Suami Presdir Ku Yang Bucin

Suami Presdir Ku Yang Bucin
Chapter 11 Qian Qian Jadi Ibu!? bagian 1


__ADS_3

Lin Jian Yu sejak tadi merasa heran dengan sikap putranya yang begitu bahagia dan kadang senyum-senyum sendiri. Sejak ia menjemputnya kemarin, Zi Rui tampak ceria.


"Apakah ada sesuatu yang baik terjadi di sekolah?" Tanya Jian Yu.


Keduanya saat ini sedang berada dalam mobil dan menuju tempat sekolah Zi Rui. Melihat putranya yang senyam-senyum menatap tabletnya dan kadang-kadang memeluknya, Jian Yu mau tidak mau bertanya-tanya dengan peristiwa bahagia itu. Biasanya Zi Rui tidak terlalu menunjukkan emosinya. Salah satu penyebabnya tidak lain adalah ibunya.


Zi Rui mengangguk sambil memegang tabletnya. "Um. Aku sangat senang bersekolah disana."


Bukannya awalnya dia tidak begitu peduli terserah dimana dia mau sekolah. Kenapa sekarang...


Jian Yu merentangkan lehernya dan mengintip isi tablet yang sejak tadi putranya mainkan. Biasanya Zi Rui kalau bukan duduk tenang melihat pemandangan di luar jendela paling dia hanya menonton U-Tube di tabletnya.


Sedikit lagi, Kepala Jian Yu terus mendekat hingga matanya mendapati sebuah foto di tablet putranya yang membuat rahangnya hampir terjatuh ke lantai.


I-I-itu... bukannya... tapi, tidak mungkin, itu tidak mungkin dia. Apakah itu editan? Zi Rui?


Jian Yu melihat putranya dengan tatapan curiga. Ia lalu menggelengkan kepalanya perlahan.


Tidak. Sejenius apapun putra ku, tidak mungkin dia sampai bisa melakukan itu, lalu..siapa?


Jian Yu menarik kembali kepalanya, ia duduk memperbaiki posisi duduknya lalu berdeham. "Ehem, Xiao Rui. Apa yang sedang kamu lihat, sepertinya seru. Ayah penasaran, bolehkah ayah menonton juga?"


Zi Rui dengan polosnya dan mata yang berbinar-binar mengangkat tabletnya lalu memperlihatkan foto itu tepat di depan muka Jian Yu.


"Qian...Qian..." Gumam Jian Yu pelan, tangannya tanpa sadar ingin meraih tablet itu dan membelai wajah Qian Qian.


Tidak salah lagi, itu memang Qian Qian. Tapi, kapan foto itu diambil? Apakah memang itu sebuah editan?


"Bagaimana ayah, fotonya bagus bukan?" Tanya Zi Rui sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya.


Pantas saja dia begitu bahagia sejak kemarin. Walaupun hanya sekedar foto, Zi Rui merasa sangat senang jika seandainya mereka memang bisa sedekat itu.


Jian Yu yang masih ragu melihat Zi Rui dengan tatapan iba. Sedari kecil hingga dewasa, Zi Rui belum pernah sekalipun tidur dalam pangkuan ataupun gendongan ibunya. Demi anaknya, Jian Yu berharap, jika seandainya waktu bisa diulang maka ia ingin memperbaiki kesalahannya atas pertemuan mereka.


"Itu...Ibu ya. Foto yang bagus."


Pipi kecil kemerahan itu merekah menunjukkan senyum manisnya yang menawan. Senyuman hangat di wajahnya sungguh sebuah harta karun yang sangat berharga bagi Jian Yu.


"Hehe...Ini foto yang pertama." Ucapnya lalu Zi Rui menggeser layar tabletnya lagi dan lagi untuk menunjukkan beberapa foto dirinya dengan Qian Qian.


Alis Jian Yu menukik tajam. Apakah foto-foto itu juga editan?


Batinnya masih penuh keraguan. Yah, memang sih sulit dipercaya untuk seorang ibu yang meninggalkan anaknya selama lima tahun kembali begitu saja dan menciptakan kesan hangat yang harmonis. Lagipula Jian Yu tahu bagaimana seharusnya sifat Qian Qian.


"Darimana kamu mendapatkannya? Apakah kamu yang membuatnya?"


"Iya. Aku dan ibu yang membuatnya."

__ADS_1


"Anak pintar." Jian Yu mengelus lembut kepala Zi Rui. "Lain kali buatkan untuk ayah juga ya."


"Tentu saja ayah. Nanti kita akan foto bertiga. Ayah, ibu dan aku di tengah."


Tanpa mereka ketahui, keduanya telah saling salah paham. Apa yang Jian Yu maksud sebenarnya adalah mengedit fotonya juga tapi apa yang Xiao Rui tangkap adalah ayahnya juga ingin foto bersama.


...****************...


'Paman Jiang, Paman Jiang, Paman Jiang.' Panggilan akrab dengan suara lembut itu terus terngiang-ngiang di telinga Paman Jiang. Qian Qian yang sekarang samasekali jauh berbeda dengan Qian Qian yang dulu yang selalu memanggilnya pelayan tua dan bersikap tidak sopan padanya.


Paman Jiang mengambil jaket dan kotak makanan pesanan pelanggan.


"Paman Jiang. Apakah Paman mau pergi mengantar makanan? Biar aku saja ya." Kata Qian Qian yang datang dari balik pintu dapur menghentikan langkah Paman Jiang.


"Tidak boleh! Bukannya kemarin kakak habis jatuh dari motor?" Tegur Xiao Yue mendadak dari belakang.


