Suamiku Tidak Kejam

Suamiku Tidak Kejam
Anindhira terluka.


__ADS_3

Arzan duduk dimeja makan siap untuk sarapan, ia menunggu makanan dihidangkan. Anindhira melihat Arzan dari jauh, ia sudah masak dipagi hari untuk Arzan. meminta beberapa ahli masak untuk menghidangkan, ia takut Arzan akan marah jika melihat dirinya disana. dengan tenang Arzan memakan sarapan itu, sedetik kemudian ia menghentikan suapannya. Arzan membayangkan Anindhira yang setiap pagi duduk bersamanya, menemaninya sarapan, makan siang maupun makan malam. dulu Arzan mungkin senang dengan itu, tapi untuk sekarang memikirkannya saja ia malas. kemudian ia teringat lagi makanan itu adalah masakan Anindhira, dengan kesar Arzan mendorong piring itu jauh dari hadapannya. hal itu membuat kebisingan, membuat semua pelayan menatap dan sedikit takut.


"apa kalian tidak memasak dengan benar, bawa pergi semua makanan ini dan buat yang baru!" ucap Arzan kasar, semua pelayan kalang kabut dan cepat kembali kedapur. beberapa saat kemudian makanan baru dihidangkan, Arzan mulai memakan itu tapi tidak cocok pada lidahnya. pastinya tidak cocok, karena bukan masakan Anindhira dan lidahnya sudah cocok dengan masakan gadis itu yang kini menjadi istrinya.


"kalian ini masak saja tidak bisa! " kesal Arzan, ia mendorong piringnya jauh dari hadapannya.


"kenapa adikku yang tampan ini marah dipagi hari! " ucap seseorang dari kejauhan, dengan bersamaan Anindhira dan Arzan menoleh ke asal suara. berdiri seorang wanita cantik bermodis dengan koper disampingnya, wanita berkaca mata itu tersenyum dan berjalan bagaikan model ternama.


"kakak! " ucap Arzan, dengan cepat pria itu berjalan dan memeluk wanita yang dipanggil kakak itu.


"huum... apa kabarmu adik besar, kau masih sama suka marah dipagi hari! " ucap wanita bernama Siren, Arzan menggelengkan kepalanya.


"kau tidak memberi kabar padaku, tahu begitu aku menjemputmu tadi! " Soren pun tersenyum, dan mengusap rahang Arzan dengan lembut.


"ah tidak perlu repot repot, aku kembali karena mendengar adikku akan menikah. dan pastinya aku terlambat datang kemarin, jadi aku berusaha memberi kejutan masa iya aku menganggu pengantin baru, oh ya dimana istrimu aku belum melihatnya kemarin! " ucap Siren, ia menoleh ke kanan dan kirinya. sampai pandangannya kearah Anindhira, gadis itu tersenyum ramah saat Siren melihatnya. "ah itu pasti istrimu! " ucap Siren kemudian berjalan kearah Anindhira, dengan cepat mereka saling berpelukan dan menyapa. Arzan yang melihat itu acuh, ia berpikir Anindhira pasti ada disekitarnya dan dugaannya benar.


"aku Siren, aku kakak tirinya tapi seperti kakak kandung! " ucap Siren tersenyum, Anindhira pun juga tersenyum.


"aku Anindhira, senang bertemu denganmu nona! " Soren tertawa mendengar suara Anindhira, tentu membuat lawan bicaranya itu bertanya tanya.


"kenapa kau memanggilku nona, panggil aku kakak saja! " ucap Siren tersenyum, Anindhira pun tersenyum dan mengangguk.


"iya kakak ipar! "


"kamu sangat cantik saat tersenyum, Arzan tidak salah memilihmu! " ucap Siren, Arzan yang mendengar itu pun mendekat kearah Siren.


"aku tidak ingin mendengar omong kosongmu, pergilah istirahat sekarang, aku akan pergi! " ucap Arzan memeluk Siren sekilas, Anindhira menatap Arzan yang tidak menoleh kearah nya sedikitpun. Arzan pergi tanpa berpamitan lagi, Siren yang melihat itu merasa aneh pada dua pengantin baru tersebut.

