
hari terus berganti, Anin menjadi teman Tania dalam waktu dekat. Anin melihat Tania begitu baik, begitu lembut dan juga orang yang jujur. Tania yang seperti itu membuat Anin jadi ingin menjodohkannya dengan Arzan, tapi Anin bahkan tidak berani bicara dengan Arzan sekarang. kejadian waktu lalu Arzan tidak pernah melihatnya, Arzan selalu mengabaikannya saat ia mulai bicara. kadang Arzan langsung pergi jika melihat Anin, hal itu membuat Anin sangat terpukul dan juga sedih.
"kamu kenapa? " tanya Tania yang melihat Anin merenung, mendengar itu Anin sedikit terkejut dan langsung tersenyum.
"aku baik baik saja, hanya saja aku berpikir kamu adalah gadis baik kenapa tuan tidak menyukaimu! "
"Arzan tidak menyukai wanita, ia mulai tidak percaya dengan wanita. tapi ibunya selalu memaksa Arzan menikah, dan mungkin aku salah satu wanita yang ditawarkan kepada anaknya! " kebetulan Arzan melangkah di hadapan mereka, Anin dan Tania pun menatap Arzan dengan lekat. yang ditatap pun tidak suka tatapan itu, Arzan menoleh dengan tatapan tajamnya dan menatap keduanya. Arzan menatap Tania dengan perasaan tidak suka, dan menatap Anin dengan perasaan muak. Anin berpikir Arzan masih marah padanya, bahkan Arzan langsung pergi setelah melihatnya.
Arzan berdiri diruang tamu sedang menelpon seseorang, Anin menatap Arzan itu. ia ingin sekali bicara sekali lagi, tapi hatinya takut Arzan akan marah padanya. saat hendak pergi Anin melihat sebuah lampu besar yang menggantung diatas, lampu itu seperti bergerak gerak. hal itu membuat Anin menyangka lampu itu akan jatuh. suara lemah Anin tidak bisa didengar Arzan, dengan gerakan kecil Anin berlari untuk membuat Arzan menjauh dari sana. dan benar lampu itu terlihat akan jatuh, dan Arzan tepat dibawahnya.
"tuan! " teriak Anin ketika melihat lampu itu jatuh, lampu itu jatuh dan hancur dilantai yang mengkilap itu. Anin terlambat, ia terlambat untuk memanggil Arzan.
"auuh! " suara itu menyadarkan Anin, suara Tania menggeram kesakitan. Anin melihat Tania dan Arzan yang ada disamping lampu itu, dan ya kaki Tania terjempit lampu. dan tubuh Arzan, berada dibawah tubuh Tania yang menyelamatkan nya. beberapa orang Arzan datang, mereka mengangkat lampu besar itu hingga kaki Tani terbebas.
"nona Tania, apa anda baik baik saja? " ucap Anin, Tania memgang tangan Anin dan menahan sakit disana. Arzan yang melihat itu langsung menggendong Tania, darah keluar dikaki Tania dan ia semakin menggeram kesakitan.
__ADS_1
"panggil dokter, cepat! " teriak Arzan, Anin mengangguk dan cepat menekan tombol telfon rumah. setelah selesai Anin membuntuti Arzan yang membawa Tania, tidak lupa Anin membawa air untuk membersihkan luka Tania.
setelah beberapa menit, dokter datang dengan cepat. ia melihat luka kaki Tania, ia memberikan rawatan didalam rumah itu. nyonya Malik menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit, tapi Tania menolak karena ia sangat takut dengan rumah sakit. mereka jadi menuruti permintaan Tania, bahkan Anin ikut merawat Tania. Anin melihat kearah Arzan, tangan dan leher Arzan juga terluka tapi pria itu membiarkan luka itu. tapi saat Anin hendak akan mengobati pria itu, Anin malah melihat Arzan yang minum di bar pribadi milik Arzan. ia tuangkan beberapa kali kedalam gelas, hal itu membuat Anin geram dan menghampiri Arzan.
"kau disini dan kau minum lagi tuan, bahkan nona Tania disana menanyakanmu! " ucap Anin, Arzan hanya melirik Anin kemudian meminum isi didalam gelas yang ia pegang. Arzan tersenyum tipis, kemudian kembali melihat Anin.
"siapa kau, beraninya kau melarang ku. apalagi melarangku dirumahku sendiri! " ucap Arzan dengan serak, suara itu membuat Anin merinding tapi tetap ada keberanian dalam diri Anin.
