
Mereka berdua nampak sedang berbahagia...... senyum mengembang yang tak tahu apa rintangan yang menunggu di depan mereka.
“surat yang dulu aku kirimkan sudah kau baca tidak ?” ucap wang seja membuka dialog. Sejanim hanya mengangguk. “hadiah yang aku kirimkan padamu nampak berkilau hari ini” ucap wang seja melihat hiasan bunga peoni yang sengaja dipesankan khusus untuk sejanimnya. “apa kau tak suka?” ucap wang seja menatapnya, sejanim hanya tersenyum lebar, “sebagai putra mahkota tentu pilihanku yang terbaik” ucapnya memalingkan wajah membuat wang seja salah tingkah.
“walau sekarang kita masih anak-anak, masih terbilang muda aku janji di masa depan dan mulai sekarang kau bisa mengandalkanku” ucap wang seja menyentuh tangan sejanim. Hal itupun hanya dibalas dengan senyuman.
“aku tau kau tak mau berbicara denganku, tapi senyumanmu pun sudah cukup bagiku terima kasih sejanimku” ucap wang seja tertawa lebar.
“serang!”, “awas, lindungi tandu putra mahkota dan putri mahkota.”, “menyerahlah!” terdengar banyak keributan
diluar. Sang wang seja mengintip dibalik celah tandu. Dia tau ada tiga orang yang memperebutkan tandu ini diluar sana.
__ADS_1
“wang seja ? ada apa?” tanya sejanim baru berbicara.
Tak..dug...dug.. tandu terlempat jauh jendelanya telah rusak “sejanim apapun yang terjadi, ku mohon jangan salahkan aku. Tunggulah aku akan menjemputmu dimanapun kamu kelak berada” ucap sang wang seja dibalas anggukan dipeluklah sejanim yang menangis. “keluarlah wang seja! Aku tau kau ada didalam!” teriak seseorang diluar dengan suara menggelegar. “sejanim percaya padaku kan?” uacap wang seja, belum sempat
membalas ucapan wang seja, sejanim didorong dari atas tebing oleh wang seja sedangkan nasib wang seja yang tertangkap hanya mematung melihat dirinya diujung tebing dengan hunusan pedang yang memerangkap.
“Cih.. baru semuda ini sudah mudah berpindah hati. Dasar calon raja tak punya hati” ucap seseorang bertopeng menyeret wang seja pergi. ‘maafkan aku sejanim, semoga engkau selamat’ batin wang seja menangis.
**********
2 hari kemudian..
__ADS_1
“mayat..mayat abeoji itu ada mayat!” teriak seorang perempuan pada ayahnya. “aneh, kemarin kau meneriaki mayat pada anak perempuan sekarang lagi, ck..ck..ck”. seorang wanita parubaya dengan pakaian bangsawan “dia masih hidup tapi kritis” ucap abeoji. “bawa pulang abeoji kita rawat” ucap si anak melambai dan berjalan ke arah rumahnya.
“pakaian mereka seperti iringan pengantin bangsawan, apa mereka dari keluargga yang sama abeoji?” ucap si anak memberikan ramuan yang sudah ditumbuk. “hus... kita tidak boleh bicara sembarangan tunggu mereka sadar”.
***********
“wang seja choha, anda makanlah agar lekas sembuh” ucap seorang dayang dan kasim diluar istana Timur. “bagaimana aku bisa makan, jika kuburan ayahku belum kering. Bagaimana aku bisa minum jika dua wanita dalam hidupku direnggut paksa” ucap wang seja hampa.
Mengikuti pandangan wang seja yang menatap langit. Abah mama apa anda tenang di alam surga? Kenapa tak mengajak aku? Aku sebagai anak telah gagal. Jung jong mama anda dimana? Apa anda marah dan tak mau melihatku? Sejanimku.. sejanimku aku salah sudah membunuhmu. Akh...!!!
*****************
__ADS_1