
malam yang tenang bagi Arzan tidur nyenyak, Anindhira tidak bisa memejamkan matanya. ia duduk di sebuah cermin rias miliknya, menatap dirinya yang ia rasa begitu cantik. bayangan Arzan muncul dicermin itu, tersenyum kearahnya dengan tampan.
"jika aku bukan jodohmu, maka semoga aku mendapatkan pria baik seperti dirimu! " ucap Anindhira, ia pun memutuskan untuk segera istirahat. tiba tiba saja terdengar suara benda sangat keras, membuat Anindhira terkejut. gadis itu langsung berlari keluar kamarnya, ia menuju rumah besar Arzan untuk mencari tahu suara apa itu.
Arzan sendiri yang sedang tidur membuka matanya, ia mengambil senjata untuk mencari asal suara yang membangunkan semua orang. seseorang keluar dari kamar Tania, Arzan panik karena berpikir seorang pencuri ataupun musuh dikamar calon istrinya.
"tolong, ada seseorang! " teriak Tania, Arzan dengan cepat kearah Tania dan memeluk gadis itu untuk menenangkannya. "Arzan aku takut, jangan kejar lagi! " ucap Tania mencegah Arzan yang akan pergi, Arzan memeluk gadis itu yang sedang menangis.
"tenanglah aku disini, siapa yang berani memasuki rumahku! " ucap Arzan geram, disana nyonya malik dan yang lain pun datang. tidak terkecuali Anindhira, ia datang bersama nyonya malik. gadis itu menatap Arzan yang sedang memeluk Tania, terlihat sangat mesra dan saling mencintai diantara keduanya. membuat hati Anindhira sakit, ia merasa sangat cemburu melihat adegan tersebut. bagi Anindhira ia bisa menyembunyikan perasaannya, tapi rasa cemburunya mungkin tidak bisa.
"ini air, minumlah air nona! " ucap Anindhira, Arzan menerima air itu dan menyuapkannya kepada Tania. Anindhira semakin sedih melihat itu, hatinya semakin merasakan kecemburuan.
"tenangkan dia, aku pergi dulu! " ucap Arzan kemudian pergi, semua orang langsung kearah Tania menenangkan gadis itu. sampai semuanya tenang, mereka kembali ke ruang masing masing termasuk Anindhira. gadis itu kembali dengan sedikit terisak, ia masih teringat dengan Arzan yang mencintai Tania.
keesokan harinya matahari belum menerbitkan dirinya, tapi Anindhira sudah terbangun dengan mandi segar. ia memakai pakaian yang diberikan oleh ibu Arzan, gaun yang memiliki kesamaan dengan semua orang. Nyonya Malik tidak pernah membedakan siapapun, ia bahkan memakai pakaian yang sama dengan semua orang. Anindhira tidak sabar dengan pernikahan Arzan dan Tania, Ia pun pergi setelah selesai dengan dirinya. ia berjalan kearah kamar Tania, saat dalam perjalanan ia melihat Erik yang sedang berdiri merapikan pakaiannya. pria itu juga sudah siap, siap menjemput Arzan yang mungkin masih nyenyak tidur.
"halo Anin, kamu sangat cantik hari ini! " ucap Erik saat melihat gadis itu, Anindhira tersenyum kemudian mengangguk.
"bagaimana tentang tadi malam, apakah semuanya baik baik saja?"
"semuanya baik baik saja, kami tidak mendapatkan orang itu. tapi cepat atau lambat, Arzan akan menemukan siapa yang berani masuk kedalam rumah ini! "
"hm.. ya kalau begitu aku pergi dulu kekamar nona Tania! "
"iya pergilah, aku juga akan kekamar Kakak! " ucap Erik, mereka pun berjalan kearah yang berbeda.
Anindhira mengetuk pintu kamar Tania, tapi tidak ada sahutan dikamar Tania. sampai pintunya terbuka sendiri, karena tidak terkunci. Anindhira terkejut melihat Tania yang berdiri menggunakan gaun putih, Anindhira menyalakan lampu dengan cepat dan menampilkan Tania yang sudah siap dengan pernikahannya.
"bagaimana apakah cantik? " ucap Tania tersenyum, Anindhira tersenyum dan mengangguk.
"bagaimana keadaanmu, apa sudah lebih baik? "
"tentu saja, hanya sedikit terkejut! "
"apa Anda tidak tidur nona, aku sangat terkejut melihatmu sudah memakai gaun pernikahan ini!" ucap Anindhira, Tania tertawa kecil dan menarik tangan Anindhira untuk mendekat.
__ADS_1
"aku sangat gugup sampai tidak bisa tidur, oh ya karena aku sudah cantik sekarang kau tidak perlu repot membantuku sekarang. aku akan istirahat sebentar, lalu saat semuanya sudah siap datanglah kemari untuk menjemputku! " ucap Tania, Anindhira yang senang hanya mengangguk.
