka-kalau begitu. Apakah aku ini benar adalah istrimu." Telinga Qian Qian mulai memerah. Kenapa saat ia ingin mengakui dirinya sebagai istri Jian Yu, rasanya sedikit malu dan canggung.


Tentu saja. Kau masih istriku dan akan selalu seperti itu untukku.


"....Ya."


"Kenapa?"


"Maaf, bukannya aku tidak ingin memberitahumu tapi aku..."


"Bukan itu. Tapi kenapa kau masih mendekati wanita seperti ku? Aku bukanlah istri dan ibu yang baik untukmu dan untuk Xiao Rui. Kenapa kau masih mau bersama dengan ku. Kenapa kau masih ingin melihat wanita seperti diriku ini."


Kenapa? Oramg sebaik dirimu tidak melepas ku? Mungkin seperti itu maksud Qian Qian.


Dengan apa yang Jian Yu miliki, tidak mungkin tidak ada seorang wanita pun yang bisa mengalihkan perhatiannya dari sosok sehebat dia. Kalau dipikir-pikir memang sangat aneh baginya.


"....Itu karena aku mencintaimu mu."


"....." Qian Qian terkejut. Ia diam mematung berdiri tegap di tempatnya.


Seolah jantungnya bisa melompat kapan saja keluar dari mulutnya, Qian Qian tidak menduga kalau kalimat itu bisa membuatnya kehilangan kata-kata. Bak musim semi dengan bunga indah yang berterbangan di antara keduanya, tatapan lembut Jian Yu dan suaranya tadi membuat wajahnya merah merona. Untuk dirinya, ini adalah hal yang pertama kali dalam hidupnya.


"Aku mencintaimu, aku tidak ingin berpisah darimu, aku yakin kau satu-satunya wanita yang sempurna untukku. Aku tidak menginginkan wanita lain melainkan dirimu. Apakah....itu sudah menjawab pertanyaan mu." Jian Yu terus melakukan serangan beruntun dengan kalimat manisnya dan itu membuat Qian Qian makin tak berkutik.


Apa yang salah dengan ku? Jantung ku berdetak kencang dan tidak mau berhenti. Uhh... mulutku bahkan tidak bisa bergerak.


"Baiklah, selamat tinggal Qian Qian." Jian Yu berbalik. Ia mengambil Xiao Rui lalu menggendong dan mereka pun berjalan ke mobil yang terparkir di sisi jalan.


Ayolah kaki! Bergerak! Bergerak lah..!


"Apakah itu tidak masalah bagimu." Kata Qian Qian dengan suara pelan.


Setelah akhirnya ia memaksa kakinya untuk bergerak, ia pun maju dan menarik ujung baju Jian Yu. Tapi sayangnya dia masih tidak bisa menatap wajah Jian Yu.


"Aku... masih tidak mengingat apapun tentang 5 tahun yang terjadi di antara kita. Aku bahkan tidak tahu banyak tentang mu. Jika kau tidak keberatan dengan itu, aku, aku, bersedia untuk memulainya lagi." Ujarnya sambil menunduk.


"Apakah kau yakin?"


"...." Qian Qian mengangguk dua kali.


"Sungguh? Kau tidak akan menyesalinya kan?"


"..." Ia mengangguk lagi.


Bagus.


Seperti memenangkan lotere dengan jumlah yang banyak. Jian Yu hampir saja berteriak dan mengangkat tangannya ke langit untuk bersorak.


Ia berdeham, menggunakan suara datar untuk menyembunyikan rasa senangnya. "Aku akan menjemputmu besok sore."

__ADS_1


__ADS_2