
Malam hari...
“kasim Chin suruh penasehat istana mencari tanggal terdekat malam penyatuan pernikahanku.” Ucap raja dingin. “tentu Cheona. Anda akan segera memperoleh hasilnya besok pagi” ucap sang kasim yang ditinggal raja berlalu pergi.
Ah ba Mama apakah keputusanku salah ?, sejanim apakah kau belum bereinkarnasi ? aku hanya ingin menyandingmu. Kenapa harus tubuh wanita lain yang ku sentuh. “ahhhhhh!!!!!” teriak sang raja di kamar pribadi yang gelap gulita. Marah.
**********
Pengadilan pagi di istana utama...
“perwakilan dari departemen pengobatan datang..” umum para pengawal yang ada diluar sidang.\ “persilahkan masuk” ucapku sembari merapikan gulungan.
“cheona, semoga nada sehat selalu dan panjang umur. Saya Dao Lie Jin dari biro pengobatan membawakan teh herbal sesuai arahan penasehat istana.”
Ku ambil cangkir yang sudah berisi teh entah apa saja yang dicampur. Terasa segar tapi sedikit pahit. Ku buka buntalan kertas merah yang ada di nampan. Tanggal penyatuan kamarku 3 hari lagi. “kerja bagus para menteri” ucapku sembari melipat kembali kertas itu. “kabarkan segera pada permaisuriku bantu dia bersiap” ucapku membolehkan mereka pergi. “kami undur diri cheona” hormat mereka berjalan mundur.
Walau aku tau tanggal yang ada di kertas itu dikatakan tanggal puncak sesuainya perbintanganku dengan ratu. Itu hanya akan membuat mereka memperoleh raja yang mudah ditaklukan.
Aku ingin raja yang lalim, susah dan berani menerjang bahaya. Tanggal yang seharusnya dilarang akan aku buat dilegalkan.
__ADS_1
Ratu, kau ingin jadi pion keluargamu yang berjayakan. Akan ku buat kalian merasakan akibatnya.
***********
“cheona malam ini hujan deras kenapa anda bersikukuh menuju kediaman ratu.”
“aku belum mengatakan sendiri tanggal penyatuan kami. Itu tidak baik jika menunggu.” Ucapku menerobos hujan yang deras.
Alhasil aku basah kuyup didepan istana ratu. “jung jeong mama, raja datang dan keadaannya tidak baik.” Teriak dayang berlari ke dalam istana.
Dia berlari mendekatiku, matanya dingin tapi ucapannya bilang khawatir. Diajaknya aku memasuki kediamannya. ‘Kau yang mengundang singa lapar ratu’, batinku.
“apa kalian ingin memberontak. Lihat cuaca diluar tidak memungkinkan kembali. Aku bisa menjaga diriku, lagian di suamiku. Kalian berjaga saja diluar. Siapapun yang tau situasi ini aku menganjurkan untuk diam, atau esok pagi tidak bisa lagi melihat mentari”
Walaupun tanggal pernikahan baik, tanggal penyatuan terbaik jika wadahnya seburuk dirimu itu tak akan berhasil ratu, batinku tersenyum dingin.
“aku tau kau terlalu terburu-buru cheona” ucapnya sinis
“aih.. pakaianku basah. Tolong kau ganti” ucapku melepas jubah dan sepatu
__ADS_1
“apa kau tak punya tata krama ?” ucapnya mundur malu melihat diriku
Ini kesempatan, “apa aku harus memakai pakaian basah dan sakit ? itu pemberontakan dan kau tau itu Jung Jeong mama” ucapku menarik paksa dirinya mendekatiku.
Walau dia wanita yang ditunjuk menjadi ibu dari raja selanjutnya entah kenapa aku merasa hampa. Jika orang lain memandang kami sempurna. Aku melihatnya tak lebih dari permata dan mutiaralah yang membuatnya indah.
“cheona anda tidak boleh” ucapnya lirih
“apapun itu, kau tak boleh membatasiku. Apapun itu putusanku.” Ucapku mengangkat dirinya dan membawa paksa tubuhnya jatuh ke lantai.
“cheona, itu ada alas, kasur bersulamkan poenix, kita bisa disana” ucapnya mendorongku
“cih. Berdebah dengan itu. Kau bukan orang yang patut aku taruh disana. Bersyukurlah tubuhku masih mau menyentuhmu.” Ucapku sebal. Melihat bahunya ada bekas gigitan merah. Ku buka paksa hanbok yang dikenakannya. Banyak bekas cumbuan di perut dan dadanya.
“cheona, mari kita bermesraan dulu. Kita bercengkrama memadu kasih” rayu dirinya berbisik di telingaku. Darahku seakan mendidih, aku ditipu sial. Bagaimana mungkin wadah penerusku bukan orang yang diteladani rakyat.
“cheona tolong... ah.. cheona jangan kasar padaku” teriak dirinya kesakitan. Suaranya membuatku semakin muak. Hanya erangan yang dibuat-buat. Dasar kau, akan ku buat
perhitungan.
__ADS_1
***********