Suamiku Tidak Kejam

Suamiku Tidak Kejam
penasaran.


__ADS_3

Anin yang sangat penasaran pada mansion Arzan, memberanikan diri untuk masuk kedalamnya. Anin melihat sandalnya yang kotor, ia pun meletakkan sandal itu diluar rumah besar tersebut. demi Menghindari lantai yang hampir seperti cermin itu, agar tidak kotor terkena sandalnya. Anin menatap takjub didalamnya, semuanya terbuat dari berlian yang mengkilap. Anin bahkan sampai menganga melihat semua itu, tidak pernah Anin melihat rumah sebesar itu dan begitu luas.


"sedang apa kau? " ucap seseorang dengan serak, Anin yang mengenal suara itu langsung menoleh. pandangannya bertemu dengan tatapan mata elang Arzan, Anin melihat Arzan turun dari tangga dan berjalan kearahnya. laki laki itu telah berganti pakaian, cenderung pakaian yang ia pakai selalu gelap. Anin menelan savilanya sendiri, ia takut Arzan akan memarahinya. "aku tidak suka mengulang kata kataku! "


"aku... aku penasaran dengan rumah ini! " ucap Anin terbata, pandangan Arzan melihat seluruh tubuh Anin. bahkan melihat Anin masuk tanpa alas kaki, padahal Arzan sudah pusing ketika melihat pakaian gadis itu yang seperti pemulung.


"kau tahu penampilanmu? " ucap Arzan, sontak Anin menatap dirinya sendiri dan kemudian mengangguk. "jika tadi bukan aku, paling kau sudah tergeletak dengan nyawa melayang! " ucap Arzan tegas, hal itu membuat Anin mendelik. entah kenapa suara Arzan membuatnya takut, ia kemudian menunduk dan tidak berani menatap Arzan. "mulai hari ini kau yang mengurus kediamanku ini, jadi kau harus bersih setiap harinya. tidak boleh ada noda satu pun dibajumu, karena aku tidak suka dengan sesuatu yang kotor! " ucap Arzan lagi, Anin langsung mengangguk kemudian pergi dari sana. entah Anin itu bodoh atau memang terlalu polos, Arzan sampai tidak habis pikir pada gadis itu.


...****************...


Anin sudah sangat bersih, ia memakai dress berwarna pink yang cocok untuknya. keluarganya mulai melakukan pekerjaan mereka disana, Anin yang sudah membersihkan semuanya ia berniat masak. tapi didapur sudah ada beberapa juru masak yang sedang memasak, mereka bahkan melarang Anin untuk mendekat ke dapur. Anin melihat hidangan itu, semua makanan itu tidak dimengerti oleh Anin. dan berpikir semua makanan itu tidak sehat, karena sama sekali tidak terlihat adanya sayur disana. setelah beberapa juru masak itu pergi, Anin nekat kearah dapur. untuk pertama kalinya Anin akan memasak, apalagi dengan bahan dan peralatan yang lengkap. Anin memasak untuk Arzan, ia berniat memberikan makanan sehat untuk Arzan makan.


"aku tidak tahu, kau akan menyukainya atau tidak! " ucap Anin yang hampir selesai memasak, kemudian Anin meletakkan masakannya bercampur dengan beberapa hidangan disana. diselang beberapa menit terdengan suara Arzan datang, Anin segera pergi dari sana dan mengintip Arzan dari tembok dapur.


"mereka mulai bekerja? " tanya Arzan, pelayan kepercayaannya mengangguk. Arzan duduk di kursi favoritnya, dan kemudian pelayan menyiapkan makanannya. Arzan melihat makanan yang tidak biasanya ia lihat, Arzan memberikan isyarat agar pelayan nya itu berhenti menyajikan. "menu apa itu? " tanya Arzan menunjuk sebuah piring, piring yang terdapat masakan Anin. tidak disangka Anin juga, Arzan akan tahu ada yang berbeda pada makanannya.


"tuan mungkin ini resep baru koki tersebut! " ucap pelayan itu, Arzan menatap lekat makanan itu. makanan itu terlihat sehat, dan sama sekali bukan kesukaan Arzan. tapi entah kenapa Arzan ingin sekali mencobanya, hingga membuatnya menyerah dan menghela nafas kasar.

__ADS_1


"sajikan itu! " ucapnya kemudian pelayan meletakkan di piring Arzan, Anin yang melihat itu merasa cemas. karena Arzan akan sangat marah jika rasanya tidak enak, tapi Arzan sudah memasukkan satu sendok kedalam mulut nya. seakan terkejut Arzan mendelikkan matanya, ia mengunyah setiap makanan yang ada di mulutnya. makanan itu sangat enak menurut Arzan, daging dengan tidak banyak lemak, karena dicampur beberapa sayur. "siapa yang memasak ini? "


"bukan kami tuan, kami tahu anda tidak bisa makan sayur jadi kami tidak pernah membuat sayur lagi! "


"ini sangat lezat, aku menyukainya! " semua orang terkejut disana, karena untuk pertama kalinya mereka mendengar tuan mereka mengomentari masakan itu. beberapa juru masak juga terkejut disana, karena mereka juga tidak merasa memasak itu. Arzan memakan makanan itu dengan lahap, tanpa bertanya siapa yang memasak makanan itu. Anin yang melihat itu tersenyum, ia bahagia Arzan menyukai masakannya. Anin berniat akan membuatkan Arzan makanan setiap hari, tapi apakah Arzan akan tetap memakannya jika tahu dirinya yang memasak.


