Suami Presdir Ku Yang Bucin

Suami Presdir Ku Yang Bucin
Chapter 14 Serpihan Memori


__ADS_3

Matahari telah semakin panas dan berada tepat di atas kepala. Setelah mengantar pesanan, Qian Qian mengistirahatkan dirinya di sebuah bangku di tepi jalan. Ia mengambil sekaleng soda dari vending mesin yang ada di dekatnya.


"Soda benar-benar nikmat." Ucapnya.


Qian Qian lalu kembali mengendarai motornya untuk pulang ke rumah.


Berhubung hari itu adalah hari libur. Kedai mereka menjadi lebih sibuk dari biasanya.


Qian Qian berjalan masuk dan mendengar suara yang akrab di telinganya. Suara yang lembut dan terdengar ceria itu datang dari samping kirinya.


"Bibi..! Bibi..!" Xiao Rui melambaikan tangannya memanggil Qian Qian dengan antusias.


Qian Qian tersenyum membalas lambaian tangan Xiao Rui. Ia lalu berjalan menghampiri mereka.


Ketika matanya tertuju pada pria tampan di samping Xiao Rui. Ia melihat penampilan Jian Yu yang jauh berbeda dari pertama kali mereka bertemu beberapa hari yang lalu.


Dengan pakaian casual yang terlihat nyaman dan santai, Jian Yu masih tetap mengeluarkan karismanya sebagai lelaki yang mungkin bisa menarik para wanita. Walaupun sudah menikah dan memiliki seorang putra, ketampanan dan aura nya memudar, ia tidak kalah dengan para kawula muda di luar sana.


Mengenakan kemeja lapel putih yang di balut dengan sweater berwarna biru navi dan celana panjang putih. Walaupun terlihat sederhana tapi orang-orang yang melihat penampilannya tahu kalau pria itu adalah seorang tokoh penting dari sebuah perusahaan atau seseorang dari keluarga kaya.


"Apa yang sepasang ayah dan anak ini lakukan disini? Gak mungkin kan, mereka sengaja makan disini hanya untuk melihat ku." Batin Qian Qian sembari mendekati mereka.


Selagi keduanya bercengkerama, Xiao Yue dan Yan Ya sedang sibuk mengantar makanan ke setiap meja tamu.


Suasana tenang di kedai mereka awalnya baik-baik saja hingga beberapa orang dari salah satu meja yang ada di sudut ruangan mulai berulah.


Dua orang pria dan seorang wanita.


Pria itu memukul meja dengan keras dan memanggil si pemilik toko. Ia berkata kalau ia butuh penjelasan akan hal yang ada dalam makanannya.


Sontak hal itu membuat semua orang terkejut termasuk Qian Qian, semuanya menoleh melihat ke arah keributan itu.


Xiao Yue segera berlari menghampiri meja mereka. Ekspresinya biasa saja seolah apa yang terjadi itu bukanlah hal besar. Dari yang terlihat di wajahnya, itu berarti kalau Xiao Yue sudah biasa menangani komplain dari pelanggannya.


Suasana menjadi hening, semua orang menunggu pria itu untuk berkata.


"Apakah kau pemilik toko ini?!" Ucap pria itu dengan nada yang tinggi dan keras.


"Ya, maaf apa ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


"Heh! Hebat. Apakah kedai makanan kalian tidak memiliki standar kebersihan ya?"


"Maaf, apakah ada yang salah dengan makanannya?" Xiao bertanya dengan sopan.


Pria itu menyuruh temannya untuk mengambil mangkuk makanannya, ia lalu mengeluarkan sehelai rambut cuku panjang dari dalam mangkuk itu.


Hanya sehelai rambut dan dia membuat keributan yang begitu besar. Dari awal orang-orang mungkin sudah menyadari tindak-tanduk mereka. Ketiga orang itu kalau bukan sengaja ingin mencari masalah untuk merusak reputasi kedai itu, seseorang pasti memerintahkan mereka untuk melakukan hal itu.


Bagaimana tidak, dengan melayangnya seluruh aset keluarga Lin, mungkin saja masih ada seseorang diluar yang benar-benar belum puas dan tidak akan bisa tenang sebelum melihat sepasang saudari itu hancur.


Pria itu sekali lagi menggertak Xiao Yue dengan suaranya yang tinggi. "Mending kalian tidak perlu buka kedai makanan kalau hal seperti ini saja tidak bisa di perhatikan, iya gak?"


Dia menoleh kesana-kemari sengaja untuk meminta orang-orang mengiyakan pernyataannya. Namun para pelanggan yang mengenal kedai dan Xiao Yue tidak berkomentar apa-apa.


Dua rekannya mengangguk sambil berkata "benar. Benar itu."


"Aku langsung tidak nafsu makan setelah melihat ini. Pokoknya aku mau kalian ganti rugi."


Xiao Yue tidak ingin berdalih, ia tetap mengikuti arus dan bertanya. "Baiklah, kami akan membuatkan anda makanan yang baru."


Pria itu memukul meja dengan keras. "Bah! Kau pikir semudah itu. Bagaimana kalau aku sudah menelan beberapa helai rambut tadi? Tidak, aku ingin memeriksakan kondisi ku ke dokter, entah bagaimana perutku sedikit sakit. Ganti uang saja." Ngotot pria itu.


Uang?! Aku memberi kalian satu langkah dan kalian malah mengambil satu mil jauhnya. Heh!


Xiao Yue mengulurkan tangannya untuk meminta helai rambut itu. Ia lalu meletakkannya di atas kain putih.