__ADS_1


"apa kalian sedang bertengkar? " tanya Siren, Anindhira tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"aku akan membantumu untuk membersihkan kamar kak, ayo kubawakan kopermu! " ucap Anindhira, Siren menahan tangan gadis itu yang akan membawa koper.


"biar pelayan yang membawanya, kamu cukup menggandeng tanganku saja! " ucap Siren menarik tangan Anindhira, mereka saling menggandeng berjalan menuju kamar yang dimaksud Anindhira. Siren masih bertanya tanya bagaimana pertemuan Arzan dan Anindhira, karena ia tidak melihat cinta dimata Arzan untuk istrinya. melihat senyum Anindhira yang tulus, ia jadi tidak tega saat akan menanyakan semua itu.


...****************...


Anindhira selesai membersihkan dirinya disore hari, tubuhnya sangat harum sehabis mandi. Anindhira mengingat kepalanya yang terluka, ia memegang kepala itu dan sedikit terasa nyeri. suara ketukan pintu terdengar dan secara bersamaan pintu terbuka, Anindhira menoleh dan melihat Siren datang dengan senyuman merekah.


"apa aku menganggumu adik? " ucap Siren tersenyum, Anindhira menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"masuklah kakak, kenapa hanya berdiri disana! " ucap Anindhira, dengan senang Siren masuk dan duduk dikasur sana.


"wah kamar adikku yang bujang ini, sudah bertahun tahun selalu kosong jika siang sampai malam. aku biasanya akan tidur disini jika anak itu tidak pulang, sekarang ada istrinya yang mengisi kamar besar ini. kamu akan merasa sendirian terus, aku harus memberinya nasihat! " ucap Siren, Anindhira hanya tersenyum menanggapi perkataan Siren. "eh Adik rambutmu sangat panjang dan hitam, kemarilah akan kubantu menyisir! " ucap Siren, belum sempat Anindhira menolak wanita itu sudah menyenggol luka dikepalanya.


"awww... asshh... " ucap Anindhira, tentu membuat Siren terkejut dan langsung melihat luka kepala Anindhira.


"tidak kak, hanya nyeri saja tapi tidak masalah! " ucap Anindhira, Siren tersenyum dan masih merasa menyesal.


"aku terlalu banyak bicara, maafkan aku adik! " ucap Siren lagi, Anindhira tersenyum dan menggelengkan kepala.


"tidak perlu minta maaf kakak, ini hanya luka kecil pasti akan sembuh! " saut Anindhira, Siren menghela nafasnya.


"bagaimana ini bisa terjadi, kenapa kepalamu sampai terluka? " ucap Siren, Anindhira terdiam dengan ucapan Siren. ia bingung harus menjawab apa, karena tidak mungkin jika ia mengatakan kalau Arzan penyebabnya. belum sempat menjawab Arzan datang tanpa bersuara, pria itu masuk kedalam kamar dan melesat ke kamar mandi tanpa melihat sekitar. Siren yang melihat itu terkejut, kemudian menatap Anindhira yang masih tersenyum padanya.


"dia pasti lelah! " ucap Anindhira, Siren berdiri dari duduknya dan berjalan kearah kamar mandi. diketuknya pintu dengan keras, membuat Arzan membuka pintu dan melihat Siren berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"ada apa kak, apa kau butuh sesuatu? " ucap Arzan tenang, Siren menggelengkan kepalanya dan menatap tajam Arzan.


"apa kau tahu istrimu sedang terluka? " tanya Siren menunjuk Anindhira, Arzan menaikkan satu alisnya dan menatap Anindhira yang terdiam sedikit jauh darinya. dengan acuh Arzan menggelengkan kepalanya, Siren memukul lengan pria itu dengan sedikit keras. "bagaimana kau se acuh itu pada istrimu, dia istrimu bukan pelayanmu. dan dia terluka di kepalanya, kau sendiri sebagai suaminya tidak tahu kepalanya terluka! " Arzan sedikit tersentak dengan itu, karena memang ia tidak tahu Anindhira terluka bagian kepalanya.


"kalau aku tidak tahu, mau bagaimana lagi! " ucap Arzan, pria itu mendekat kearah lemari dan kebetulan Anindhira berdiri dekat lemarinya. Anindhira menoleh kearah lain, yang membuat Arzan bisa melihat luka dikepala Anindhira. Siren menarik tangan Anindhira, dan meminta gadis itu duduk untuk melihat luka dikepalanya.