"Tidak apa-apa kok, aku baik-baik. Lagi pula Paman Jiang kan belum istirahat siang."


Xiao Yue melirik Paman Jiang yang hanya bisa tersenyum tipis. Akhir-akhir ini kedua saudari ini selalu saja adu mulut.


Walaupun begitu, Paman Jiang bersyukur ketimbang mereka harus bertengkar serius dan mendengar umpatan pahit dari mulut Qian Qian.


"Bagaimana? Paman Jiang saja tidak -"


Xiao Yue segera menimpali alasan Qian Qian. "Lagian, luka kakak belum sembuh benar, apa mau tambah luka lagi?"


"Lihat! Sudah sembuh kan? Itukan cuma luka gores kecil. Tidak perlu khawatir."


Keras kepalanya masih tetap sama meskipun dia terkena amnesia.


Xiao Yue menghela nafasnya. "Ya sudahlah, tapi ingat! Kakak harus hati-hati. Saat ini kakak masih dalam status pasien yang butuh istirahat."


"Iya iya." Qian Qian lalu mengambil kotak makanan dan helm yang ada di meja. "Aku berangkat ya."


"Hati hati!" Teriak Xiao Yue.


Dia terlihat lebih seperti anak-anak.


Melihat ekspresi dari rasa penasaran dan kepuasan di wajahnya, tidak heran Xiao Yue berpikir seperti itu.


Setelah amnesia Qian Qian mudah tertarik dengan beberapa hal yang dianggapnya menarik. Dia seperti seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu.


Dari satu tempat ke satu tempat lain, Qian Qian mengendarai motornya selambat mungkin. Bukan karena Xiao Yue yang menyuruhnya untuk berhati-hati, tapi karena dia masih ingin melihat pemandangan kota lebih banyak lagi.


Berapa kali pun ku perhatikan aku tetap masih tidak mengerti. Manusia modern benar-benar hebat bisa membangun bangunan yang begitu besar dan tinggi. Tanpa adanya sihir, ternyata mereka tetap bisa berkembang dan bahkan lebih maju lagi.


Seperti biasa, Qian Qian sengaja melewati sekolah Xiao Rui ketika ia dalam jalan pulang. Kali ini dia sedikit telat karena kendaraannya sempat terjebak macet.

__ADS_1


"Untung saja pembeli tadi tidak marah-marah karena makanannya yang terlambat." Gumamnya.


Qian Qian melihat Xiao Rui sedang berdiri di dekat bangku tempat biasa mereka duduk bersama dan seperti biasa, ayahnya belum datang. Qian Qian mendengus dalam hatinya ia menyalahkan ayah Xiao Rui karena seolah-olah dia tidak begitu memperdulikan putranya.


"Ibu." Nada yang terdengar lembut dan manis di telinga itu menyapa kedatangannya.


"Apakah luka ibu sudah sembuh?" Tanya Xiao Rui dengan wajah cemas.


Qian Qian tanpa sadar mengelus pipi empuk milik Xiao Rui. "Jangan khawatir. Lihat ini, sudah sembuh kan." sambil ia menunjuk lengannya.


"Apa yang kamu lakukan disini sendirian? Apakah kamu sedang menunggu ayahmu?"


Xiao Rui menggelengkan kepalanya. "Aku sedang menunggu ibu. Aku... rindu ibu."


Hati Qian Qian meleleh dibuatnya.


Apa yang baru saja anak ini katakan? Awh~ aku takut kalau dia besar nanti, akan banyak wanita yang dibuatnya jatuh hati.


"Kalau begitu.. bagaimana kalau kita bermain dibelakang, sekalian menunggu ayahmu."


"Um." Xiao Rui mengangguk.


Dengan bahagia keduanya memainkan beberapa wahana kecil yang ada dalam taman itu.


Waktu terus berlalu begitu cepatnya hingga mobil Jian Yu tiba di sekolah Xiao Rui.


"Tuan, bagaimana menurut anda dengan Nyonya dan Tuan muda yang bermain ayunan bersama?" Tanya Ming Yu asisten pribadi Jian Yu sambil ia menyetir mobil.


Jian Yu terlalu sibuk melihat ponselnya, ia menjawabnya dengan malas. "Itu tidak mungkin."


"Benarkah? Apakah Tuan tidak bisa membayangkan, kalau-kalau itu sungguh terjadi, ibu dan anak itu pasti akan terlihat sangat bahagia."


"Mungkin, tapi bukannya kau sudah tahu istriku itu seperti apa. Jadi, bagaimana bisa aku membayangkannya." Jian Yu masih tetap fokus pada ponselnya.


Sementara itu, Ming Yu telah menghentikan mobilnya dan berhenti di depan taman dekat sekolah Zi Rui.


Sudah dari tadi ia memandangi ibu dan anak itu dengan heran dan penuh tanya. Entah ilusi atau dia yang sedang bermimpi, Ming Yu mencubit pipinya tapi itu terasa sakit.


Ming Yu bertanya pendapat bosnya dan sama sepertinya, Zi Rui bermain ayunan dengan bahagia bersama ibu seperti Qian Qian, mustahil. bagaimana itu bisa terjadi.


"Tuan. aku merasa aku sedang tidak bermimpi sekarang. Lalu, apakah yang di hadapanku ini adalah ilusi?"


Jian Yu risih dengan pertanyaan Ming Yu. Ia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam sakunya.


"Dari tadi kau terus mengatakan hal-hal omong kosong, bukankah sudah ku, bi...lang.."


Jian Yu terpaku tiba-tiba ketika mendengar suara ayunan dan melihat pemandangan langkah, sangat langkah itu.

__ADS_1


"Q-Qian-Qian?!"


__ADS_2