Suamiku Tidak Kejam

Suamiku Tidak Kejam
Hujan Deras dijalan.


__ADS_3

sampainya dirumah sakit, Arzan menemui dokter khusus dirinya. seorang dokter tampan merawat luka Anindhira dengan seorang perawat, tidak bisa dibohongi lagi luka itu sangat dalam. dokter bertanaua apa yang terjadi, Anindhira mengarang cerita bahwa dirinya terjatuh dikamar mandi dan kepalanya terbentur wastafel kamar mandi. semuanya percaya dengan itu, Arzan yang sedari tadi terdiam hanya menatap interaksi dua orang dihadapannya.


"Alez, aku tidak pernah tahu kalau kau banyak bicara! " ucap Arzan tiba tiba, Dokter bernama Alex itu pun tersenyum dan menaikkan satu alisnya.


"istrimu ini sangat cantik dan manis, siapapun tidak bisa melihatnya diam! " saut Alex, hal itu membuat Anindhira tersipu dan menoleh kearah Arzan yang masih menatapnya. saat ingin membalas perkataan Alex, ponselnya berdering bertuliskan nama Kakak. Arzan keluar dari sana untuk mengangkat panggilan itu, Alex kembali bicara dengan Anindhira.


"maafkan aku nona muda, tidak hadir saat pernikahan kalian. ya meskipun Arzan adalah temanku sejak lama, tapi hari pernikahannya tidak pas! " ucap Alex panjang lebar, Anindhira hanya mengangguk menanggapi Alex yang bicara. "kalian menikah ketika aku ke luar kota, menjalankan operasi besar! "


"tidak masalah dokter, namaku Anindhira panggil saja nama jangan nona muda! " saut Anindhira, Alex tersenyum mendengar itu dan mengangguk.


"oh ya aku tidak percaya kalau kepalamu ini terbentur wastafel, karena tidak mungkin akan berdarah jika wastafel. rumah Arzan sangat mewah, pasti terbuat dari keramik mahal dan pasti sangat lembut dan halus. dan lukamu ini seperti goresan, oh ya seperti sebuah kayu. apa kau jatuh mengenai meja, atau semacam lemari? " jelas Alex, Anindhira menggelengkan kepalanya kuat.


"ini benar terbentur wastafel kok, aku tidak berbohong! " ucap Anindhira, Alex pun hanya mengangguk mendengar itu. "apa masih lama dokter? "

__ADS_1


"sudah selesai kok, jangan terkena air ya. cukup mandi tanpa menyiram bagian kepalamu, biarkan lukanya sampai kering dulu! " saut Alex tersenyum, Anindhira pun mengangguk dengan tersenyum. secara bersamaan Arzan datang, ia berbincang dengan Alex saat Anindhira merapikan pakaiannya yang lusuh.


mereka berdua keluar dari rumah sakit, Anindhira menunggu sampai mobil Arzan datang. ia terkejut saat Arzan datang dengan mobil cukup besar, bisa dibilang mobil jeep dan itu mobil favorit Arzan. ia mendapat telpon dari sangat kakak, ternyata hanya auntuk berganti mobil dengan Erik. karena sang kakak ingin menggunakan mobil yang biasanya, dan Arzan pun tidak ada penolak dengan itu. pria itu berhenti tepat didepan Anindhira, meminta gadis itu untuk cepat naik. Anindhira bingung saat akan naik, ia takut terjatuh karena jaraknya tinggi jika ia naik. sebenarnya tidak terlalu tinggi, berhubung tubuh Anindhira yang kecil membuatnya jadi was was akan jatuh.


"apa kau tidak mendengarku? " ucap Arzan, Anindhira mengangguk dan ia berusaha naik tapi ketakutannya lebih besar. Arzan mengerti dengan yang dilakukan Anindhira, pria itu pun turun dari sana dan menggendong tubuh Anindhira agar segera naik kedalam mobil jeep tersebut. "kalau tidak bisa naik bilang, jangan hanya diam seperti orang bisu! " ucap Arzan, pria itu juga memasang sabuk pengaman pada tubuh Anindhira.


"maafkan aku, aku hanya bingung tadi! " ucap Anindhira, Arzan acuh dan segera naik kedalam mobilnya kemudian meninggalkan rumah sakit tersebut. Anindhira sedikit senang menaiki mobil itu, mobil tanpa atap yang cukup besar. ia bisa melihat jalanan, dan bisa merasakan udara segar. untung saja cuaca tidak sedang panas, merasakan angin yang berhembus menyejukkan. Arzan memperhatikan Anindhira yang tersenyum, ia melihat gadis itu memejamkan mata sambil tersenyum merasakan angin.


