
Semangkuk sup untuk berdua dan sepiring acar untuk bersama ditemani air dalam bejana.
Hidup kedua orang itu seperti kehangatan sebuah keluarga. Hidup jauh dari perkampungan, hidup ditengah hutan dibawah naungan rumah mungil dengan perkarangan yang ditanami sayur mayuran seakan sudah cukup bagi mereka. Asalkan mempertahankan nyawa tetap ada tak apa. Pikirnya.
Tengah malam....
“musim panas tahun pertama, musim gugur akhir bulan, musim dingin, musim panas lagi, kematian tuan Er dan Meili yang menemukan kita di sungai, kematian pedagang Yook yang membeli aksesoris eomoni, pembunuhan tuan Wen yang menyergap kami hingga kebakaran rumah tuan Nian dan Eun Cha yang membuat mereka hilang ditelan bumi.”
“Hyo Mae tidurlah. Kenapa kau berpikir keras..?”
“ye eomoni, hanya saja pikiran ini selalu menggangguku sejak terakhir kali kita meninggalkan tempat kebakaran itu. Terlalu banyak yang terlibat. Mana mungkin ini tanpa kesengajaan..?”
“anggap saja kesialan takdir kita Hyo Mae”
“takdir yang kejam eomoni. Dosa apa yang kita lakukan hingga harus seperti ini...?”
“tidurlah Hyo Mae” ucap eomoni tak ingin berdebat tapi dipelupuk matanya nampak air mata menggenang.
****************
Drap..drap..drap
“cheona, anda baru pulang..?” sapa ratu menunggu di depan pintu istana raja.
“apa yang kau mau ratu..?” ucap sang raja turun dari kuda
__ADS_1
“mari ijinkan hamba berbicara dan duduk cheona” ucap sang ratu membuka pintu raja yang mengarah ke kamar.
Belumlah sempat sang ratu membuka pintu terakhir yang menampakkan bagian dalam kamar, “hari sudah larut kau harus istirahat. Sampaikan salamku pada anakmu” ucap sang raja buru-buru memegang tangan ratu menahannya membuka pintu.
“baiklah. Aku anggap ini kelemahanmu cheona” ucap sang ratu licik dan berlalu pergi.
Dari kejahuan ditatapnya punggung yang mengenakan gaun phoenix itu. Sulaman emas yang mengkilat membuat pandangan raja berkilatan marah.
“bahkan kamar sang rajapun tak punya privasi rupanya. Kau semakin lancang ratu.” Gumam raja mengambil lilin yang menerangi kamar. Olehnya lukisan, dinding, dan bantal alas baca sengaja dibakarnya, api yang sekalin membesar dan dirinya melompat keluar jendela.
“kau ingin mencari kelemahanku ratu..? buktikan saja bukti apa yang kau kumpulkan aku akan menghanguskannya” ucap sang raja menatap dari kejahuan dibiarkannya para kasim dan penjaga kalut memadamkan api kebakaran.
Nampak kepulan asap yang membumbung api yang membakar telah padam hanya sisa puing bangunan ditengah kekacauan sang raja kembali, dengan berbekal pedang kepala biro militer dia melukai kaki bahu dan beberapa tubuhnya sendiri, memasuki reruntuhan kebakaran dan membiarkan jubahnya terbakar serta dirinya berpura tak sadar.
“cheonaaa!!!” teriak kasim Gun menemukan raja yang dalam pandangannya mengenaskan.
“Cepat! Aku menemukan sang raja. Panggilkan tabib kerajaan” ucap kasim Gun menggendong sang raja menjauhi puing bangunan.
Di istana bulan yang lama tersegel terpaksa dibuka demi kepentingan sang raja. Temaram lilin yang berjajar sang raja pun terbangun.
Ruangan yang lama tidak dilihatnya. Ruangan dengan banyak ornamen bintang dan burung phoenix. “cheona.. syukurlah anda sudah siuman” ucap kasim Gun ketakutan.
“aku ..?”
__ADS_1
“maafkan kelancangan saya cheona. Tempat ini saya...saa..ya terpaksa membawa anda kesini. Mohon hukumlah saja hamba tapi anda harus sehat dahulu”
“oh..” jawab raja singkat matanya memandang langit-langit bangunan. Mengenang masa kecilnya ketika dirinya bermalam di tempat ini.
(20 tahun yang lalu...)
“jung jeong mama... aku boleh memanggil anda hanya sebutan mama..?”
“kenapa wang seja..?”
“aku tidak suka. Kitakan ibu dan anak kenapa harus formal”
“wang seja ku. Hwon Im, kau punya nama yang indah nak. Tapi kau lihat atap langit istana ini..?” ucap sang ibu menunjuk langit-langit bangunan
“banyak kayu yang menyangga mama”
“bukan hanya menyangga. Itu juga penyokong atau kepentingan bersama. Atap-atap yang ada diatasnya walau ada di atas tapi mereka rapuh tanpa sokongan dibawahnya”
“aku tidak mengerti ma..”
“suatu saat kau akan mengerti nak. Atap yang tidak sama dengan garis penyokongnya hanya akan tergelincir jatuh. Walau aku ibumu, dan kau darah dagingku. Ungkapan ibu dan anak tidak akan dimengerti oleh mereka. Sokongan banyak oranglah yang terpenting. Cukup memandang aku jung jeong mama dan kau wang seja, tanamkan nak. Cukup menjadi dan berjalan digaris itu” ucap sang ibu membelai anak dipangkuannya yang mulai terlelap.
Flashback end
__ADS_1