"baiklah aku akan menyiapkan yang lain, setelah itu kembali kesini untuk membantumu nanti! " saut Anindhira, Tania mengangguk dan mengiyakan hal itu.
Anindhira meninggalkan kamar Tania, sampai iaa merasa ada seseorang yang berada dibelakangnya. Anindhira menoleh, tapi tidak ada siapapun disana. gadis itu pun akhirnya pergi dari sana, menuju dimana semua pelayan sedang mempersiapkan semuanya.
...****************...
semua persiapan sudah selesai, Arzan telah dibawa ke sebuah gereja oleh Erik dan lainnya. Anindhira sendiri sudah duduk di sebuah kursi untuk keluarga, Anindhira tersenyum melihat Arzan yang sudah berdiri dengan pakaian lengkap. sangat tampan menurut Anindhira, sampai ia terkejut saat Arzan tiba tiba menoleh kearahnya. Arzan mengisyaratkan bertanya pada Anindhira, gadis itu mengangguk dan mengatakan kalau penampilan Arzan sudah tampan.
semua orang menunggu kehadiran Tania yang datang, dengan gugup Arzan menghela nafas berulang kali dengan perasaan menunggu. Anindhira sendiri bertanya tanya kenapa Tania itu belum sampai, bahkan semua orang sudah mulai bicara.
"dimana pengantin wanitanya, bukankah ini hampir terlambat! " ucap seseorang didengar oleh nyona Malik dan juga Anindhira, Nyonya Malik meminta Anindhira mengikutinya, bahkan diikuti Erik dan juga Arzan.
"apa kau sudah hubungi ayah Tania? " ucap nyonya Malik, Erik mengangguk dan berkutik dengan ponselnya.
"ponselnya tidak aktif, apa iya terjadi sesuatu? " ucap Erik, ia terus berusaha menghubungi Tania dan juga sangat ayah.
"seharusnya tadi aku pergi bersama nona Tania! " ucap Anindhira, semua orang bicara disana. Arzan sudah diam tanpa bicara, entah apa yang dipikirkan gadis itu. Arzan mengajak Erik untuk mendatangi Tania tidak lupa Anindhira ikut bersama mereka, dengan kecepatan penuh Erik membawa mobil yang membuat Anindhira takut.
"apa isinya kak? " ucap Erik yang berada disana, Arzan terdiam membaca pesan itu.
"apa kau menemui Tania pagi tadi? " ucap Arzan menatap Anindhira, gadis itu mengangguk untuk mengiyakan.
"aku melihatnya memakai gaun ini, saat aku akan membantunya dia menolak tuan! " ucap Anindhira, Arzan menggertakkan giginya.
"apa kau mengatakan sesuatu padanya? " Anindhira menggelengkan kepalanya, kedua orang disana bingung apa yang dikatakan Arzan.
"baca ini! " ucap Arzan melempar kertas sebelumnya, Anindhira mengambil kertas itu dan mulai membacanya. Anindhira terkejut dengan itu, surat yang mengatakan bahwa Tania tidak bisa menikah dengan Arzan. karena Anindhira yang mencintai Arzan, gadis itu difitnah oleh Tania bahwa melarang Tania menikah dengan Arzan dan membicarakan keburukan Arzan.
"aku... aku tidak pernah mengatakan hal itu, sungguh tuan!" ucap Anindhira, Arzan menatap gadis itu dengan tajam.
"lalu kenapa Tania mengatakan itu, apakah dia yang mengarang? " ucap Arzan, Anindhira menggelengkan kepalanya. nyonya Malik datang bersamaan dengan ayah Anindhira, ia terkejut melihat gaun pernikahan dan melihat Arzan yang marah.
"ada apa, dimana Tania?"
__ADS_1
"tanyakan padanya, tanyakan kemana Tania pergi! " teriak Arzan, Anindhira sudah meneteskan air mata mendengar Arzan berteriak padanya. nyonya Malik membaca surat Tania, ia sempat terkejut dan menatap Anindhira. gadis itu menggelengkan kepalanya dan menangis, nyonya Malik tidak percaya akan pesan itu dan lebih pecaya pada Anindhira.
"aku tidak mengatakan apapun nyonya, aku bersumpah! " ucap Anindhira menangis, Nyonya Malik menganggukkan kepalanya dan melihat kearah Arzan.
"gadis itu benar, tidak mungkin Anindhira melakukan itu. kau tidak ingat kalau yang memintamu menikah adalah dia, lalu bagaiamana bisa dia melakukan itu! " ucap nyonya Malik, Arzan masih menatap Anindhira yang terseduh.
"aku memang mencintaimu tuan, tapi aku bahagia saat kau bersama Tania dan kalian akan menikah!. " pengakuan Anindhira membuat semuanya terkejut, Arzan mencengkram lengan Anindhira dengan kuat.
