
sampai nya dirumah sakit Anin khawatir dengan Arzan yang ada didalam, terlihat dokter sedang sibuk merawat tubuh Arzan yang penuh dengan luka. beberapa jam kemudian dokter keluar dengan panik, Anin hanya menatap para perawat dan dokter yang berlalu lalang. Anin mendengar mereka sedang membutuhkan darah, tapi seperti darah yang mereka inginkan tidak ada dirumah sakit itu. sampai Anin memberanikan diri mendekat kearah perawat yang panik, ia ingin bertanya darah apa yang mereka inginkan.
"dokter... darah apa yang kalian inginkan? " ucap Anin yang lirih, dokter dan perawat itu menoleh.
"AB, darah itu sangat langkah disini. dan kami kehabisan darah itu, pasien sangat membutuhkan darahnya dan jarang orang memiliki darah itu! " Anin langsung membalakkan matanya, darah tuan yang menyelamatkan nya sama dengan golongan darahnya.
"aku AB, apakah bisa mendonorkan darahku? " ucap Anin, tentu membuat kedua orang itu langsung bercahaya. titik terang sudah terlihat, seorang perawat tanpa bicara membawa Anin bersamanya. dan Anin sendiri rela mendonorkan darahnya, karena memang ia ingin membalas budi pada Arzan. dan hanya itu yang bisa Anin lakukan, agar nyawa orang yang menyelamatkannya selamat.
setelah pemeriksaan darah, Anin sangat bersih dan tidak memiliki penyakit. Anin langsung dibaringkan, dan proses penyaluran darah. terlihat Arzan yang tidur dengan tenang, dengan wajah pucat pasi membuat Anin khawatir. Anin berdoa dalam diamnya menatap Arzan, ia rela berapapun dokter itu mengambil darahnya. hingga dirinya mulai lemas, dan memejamkan matanya kemudian.
beberapa saat kemudian Anin terbangun, cukup lama Anin tidak sadarkan diri. ia melihat sudah dipindahkan dari tempat sebelumnya, tubuhnya sangat lemas tidak bertenaga. seorang perawat masuk dengan membawa roti dan juga susu, Anin yang melihat itu mulutnya gatal untuk bertanya keadaan Arzan.
"bagaimana keadaannya? " tanya Anin, perawat itu tersenyum kemudian memberikan Anin sebuah obat.
"berkatmu dia selamat nona, ia hanya belum sadar karena pengaruh obat bius! " saut perawat itu, Anin langsung merasa lega. orang tua Anin masuk kedalam ruangan, Anin terkejut saat melihat sangat ayah yang memeluk sebuah koper. dan diyakini Anin koper itu milik Arzan, tapi ia heran kenapa itu ada dipelukan sang ayah.
"aku menyelamatkan uangnya, apa kita akan diberikan imbalan? " ucap sang ayah, Anin mendelik dan kemudian menggelengkan kepala.
"ayah kita sudah dibantu olehnya, bagaimana mungkin kita meminta imbalan lagi! "
__ADS_1
"kau memberikan darahmu padanya, tentu harus ada bayarannya! ".
" tidak ayah, Anin ikhlas memberikannya. Anin tidak butuh imbalan apapun, karena apa yang dilakukan tuan itu sudah lebih dari cukup! " ucap Anin, ia mengambil koper yang dipeluk sang ayah. Anin berniat mengembalikan uang itu, tapi karena kepalanya yang masih berat ia akhirnya memutuskan untuk berjalan perlahan.
Anin berjalan menuju ruang inap Arzan, terlihat Arzan yang masih tidur dengan tenang. baru saja Anin mendekat kearah Arzan, tiba tiba terdengar suara tembakan dirumah sakit itu. secara bersamaan Anin menutup telinganya dan menjatuhkan koper yang ia bawa, sontak juga membuat Arzan membuka mata. Arzan langsung lompat dari tidurnya, dan kemudian menarik Anin dan membawa koper itu. ia membawa Anin untuk bersembunyi didalam kamar mandi, dan benar seseorang membuka ruangan itu.
"sialan ada dimana dia, berani sekali dia mengambil uangku. Arzan brengsek, dimana kau! "
Anin terkejut dengan itu, sampai Arzan menutup mulut Anin agar tidak membuat suara yang akan terdengar. Anin sendiri berpikir Arzan adalah orang jahat, Arzan mencuri uang itu dan karena itulah orang orang ituencarinya. Arzan yang tahu pikiran Anin, ia menatap Anin dengan tajam menggunakan mata elangnya.
"itu bukan uang curian, itu uangku yang akan mereka ambil. orang jahat sebenarnya adalah mereka, bukan aku! " ucap Arzan dengan tegas, Anin akhirnya mengangguk dan mempercayai perkataan Arzan. tidak terlihat Arzan yang seperti itu adalah pencuri, bahkan memiliki banyak anak buah disana. Arzan keluar dari kamar mandi, diikuti Anin. secara bersamaan beberapa orang masuk kedalam ruangan Arzan,mereka bawahan yang dipercayai oleh Arzan.
