
Pagi-pagi buta sebelum tokonya buka, Qian Qian telah memegang sebuah sapu lalu mulai membersihkan halaman depan rumahnya. Suatu kejadian yang amat langka jika seandainya hal itu dilakukan oleh Qian Qian yang dulu.
Pagi hari adalah waktu terbaik untuk menyegarkan dirinya. Setelah Qian Qian mengamati adiknya beberapa hari sebelumnya, dia sudah cukup paham dengan apa yang harus dilakukannya ketika fajar menjelang. Meskipun... mungkin butuh waktu lagi untuk dia bisa memasak makanan atau membuat minuman untuk para pelanggan.
Setidaknya aku sudah bisa melakukan pekerjaan rumah seperti bersih-bersih. Qian-Qian berkacak sambil menyandarkan sapu di sampingnya.
"Aku tidak tahu kenapa si pemilik asli begitu tidak kompeten. Jika tubuh ini bisa ingat tentang mengendarai motor tapi kenapa tidak dengan bersih-bersih?" Qian Qian bergumam sendiri lalu menghela nafas panjang.
Dia sungguh menyayangkan hal itu. Setidaknya dia berharap menemukan satu atau dua serpihan ingatan dalam kepalanya tentang Qian Qian yang sebelumnya melakukan pekerjaan rumah tapi sayang sekali hasilnya nihil. Yah, dengan tangan yang begitu halus, dia sendiri ragu kalau gadis itu dulu pernah melakukan pekerjaan berat.
Sembari bersiap-siap untuk membuka tokonya. Qian Qian baru ingat, kalau pekerjaan seperti ini sebenarnya mudah untuk dilakukan jika seandainya ia bisa melakukan sihir. Sayang sekali, dia tak bisa melakukannya tanpa adanya Mana.
Dunia ini tidak ada yang namanya Mana sih. Walaupun aku membawa salah satu pecahan Dragon Heart milikku tapi dengan tidak adanya Mana yang mengalir, maka energi Mana dalam Dragon Heart ku hanya bisa pulih secara perlahan-lahan.
Apa itu Dragon Heart? Apakah itu jantung kehidupan Qian Qian saat ini?
Gloria Sang Naga Agung yang ditakuti oleh seluruh penduduk Aria, bahkan para Dewa-dewi tak berani mengusik tidurnya, memiliki sebuah tempat penyimpanan Mana yang begitu besar yang bernama Dragon Heart.
Umumnya semua jantung naga akan dinamakan Dragon Heart tapi berbeda dengan milik Sang Naga Agung. Dragon Heart milik Gloria tidak hanya mampu menyimpan Mana dalam jumlah besar atau menyembuhkan penyakit seseorang yang memiliki kontradiksi dengan energi Mana tapi Dragon Heart miliknya bahkan mampu mengoperasikan ratusan hingga ribuan alat sihir. Mudahnya, Dragon Heart Sang Naga Agung mampu menghidupkan sebuah negeri. Dan itulah kenapa para manusia itu mengincarnya. Keji, Licik sang serakah. Qian Qian begitu marah ketika mengingat hal itu.
Dia menggelengkan kepalanya untuk melenyapkan pikiran-pikiran itu. Yah... Lagipula tempat ini begitu damai, mungkin aku akan tidak membutuhkannya.
Qian Qian lalu meletakkan sapunya kembali ke dalam gudang dan mengangkat pintu besi tokonya. Bunyi dari pintu besi yang terangkat itu membangunkan Xiao Yue yang tidur di kamarnya.
"Ah! Gawat! Aku kesiangan!" Xiao Yue dengan tergesa-gesa bangkit dari ranjangnya.
Jarum jam bahkan belum menunjukkan pukul 6 dan dia sudah berkata kalau dirinya kesiangan. Karena sangking buru-burunya, Xiao Yue tidak memperhatikan langkahnya, kakinya tersandung oleh selimutnya sendiri yang membuatnya terjatuh.
