
Anin hanya diam seperti patung dikamar yang mewah, kamar itu adalah kamar nyonya Malik. Anin melihat setiap ruangan itu, sambil menunggu nyonya Malik membersihkan diri. Anin bahkan memainkan kotak musik yang ada dimeja, ia menikmati setiap alunan musik yang sedang bermain. tanpa Anin sadari nyonya Malik menatap dirinya, tidak disangka Anin gadis polos yang baru pertama ia temui. ada beberapa uang disamping bantal yang sengaja nyonya Malik letakkan, bahkan beberapa barang mewah lainnya. bukannya menyentuh barang mewah itu, Anin memilih untuk menyentuh kotak musik yang mungkin hanya biasa saja.
"apa kau menyukai kotak itu? " ucap nyonya Malik membuat Anin terkejut, ia langsung berdiri dan menjauh dari kotak musik itu. Anin menggelengkan kepala, ia merasa malu dan juga canggung.
"maaf... maaf nyonya, aku telah lancang! " ucap Anin menunduk, nyonya Malik tersenyum kemudian membawa Anin duduk diatas kasur.
"kenapa kau minta maaf, jika kau mau ambil kotak musik ini! " ucapnya dengan memberikan kitak itu ditangan Anin, dengan senyuman Anin mengangguk dan berterima kasih. wajah polos Anin yang tersenyum, benar benar sangat menggemaskan. "apa kau mengenal Arzan? " ucap Nyonya Malik, lagi lagi pertanyaan itu Anin dengar. Anin tidak tahu kenapa pertanyaan itu selalu muncul, padahal sudah jelas Arzan pria yang ia kenal karena telah menyelamatkan keluarganya.
"kenal nyonya, tuan yang telah menolongku dan keluargaku! " ucap Anin, nyonya Malik tersenyum dengan itu.
"kau belum mengenalnya Anin, Arzan itu bukan manusia jika kau mengenalnya! " Anin terkejut dengan itu, apa maksudnya Arzan adalah makhluk gaib. nyonya Malik tertawa, ia tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu. "Arzan adalah pria yang kejam dalam suatu urusan bisnis, ia akan menjadikan apapun itu yang bukan miliknya menjadi miliknya. Arzan sangat egois dalam hal kepemilikan, ia menghancurkan setiap orang yang melawannya! " Anin tidak percaya, karena sejauh ini Arzan terlihat baik padanya. "Arzan adalah orang baik dulunya, dan karena satu hal membuatnya seperti binatang. tapi katakan satu hal, kenapa kau membuatnya tertawa tadi? "
"dia menanyakan hal yang sama dengan nyonya, saat aku menjawabnya dia malah tertawa! " nyonya Malik tertawa mendengar tuturan Anin, kenapa tidak itu benar benar hal yang lucu. ia tidak membayangkan bagaimana Anin bereaksi mengatakan itu, sampai membuat Arzan yang kaku itu tertawa.
"kau gadis yang baik, semoga kalian bisa menjadi teman yang akrab! "
beberapa. menit kemudian nyonya Malik turun dari kamarnya, dengan setia Anin mengikuti wanita itu turun. Arzan yang masih disana melihat hal itu, terlihat ibunya tersenyum dan berjalan kearah Arzan. ditatap nya sang ibu, tidak ada wajah marah disana dan malah tersenyum jail pada Arzan.
__ADS_1
"boleh aku meminta sesuatu? "
"jangan bertanya, semua milikmu! " saut Arzan angkuh, Nyonya Malik tersenyum dan kemudian menarik tangan Anin mendekat kearah nya.
"selama aku disini, aku ingin Anin menjadi pelayan pribadiku. bagaimana? " Arzan terkejut dengan ucapan sang ibu, tidak pernah sekalipun ibunya itu cocok dengan seorang wanita. tapi kali ini, hanya bertemu sekali ia langsung cocok dengan Anin. Arzan yang tidak bisa menolak hanya mengangguk, kemudian tersenyum tipis melihat sang ibu yang terlihat bahagia. "baiklah Anin ayo waktunya melakukan tugas, dan tugasmu adalah temani saya mengobrol seharian ini! " ucap nyonya Malik, tanpa mendengar Anin bicara ia menarik tangan Anin menuju kebelakang rumah. tepatnya tempat bersantai dirumah besar itu, Anin menatap Arzan yang menggelengkan kepala.
...****************...
dimalam hari makan malam telah siap, Anin menata rapi makanan diatas meja. beberapa saat kemudian melihat Arzan turun dari kamarnya, seperti biasa Arzan memakai baju hitam favoritnya. Anin menatap ada hal yang baru pada Arzan, ya benar anting ditelinga Arzan. anting itu terpasang di semua telinga Arzan, bahkan satu telinga terpasang tiga anting sekaligus. hal itu yang membuat Arzan terlihat kejam, dan auranya bisa dirasakan Anin dari jauh.
