
Anindhira dibawa pulang oleh nyonya Malik, gadis itu sudah berganti pakaian dan menyegarkan dirinya. kamar Arzan yang dihiasi sebagai kamar pengantin, Anindhira ingat dirinya yang menghias kamar itu. tapi kini dirinya yang memakai Kamar itu tanpa terduga, Anindhira terisak dengan menata pakaiannya dilemari Arzan. nyonya Malik memberikan banyak pakaian cantik untuknya, semua pakaian lama Anindhira disimpan oleh sang ibu.
"beraninya kau membuka lemariku! " ucap Arzan dengan serak, Anindhira membalikkan tubuhnya menatap Arzan. pria itu berdiri sempyongan di hadapan pintu, berjalan kearah Anindhira dengan memegang sebuah botol wine. Arzan berjalan mendekat kearah Anindhira, gadis itu didorong hingga terduduk diatas kasur.
"tuan, ganti pakaianmu! " ucap Anindhira, Arzan kembali mendorong gadis itu yang akan membantunya.
"jangan sentuh aku, kau tidak boleh menyentuh ku sedikitpun! " teriak Arzan, Anindhira kembali terisak dengan itu. "kamu sangat cantik, tapi aku salah selama ini. kupikir hatimu juga secantik wajahmu, ternyata hatimu sangat busuk tidak seperti wajahmu! " ucap Arzan menekan, Anindhira masih terdiam tanpa mengatakan apapun.
Arzan menatap kamarnya yang dihias, membuatnya marah dan menyingkirkan semua bunga mawar yang menghias kamar itu. berbagai barang dihancurkan oleh Arzan, kamar itu sangat hancur seperti hati Anindhira saat ini.
"aku membuatmu menangis lagi... yaa itu yang kuinginkan. menangislah, aku sangat senang melihatmu menangis! "
"tuan maafkan aku... dengarkan aku tuan! "
"aku tidak mau mendengarkanmu lagi! " teriak Arzan mendorong Anindhira, hingga gadis itu terpental dan kepalanya terbentur sebuah meja disana. Arzan menarik lengan Anindhira, dan dicengkram lengan dan dagu gadis itu. "aku tidak akan mendengar semua ucapanmu lagi, saat ini aku sangat membencimu Anindhira. kau tahu kan sumpah ku di pagi hari tadi, aku akan membuatmu menderita dan membayar atas kepergian Tania.! " ucap Arzan mendorong Anindhira, gadis itu kesakitan ketika merasa kepalanya pusing. ia memegang kepalanya dan melihat noda darah, Anindhira menangis dengan itu. Arzan ambruk diatas kasur karena diriny mabuk, ia bergumam membenci Anindhira.
"aku tidak pernah mengharapkan hal ini, maafkan aku! " ucap Anindhira, gadis itu membenarkan posisi Arzan yang mulai tertidur.
"menangislah, aku senang mendengar suara tangismu! " gumam Arzan, Anindhira semakin terisak mendengar itu. gadis itu keluar dari kamar itu, ia mencari seseorang untuk mengobati lukanya. secara bersamaan Erik disana, dengan panik Erik membantu Anindhira yang terluka.
__ADS_1
"apa kakak yang melakukannya? " ucap Erik, Anindhira menggelengkan kepalanya. Erik membasuh luka Anindhira dengan perlahan, gadis itu mengeryit berulang kali. "aku akan memanggil dokter! "
"tidak perlu, bantu aku mengobati dan membalut luka nya saja. tidak perlu memanggil dokter, aku baik baik saja ini hanya luka kecil! " ucap Anindhira tersenyum, Erik tahu gadis itu sedang menahan sakit dengan senyumannya. bahkan mata gadis itu tidak hisa berbohong, mata yang dipenuhi air mata siap meledak kapan saja.
"menurutku kau sangat tepat untuk kakakku, karena hanya dengan ucapanmu ia akan menurut! " ucap Erik, Anindhira tidak mengerti dan hanya diam. "bawa ini bersamamu, lakukan hal yang seharusnya jika itu diperlukan! " Anindhira terkejut saat Erik memberikannya senjata, Anindhira meletakkan senjata itu.
"apa kau sudah gila tuan Erik, aku... aku tidak bisa membawa itu! " ucap Anindhira, Erik membawa senjata itu untuk dipegang Anindhira lagi.
"saat kau memiliki ini, akan ada banyak pilihan terutama saat kakak berusaha menyakitimu. yang pertama kau akan membidik dirimu sendiri saat tidak kuat, yang kedua mau bisa membidik kearah kakak yang mungkin menyiksamu! " seketika hal itu membuat Anindhira tersenyum, ia mengerti Erik berusaha membuat lelucon padanya.
