Sui Luo Shi Chu (air surut batu kan nampak)

Sui Luo Shi Chu (air surut batu kan nampak)
Episode 14


__ADS_3

Terkadang ketidaktahuan dalam dunia penuh intrik ialah pilihan terbaik


Tapi menganggap diri tidak tau jalannya intrik apa itu pilihan terbaik...?


***************


Hyo Mae hanya termenung bimbang atau maju menerjang semuanya. Menatap sosok namja yang belum juga tersadar selama dua hari di kamarnya.


‘ternyata ini rupamu sekarang..? kau tak banyak berubah ya tetap serius dan cemberut walau dalam tidur.’ Batin Hyo mae menilai sosok namja itu.


Tok..tok..tok...


“Hyo Mae makanlah ini sudah tengah hari” teriak eomoni diluar pintu kamar.


“baik


eomoni. Mari kita makan” ucap Hyo Mae usai mengganti kompres sang namja dan


berlalu keluar kamar.

__ADS_1


“apa dia belum sadar juga..?” tanya eomoni sembari menyerahkan mangkuk pada Hyo Mae


“belum, aku khawatir tubuhnya tambah melemah” ucap Hyo mae sedih.


“kau masih tak mau melepaskannya..?”


“maksud eomoni..?”


“kau tau dia siapa..?”


“tidak.”


“Hyo Mae pandanglah dia lalu pejamkan matamu, ingatlah ekspresi cemberutnya walaupun sedang terpejam” ucap eomoni mencoba mengingatkan Hyo mae.


Malam hari.....


Hyo mae berjalan menuju kamar namja itu lagi, waktunya mengganti kompres. Dipandangnya wajah yang terlelap itu.


“hei.. walau aku tak tau siapa dirimu. Tapi entah kenapa eomoni menyuruhku memandangmu. Tolong maafkan ketidaksopananku tuan” ucap Hyo mae bermonolog.

__ADS_1


Tak ada balasan, hanya helaan nafas yang membuat Hyo Mae tenang bahwa namja di depannya dalam kondisi baik-baik saja.


“tuan... siapa sebenarnya anda..? wajah anda begitu tegas, mirip seseorang yang tak mau mengalah. Tapi bibir dan sudut mata anda nampak punya garis khas yang membuatku rela mengurusi anda.” Ucap Hyo Mae tertawa kecil


“dulu.. dulu sekali aku pernah punya kawan, tuan mohon jangan terusik dengan ocehan saya. Kawan saya dulu sangat keras kepala, mendebat sesuatu seperti tak ada ujung pangkalnya. Jadi aku harus sedikit tegas walau sebenarnya di hati menahan senyum tidak tega menggertaknya.” Hyo mae masih bermonolog sendiri.


 “aku tidak menertawakan anda tuan. Hanya saja aku teringat kawan lama, mungkin lebih dari kawan. Aku Cuma berharap apa dia bahagia..? dia hari ini bahagia..? dia harus bahagia. Bahagiakah dia..?” ucap Hyo Mae teringat sosok dalam tandu yang menangis. Tak terasa terasa air hangat mengalir di pipi Hyo Mae yang mulus.  Di tenggelamkannya wajah itu menutupi lututnya, “tuan ku mohon sadarlah. Aku khawatir dengan anda,


cheona” bisik Hyo mae bagaimanapun walau matanya mengatakan dia namja lain, tapi hati yang terpaut sejak lama belum mengikis ingatan bahwa namja dihadapannya, namja dalam perawatannya adalah wangseja suaminya yang lalu dan hingga kapanpun.


“siapa  yang berani membuat air mata itu mengaliri pipi yang mulus ini..?” ucap seseorang disamping telinga Hyo Mae. Sosok yang ditangis terbangun dan terduduk bersandar di bahu Hyo Mae yang lemah.


Perlahan wajah Hyo mae menatap sosok yang berbicara padanya, takut, tidak percaya atau apapun rasanya seperti mustahil.


“kau..?” ucap Hyo Mae tak percaya, tatapan yang lekat sedikit mencondong ke arahnya seakan perhatian penuh hanya tertuju pada satu orang, dirinya saja. Tatapan khas milik namja yang ada di hati Hyo mae, kini bukan hanya kenangan tapi sosok itu ada di depannya.


Diulurnya tangan kecil itu meraba wajah yang masih diam menatapnya, alis tebal hitam, sudut mata yang tajam, hidung runcing bibir penuh dan rahang wajah yang tegas. Tak lupa pula dagu yang ditumbuhi rambut halus yang tumbuh liar tak terawat.


Namja yang hanya keras kepala itu kini seakan telah menjelma jadi namja yang perkasa, sosok penting milik negara.

__ADS_1


“cheona bisik Hyo Mae membuat namja didepannya mengerutkan dahi.


“sejanim..? apa itu kau?” ucap namja mengangkat dagu Hyo Mae.  Anggukan kecil membuat lelehan hangat di pipi mengalir semakin deras. Kini malam ini terasa berbeda dibandingkan malam-malam lain. dua raga yang terpisah telah bertemu, bersua untuk satu waktu.


__ADS_2