"sejak kapan kau doyan makan? " ucap nyonya Malik tersenyum, Arzan hanya melirik sekilas kemudian kembali menyuapkan makanannya dalam mulutnya. "Arzan bukankah aku sudah bilang, lepas anting menyeramkan itu. tapi kau malah menambahnya, apakah itu tidak sakit? "
"ibu aku sudah terbiasa dengan sakit, dan mungkin sakit itu adalah temanku. kenapa ibu cerewet sekali, cepat habiskan makan malammu dan istirahat setelah itu. jangan tidur terlalu malam, ingat usiamu! " ucap Arzan dengan acuh, sang ibu yang kesal melempar tisu pada Arzan. dengan senyum tipis Arzan menatap ibunya, kemudian melanjutkan makan malam nya.
"kau sangat menyukai masakan Anin, apakah sangat enak? " sontak hal itu membuat tangan Arzan berhenti, jadi masakan yang ia masak adalah masakan Anin. bahkan ia tidak tahu tentang itu, dan Anin tidak mengatakannya. Arzan meminum air didalam gelasnya hingga habis, dan kemudian menjauhkan piringnya.
"aku sudah selesai makan, aku ada urusan harus pergi! " ucap Arzan berdiri, sang ibu yang mengatakan sesuatu tidak sempat terucap karena Arzan yang berjalan dengan cepat. Anin yang melihat itu merasa kecewa, ia pikir Arzan tidak menyukai makanan yang ia buat. karena saat mendengar ia yang membuat, Arzan langsung berhenti makan dan pergi dari sana tanpa mengucapkan apapun.
__ADS_1
"jangan kecewa, dia itu memang sangat bodoh! " ucap nyonya Malik, Anin tersenyum dan mengangguk. entah ia harus sedih atau tidak, untuk sedih pun percuma karena ia bukan siapa siapa untuk Arzan.
Arzan pergi ke sebuah gedung kosong, terlihat beberapa orang disana. dan juga seorang pria terikat dengan mulut dilakban, seperti orang yang meminta tolong. Arzan tersenyum kemudian duduk di sebuah kursi, tangan Arzan memainkan sebuah pistol yang ia isi dengan peluru. ditatap nya pria dihadapannya itu, pria itu menatap Arzan dengan ketakutan.
"kami memukulnya saat ia berusaha kabur! " ucap seseorang, Arzan mengangguk kemudian membuka lakban dimulut pria itu.
"tolong lepaskan aku, aku tidak ada hubungan lagi dengannya! " ucap pria itu bersujud dikaki Arzan, dengan kesal Arzan menendang pria itu.
"sebenarnya kau membantuku, karena mu aku tidak ada hubungan lagi dengan wanita kotor itu. tapi kau bersalah juga dalam hal ini, kau berhubungan dengan wanita yang sudah memiliki pasangan! "
"dia bilang tidak mempunyai siapapun, jadi aku berkencan dengannya! "
"apa kau tidak melihat cincin yang melingkar di jarinya, apakah itu tidak lebih cukup membuktikan bahwa dia memiliki pasangan! " teriak Arzan yang mulai marah, pria itu semakin ketakutan dan hanya bergetar ditubuhnya. "kau tahu, Arzan sangat membenci orang yang berbohong. apalagi orang itu berbohong padanya, dan kau masih ingin berbohong untuk melindungi diri! " ucap Arzan dingin mengarahkan pistol pada pria itu, ia sangat marah karena diprovokasi oleh orang tersebut. "katakan padaku dimana dia, aku ingin bertemu dengan wanita itu sekarang! "
"aku benar benar tidak tahu, dia meninggalkan aku demi uang! " ucap pria itu lagi, Arzan tertawa nyaring diruang itu. suaranya menakutkan jika siapapun yang membuat kesalahan padanya, tanpa berkata lagi Arzan menembak orang itu. ditembak nya pria itu beberapa kali, hingga pria itu tergeletak tidak bernyawa. Arzan memasukkan pistolnya, dan kemudian merapikan pakaiannya.
"benar benar menyebalkan, hidupmu sangat tidak berguna. buang dia dihutan, terserah mau jadi makanan hewan atau mati membusuk. hilangkan jejak kalian juga! " ucap Arzan dengan dingin, beberapa orang mengangguk dan melaksanakan perintah Arzan. seseorang yang melihat Arzan seperti itu, sangat tidak menyangka. Arzan yang dulunya sebaik malaikat, sekarang sangat kejam seperti iblis. menyiksa orang layaknya binatang, tanpa berpikir dan juga berperasaan.
__ADS_1