"cukup, jangan diteruskan lagi! "
"aku tidak peduli apapun yang dilakukan tuan padaku, aku mencintainya sejak awal dan akan selalu begitu. entah dia mencintaiku atau tidak, aku akan melakukan hal yang terbaik untuknya! " ucap Anindhira, Erik mengangguk.
"aku mendukungmu, selalu!" ucap Erik, Anindhira tersenyum dengan itu.
...****************...
Arzan membuka matanya di pagi hari, ia merasa sakit kepala saat mendudukan dirinya. ia masih memakai pakaian pernikahannya, ia teringat kejadian semalam dan melihat sekeliling kamar itu. kamarnya bersih, bahkan kasur yang ia duduki bersih tanpa ada serpihan kelopak bunga mawar. Arzan yang malas memikirkan hal itu pun bergegas kekamar mandi, ia ingin membersihkan dirinya untuk menyegarkan diri. tubuhnya diguyur air shower yang cukup dingin, ia mengingat semua kejadian kemarin yang menimpanya. bahkan tangisan Anindhira terdengar, ia memiliki penyesalan karena kemarahannya yang cukup keterlaluan.
__ADS_1
Anindhira sendiri membuat minuman untuk menyegarkan Arzan, ia masuk kedalam kamar Arzan. dilihatnya sang suami tidak disana, dan mendengar suara air didalam kamar mandi. secara bersamaan Arzan keluar dengan piyama mandinya, Anindhira yang melihat itu terdiam menatap Arzan. pria itu tidak memperdulikan Anindhira, ia menganggap tidak ada Anindhira disana.
Arzan membuka lemarinya, ia sempat terkejut melihat pakaian Anindhira. dengan keras ia menutup pintu itu, kemudian berjalan kearah meja cermin yang cukup besar. disana juga ada beberapa barang milik Anindhira, Arzan berdecak kesal dan menoleh menatap Anindhira tajam.
"ibu memintaku untuk tidur disini, jadi ia meminta seseorang membawa semuanya. maafkan aku, aku akan membersihkannya! "
"tidak perlu, pergilah. kau membuatku semakin sakit kepala dipagi hari! " ucap Arzan kasar, Anindhira tersenyum dan meletakkan minuman yang ia bawa.
"ini minumlah tuan, mungkin akan menyegarkan dirimu! " ucap Anindhira lembut, Arzan menaikkan satu alisnya.
"aku akan segar jika kau pergi dari sini, aku bilang sekali lagi pergilah!" ucap Arzan kasar, Anindhira tersenyum dan mengangguk. Anindhira membersihkan kasur bekas Arzan tidur, bahkan ia mengambil handuk basah yang dilempar Arzan. pria itu dengan acuh berganti pakaian, ia memasang aksesoris yang pasang dulu. mulai dari anting telinga yang membuatnya terlihat sangar, bahkan Anindhira bisa melihat tato ditangan Arzan nampak baru. pria itu meletakkan senjatanya di saku celana, kemudian menoleh kearah Anindhira yang berdiri tanpa berkeinginan pergi.
"aku sudah bilangkan, pergi dari hadapanku. tapi kau tidak mendengarkan, apa kau ingin satu peluru ini berada di kakimu! " ucap Arzan, Anindhira berusaha tidak takut tetap menatap Arzan dengan sendu. Arzan memperhatikan Anindhira yang cantik dengan polesan make up, bahkan memakai pakaian yang cantik dan pastinya mahal. "wah penampilanmu sudah berubah, kau terlihat seperti seorang istri Arzan! "
"tentu saja, aku memang istri dari tuan Arzan Ravindra! "
"oh jadi ini yang kah inginkan, tinggal dirumah besar, memiliki pakaian mahal mewah, perhiasan, dan beberapa kebutuhanmu terpenuhi, dan yang utama mendapat gelar nyonya muda Malik! " ucap Arzan mencemooh, Anindhira hampir menangis mendengar itu. sunggu mulut Arzan sangat kejam, ia menghela nafasnya.
"jika memang itu yang kau pikirkan, maka aku tidak perlu menjelaskan apapun! " ucap Anindhira, Arzan memutar kedua bola matanya dengan malas. Anindhira pun berniat pergi dari sana, tanpa sengaja kakinya menginjak karpet yang harus membuatnya akan terjatuh. Arzan dengan sigap menopang tubuh kecil Anindhira, sejenak mereka saling melempar pandangan. sedetik kemudian Arzan melepas tubuh Anindhira, untung saja gadis itu tidak terjatuh karena dirinya sudah berdiri dengan tegap. Arzan meninggalkan kamar itu dengan Anindhira yang sendirian, gadis itu menghela nafas untuk menahan tangisnya.
__ADS_1
Sabar Anin, sabar...