"Aduh!"
Xiao Yue mengelus jidatnya yang nyeri lalu ia kembali berdiri dan merapikan sedikit penampilannya.
"Hmm? Siapa dibawah? Kakak? Apakah itu kakak?" Xiao bertanya-tanya pada dirinya saat ia mendengar ada suara yang datang dari lantai bawah. Ia memutuskan untuk melihatnya.
"YueYue? Kau...apa kau baik-baik saja?" Qian Qian memiringkan kepalanya dengan ekspresi heran ketika melihat wajah Xiao Yue.
Ada apa dengan dahinya itu? Jatuh? Jangan-jangan suara keras tadi itu dia ya.
__ADS_1
Xiao Yue terkejut melihat Qian Qian. Ia melirik ke seluruh sudut toko dan melihat bahwa tempat itu sudah hampir selesai siap-siap. Halaman sudah bersih, meja dan kursi sudah ditata rapi bahkan sudah di lap hingga bersih mengkilap.
Xiao menggelengkan kepalanya. Apa yang membuatnya terkejut bukanlah Qian Qian yang bekerja keras di pagi hari, tapi karena Qian Qian masih dalam status pasien yang masih perlu istirahat.
Wajah Xiao Yue cemberut. Ia bahkan masih mendapati kakaknya memegang sapu. Jangan bilang kalau dia masih mau membersihkan tempat ini juga?
Sedikit kesal bercampur cemas. Xiao Yue menghampiri Qian Qian.
"YueYue? Bagaimana, apakah sudah benar begini?" Tanya Qian Qian meminta pendapat tentang apa yang telah ia lakukan.
Untuk pekerjaan pertamanya, dia takut akan melakukan kesalahan dan malah membuat adiknya makin kerepotan.
Bak seorang anak yang menunggu pujian dan sanjungan. Wajah dan mata Qian Qian berseri cerah menanyakan pendapat Xiao Yue. Tapi Xiao Yue tak ambil pusing, ia bergerak kebelakang Qian Qian dan mendorong punggung Qian Qian.
"Apa yang kakak lakukan? Kakak masih belum boleh bekerja berat." Tegurnya sambil mendorong Qian Qian.
Kakinya Qian Qian tidak terseret sambil ia memegangi sapunya. Dia terheran-heran. Kenapa tidak boleh?
"Tapi kan, aku baik-baik saja. Aku sudah baikan kok."
"Aku cuma mau membantu kok." Qian Qian tidak tahu mana yang salah. Niat baiknya malah membuat adiknya memarahinya.
Setelah ia mendekati sebuah meja, Xiao Yue memegang kedua pundak Qian Qian dan memaksanya untuk duduk di kursi.
"Pokoknya kakak harus istirahat yang banyak. Duduk disini dan tunggu sebentar. Aku akan segera membuatkan sarapan untukmu." Pungkasnya.
Padahal aku hanya ingin membantu.
Xiao Yue pergi ke kamar mandi untuk merapikan penampilannya. Setelah beberapa saat menunggu, Xiao Yue kembali, kemudian ia mengenakan celemek dan pergi ke belakang meja dapur.
Xiao mengambil bahan masakan. Ia mulai memotong sayur, daging dan bahan lainnya satu persatu dengan begitu tangkas.
Desis suara panci membawa aroma yang begitu wangi ke hidung Qian Qian. Menggugah selera, Qian Qian menghirupnya dengan lantang sambil memejamkan matanya.
Baunya sangat wangi. Aroma ini... tidak terasa asing bagiku...Aromanya saja sudah wangi pasti makanannya lezat.
Setelah beberapa saat, Xiao Yue akhirnya selesai. Ia membawa dua buah mangkok berisi sup yang tadi ia masak. Xiao Yue meletakkan kedua mangkok itu di atas meja. Ia kemudian memberikan sebuah sendok pada Qian Qian.
__ADS_1
"Karena waktu itu kakak tidak sempat memakannya, jadi kali ini aku buatkan lagi. Ayo, kita makan."
