Suamiku Tidak Kejam

Suamiku Tidak Kejam
Masakan Anindhira.


__ADS_3

Arzan mendapat sebuah mobil, salah satu supirnya datang membawa mobil untuk membawa Arzan dan Anindhira kembali kerumah. setelah kembali kerumah tubuh Anindhira menggigil kedinginan, begitu juga dengan Arzan. pria itu berjalan cepat kearah kamarnya, sedangkan Anindhira berjalan kearah dapur. gadis itu membuat minuman yang akan menghangatkan tubuhnya, tidak lupa ia juga membuatkan satu untuk Arzan.


Anindhira membawa minuman itu ke kamarnya, sebelum Arzan keluar dari kamar mandi minuman yang ia buat sudah ia letakkan diatas meja. ia takut Arzan tidak akan menyentuhnya jika itu buatan dirinya, Anindhira segera pergi dari sana untuk berganti pakaian di kamar mandi lain. secara bersamaan Arzan keluar dari kamar mandi, ia langsung melihat minuman yang terletak diatas meja. ia sudah mengira itu buatan Anindhira, karena siapa lagi yang tahu kalau dirinya membutuhkan minuman hangat. tanpa bicara Arzan meneguk minuman itu, dan ia meneguk dengan sekali tegukan. Arzan teringat Anindhira, entah dimana gadis itu ia tidak melihatnya.


"aku bingung pada diriku sendiri! " gumam Arzan duduk di sebuah kursi, i menghela nafas tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. karena bayangan Anindhira terus terlihat, senyum dan tawa gadis tersebut. Arzan melirik foto Anindhira yang berada di meja, entah sejak kapan foto itu berada disana. Arzan yang masih kesal dan membenci Anindhira, membalik foto terbut agar tidak terlihat oleh matanya.


Arzan keluar dari kamarnya, secara bersamaan terlihat Anindhira yang mengeringkan rambutnya. memang sedikit basah, tapi tidak mengenai luka dikepala gadis itu. Anindhira yang selesai mandi, menuju kamarnya untuk berganti pakaian. ia tidak melihat Arzan di hadapannya, tubuhnya menabrak Arzan hingga dirinya terpental kebelakang dan langsung digapai oleh Arzan. pria itu menarik pinggang Anindhira agar tidak terjatuh, tapi terlambat karena kedua nya sudah jatuh bersamaan.


Anindhira memejamkan mata, saat ia merasa sudah tidak terjadi apapun ia membuak mata. matanya langsung bertemu lurus kearah mata Arzan, mata elang itu sedang menatap dirinya seakan menatap sebuah mangsa. tubuh Arzan diatas tubuh Anindhira, pria itu memegang kepala gadis itu tepat di lukanya. telapak tangannya menjadi tameng untuk luka Anindhira, gadis itu masih terdiam dan tidak bicara.


"apa kau masih tidak mau berdiri? " ucap Arzan, Anindhira pun kelagapan berusaha mendirikan tubuhnya.


"tuan apa kau baik baik saja? " ucap Anindhira, Arzan menepis tangan Anindhira yang menyentuh tangannya.


"kalau jalan pakai mata, fokus kedepan! " ketus Arzan kemudian pergi, Anindhira sendiri menghela nafas dan memegang lukanya.


"kenapa aku tidak melihatnya tadi, ngomong ngomong kenapa luka ku ini sangat sakit! " ucap Anindhira, kepalanya berdenyut mungkin saja akibat dirinya terluka.


malam yaang tenang menandakan semua orang telah tidur, Arzan kembali kerumah tengah malam. tentu saja dalam keadaan mabuk, mengalami patah hati dan kebencian pada Anindhira. Arzan selalu meluapkannya pada minuman, ia akan minum hingga tidak sadarkan diri untuk menghilangkan pikirannya.


Arzan masuk kedalam kamarnya, ia tidak melihat Anindhira tidur dikasur, melainkan gadis itu tidur diatas sofa yang seukuran dirinya. terlihat sangat kecil Anindhira tertidur, dalam hati Arzan masih tidak percaya dirinya akan membenci gadis itu. entah yang dilakukan Arzan itu benar, atau kah salah.