"jangan, jangan minum lagi tuan! " ucap Anin mengambil gelas itu, tapi Arzan malah mendorong Anin hingga terjatuh. Arzan yang setengah sadar langsung menghampiri Anin, dibantunya Anin berdiri dan melihat gadis itu yang sedang kesakitan.
"kenapa kau tidak takut padaku, kenapa kau terus dekat denganku? " ucap Arzan, Anin malah tersenyum masnis pada Arzan.
"bagi semua orang aku adalah malaikat maut mereka, kenapa aku terlihat sangat baik padamu! "
"tuan, nyonya Malik sudah menceritakan semua tentang tuan. bisakah aku memberikan saran? " Arzan tersenyum miring, kemudian menoleh kearah Anin dan mengangguk.
__ADS_1
"aku tidak terkejut pada ibuku, katakan apa saranmu? " ucap Arzan, Anin tersenyum kemudian menghela nafasnya lega.
"mungkin Tuhan memberitahukanmu tentang Laura itu, Tuhan ingin kau mendapatkan gadis yang baik dari Laura. karena itu disaat yang tepat, semuanya terungkap. dan kau seharusnya tidak bersedih, kau seharusnya bahagia dan bersyukur tuan! " ucap Anin, Arzan menghela nafas. kepalanya semakin berkedut, Anin yang terus menceramahinya. "tuan coba buka hati untuk nona Tani, Terima dia sebagai pasanganmu. bukan hanya pasangan nama saja, tapi jadikan dia sebagian dari hidupmu! " ucap Anin lagi, Arzan mengehentikan suara Anin dengan satu jarinya. Anin langsung terdiam, dan menatap Arzan yang mendirikan dirinya dengan sedikit oleng.
"pergilah tidur sekarang, aku tidak ingin marah kepadamu lagi! " ucap Arzan dengan berlalu pergi, saat Anin ingin membantu Arzan lngsung menolak. Anin hanya berdiri dan menatap kepergian Arzan, ia berdoa dan berharap agar Arzan sedikit mendengar ucapannya. Anin pergi darisana, setelah melihat Arzan telah memasuki kamarnya.
...****************...
di pagi hari Anin membuat sarapan, ia ingin membuat sarapan untuk Arzan seperti biasanya. disaat bersamaan Arzan datang dan langsung duduk di meja makan, pikirannya kosong menatap Anin yang juga melihatnya. Anin memberikan segelas minum untuk Arzan, tapi Arzan menolak dan berjalan kearah bar nya. Anin yang melihat itu kecewa, karena Arzan tidak mendengar ucapannya semalam.
"Anin! " suara Arzan menggema ditelinga Anin, dengan cepat Anin berlari kecil kearah Arzan. dengan tatapan lugu Anin menatap heran Arzan, dan yang ditatap pun dengan memegang botol minuman. "kau membenci ini? " ucap Arzan lagi dan menunjukkan botol yang ia pegang, dengan pelan Anin mengangguk mengiyakan. "ambil! " dengan cepat Anin menerima botol itu, dengan masih heran ia tidak mengerti maksud Arzan.
"tuan? * ucap Anin, ia terkejut saat Arzan tersenyum padanya.
"kau benar, semakin aku minum semakin aku mengingatnya. kau tahu, aku menahan rasa ingin minum ku semalaman karena perkataanmu. dan akhirnya aku percaya, dengan tidak minum aku melupakan semuanya! " Anin tersenyum senang dengan itu, usaha nya tidak sia sia dalam bicara dengan Arzan. bahkan Arzan tersenyum padanya, meskipun senyuman itu terlihat tajam diwajah Arzan. "jadi aku ingin kau membuangnya, buang itu jauh jauh dariku! " ucap Arzan lagi, Anin mengangguk senang.
__ADS_1
"tuan aku sangat senang, kau mendengar perkataan ku!" ucap Anin, Arzan mengangguk tipis. kemudian pandangannya melihat Tania yang berjalan pelan menuruni anak tangga, Anin juga mengikuti arah yang dilihat oleh Arzan. Anin ingat sumpahnya yang akan menyatukan Arzan dan juga Tania, kemudian Anin menatap Arzan dan bersiap mengatakan sesuatu untuk Arzan.
"aku akan mencoba Anin, akan kucoba membuka hati ini untuk Tania. aku tahu apa yang kau pikirkan sekarang, karena itu aku berjanji untuk membuka hati untuk yang terakhir! " ucap Arzan dengan tegas, Anin langsung tersenyum lebar dan mengangguk.