"Adik apa lukanya sangat parah, inj pasti karena ku. darahmu keluar lagi, tunggu sebentar! " ucap Siren, Arzan masih tenang dengan memakai pakaiannya. "eitsss mau kemana kamu! " ucap Siren saat melihat Arzan akan pergi, ditariknya kera baju Arzan oleh Siren.


"aku akan kembali bekerja, kau seharusnya istirahat kenapa mengganggu ku! " ucap Arzan kesal, Siren menggelengkan kepalanya.


"bawa istrimu kerumah sakit, aku tidak bisa membawanya karena hari ini aku banyak pekerjaan! " ucap Siren, hal itu membuat Anindhira terkejut karena pasti Arzan tidak akan setuju.


"kakak tidak perlu kerumah sakit, aku sudah mengobatinya jadi tenang saja besok pasti sudah sembuh! " ucap Anindhira panik, Siren yang keras kepala menggelengkan kepalanya.


"Arzan bawa dia kerumah sakit, atau ku laporkan ibu dia terluka karena ulahmu! " ucap Siren mengancam, pada dasarnya Siren tidak tahu kenapa luka itu terjadi. Anindhira sendiri panik, ia takut kalau Arzan akan mengira dirinya yang mengadu pada Siren.


"apa dia akan kerumah sakit dengan pakaian seperti ini, tapi tidak masalah jika dia mau menjadi tontonan semua orang! " ucap Arzan pergi dari sana, Siren tersenyum karena adiknya itu setuju.


"kamu tenang saja, cepat ganti bajumu dan pergi kerumah sakit bersamanya! " ucap Siren, Anindhira mengangguk dengan itu. ia mengganti baju dengan cepat, dan Siren membantu gadis itu sampai membantunya untuk turun.


dilantai bawah Arzan duduk bersama nyonya Malik, banyak orang diruang keluarga. Siren membawa Anindhira mendekat, entah sejak kapan wajah Anindhira pucat seperti tidak bertenaga. Arzan pergi dari sana tanpa bicara, Siren tersenyum kearah Anindhira.


"ibu adik sedang tidak sehat, jadi aku meminta Arzan untuk membawa gadis ini pergi ke rumah sakit! " ucap Siren, semua orang terkejut dengan itu. mereka mengenal Siren yang merasakan kepala, dan ucapan Siren selalu menjadi nomer satu untuk Arzan. seperti sekarang ini, Arzan pasti menuruti permintaan Siren, dan tidak bisa menolak permintaan kakaknya. padahal wanita itu tidak tahu bagaimana hubungan Arzan dan Anindhira dimulai, dan seperti apa kebencian Arzan pada gadis itu.


Anindhira berjalan kearah mobil Arzan, disana pria itu sudah duduk dengan tenang didalam mobil. menunggu Anindhira datang, sebenarnya ia juga malas bertemu Anindhira tapi kakaknya memaksa dirinya untuk pergi.


"cepat masuk, aku banyak pekerjaan yang tertunda karenamu! " ucap Arzan tegas, Anindhira pun sedikit terkejut kemudian mengangguk. Anindhira masuk kedalam mobil, kemudian duduk dan memasang sabuk pengaman.

__ADS_1


"tuan jika kau ada pekerjaan yang penting, tidak perlu kerumah sakit. aku bisa pergi sendiri, meminta tuan Erik atau supir untuk mengantarku! " ucap Anindhira lembut, Arzan menghela nafas dan menatap Anindhira dengan mata elangnya.


"jika bukan karena kakakku yang meminta, aku juga tidak akan mengantarmu. bukankah itu hanya luka kecil, kau hanya membesar besarkan nya saja kan! " ketus Arzan menusuk hati Anindhira, Arzan menjalankan mobilnya dan meninggalkan rumah besarnya. Anindhira sendiri menghela nafas, batinnya mengatakan akan selalu sabar dalam menghadapi Arzan. karena bagaimana pun Arzan adalah suaminya, dan dirinya akan selalu mencintai Arzan dalam keadaan apapun.


__ADS_2