"maaf tuan kami terlambat, kami tidak bisa menangkap mereka karena mereka sudah kabur begitu cepat! "
"dia sangat lah lemah, tapi masih saja mendonorkan darahnya untuk tuan! " ucap bawahan itu, Arzan yang mendengar itu langsung terkejut. digendong Anin dengan cepat, kemudian memanggil dokter dengan sekeras mungkin. entah Arzan yang tidak pernah pedihnya dengan apapun, kini ia peduli dengan gadis polos yang baru ia temui satu malam.
...****************...
Anin membuka matanya, ia melihat masih berada dirumah sakit. Anin melihat kedua orang tuanya, dan kemudian mereka saling tersenyum. tidak lupa Arzan yang duduk dengan khas seorang Arzan, duduk santai dengan tangan dilipat. pria itu seperti tidak pernah sakit, bahkan perban yang terbalut dikepalanya telah dilepas. Arzan berdiri dan membenarkan jasnya, kemudian berjalan mendekat kearah Anin.
__ADS_1
"seorang Arzan tidak pernah mengatakan Terima kasih, tapi hari ini aku Arzan Ravindra Malik berterima kasih padamu. Terima kasih telah mendonorkan darah untuk menyelamatkan aku! "
"tidak, aku yang berutang budi padamu! " ucap Anin, tapi tidak digubris eh Arzan. dengan tatapan khas Arzan, pria itu menatap kedua orang tua Anin.
"dimansionku kekurangan seorang pelayan, jika kalian mau kalian bisa ikut bersamaku dan tinggal disana! " ucap Arzan kemudian, kedua orang tua Anin sangat senang. karena mereka sudah tidak mempunyai tujuan untuk pergi, dan sangat beruntung mereka menjadi pelayan. mereka bisa berteduh dari hujan dan panas, bahkan mereka akan mendapatkan makanan secara gratis.
"Terima kasih tuan, anda menyelamatkan hidup kami lagi! " ucap Ibu Anin, Arzan hanya tersenyum tipis kemudian keluar dari sana. Anin menatap kepergian pria itu, Anin melihat Arzan yang memulai memasang anting disetiap telinganya. setiap kali Arzan menatapnya, Anin akan merasa canggung dan juga merinding ditubuhnya. membayangkan Arzan yang menembak Michael tanpa berpikir, Anin jadi berpikir seberapa bahaya pria yang dikenalnya belum sehari itu.
...****************...
sebuah mobil sampai di sebuah mansion besar, mansion itu terkesan gelap dan bernuansa hitam ke abu abuan. Anin yang keluar dari mobil bersamaan dengan Arzan, menatap takjub mansion itu. begitu besar bagai istana, bahkan taman mereka begitu luas hingga beberapa mobil bisa terparkir disana. Anin dan keluarganya yang terlahir miskin, hampir mati pingsan karena melihat kemegahan mansion itu. Arzan berjalan dengan angkuh memasuki mansion nya, terlihat semua pelayan memberi hormat pada kedatangan Arzan.
"mereka pelayan baru disini, berikan rumah kecil yang ada dibelakang itu untuk mereka! * ucap Arzan kepada seorang pria paruh baya, pria itu mengangguk setelah Arzan mengatakan itu dan pergi dari sana.
" namaku Erik, aku tangan kanan tuan Arzan. mari akan aku antar kalian kesana, kalian pasti butuh istirahat! " ucap pria bernama Erik, dengan mengangguk keluarga Anin berjalan mengikuti Erik. pandangan mereka masih tidak terhenti menatap semua kemewahan, ada satu pertanyaan yang Anin ingin tanyakan. apakah Arzan tinggal sendiri, apakah Arzan tidak memiliki orang tua atau keluar, apakah Arzan sudah menikah lalu dimana mereka semua, kenapa hanya terlihat pelayan dan juga Arzan saja.
"ya Tuhan inikah rumah kecil yang ia maksud, ini sangat besar! " celetuk ibu Anin, mereka menatap takjub.
__ADS_1
karena rumah kecil yang mereka maksud adalah rumah yang cukup besar menurut keluarga Anin, rumah itu terlihat tidak pernah dibersihkan. dan saat mereka membersihkan rumah itu, terlihat mewah dan juga nyaman. Anin tersenyum melihat senyum dan tawa keluarganya, itu adalah berkat Tuhan yang sangat indah. Anin menjadi penasaran dengan isi mansion Arzan yang besar, ia berharap segera bisa masuk kedalam mansion itu agar rasa penasaran nya hilang.
...****************...