Suami Presdir Ku Yang Bucin

Suami Presdir Ku Yang Bucin
Chapter 4 Permainan Takdir


__ADS_3

"Tuan, sepertinya Nyonya masuk halaman utama lagi di Weibo." Kata Zhao Ming Yu seorang pria berkacamata yang cukup muda yang bekerja sebagai asisten pribadi Jian Yu.


"Hapuskan. Lakukan seperti biasanya." Balas acuh Jian Yu.


Matanya menatap kosong melihat ke jalanan dari balik kaca mobilnya. Jian Yu sudah beberapa hari ini kesulitan untuk fokus dengan pekerjaannya. Meski ia tetap bisa menjalankan beberapa pertemuan dan proyek perusahaannya tapi saat ia memikirkan tentang kapan hari perceraian mereka terjadi, membuat ia terjebak dalam lamunannya.


Setelah mengantarkan surat cerai. Jian Yu berpikir untuk pindah rumah dan menjauh dari kehidupan Qian Qian. Tapi saat ia sadar kalau ia memiliki putra yang masih berusia lima tahun, berat hatinya memikirkan kalau Zi rui, putra kesayangannya harus pindah sekolah lagi. Sudah dua kali Zi rui pindah karena tuntutan Qian Qian yang tidak ingin hubungan mereka diketahui publik.


Jian Yu mendesah nafas beratnya. Ia memijat salah satu pelipisnya. Tangannya berhenti bergerak dan ia mengingat malam pertama saat bertemu dengan Qian Qian.


Keduanya bagai dipertemukan paksa oleh benang merah yang terjadi karena perbuatan orang-orang yang berusaha menghancurkan reputasi mereka. Jian Yu samar-samar masih mengingat ketika ia pertama kali bertemu dengan Qian Qian di malam itu.


Saat itu, tengah malam di sebuah hotel ketika acara pertemuannya selesai dengan beberapa petinggi dari perusahaan besar. Tiba-tiba rasa panas menjalar dan memenuhi seluruh tubuhnya. Hasrat dan nafsunya meningkat begitu saja. Jian Yu dengan cepat berlari kembali ke kamarnya agar tidak terjadi sesuatu yang ia takutkan.


Ternyata ada yang memberikan obat perangsang dalam minumanku.


Jian Yu sempat menabrak salah seorang pegawai hotel ketika ia bergegas menuju kamar, tapi dengan acuh ia tak peduli. Peluh keringat mulai membasahi dahi dan pelipisnya.


Jian Yu barulah merasa lega saat ia tiba di depan pintu kamarnya. Ia membukanya begitu saja dan tak sadar kalau kamar hotel yang ia pesan tidaklah terkunci. Jian Yu yang dikuasai oleh gairah seksualnya segera berlari ke kamar mandi untuk mendinginkan dirinya, tapi pandangannya tiba-tiba berpaling saat ia mendengar suara wanita yang mengerang dari balik selimutnya.

__ADS_1


Jian Yu penasaran, kenapa bisa ada orang lain di kamarnya? Ia yakin kalau dirinya tidak salah masuk ruangan.


Jian Yu meraih selimutnya yang bergerak dengan tangannya secara perlahan. Ia menariknya dengan cepat dan melihat sosok wanita cantik dengan pakaian yang hampir terbuka.


Matanya terbelalak dengan tampilan seksi dan menggoda itu. Kulit putih halus yang tampak lembut, wajah kecil dengan bibir merah muda dan hidung mancung kecil itu membuat ia menelan ludahnya. Belum lagi saat wanita itu membalikkan tubuhnya sambil mengerang membuat sesuatu dalam dirinya aktif.


"Panas.... Tolong aku...Kakak..." Kata wanita itu dengan pelan dan nada yang sedikit mendesah.


Jian Yu mendesis menahan hasratnya. Ia berbalik dan melangkah menuju kamar mandi, namun sayangnya wanita itu tiba-tiba menahannya dengan memeluknya dari belakang.


"Kakak... tolong aku...aku kepanasan." Ucap wanita itu pelan masih terdengar mendesah. Goda dan bujuk rayu sari suaranya membuat Jian Yu benar-benar kehilangan akal sehatnya. Nafsunya yang memuncak sudah tidak tertahankan lagi apalagi saat ia melihat gaun wanita itu melorot dan menunjukkan satu bahunya yang mulus.


Saat tersadar di pagi hari, Jian Yu memukul tembok dengan keras karena menyesali tindakannya. Ia tidak menyangka akan ada hari ia akan meniduri seorang wanita di luar nikah, terlebih lagi wanita itu tidaklah ia kenal.


Jian Yu melihat bekas darah di selimutnya. Ia menunduk menyesal sambil menutupi wajahnya. Jian Yu kemudian memberikan nomor telepon dan alamat rumah serta perusahaannya pada wanita yang masih tertidur itu sebelum ia pergi. Sebagai seorang laki-laki, keluarganya telah mendidiknya untuk bertanggungjawab.


Hari demi hari Jian Yu masih tenggelam dalam rasa bersalah dan akhirnya setelah beberapa bulan lamanya, ia sudah mulai bergerak kembali untuk melupakan wanita itu. Ia merasa kalau wanita itu baik-baik saja dan tidak memerlukan apapun darinya. Jian Yu tetap menjalankan aktivitasnya sebagai presiden direktur seperti biasa, ya setidaknya sampai saat telepon kantornya berbunyi dan mengatakan kalau ada seorang wanita yang ingin menemuinya.


Mata Jian Yu terbelalak, Suara tabuh jantungnya begitu kencang sampai ia merasa kalau suara jantungnya bisa didengar oleh orang lain.

__ADS_1


Jian Yu menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin berpikir macam-macam dan memutuskan untuk memanggil wanita itu naik ke kantornya.


Entah apa yang harus ia ucapkan nantinya, bagaimana ia harus memandangi wanita itu nantinya. Mata Jian Yu tak bisa lepas dari pintu ruang kerjanya.


Jian Yu tertunduk sambil memijat titik antara sudut alisnya. Suara ketukan pintunya yang terbuka membuat ia segera mengangkat kepalanya untuk melihat wanita yang baru saja masuk dan berdiri di depan pintu.


Wanita itu mendekati mejanya dengan tampang kesal penuh amarah. Di tangannya ia membawa beberapa lembar kertas. Saat ia sudah berdiri tepat di hadapannya. Wanita itu sekilas terdiam dan melempar kertas-kertas itu ke wajah Jian Yu.


Wanita itu menunjuk Jian Yu "Kau...Kau..! Ini semua gara-gara kau!"


Jian Yu tidak tahu apa-apa, ia tetap tenang dan berusaha mengahadapi kemarahan wanita itu dengan kepala dingin. Begitulah menurutnya sampai ia mengambil kertas yang ada di kakinya dan membaca isinya.


Mata Jian Yu terbuka lebar, tangannya gemetar sedikit karena syok dengan berita fakta yang baru saja ia dapat. Alat dan hasil tes kehamilan dari rumah sakit yang menyatakan nilai positif serta foto USG cabang bayi dalam rahim seorang wanita.


Ini... apakah ini benar-benar terjadi? Kalau benar begitu maka...ini anakku?


Jian Yu menoleh pada wanita itu. "Apakah ini milikmu?"


Wanita itu menunjuknya sekali lagi dengan tegas. "Kalau bukan aku, siapa lagi hah?! Kau kan orang yang meninggalkan kartu namamu di kasurku. Kau yang me-me... meniduri ku." Tegas wanita itu dengan nada tinggi meski wajahnya sedikit memerah karena malu.

__ADS_1


__ADS_2