Suamiku Tidak Kejam

Suamiku Tidak Kejam
Arzan Ravindra Malik


__ADS_3

Arzan Ravindra Malik, pria yang ditemui Anin sore itu. pria tampan berusia tiga puluh tahun, wajah tampannya tertutup dengan berewok tipis yang membuatnya sangat mempesona. dengan memakai serba hitam Arzan terlihatsangat menakutkan, tapi meskipun begitu ia tetap menakutkan bagi orang disana. Arzan adalah seorang jutawan besar disana, namanya di kenal diseluruh kalangan. jika seseorang menyebut nama Arzan siapapun akan merasa was was, mereka akan langsung menghormati Arzan.


Arzan hanya terlihat nya saja sebagai orang yang keras, tapi sebenarnya ia adalah orang yang sangat baik. Arzan selalu bersikap adil kepada seluruh bawahannya, meskipun menakutkan bawahannya selalu mendukung dan mengikuti semua perintah Arzan. lelaki itu sangat gagah dan tubuhnya juga lumayan tinggi, jika disandingkan dengan Anin mungkin hanya sejajar dengan perut Arzan.


Arzan yang sedang menunggu jemputan, ia jalan kaki sejenak untuk menikmati jalanan yang sepi. tapi telinga nya terusik oleh suara yang lirih, Arzan tidak memperdulikan karena ia pikir itu tidak penting. tapi suara itu semakin dekat terus berteriak, mau tidak mau Arzan menoleh untuk melihat siapa yang berteriak itu. suara siapa lagi kalau bukan suara Anin, bahkan Arzan langsung menangkap Anin yang hampir saja terjatuh karena menginjak sebuah batu.


Arzan menatap Anin yang seperti kucing dipelukannya, kemudian melihat Michael yang berlari dan berhenti dihadapannya. Arzan merasa ada yang tidak beres, dengan tingkah Michael yang mengatakan Anin adalah istrinya yang sedang gangguan jiwa. kenapa tidak, di usia Anin yang masih dua puluhan tidak mungkin menjadi istri, seorang pria berusia hampir kepala empat. Arzan kemudian membawa Anin dan adik kecil itu dibelakangnya, kemudian ia maju kearah Michael.


"pria tua tidak tahu diri, seharusnya kau melihat usia dan banyak berdoa dengan umurmu. bukannya mengganggu seorang gadis, dan mengatakan kalau dia istrimu! " ucap Arzan dengan senyum menyeringai, Michael yang tidak mengenal Arzan hanya tertawa menganggap nya bercanda. padahal siapapun akan takut jika sudah melihat Arzan tersenyum seperti itu, karena senyum seperti itu akan menjadi sesuatu hal yang buruk. Arzan sangat geram melihat Michael yang terus berusaha bicara dengannya, apalagi Michael terus mengatakan kebohongan yang berulang ulang. Arzan yang sudah sangat kesal, tiba tiba tangan Michael menarik tangan Anin yang terus meminta tolong padanya.


"aku tidak gila, dia ingin memaksaku untuk menikah dengannya. tolong tuan selamatkan aku, dia mengancam akan membunuh orang tua ku! " ucap Anin memegang tangan Arzan, entah kenapa melihat Anin yang merengek membuatnya bertambah geram pada Michael. dicengkramnya tangan Michael dengan kuat, Michael yang kesakitan melepaskan tangan Anin. Arzan meremas tangan itu dan hampir saja membuatnya patah, Michael berteriak merasa kesakitan.


"beraninya tanganmu itu menyentuh tangannya! " ucap Arzan, ia semakin memutar tangan itu. padahal hanya dengan satu tangan, tapi Michael berteriak merasa kesakitan. "apa kau ingin melihat yang menarik? " ucap Arzan menoleh kearah Anin, masih dengan terkejut Anin hanya diam dan merangkul adiknya untuk tidak melihat hal itu. Arzan kemudian melihat anak kecil yang dibawa Anin, kemudian ia mendorong tubuh Michael sbelum memberikan pukulan. "andai saja tidak ada anak kecil disini, kau sudah aku habisi! " ucap Arzan kemudian berbalik pergi, Arzan menatap Anin yang tersenyum padanya. tapi beberapa saat kemudian Arzan terkejut ketika seseorang memukul kepalanya, Michael memukul Arzan dengan sebuah batu tepat dibelakang kepala Arzan.

__ADS_1


"tuan! " teriak Anin, Arzan memegang kepalanya dan mengeluarkan darah disana. Arzan geram dengan itu, Michael sangat berani telah melawannya. Arzan mengeluarkan sebuah pistol didalam jasnya, tanpa abcd lagi satu peluru keluar dari pistol itu. peluru itu bersarang tepat di kepala Michael, membuat nya tergeletak dijalan dan nati seketika. Anin sangat terkejut, ia memeluk sang adik dan menutup telinga untuk menghindari suara tembakan.