...****************...


di pagi hari Anin membersihkan bar milik Arzan, Anin mengelap setiap debu yang ada disudut meja. terdengar suara derap kaki berjalan, Anin melihat Arzan berjalan memakai kaos oblong dan celana olahraga. pria itu kembali setelah berolah raga, bukannya meminum air putih Arzan malah menuang alkohol didalam gelas. sedetik kemudian ia meminum dengan satu tegukan, Anin yang berdiri tidak jauh hanya menatap Arzan. ia ingin sekali melarang Arzan untuk minum itu, tapi lidahnya keluh untuk berucap.


"kenapa kau terus melihatku? " ucap Arzan yng merasa Anin menatapnya, Anin kelagapan dan menggelengkan kepalanya.


"katakan! " ucap Arzan, Anin langsung pergi dari sana dan menuju dapur. Arzan menatap bingung gadis itu, Anin keluar dari sana dan berjalan menuju arahnya. Anin membawa segelas air putih ditangannya, kemudian diletakkan di meja tepat depan Arzan.


"tidak baik pagi pagi minum alkohol, minumlah air putih dulu tuan! " ucap Anin, Arzan tersenyum tipis kemudian mengambil air itu. menurut Arzan penuturan Anin sangat benar, tidak seharusnya ia meminum alkohol di pagi hari. entah kenapa Arzan sangat penurut pada gadis kecil itu, ia meminum sekali teguk air tersebut.


"kau tahu, kau sama seperti ibuku. jika dia ada disini, dia akan sama seperti itu! " ucap Arzan memutar gelas dengan jarinya, Anin hanya diam tidak mengatakan apapun. kemudian Arzan menatap Anin yang terlihat polos menatapnya, tidak ada rasa takut diwajah gadis itu. "katakan padaku, tentangmu! " ucap Arzan, mungkin terdengar dingin tapi malah mendapat senyuman dari Anin.

__ADS_1


"namaku Anindhira Marsha Mahendra, usiaku mungkin dua puluh dua tahun ditahun ini. aku hanya memiliki satu adik,"


"kau bersekolah? " sela Arzan, Anin menggelengkan kepalanya.


"aku harus bekerja untuk makan, jadi aku berhenti sekolah sejak SMP! " jawabnya dengan polos, Arzan mengangguk dan masih menatap Anin tanpa berkedip.


"kau tahu siapa aku? " tanya Arzan lagi, karena memang hanya gadis itu yang berani berdiri didepannya. bicara dengannya dan juga menatap dirinya, bahkan tidak dengan rasa takut sama sekali. Anin mengangguk lagi, dengan senyuman terbaiknya.


"kau adalah tuan Arzan, yang menyelamatkan keluargaku juga memberikan kami pekerjaan dan tempat tinggal! " ucap Anin dengan polos, hal itu membuat Arzan tergelak dengan tawanya. suara tawa Arzan menggema dirumah besarnya, bahkan pelayan pribadi Arzan terkejut. untuk pertama kalinya, Arzan tersenyum dan sekarang ia tertawa ringan. bahkan mereka tahu Arzan tidak pernah suka bicara, tapi dengan Anin tuannya itu telah berucap beberapa kalimat.


"kau tidak mengenalku Anin, itu hanya sedikit kebaikanku! " ucap Arzan dengan senyum ironi, Anin hanya diam dan tidak mengerti dengan perkataan Arzan. beberapa detik kemudian terdengar suara pangkah kaki, tatapan tajam Arzan langsung kearah pintu masuk untuk melihat siapa yang sedang berjalan itu. terlihat seorang wanita berjalan masuk dengan angkuh, wajah Arzan yang semula tajam menjadi redup ketika melihat wanita itu.


"aku mendengar putraku tertawa, dimana dia! " ucap wanita itu, dan ternyata ia adalah ibu Arzan. dengan gerakan cepat Arzan berjalan kearah ibunya, disambut tangan terbuka oleh sang ibu. "apa kabarmu sayang! "


"aku baik, kenapa tidak bilang kau datang. aku bisa menjemputmu di bandara! " ucap Arzan memeluk sang ibu, sang ibu hanya tersenyum dan mengusap wajah putranya.


"jika aku bilang padamu, kau tidak akan terkejut kan! " ucap ibunya, Arzan mengangguk dengan angkuh. ibu Arzan menatap Anin yang masih berdiri ditempat, kemudian berjalan kearah Anin dengan tersenyum. "katakan padaku siapa gadis cantik ini! " ucapnya, Anin menunduk memberikan salam hormat. dan entah kenapa hal itu membuat ibu Arzan gemas, ia memegang pipi gembul Anin dengan sayang.

__ADS_1


"dia hanya pelayan baru, namanya Anin! " ucap Arzan singkat, ibu nya tersenyum dan kemudian melihat Anin.


"aku akan tinggal dirumah ini, Anin bantu aku membawa barangku ya! " ucap Ibu Arzan, Anin yang mendapat perintah langsung mengangguk. ia membawa tas belanjaan nyonya Malik tersebut, Arzan hanya menatap keduanya dengan heran. kenapa tidak sang ibu langsung menempel pada Anin, bahkan mereka belum berkenalan dan saling kenal. Arzan mengenal sang ibu, pasti ibunya akan menguji kelayakan Anin dirumah itu. entah kenapa, ia ingin Anin tidak seperti yang lainnya.


__ADS_2