"bangun! " ucap Arzan menyenggol tubuh Anindhira, tentu saja gadis itu langsung terbangun dan menatap Arzan. Anindhira belum sepenuhnya tidur, ia hanya terlelap dan sadar saat Arzan membuka pintu.


"tuan... apa kau butuh sesuatu? " ucap Anindhira, Arzan mengangguk dengan dipengaruhi alkoholnya.

__ADS_1


"perutku ini lapar, apa ada makanan? " ucap ArzanArzan, Anindhira mengangguk dan segera bangkit dari duduknya. langkahnya terhenti ketika ia akan pergi, Arzan menarik tangannya dan Anindhira pun menoleh.


"aku akan ambilkan tuan, kau duduk saja dulu! " ucap Anindhira, Arzan menarik tubuh gadis itu hingga mendekat kearahnya.


"aku membencimu, jadi aku membenci semua yang kau lakukan. jangan beri aku masakanmu, beri aku makanan yang dibuat koki rumah ini! " ucap Arzan ketus, Anindhira menghela nafas dan mengangguk dengan senyuman.


"iya tuan, aku mengerti! " ucap Anindhira, Arzan mengangguk dan melepas tangan gadis itu. Anindhira hampir saja menangis, ia sangat sedih jika Arzan terang terangan mengatakan benci padanya.


setelah menunggu beberapa menit, Arzan melihat Anindhira yang datang. ditangannya terdapat sebuah nampan besar, Anindhira meletakkan nya diatas meja. ia mendudukan Arzan dengan tegap dan benar, meskipun pria itu terlihat lemas akibat tidak sadar sepenuhnya. Arzan yang sudah merasa lapar, mulai memakan makanan yang ada dihadapannya itu.


"buatan koki siapa ini, sangat tidak enak! " ucap Arzan mendorong nampan besar itu, untung saja tidak jatuh karena Anindhira segera menahan nampan itu.


"tuan ini adalah makanan yang biasa kau makan, aku hanya memanaskan nya saja! " ucap Anindhira, Arzan menggelengkan kepalanya.


"tidak enak, buang ganti makanan yang lain. jika tidak ada aku akan memasak, aku juga bisa memasak sendiri! " ucap Arzan berdiri, tubuhnya tidak seimbang membuat Anindhira khawatir.


"lapar, berikan makanannya! " ucap Arzan, Anindhira langsung menegakkan dirinya dan mengambil masakannya.


"makanlah! " ucap Anindhira, tanpa bicara lagi Arzan memakan makanan itu. dan benar dugaan siapapun, Arzan makan dengan tenang tanpa berkomentar. dalam hati Anindhira ia sangat senang, Arzan masih menyukai makanannya hatinya berbeda dari mulutnya.


...****************...


hari terus berganti, tidak terasa pernikahan Anindhira dan Arzan berjalan dua minggu. Arzan sendiri sudah terbiasa mengacuhkan Anindhira, begitu pun sebaliknya gadis itu terbiasa diacuhkan. Arzan yang sangat menyukai masakan Anindhira tidak pernah protes, karena dalam hatinya juga ia malas jika harus memakan makanan koki handal disana.


Anindhira menyiapkan makanan untuk Arzan, seperti biasanya ia akan masak sebelum Arzan datang. tapi usahanya mungkin kali ini ia terlambat, Arzan datang dengan cepat dan duduk di meja makan dengan angkuh. Arzan tahu kalau Anindhira sedang memasak, ia berkutik dengan laptop yang ia bawa. Anindhira terkejut ketika membalikkan badan, ia melihat Arzan yang sudah duduk dimeja makan.

__ADS_1


"nyonya mau saya bantu untuk menghidangkan? " belum Anindhira menjawab, beberapa pelayan membawa makanan yang ia buat ke hadapan Arzan. masih tidak diperdulikan oleh Arzan, pria itu masih fokus dengan pekerjaannya.


"kenapa kalian bertanya, kalau kalian akan mengerjakannya tanpa menungguku bicara! " gumam Anindhira, pelayan disana tertawa kecil dan menunduk pada Anindhira. gadis itu membawa jus ditangannya, ia meletakkan disamping Arzan tanpa bicara. setelah nya Anindhira pergi dari sana, membiarkan Arzan dengan tenang memakan masakannya.


