Suami Presdir Ku Yang Bucin

Suami Presdir Ku Yang Bucin
Chapter 8 Qian Qian Jadi Ibu?


__ADS_3

Setelah mengendarai motor untuk mengantar pesanan makanan, Qian Qian beristirahat di sebuah taman kecil. Ia membuka bungkusan kecil yang ternyata berisi dua buah bakpao.


Qian Qian menyandarkan motornya di tepi jalan depan klinik sederhana tempat ia mengantar pesanannya tadi. Karena taman kecil itu berada di depan sekolah kanak-kanak, makanya banyak anak-anak yang bermain di taman itu.


"Tadi itu lumayan seru. Entah bagaimana tubuh ini benar-benar tahu cara menjalankan benda itu." Gumamnya cengengesan sambil ia mengingat-ingat angin kencang yang menerpa tubuhnya dan menaikkan adrenalinnya ketika mengendarai motor. Qian Qian sedikit bernostalgia ketika ia ingat saat muda dan terbang rendah di dalam hutan. Perasaan mendebarkan sambil menghindari pepohonan itu benar-benar sulit untuk dilupakannya.


"Bibi itu baik sekali memberikan ku makanan ini." Qian Qian tersenyum sambil melihat dua buah bakpao hangat yang ada di tangannya.


Warnanya putih dan teksturnya yang empuk serta bau menggoda itu menuju langsung ke dalam hidungnya dan membangkitkan selera makannya. Qian Qian mengecap lidahnya dan menelan air liurnya saat melihat kedua bakpao lezat itu. Dia ingat Qian Qian yang sebelumnya pernah memakannya tapi untuk dirinya yang baru datang ke dunia itu, ia belum pernah merasakannya sendiri.


Suasana taman itu begitu tentram, memberikan perasaan yang cocok untuk menikmati cemilannya. Suara anak-anak yang sedang bermain juga menambah ramai rasa damai yang ia rasakan.


Qian Qian mendekatkan satu buah bakpao ke mulutnya yang terbuka lebar. Dia benar-benar sudah siap untuk menyantapnya, tapi karena ada perasaan kalau dia sedang diperhatikan oleh seseorang, Bakpao itu berhenti di tengah jalan sebelum memasuki mulutnya. Qian Qian mengangkat kepalanya dan menoleh ke samping.


Seorang bocah laki-laki dengan mata lebar dan tatapan penasaran terus saja melihatnya. "Eh....anak darimana ini? Ini anak siapa?" Qian Qian melirik ke kiri dan ke kanan, namun tampaknya tak ada seorang pun di dekatnya selain bocah kecil itu.


Bocah itu terus melihat ke arah Qian Qian dan begitupun sebaliknya. Bocah kecil itu lalu melirik ke arah bakpao Qian Qian dan lucunya Qian Qian mengikuti arah pandangannya.


Wajah Qian Qian jadi sedikit masam ketika ia tahu kalau bocah itu menginginkan makanannya. Bibirnya yang cemberut dan dengan rasa berat hati, Qian Qian terpaksa menyodorkan salah satu bakpao berharga nya pada bocah itu.


Sayang sekali, sekarang tinggal satu.


Bocah itu tersenyum. Namun saat ia mengulurkan tangannya, ia melihat ekspresi enggan Qian Qian. Sebagai seorang laki-laki, bocah itu berpikir kalau dia tidak berhak untuk mengambil bakpao itu dan membuat wanita di depannya sedih.


"Aku tidak lapar." Ucapnya.


"Sungguh?" Respon cepat Qian Qian dengan mata melebar disertai rasa bahagia ketika mendengar jawaban bocah itu.


"Apakah kamu benar-benar tidak mau?" Bocah itu menjawabnya dengan anggukan.

__ADS_1


Setelah bocah itu mengangguk, itu artinya Qian Qian tetap memiliki kedua bakpaonya, ia pun akhirnya memutuskan untuk memakannya.


Satu gigitan pertama yang begitu besar memberikannya kejutan. Ini enak!


Mulutnya mengunyah bakpao itu dengan perlahan agar ia bisa menikmati rasanya. Qian Qian tidak memperhatikan sikapnya yang sedikit kekanak-kanakan, ia tidak sadar kalau bocah itu masih di sampingnya dan terus memperhatikannya. Caranya mengunyah dan ekspresinya seolah bakpao itu sangatlah lezat, membuat bocah kecil itu tergugah. Rasa sesal timbul dalam hatinya, sayang sekali dia menolaknya.


Setelah Qian menelan satu buah bakpao miliknya, ia bertanya pada bocah laki-laki itu. "Oh iya, kenapa kamu sendirian disini? Aku melihat yang lain sudah pulang."


"Aku sedang menunggu ayahku."


Ayah? Bukan ibu? Di ingatannya, dulu saat ia masih kecil seperti bocah itu, ibunya yang selalu menjemputnya pulang. Qian Qian memiringkan kepalanya dan bertanya lagi. "Hmm..ibumu mana? Apakah dia sibuk dan tidak bisa menjemput mu?"