Xiao Yue tersenyum sinis. "Hmm... rambut ini berwarna pirang. Apakah kalian yakin kalau ini milik salah satu pegawai kami?"


Disana hanya ada Paman Jiang yang berambut pendek jadi mustahil itu miliknya. Yan Ya, Xiao Yue dan juga Qian Qian memiliki rambut hitam pekat. Xiao Yue melirik ke teman wanita mereka. Ia mendekatkan helai rambut itu ke rambutnya. "Ini lebih seperti miliknya. Bagaimana bisa kalian menuduh kalau ini rambut kami. Lihat, bukan?! Warnanya saja berbeda apalagi rambut ini juga sedikit bergelombang dan... terlihat lebih tua. Tentu saja rambut tipis seperti ini bukan milik kami."


Apa yang Xiao Yue katakan itu mengenai tepat dirinya. Wanita itu tidak terima dengan sindiran Xiao Yue lalu naik pitam, ia maju ke depan. "K-kau!" Sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah Xiao Yue.


"Ada apa? Bukannya memang ini milikmu ya, bibi? Dari ukurannya saja sudah beda loh."


Orang-orang menahan tawa mereka. Kedok mereka telah terungkap dan wanita itu baru saja mendapatkan sindiran dari seorang gadis muda yang rupawan. Tentu, ia tak kuat menahan malu.


Qian Qian berfirasat kalau suasana mulai sedikit panas. Dan benar saja, wanita itu mendorong Xiao Yue. Xiao Yue kehilangan keseimbangannya, ia terjatuh tapi dengan cepat Qian Qian berlari ke belakangnya dan menahan Xiao Yue. Alhasil, Xiao Yue baik-baik saja tapi tidak dengan Qian Qian. Kepala belakangnya terbentur sisi meja dengan keras.


"Ah!" Qian Qian berteriak kesakitan. Penglihatannya seketika menjadi buram dan telinganya berdenging hebat hingga membuat kepalanya sakit.

__ADS_1


Perasaan ini...sama seperti waktu itu.


Sejenak, bayangan wanita melintas di dalam kepalanya. Wanita itu terlihat seperti sedang duduk di balkon mengenakan gaun terbuka yang indah. Dengan sebuah rokok di tangannya dan segelas minuman anggur yang menemaninya.


Wanita itu sedang menangis dan terlihat cukup depresi. Kepalanya sedikit pusing karena pengaruh minuman. Alkohol di tangannya membuat moodnya menjadi lebih buruk.


Ini... apakah ini...aku?


Dia melihat dirinya. Tepatnya, serpihan ingatan Qian Qian yang hilang.


Seorang anak kecil yang masih balita berjalan menghampirinya, anak itu menarik-narik ujung pakaiannya. "Ibu...Ibu kenapa? Jangan sedih ibu." Ucap anak itu dengan lembut dan pelan.


Qian Qian kesal, moodnya sedang buruk dan ia tidak bisa mengontrol tindakannya. "Pergi! Menjauh dariku!" Qian Qian menepis tangan anak itu lalu ia mendorong segelas anggur yang ada di meja ke lantai.


Qian Qian tidak menduga tindakannya akan membuat serpihan kaca dari gelas Qian Qian mengenai kaki anak itu. Dia berteriak kesakitan namun anak itu menahan tangisannya dengan air mata yang terus berlinang membasahi wajahnya. Dia pikir, kalau dia menangis maka ibunya akan lebih membencinya lagi.


Qian Qian panik dan rasa sesal muncul dalam hatinya. Baru saja ia tidak berpikir dengan jernih.


Saat ia mencari sesuatu untuk mengobati luka anak itu, seorang pria masuk dan segera menghampiri mereka.


Pria itu melihat anak itu dengan luka di kakinya yang masih segar. Dia marah dan segera menampar Qian Qian.


"Apa yang kau lakukan?! Aku tidak peduli seberapa benci kau padanya tapi kenapa kau sampai harus melukainya?!" Pria itu mengambil anak itu dan menggendongnya.


"Ayah, jangan pukul ibu. Ibu tidak salah." Bujuk anak itu.


Pria itu berdesis, menarik nafas panjang dan menahan amarahnya. Anak sekecil itu sempat-sempatnya masih melindungi ibunya.


Pria itu berjalan keluar dengan membanting pintu.


Hati Qian Qian yang melihat ingatan masa lalunya terasa sakit. Seperti disayat dan di himpit oleh beban berat. Nafasnya menjadi sesak. Dia tidak menyangka bahwa lima tahun yang lalu itu dirinya berbuat sekejam dan sebodoh itu pada seorang balita.


Lebih mengejutkannya lagi, pria yang barusan ia lihat dalam ingatannya adalah Jian Yu dan ternyata anak kecil itu adalah Xiao Rui.


"Anak itu... Xiao Rui. Dia memanggil Qian Qian ibu dan Jian Yu sebagai ayah. Bukankah itu berarti kalau aku ini sungguh adalah ibunya."


Qian Qian memegangi kepalanya yang terasa sakit dan terlihat darah mengalir keluar dari salah satu lobang hidungnya.


"Kakak...! Kakak...! Jawab aku kak...! Xiao Yue menggoyangkan tubuh kakaknya yang mematung dengan mata terbuka.

__ADS_1


Dia semakin panik saat wajah Qian Qian memucat dan darah mengalir dari hidungnya.


"Kakak! Jangan membuat ku takut kak!"


__ADS_2