
Qian Qian mengambil buku menu, ia membukanya dan pura-pura membacanya. Qian Qian perlahan mengintip dan melirik Jian Yu secara diam-diam.
Ketika mereka saling bercengkrama, entah mengapa ada perasaan akrab yang ia rasakan dari sepasang ayah dan anak itu. Walaupun baru pertama kali bertemu, dia merasa santai dengan mereka dan ketika ia memanggil nama Jian Yu, Qian Qian merasa kalau hal itu normal-normal saja.
Kenapa mereka memperlakukanku begitu baik? dan sikap akrab mereka seperti mereka mengenalku. Apakah mungkin...
Pelayan pun datang membawa pesanan mereka.
"Ini adalah ikan kukus makanan favorit yang khas di tempat ini. Mungkin kau akan menyukainya, makanlah."
Qian Qian segera mengangguk. "Terimakasih Jian Yu."
Qian Qian melihat ke arah bocah kecil Xiao Rui yang duduk di sampingnya. Xiao Rui tampak begitu menyukai makanannya. Dia mulai membuka tubuh ikan itu dengan sumpit dan mencabuti tulangnya satu per satu dengan penuh kehati-hatian. Qian Qian terkagum-kagum melihat kemandiriannya.
Selagi ia memikirkan tentang Xiao Rui. Bocah kecil itu telah meletakkan beberapa potongan ikan yang telah ia pisahkan dari tulangnya ke dalam mangkok Qian Qian.
Matanya berkedip-kedip menatap kosong tingkah menggemaskan Xiao Rui. Qian Qian terkekeh. lalu berkata. "Terimakasih ya. Bibi bisa melakukannya sendiri kok."
Xiao Rui menyeringai memperlihatkan gigi putih kecilnya, ia tersenyum dengan bahagia "Bibi makanlah."
Di hadapan ayahnya atau orang lain. Baik Xiao Rui maupun Qian Qian tidak memanggil satu sama lain sebagai ibu dan anak sebagaimana yang biasa mereka lakukan ketika mereka hanya berdua saja. Qian Qian tidak ingin orang salah paham tentangnya. Berbeda dengan Xiao Rui, dia takut ketika dia memanggil Qian Qian dengan sebutan ibu di depan banyak orang, Qian Qian akan meninggalkannya sama seperti dulu.
Sembari Qian Qian melihat isi mangkoknya yang sudah hampir penuh dengan ikan. Dia menengok ke samping dan melihat Xiao Rui sudah mulai melahap makanannya.
__ADS_1
Xiao Rui hebat sudah bisa makan sendiri di usianya saat ini.
Menurut sepengetahuannya, kebanyakan anak yang berumur sama dengan Xiao Rui masih harus di suapi dan diperhatikan oleh orang tua mereka ketika makan. Tapi apa yang Xiao Rui lakukan membuatnya kagum.
Jian Yu yang duduk di hadapannya juga sesekali mengingatkan Xiao Rui. "Jangan lupa makan sayurnya. Biar sehat dan seimbang." Dengan anggukan kepalanya, Xiao Rui menuruti perkataan ayahnya dan memasukkan sayuran di piringnya sepotong demi sepotong ke dalam mulutnya.
Tangan Qian Qian tanpa sadar mengelus dan mencubit pelan pipi Xiao Rui. Menggemaskan melihat pipinya yang kenyal bergerak seperti seekor tupai.
Sebaiknya pelan-pelan saja pria kecil. Ekspresi jelas sekali terlihat.
Qian Qian tertawa dalam hatinya melihat wajah enggan Xiao Rui yang sedang kesulitan mengunyah makanannya.
Aku masih tidak mengerti kenapa ibunya setega itu meninggalkan anak sebaik Xiao Rui.
Suasana makan yang begitu tenang. Qian Qian juga menikmati makanannya dengan baik. Setelah memerhatikan bocah kecil disampingnya, dia mulai menikmati ikan kukus itu dengan lahap.
