Sui Luo Shi Chu (air surut batu kan nampak)

Sui Luo Shi Chu (air surut batu kan nampak)
episode 9


__ADS_3

“hiks...hiks..hiks... eomoni kenapa” ucap Hyo Mae terduduk melihat eomoninya yang menaburkan abu tuan Nian dan Eun Cha Nian di sungai.



“sudahlah Hyo Mae. Kita tak bisa berbuat banyak. Kau harus melanjutkan hidup. Kita akan kuat bila bersamakan?” ucap eomoni mengingat bayang tuan Nian yang terburu menyembunyikan dirinya.



“apa yang menolong kita akan dihukum oleh langit eomoni?”



“tidak. Kita saja yang terlalu bergantung pada yang lain. mulai sekarang apapun yang terjadi kau mau kan meninggalkan identitas kita menjadi manusia baru tanpa masa lalu?”



“ye eomoni. Hyo Mae mau asalkan dengan anda itu cukup”



“baiklah” ucap Jung jeong Mama



“anda hanya eomoniku bukan yang lain.”



“kau Hyo Mae ku bukan yang lain”



Keduanya berjalan menuju seberang sungai menelusuri hutan yang tak tau ujungnya, tertutupi kegelapan hutan yang muram meninggalkan mentari dan gemerlap kehidupan lalu mereka.


***********



Kerajaan Onia..



“selamat Jung jeong Mama, calon putra mahkota telah lahir. Selamat kejayaan kerajaan ini diberkati langit. Semoga ratu panjang umur, semoga putra mahkota sehat dan pintar”



Drap..drap....

__ADS_1



“cheona... selamat untuk anda cheona” ucap sekelompok pelayan berlari menuju istana utama tempat sang raja tengah menghadiri rapat.



“rapat hari ini selesai sampai sini dulu. Ada apa pelayan Su kau berani melibakan diri ditengah pertemuan”



“maaf cheona, saya rela mati asalkan anda mendengar dahulu pesan baik ini”



“katakan”



“calon putra mahkota telah lahir cheona... dia tampan dan sehat seperti anda”



“bagikan emas dan kain sutra untuk para menteri, bagikan manisan dan pakaian bulu hangat untuk para pelayan yang membantu persalinan”




“kau masih kurang menteri Chu...?”



“tidak cheona itu lebih dari cukup”



“perayaan putra mahkota masih panjang jangan membuat kerajaanku jatuh miskin hanya karena satu peristiwa saja”ucap raja berdiri berlalu menuju kediamannya sendiri.



“anda tidak menjenguk jung jeong mama, cheona..?”



“apa kau sudah melihat rasi bintang..?”


__ADS_1


“maaf cheona saya salah”



“carikan satu anak cenayang yang juga lahir hari ini”



“untuk apa cheona..?”



“kerjakan saja, aku menunggu” ucap sang raja menyikap jubahnya dan berlalu memasuki kamarnya.



Di dalam kamar yang luar itu hanya ada meja batu yang biasa digunakan raja membaca.



Coretan di dinding yang tidak pernah diganti hanya ada garis tegak yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan cela sinar mentaripun tak berani menerobos ruangan yang selalu pengap dan gelap itu.



Sang raja merapatkan tubuhnya ke dinding menyentuh setiap goresan yang dibuatnya sendiri. “apa aku salah menghitung sejanim..?” tanya raja pada goresan yang disentuhnya



“aku salah hitung itu pasti, kau sampai tak mau memberikan aku petunjuk hingga aku tersesat dan terperangkap dalam jubah ini. aku sendiri sejanim. Kau tak mau kembali lagi kah..?” ucapnya bermonolog.



Sudah berapa kali aku menyuruh pasukan mencarimu



Sudah berapa jumlah laporan yang tak punya kepastian tempatmu



Sudah berapa waktu yang habis demi berpikir dan memikirkanmu



Sang raja mengeluh sendirian tanpa ada yang tau, hanya goresan dinding yang jadi saksi bisu.


__ADS_1



__ADS_2