Anindhira melihat Arzan dari jauh seperti biasanya, pria itu tidak menyentuh makanannya sama sekali. bahkan jus yang dibuatkan Anindhira tidak disentuh, hanya dilihat sekilas kemudian fokus pada laptopnya. sudah diduga Oleh Anindhira, pria itu tidak akan memakan makanannya jika terlihat dirinya memasak. siapa yang mengira rasa lapar Arzan lebih besar, ia mulai menyuapkan nasi itu kepada mulutnya. makan dengan elegan seperti biasa, bayangan Anindhira terlihat oleh Arzan dari layar laptopnya yang sedang padam. Arzan menatap Anindhira yang tersenyum, tentu saja gadis itu senang Arzan memakan makanannya.


"Adik kenapa kah disini, suami ku sedang makan temani dia! " ucap Siren yang tiba tiba muncul, wanita itu memaksa Anindhira berjalan mendekat kearah Arzan.


"kakak aku harus mengambil pakaian yang sudah kering! "


"itu pekerjaan pelayan, kamu kan bukan seorang pelayan! " ucap Siren, secara bersamaan Erik dan nyonya Malik datang. mereka berdua tersenyum melihat Anindhira, Siren sendiri sudah mengetahui kisah Arzan dan Anindhira. dan sang kakak itu berniat menyatukan dua hati orang itu, bagaimana pun cara nya dan seperti apapun itu. Siren dan Anindhira berdiri disamping Arzan, Siren ikut duduk disamping pria itu dan bicara tentang masalahnya.


Arzan terdiam mendengar perbincangan di sampingnya, pria itu menikmati jus jeruk yang dibuat oleh Anindhira. gadis itu sedikit tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya untuk menatap yang lain.


"Adik pakaian yang kau kenakan sangat indah, apa Arzan yang memilih! "


"kakak jangan bicara yang tidak tidak, kau menganggu pagiku ini! " saut Arzan, pria itu berdiri dan berniat pergi dari sana. pakaian Anindhira yang berkain seperti selendang, harus tersangkut jam tangan Arzan. Anindhira terkejut dengan itu, Arzan menarik kain itu sampai Anindhira terhuyung di hadapan pria itu.


"tuan... " ucap Anindhira mencoba melepaskan sangkutan itu, Arzan hanya terdiam melihat itu dan membiarkan apa yang dilakukan gadis itu. sampai Arzan yang gemas dengan itu, menarik tangannya dengan keras membuat kain pakaian Anindhira tersobek.


"ya ampun Arzan, kau membuat pakaian Adik robek! " ucap Siren, Anindhira tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "kau harus membawanya pergi ke toko pakaian, harus! " ucap Siren, Anindhira terkejut dengan itu.


"tidak perlu, ini hanya robek cukup dijahit bisa! " ucap Anindhira panik, karena ia tidak ingin membuat Arzan kesal. bukan Siren jika tidak memaksa, wanita itu menatap Arzan dengan tajam penuh dengan arti.


"aku sibuk, tidak bisa pergi! " saut Arzan acuh, tidak ada yang melawan semua itu. "jika dia masih butuh waktu ganti pakaian, akan menghambat kesibukanku! " ucap Arzan pergi dari sana dengan diikuti Erik, yang artinya pria itu setuju pergi. Siren langsung mendorong Anindhira berjalan, gadis itu pun tersenyum kaku dan mengikuti langkah Arzan yang keluar dari rumah besar itu. sejatinya Arzan juga tidak rela pakaian gadis itu robek, apalagi robek juga karena dirinya.

__ADS_1


Siren dan nyonya Malik tersenyum, karena memang itu rencana mereka. ingin mendekatkan Arzan dan juga Anindhira, Siren merasa senang karena sang adik memiliki kelemahan selain dirinya. dulu Arzan akan lemah jika itu bersangkutan dengannya, sekarang Siren meyakinkan Anindhira adalah gadis yang bisa menjadi kekuatan dan kelemahan Arzan.


__ADS_2