Jian Yu kemudian mengambil sebuah tisu dan mengelap salah satu sudut bibir hingga pipi Qian Qian yang ada bekas saos.
"Pelan-pelan saja. Tidak perlu buru-buru." Ucapnya sambil mengelap bekas saos di pipi Qian Qian dengan begitu lembut. "Kalau memang kau suka, kau bisa memesannya lagi untuk dibawa pulang." Lanjutnya.
Gerakan tiba-tiba Jian Yu membuat Qian Qian terdiam. Matanya hanya menatap kosong wajah lelaki di duduk di hadapannya itu. "Terimakasih." Balasnya dengan nada monoton.
Orang-orang melihat keduanya sebagai pasangan suami istri yang romantis. Beberapa wanita bahkan cemburu dengan Qian Qian yang mendapatkan pria seperti Jian Yu. Tampan, penuh kasih sayang, romantis dan dari penampilannya, bisa dilihat kalau dia adalah pria yang mapan.
__ADS_1
Setelah makan malam, Qian Qian berniat untuk pulang sendiri tapi Jian Yu telah lebih dulu membuka pintu mobil dan menawarinya. "Ini sudah malam. Naiklah, aku akan mengantarmu pulang."
Qian Qian menoleh ke kiri dan ke kanan. Jalanan memang tampak sunyi. Bukannya takut, tapi dia belum terlalu mengenal daerah itu.
"Bibi, ayah dan aku tidak bisa tenang kalau kami belum bisa memastikan bibi pulang sampai rumah." Tambah Xiao Rui.
Berhubung tempat itu juga cukup jauh dari rumahnya, Qian Qian mengiyakan permintaan mereka.
Kali ini Ming Yu yang menyetir mobil. Setelah mengantar motor Qian Qian kembali ke rumahnya, Ming Yu bergegas menuju ke tempat mereka dengan taksi.
Jian Yu, Qian Qian dan Xiao Rui yang duduk di tengah. Ming Yu sesekali melirik kaca spion di depannya untuk melihat pemandangan hangat itu. Tuan Muda yang selalu berwajah masam dan menyembunyikan emosinya itu terlihat begitu aktif dan ceria bersama ibunya. Ming Yu masih belum tahu apa yang terjadi sampai Qian Qian yang sangat membenci hubungan mereka tiba-tiba berperilaku layaknya seorang ibu sungguhan.
Beberapa saat setelah Xiao Rui masuk ke dalam mobil. Dia mulai mengantuk. Jian Yu mengulurkan tangannya untuk mengambil Xiao Rui yang duduk menempel pada Qian Qian, tapi melihat si kecil itu merasa nyaman di dekatnya, Qian Qian memilih untuk memangkunya.
Xiao Rui mulai terlelap dan tidur di atas pangkuan dan dekapan hangat Qian Qian.
Sesaat setelah Xiao Rui tertidur. Suasana menjadi sedikit canggung di antara mereka. Qian Qian merasa ada yang aneh dengan suasana sunyi itu sampai ia bahkan menyadari kalau mobil yang mereka kendarai serasa berjalan lebih lambat.
"Apakah dia berat?" Tanya Jian Yu tiba-tiba.
"Eh, tidak kok."
"Maaf merepotkan mu beberapa hari ini karena sudah menemani Xiao Rui."
__ADS_1
Qian Qian mengibas-ngibaskan tangannya ke samping. "Tidak kok, itu tidak masalah. Xiao Rui anak yang baik dan penurut."
Kesunyian dalam mobil membuat Qian Qian makin gelisah. Entah Kenapa hatinya menjadi tidak tenang. Suara Jian Yu yang terdengar lembut di telinganya membuat jantungnya berdetak kencang. Wajahnya menjadi kian hangat dan memanas. Qian Qian berharap untuk segera sampai di rumahnya.