"dengar sendiri kan, dia mengatakan dengan jelas. kemudian ia meminta Tania pergi, agar pernikahan ini tidak terjadi! "
"tidak, tidak seperti itu tuan! " ucap Anindhira menangis, Arzan masih dengan kemarahannya dan menyeret Anindhira keluar dari kamar itu.
"Arzan mau kemana, kemana kau menyeret gadis itu? " teriak nyonya Malik ketakutan, ia takut Arzan akan melakukan hal yang menyakiti Anindhira. gadis itu terus menangis saat Arzan menyeretnya, Arzan sudah sangat marah dan matanya gelap ditutup kemarahan itu.
mobil Arzan melaju cepat, langsung diikuti semua orang dibelakangnya. Arzan datang kegereja sebelumnya, tangannya masih menyeret Anindhira untuk berjalan mengikutinya. terlihat beberapa tamu sudah pergi, hanya ada beberapa teman Arzan yang berada disana. mereka terkejut melihat Arzan datang, pria itu datang dengan kemarahan dan menyeret seorang gadis dengan paksa ke hadapan pendeta yang sudah menunggu.
"bukankah kau mencintaiku, bukankah kau ingin menikah denganku. maka akan aku wujudkan, kita akan menikah hari ini! " tegas Arzan membuat semua orang terkejut, nyonya Malik yang melihat itu sama terkejutnya. "pendeta bacakan yang harus kau bacakan! " pendeta pun membaca sumpah pernikahan, mata Arzan tidak berhenti menatap tajam Anindhira yang masih terisak di hadapannya.
"jangan lakukan ini tuan, aku bersumpah tidak pernah mengatakan hal itu pada nona Tania! " ucap Anindhira menangis, tapi Arzan tidak mendengarkan hal itu.
'tuan Arzan Ravindra Malik, silahkan baca sumpah pernikahan seorang suami untuk istrinya! "
"aku memintamu untuk menjadi istriku, terikat dengan ku untuk selamanya. aku berjanji tidak akan memberikan kebahagiaan kepadamu, aku hanya akan memberikan penderitaan kepadamu. kau akan merasakan hidup bersamaku, seperti hidup didalam neraka. aku sebagai suamimu akan menunjukkan seperti apa diriku, kau hanya akan menangis buka tertawa. kau akan menderita, pada waktu sakit, susah, senang, kekurangan ataupun kelimpahan! " sumpah yang diucapkan Arzan menggema ditelingan Anindhira, gadis itu tidak menyangka Arzan akan mengatakan hal menyakitkan seperti itu. bukan hanya semua orang yang terkejut, pendeta yang berdiri pun terkejut mendengar Arzan bersumpah dengan sangat buruk.
"aku menerima untuk menjadi istrimu, aku berjanji akan menerima setiap kebahagiaan dan penderitaan yang akan kau berikan. aku akan dengan senang merasakan hidup bersamamu, aku akan membayangkan hidup bersamamu bagaikan seperti surga didunia ini. aku akan bahagia bersamamu, saat sakit, saat susah, saat senang, dan saat kekurangan ataupun kelimpahan. aku bersedia menjadi istrimu! " ucap Anindhira tersenyum, ia membalik semua sumpah Arzan yang berkata buruk padanya. Arzan masih dengan senyum ironisnya, bahkan mata elangnya tidak berhenti menatap Anindhira.
'kalian ku nyatakan sebagai suami istri yang sah, silahkan pasang cincin pernikahan ini'
Arzan memegang cincin itu, ia membayangkan akan memasang cincin itu pada jari Tania, tapi kini malah pada Anindhira. Arzan melempar cincin itu kearah Anindhira, kemudian pergi dari sana meninggalkan semua orang. Anindhira terduduk di lantai dengan lemas, ia menangis terseduh seduh didalam gereja itu. sang ibu memeluk putrinya yang menangis, bahkan orang tua tidak sanggup bicara.
"maafkan aku, maaf aku tidak bisa mencegah putraku! " ucap nyonya Malik, Anindhira menggelengkan kepala dan membawa nyonya Malik untuk berdiri.
"tidak perlu minta maaf nyonya, aku baik baik saja! " ucap Anindhira, nyonya Malik memeluk gadis itu dengan saling menangis.
"Anin aku benar benar minta maaf, Arzan melakukan hal bodoh kepadamu! " Anindhira terdiam dengan tangisnya, kemudian nyonya Malik memasangkan cincin yang sempat dilempar oleh Arzan sebelumnya. "kau adalah menantuku sekarang, aku yang akan menjagamu agar Arzan tidak menyakiti dirimu! " ucap nyonya Malik, Anindhira tersenyum kemudian memeluk nyonya Malik.
__ADS_1
"Terima kasih, Terima kasih ibu... " ucap Anindhira, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. dalam sekejap dirinya menjadi seorang istri, istri dari Arzan yang mengatakan hal buruk disumpah pernikahan mereka.