Biasanya wanita yang di jaman modern ini selalu sibuk bekerja layaknya seorang pria, seperti itulah apa yang tersimpan dalam memori Qian Qian.


Bocah kecil itu menggelengkan kepalanya dengan memasang wajah sedih. "Aku.. tidak punya ibu. Ibuku... tidak mau menerimaku."


Eh? Tidak mau menerimanya? Woah! Ibu macam apa itu?!


""Tidak. Aku tidak apa-apa." Bocah itu membalasnya dengan senyum kaku di wajahnya. "Kakak. Bagaimana kalau kakak saja yang menjadi ibuku?"


Seketika Qian Qian terkejut dan hampir menjatuhkan bakpaonya ke lantai. Untung saja, dia menangkapnya dengan cepat. Qian Qian mengelap dahinya dan menghembuskan nafas lega.


Hampir saja, hampir saja.


Dia menutup kedua matanya dengan salah satu telapak tangannya mencoba menerka kembali apa yang bocah itu katakan.


Aku... tidak salah dengar kan? Anak ini beneran meminta ku jadi ibunya? Apa maksudnya berarti aku harus menikahi ayahnya, begitu?


Kenapa? Padahal dirinya baru saja datang ke dunia ini. Qian Qian punya banyak alasan untuk menolak tapi entah kenapa dia takut mengecewakan anak itu dengan kalimatnya yang mungkin saja salah.

__ADS_1


"Aku cuma ingin ibu kok, kakak tidak perlu menjadi istri ayahku. Aku cuma mau memanggil kakak sebagai ibu. Apakah... tidak boleh?"


Ekspresi bingung Qian Qian tampak lucu, salah satu sudut bibirnya terangkat sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia saat ini berada dalam posisi bimbang.


Qian Qian menutup matanya dan mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan telunjuknya sambil berpikir. Ia mengernyitkan bibirnya dan melihat kedua bola mata yang penuh harap itu. Kalau dia melihat ku seperti itu.... sulit rasanya untuk menolak.


Qian Qian menghela nafas beratnya. "Baiklah. Kamu boleh memanggilku ibu." Jawabnya setuju.


Bocah kecil itu mengangkat kedua tangannya ke atas sambil berteriak 'yey'.


Apakah sebegitu senangnya ya? Lagipula aku cuma jadi ibu hanya sekedar panggilan saja, kan?. Uug~, entah kenapa firasat ku sedikit tidak enak setelah mengiyakannya.


"Ibu. Ibu. Ibu." Panggil bocah itu dengan sangat gembira pada Qian Qian. Qian Qian tersenyum dan tersipu malu. Ia lalu terkekeh sambil menggaruk ujung hidungnya.


Setelah berpindah ke tubuh yang berbeda dan dunia yang berbeda. Sang Naga tanpa sadar telah beradaptasi dengan dunia dan keadaannya saat ini. Mungkin saja karena dia berpindah ke dalam tubuh seorang wanita muda membuat pikirannya juga berubah. Sikap kanak-kanaknya mungkin adalah pengaruh dari usianya sebagai manusia atau rasa tertariknya pada dunia itu sehingga melepaskan beban yang dahulu menumpuk di dalam hatinya.


Walaupun baru beberapa hari berlalu sejak ia bertransmigrasi. Ia telah merasa kalau saat ini dirinya menjadi lebih bebas dan tubuhnya terasa lebih ringan walaupun ia tak lagi memiliki sepasang sayapnya. Yah, meskipun berwujud manusia, tapi jiwa yang sesungguhnya dari Sang Naga Agung tetap ada dan hanya tertidur saja.


Bocah kecil itu melihat jam tangannya. "Ibu. Maaf, sepertinya aku harus masuk ke sekolah. Aku harus menunggu di dalam dan memastikan Ayah ku tidak mencari ku nantinya, aku takut dia akan memarahi ku." Ujarnya dengan ekspresi sedih.


Qian Qian mengelus pelan kepala bocah itu. "Hehe, tenang saja kok, ibu ada disini dan akan melindungi mu dari ayahmu kalau dia memarahi mu." Balasnya sambil ia mengepalkan tinjunya di depan wajahnya.


Yaa.. walaupun sebenarnya aku tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian.


Bocah itu segera melompat ke dalam pelukan Qian Qian. "Terimakasih ibu." Ia kemudian melepas pelukannya dan berlari kembali ke sekolahnya. Setelah beberapa langkah, bocah itu berhenti untuk melambaikan tangannya pada Qian Qian. "Ibu tidak perlu melindungi ku, nanti kalau aku sudah besar, aku yang akan melindungi ibu." Teriaknya dengan hati yang penuh suka cita.


Lambaian tangan Qian Qian mengiringi langkah kecil bocah itu hingga ia kembali ke sekolahnya.


Anak-anak sungguh lucu. Kurasa tidak ada salahnya aku jadi ibunya.

__ADS_1


Qian Qian memasukkan bakpao terakhir yang ia pegang dengan sekali lahap ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya segera dan kembali menaiki motornya.


__ADS_2