Sui Luo Shi Chu (air surut batu kan nampak)

Sui Luo Shi Chu (air surut batu kan nampak)
episode 10


__ADS_3

Di dalam kamar yang luar itu hanya ada meja batu yang biasa digunakan raja membaca.



Coretan didinding yang tidak pernah diganti hanya ada garis tegak yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan cela sinar mentaripun tak berani menerobos ruangan yang selalu pengap dan gelap itu.



Sang raja merapatkan tubuhnya ke dinding menyentuh setiap goresan yang dibuatnya sendiri. “apa aku salah menghitung sejanim..?” tanya raja pada goresan yang disentuhnya “aku salah hitung itu pasti, kau sampai tak mau memberikan aku petunjuk hingga aku tersesat dan terperangkap dalam jubah ini. aku sendiri sejanim. Kau tak mau kembali lagi kah..?” ucapnya bermonolog.



Sudah berapa kali aku menyuruh pasukan mencarimu



Sudah berapa jumlah laporan yang tak punya kepastian tempatmu



Sudah berapa waktu yang habis demi berpikir dan memikirkanmu



Sang raja mengeluh sendirian tanpa ada yang tau, hanya goresan dinding yang jadi saksi bisu.


**************



Whuss...whuss....



“cheona angin malam tidak baik bagi kesehatan anda, mohon segeralah kembali”



“ha..ha..ha hanya manusia lemah yang takut dan kuatir dengan kesehatannya. Kembalilah pelayan Gun aku akan pergi ke suatu tempat”



“cheonaaaaa” teriak pelayan belum sempat terdengar oleh raja yang sudah berlalu pergi.



Tak..tak..takkk...



Khik..khihh....



“anda kesini lagi yang mulia cheona..?” ucap seorang laki-laki parubaya membuka gerbang.


“ya.. aku ingin menenangan diri” ucap sang raja turun dari kudanya.


__ADS_1


“hari ini cuaca berangin cheona, saya belum sempat memangkas rumput yang tinggi di makam ini. mohon maafkan kecerobohan saya”



“hari ini, kemarin bahkan lusa maupun tahun depan orang yang terkubur tidak akan memberontak bukan, Song Qi Lan?”



“mana berani saya mengabaikan makam orang yang anda sayangi cheona” ucap penjaga makam ciut



“hais... aku juga tak tau tulang belulang mereka masih ada atau memang sudah lama kosong. Benarkan ? melumpuhkan orang dengan membuatnya sendirian bukankah langkah yang tepat ?”



“saya tidak tau maksud anda Cheona. Mohon maafan kebodohan saya.”



“tidak tau atau bermaksud tidak mau tau song qi lan..?”



Bruk ..



Song Qi Lan terduduk menundu dihadapan sang raja




Tes...tes.... darah mengalir dari dari pedang yang awalnya tersimpan dibalik jubah sang raja.


“kau tak tau rasanyakan Song Qi Lan..? kini ku buat keluargamu merasakan sedikit persamaan” ucap sang raja menarik rambut song qi lan yang sudah tak bernyawa.



Srak..srak.....



“cheona..? anda marah lagi?” ucap seseorang berpakaian serba hitam dengan rambut berkibar.



“ha..ha hanya sedikit tersinggung. Singkirkan dia dan masukkan kedalam liang lahat itu”



“bukankah itu milik ibu anda dan sejanim anda..?”



“hanya nisan jangan kau percaya Ho Lui”


Kini sang raja membuang muka dan pergi dari pemakaman.

__ADS_1


*****************


Whuss.............



“Hyo Mae segeralah kembali angin semakin kencang”



“ye eomoni, sebentar lagi. Ini masih mengambil beberapa cucian”



“aigo...”



“mianhamida eomoni. He..he... anda mau makan apa..? aku masakan ya? Ku mohon”



“sayur labu dan acar wortel sepertinya segar Hyo Mae”



“baiklah eomoni” ucap Hyo Mae mencuci wortel dan labu yang didapatkan eomoni dari kebun belakang rumahnya”



Hyo Mae yang sibuk mengiris wortel dan mendidihkan air hanya dilihat oleh eomoni dari belakang. Sosoknya berubah menjadi gadis yang pendiam. Pakaian lusuh dan bertambal serta rambut yang dikepang dan digulung layaknya wanita yang berkeluarga.



“Hyo Mae bukankah kau berlebihan? Bahkan upacara dirimu belum sempurna tapi kau menghukum dirimu seperti wnaita yang ditinggalkan saja.”



Hyo mae yang tersenyum berjalan duduk berjongkok dihadapan wanita yang tua renta. Kecantikan dan sunggingan senyum keanggunan seakan hanya tersisa di matanya yang berbinar.



“eomoni..” panggil Hyo Mae padanya memegang kedua tangan yang keriput



“eomoni... upacara bahkan arak-araan mewah hanyalah formalitas belaka. Tapi perjumpaanu, surat dan balasan yang ku terima serta hiasan rambut yang khusus diberikan anak anda padaku itu lebih dari legalitas dan kuasa dirinya padaku. Aku dulu dan sekarang hanya wanita miliknya. Aku berdandan seperti ini bukankah seharusnya?”



“betapa beruntungnya anakku mendapat wanita setia sepertimu di kehidupan ini hyo mae”


“aaa... supnya sepertinya sudah matang. Ayo kita makan eomoni” ucap hyo mae tak mau larut dalam kesedihan.



Semangkuk sup untuk berdua dan sepiring acar untuk bersama ditemani air dalam bejana. Hidup kedua orang itu seperti kehangatan sebuah keluarga. Hidup jauh dari perkampungan, hidup ditengah hutan dibawah naungan rumah mungil dengan perkarangan yang ditanami sayur mayuran seakan sudah cukup bagi mereka. Asalkan mempertahankan nyawa tetap ada tak apa. Pikirnya.


__ADS_1



__ADS_2