"siapapun yang melawan Arzan, dia pasti akan selalu berakhir seperti ini! " ucap Arzan dengan tegas, ia merasa nyeri dengan kepala yang berdarah. kemudian pandangannya menoleh kearah Anin, ditatap nya Anin dengan tajam yang terlihat sedang ketakutan. "pergilah, kau aman sekarang! "


"ta... tapi dia menahan orang tua ku disana, mereka... " belum Anin menyelesaikan ucapannya, beberapa mobil datang kearah Arzan. kemudian turun beberapa orang melihat Michael, dan kemudian melihat Arzan yang sedang terluka.


"tunjukkan padaku, dimana orang tuamu! " ucap Arzan yang berniat membantu, ia merasa kasihan pada gadis itu dan adik kecil yang dibawanya. Anin langsung naik kesalahan satu mobil, kemudian mobil itu berjalan menuju orang tua Anin yang masih terperangkap oleh anak buah Michael. terlihat orang tua Anin yang masih ditahan oleh bebrapa orang, Arzan yang merasa kepalanya pusing sangat kesal dengan itu. dengan cepat Arzan turun, ia mengarahkan pistol kepada orang orang tersebut. tanpa ragu Arzan menembak satu persatu orang itu, kemudian membawa orang tua Anin untuk masuk kedalam mobilnya. orang tua Anin yang melihat putrinya, langsung dipeluk dan merasa bersyukur karena putri mereka aman.


"aku sudah biasa terluka, luka ini hanya luka kecil saja! " ucap Arzan dengan senyum sinis, Anin hanya menatapnya dan merasa khawatir. mereka tidak berani bicara, didalam mobil yang lumayan mewah itu hanya ada keheningan. Arzan hanya diam karena merasa pusing pada kepalanya, ia ingin cepat dirumah yang melakukan perawatan pada kepalanya.


"Ibu aku sangat lapar, aku tidak makan sejak pagi! " ucap Adik Anin, yaitu Nando. anak kecil tidak bisa menahan rasa lapar, sang ibu bingung karena tidak ada yang bisa dimakan bahkan merek tidak punya uang untuk makan. Arzan yang mendengar itu menghela nafas, Arzan mengisyaratkan jarinya agar Nando mendekat kearahnya.


"seberapa lapar kau? " tanya Arzan, Nando hanya merentangkan tangan dan membuat Arzan terkekeh tipis. kemudian mengisyaratkan supirnya untuk berhenti di sebuah warung makan kecil, Arzan menatap mereka kemudian mengisyaratkan untuk turun. "turunlah kalian dan makan, aku tahu kalian belum makan! " ucap Arzan, Nando senang dan langsung menarik Anin turun. anak buah Arzan memesan makanan untuk keluarga itu, Arzan duduk dimobil dan menunggu dengan memejamkan mata. Anin menatap Arzan dari jauh, ia masih khawatir pada luka Arzan yang tidak segera diobati. tapi belum sempat tenang, tiba tiba sebuah mobil datang dengan beberapa orang. Arzan yang melihat itu bergerak dengan cepat. ia melambaikan tangan untuk memberi isyarat pada Anin, kemudian keluarga itu berlari masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"serahkan uangnya! " ucap seseorang, Arzan berdiri dan tersenyum sinis.


"uang, kau seharusnya bekerja jika ingin mendapatkan uang! " saut Arzan, beberapa anak buahnya tertawa mengikuti Arzan. "jika kau ingin uangnya, lenyapkan aku! " ucap Arzan lagi, tanpa bicara pria dihadapannya itu menodongkan sebuah pistol. tapi gerakan nya kalah cepat, Arzan lebih dulu menembak pria itu. Anin yang mendengar suara tembakan merasa terkejut, bahkan melihat Arzan yang terkena tembak dan mengerang kesakitan. bodohnya Anin keluar dari mobil itu, Arzan yang melihat itu langsung kesal. "jangan keluar dari mobil! " teriak Arzan yang membuat Anin terkejut, tapi sayang seseorang langsung menarik tubuh Anin dan menodongkan pistol dikepala Anin.


"serahkan uangnya, atau gadis ini akan mati! " ucap pria itu, Anin terkejut dan hanya bisa menangis. Arzan yang tidak peduli dengan apapun, tetap menodongkan pistolnya. sampai dengan gerakan cepat, Arzan menembak lengan pria itu hingga Anin terlepas dari pria itu. Anin berlari kebelakang Arzan, dan Arzan menembak setiap orang disana hingga tergeletak tanpa sisa. "urus mereka semua, berani sekali mereka ingin merampok seorang Arzan! " ucap Arzan dengan tenang tapi tegas, ia menarik tangan Anin dan membawanya untuk naik ke mobil lagi. tapi kepalanya sangat berat, ia benar benar telah kehilangan darah banyak. bahkan untuk berdiri Anin menopang nya, matanya sudah buram dan ia terjatuh dengan pandangan gelap. Arzan pingsan dalam rangkulan Anin, dengan panik Anin memegang darah di sekujur tubuh Arzan.


"tuan, tuan bertahanlah aku akan membantumu! "


...****************...


Arzan Ravindra Malik, 30th


__ADS_1


__ADS_2