Qian Qian menepuk tangannya di hadapan wajahnya, ia terlihat begitu gembira. "Wah...ini mapo tahu daging kesukaanku ya? Makasih YueYue." Ucapnya dengan senyuman hangat.
Dalam ingatannya, makanan ini adalah makanan yang paling enak dan sangat disukai oleh Qian Qian sebelumnya. Walau dia hanya mengingat tentang rasa dan penampilan makanan itu, Qian Qian yang sekarang sebenarnya belum tahu pasti dan sangat penasaran seperti apa rasa dari makanan yang jadi favoritnya itu.
Sebelum memasukkan satu sendok mapo ke dalam mulutnya, Qian Qian meniupnya dengan pelan terlebih dahulu.
Aku tidak ingin lidah ku terbakar. Tubuh manusia itu begitu lemah dan rapuh.
Saat sup itu masuk ke dalam mulutnya. Rasa dan aroma dari banyaknya paduan rempah langsung meledak memenuhi mulutnya. Semuanya meleleh menjadi satu di atas lidahnya. Kedua sisi bibirnya merekah dengan lebar ke samping. Qian Qian sekali lagi menyendok supnya, ia benar-benar tenggelam dalam kelezatan makanan favoritnya itu.
Xiao Yue menopang salah satu pipinya dengan sambil memandangi kakaknya. Melihat ekspresi Qian Qian makan dia benar-benar senang. Qian Qian menikmati makanannya begitu lahap, sangat lahap. Ekspresinya dan cara makannya terlihat seperti apa yang ia makan benar-benar sesuatu yang lezat tiada tara.
Padahal itu cuma mapo tahu daging yang biasa dia makan.
Xiao Yue jadi ikut ngiler tapi melihat kakaknya yang ceria lebih dari dirinya yang dulu membuat Xiao Yue sangat bahagia. Tidak pernah ada sekalipun ia melihat Qian Qian menunjukkan ekspresi seperti itu sejak kedua orang tua mereka meninggal.
Xiao Yue mengambil ponselnya dan memotret wajah Qian Qian.
~ CEKREK ~
Suara potretan dari ponselnya membuat Qian Qian berhenti. Xiao Yue tidak menyangka, ia lupa mematikan suaranya.
"Suara apa itu? Jangan-jangan..." Qian Qian menukik alisnya dan menatap Xiao Yue dengan jengkel. "Kau memotret ku ya?" Tanya Qian Qian setelah mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya.
Xiao Yue mengalihkan pandangannya. Ia mulai berpura-pura. "Eh, tidak kok. Siapa bilang. Kakak salah dengar kali."
Qian Qian tidak percaya, ia melihat adiknya itu sedang memegang ponselnya. Dia yakin kalau apa yang tadi ia dengar adalah suara potretan kamera. Qian Qian menyipitkan matanya dan bertanya sekali lagi. "Apa benar??? Sini, coba ku lihat ponsel mu." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Qian Qian.
Xiao Yue segera menurunkan tangannya ke bawah meja dan mengamankan ponselnya ke dalam saku celananya. "Benar kok. Pasti tadi kakak salah dengar. Mana mungkin aku memotret kakak, kan aku sedang makan."
Suara ribut pertengkaran mereka terdengar hingga ke telinga Paman Jiang dan Yan Ya yang baru saja tiba. Keduanya terlihat begitu kekanak-kanakan tapi hal itulah yang membuat Paman Jiang dan Yan Ya ikut bahagia. Pemandangan Qian Qian dan Xiao Yue yang saling mengejar mengelilingi meja dan saling berebut ponsel begitu terlihat harmonis.
Yan Ya terkekeh, ia diam-diam mengeluarkan ponselnya dan memotret kedua saudari itu. "Momen Langka. Dapat."
Hasil jepretan indah dari sepasang saudari tergambar di layar ponsel Yan Ya
__ADS_1