Sui Luo Shi Chu (air surut batu kan nampak)

Sui Luo Shi Chu (air surut batu kan nampak)
Episode 15


__ADS_3

Kita ibarat satu jiwa


dalam dua raga


Walau diri tak bertemu


dalam kurun waktu tak terhingga


Tapi hati tetap terpaut


pada satu waktu saat itu.


**********


“sejanim..? apa itu kau?” ucap namja mengangkat dagu Hyo Mae.  Anggukan kecil membuat lelehan hangat di pipi


mengalir semakin deras. Kini malam ini terasa berbeda dibandingkan malam-malam lain. dua raga yang terpisah telah bertemu, bersua untuk satu waktu.


“cheona mohon berbaringlah anda harus banyak istirahat” bujuk Hyo Mae pada namja yang tetap memeluknya.


“tidak... ini masih belum cukup, bahkan hari-hari selanjutnya juga tidak akan cukup”


“aku disini cheona. Tidak akan kemana-mana”


“kenapa kau begitu sadis padaku..?”


“hamba mana berani”

__ADS_1


“dulu, hingga waktu ini kau tak memberiku kesempatan mencarimu. Apa aku mengecewakanmu..? apa aku membuatmu menderita..?”


“tidak cheona.... anda hanya kurang bersungguh-sungguh mencari saya” goda Hyo Mae


Sang namja yang tak lain adalah raja hanya memelototi Hyo Mae


“kau masih tidak berubah sejanim..?”


“saya sudah bukan sejanim cheona.”


“apa kau menyalahkan aku yang tidak menjadikanmu ratu..?”


“jung jeong mama, sejanim, atau apapun itu hanyalah gelar aku menyandangnya ataupun tidak juga bukan masalah besar”


“tapi aku raja negeri ini, yang pantas bersanding hanyalah ratu, jadilah ratuku!”


“kau sangat tau bagaiamana menghadapiku”


“anda juga tau bagaiamana ucapanku”


“aku meletakkanmu sebagai wanita dihatiku”


“anda adalah seluruh alasan diriku cheona”


“apa aku  boleh merengkuhmu..?”


“jika sebagai wanita di hatimu, anda sudah memiliki hamba sejak lama cheona”

__ADS_1


Mendengar ucapan Hyo Mae yang terang-terangan membuat sang raja gembira bukan kepalang. Walaupun sekian lama waktu yang dihabiskan untuk mencarinya, sekian banyak intrik seakan tidak ada apa-apanya dengan keadaan Hyo mae saat ini.


Dikecupnya kening milik pujaan hatinya, terasa sengatan listrik disekujur tubuh sang raja, sengatan yang membuat dirinya semakin tertantang. Semakin lama setiap belaian tangan Hyo mae yang menyentuh tengkuk dan pundak raja membuat dirinya merinding.


“biarkan pipi yang telah terbasahi air mata sekian lama ku hapus dengan kecupan suka cita, ku harap kau hanya ingat pipi ini merona karena kecupan cinta”


“ku biarkan cheona merasakan suka cita, tapi jangan menahan beban air mata yang tiada tara”


“biarkan hidung mungil yang jadi jalan nafas, yang membuatku sadar kau masih ada di dunia tempatku berada hanya merasakan kecupan hangat”


“ku biarkan helaan nafas membuat cheona tenang”


“bibir mungil ini, bibir merah mereka ini biarkan aku merasakannya, bagikan penderitaanmu agar hanya tersisa rasa manis untuk kita berdua”


“bibir yang tak mampu mengucap rindu yang terlalu dalam ku biarkan anda merasakannya, agar pendaman hatiku anda juga tau rasanya”


Kecupan dari raja, bukan! dari laki-laki untuk wanita terkasih, kekasih yang lama didambakan siang hingga malam, kering hingga hujan datang berubah menjadi ciuman.


Sebuah ciuman yang tak pernah mereka berdua rasakan, sebuah adegan baru rasa asing yang membuat keduanya dimabuk kepayang.


Bukan karena arak tapi ciuman yang memabukkan membuat keduanya lupa, hanya ingin dekat dan lebih dekat lagi.


Kecupan berubah jadi ciuman, ciuman berubah jadi gigitan kecil dan hisapan.


Di tengah temaram hutan, di gubuk, di dalam ruangan yang sempit ini hanya ada


laki-laki dan wanita yang saling mencinta, bukan antara raja atau penguasa

__ADS_1


negara. Cahaya damai bulan menyinari hati kedua insan yang saling mencinta.


__ADS_2