Arzan memilih jalan pintas, melewati rumah penduduk yang ramai. seperti sebuah pasar, sangat ramai dengan beberapa penjual dan pembeli yang saling tawar menawar. secara kebetulan mobil Arzan berhenti, karena Arzan mendapat sebuah panggilan untuk pekerjaannya.


"aku tidak membawa uang, maaf aku tidak jadi beli!" ucap Anindhira, terlihat anak kecil itu tersenyum dan menyodorkan bunga pada Anindhira.


"kakak istrinya tuan Arzan, aku sangat menyukai keberanian tuan Arzan. ambillah gratis untuk kakak, hehe.. " Anindhira terkejut, ia tersenyum menerima bunga itu.

__ADS_1


"Terima kasih, lain kali aku pasti akan membayar bunga ini! " ucap Anindhira, Arzan melihat adegan itu ia menatap anak kecil yang masih bicara dengan Anindhira.


"hei anak kecil, kemarilah! " ucap Arzan, si anak kecelakaan itu pun berlari mendekat kearah Arzan. tubuhnya yang kecil ditarik oleh Arzan untuk naik, dan pria itu mengeluarkan uang dari dalam sakunya. "kau menjual bunga, dan aku membelinya. ambil uang ini, apakah cukup? " ucap Arzan, anak kecil tersebut mengangguk dan bahagia mendapatkan uang.


"Terima kasih ini sangat banyak, aku bisa pulang dan memeberikan uangnya pada ibu. aku akan bercerita kalau tuan Arzan yang berikan, Terima kasih tuan Arzan semua bunga ini untukmu! " ucap anak itu, Arzan tersenyum dan menurunkan anak kecil tersebut. Arzan memberikan bunga pemberian anak kecil tadi, ia hanya ingin bersedekah memberikan uang. Anindhira sendiri tersenyum, ia sangat percaya Arzan yang yang baik tidak sekejam yang dibayangkan siapapun.


tiba tiba saja Arzan merasakan ban mobilnya kempes, ia pun membanting setir kekanan dan kirinya. Anindhira yang tadinya merasa tenang, menjadi panik dan menoleh kearah Arzan. pria itu menahan tubuh Anindhira yang terhuyung kedepan, sampai akhirnya mobil itu berhenti setelah menabrak pohon pinggir jalan. Anin memejamkan mata dengan mencengkram tangan Arzan, sampai dirasakannya sudah tenang Anindhira membuka mata. Arzan memilih jalan pintas untuk pulang, tidak disangka dirinya mengalami kesialan.


"sial! " ucap Arzan melihat bannya kempes, sebuah paku besar menancap di ban mobil itu. Arzan berkutik dengan ponselnya, tapi tempat itu tidak ada sinyal. jalanan yang kanan kirinya adalah hutan, tidak terlihat seseorang lewat. Anindhira sendiri berpikir Arzan tidak pernah melewati tempat itu, dan hanya diam saat Arzan mengemudi. Anindhira melihat langit yang cerah menjadi mendung, bahkan suara guntur pun terdengar keras membuat Arzan dan juga Anindhira terkejut.


"sepertinya akan hujan! " ucap Anindhira, ia merasakan tetes air dihidung kecilnya.


"bukan akan hujan, tapi sudah hujan! " ucap Arzan yang tiba tiba di sampingnya, pria itu mengangkat Anindhira turun dan menarik gadis itu untuk berteduh dibawah pondok yang ada didekat sana. hujan bagaikan air yang tumpah, dalam sekejap semuanya menjadi basah karena air hujan yang turun dengan deras. dua manusia itu hampir setengah basah, karena pondok yang mereka datangi cukup jauh jaraknya.

__ADS_1


"oh tidak! " ucap Anindhira menutup luka dikepalanya, ia teringat kalau luka itu butuh penyembuhan tidak bisa terkena air. Arzan sendiri mengerti, ia mendengar semua perkataan Alex pada Anindhira dirumah sakit. Arzan menarik tuh kecil Anindhira, memasukkan tubuh kecil itu ke dalam jas yang ia gunakan.


"dengan seperti ini lukamu tidak akan basah, tenang saja! " ucap Arzan tegas, gadis itu sedikit terkejut tapi ia pun mengangguk untuk setuju. "aku akan memberi hukuman pada Erik, kalau saja dia tidak memberikan mobil itu tidak akan seperti ini! " ucap Arzan geram, Anindhira hanya terdiam mendengar itu. tidak ada percakapan diantara mereka, hanya ada suara hujan yang deras terdengar.


__ADS_2