Sui Luo Shi Chu (air surut batu kan nampak)

Sui Luo Shi Chu (air surut batu kan nampak)
episode:8


__ADS_3

Srak..srak..srak.....



Suara langkah kaki diantara bebatuan dan rerumputan. Dua orang nampak berjalan lesu.



“kau masih marah Hyo Mae?”



“tidak”



“kheee... kau percaya pada reingkarnasi Hyo Mae?”



“tidak”



“kau tak mau bertanya kenapa aku bertanya ini tiba-tiba?”



“tidak”



“baiklah. Ku mohon maafkan aku dan dengarkan aku ya?”



“terserah apa katamu”



“aku pribadi awalnya tidak percaya kalau apa yang aku tanam entah itu kebaikan menggunung akan berdampak baik pada reinkarnasi selanjutnya. Tapi akhir-akhir ini usai membaca buku tentang itu aku sedikit berpikir. Apakah kesalahanku yang ku perbuat di kehidupan kali ini itu akan berdampak pada reingkarnasiku berikutnya.”



“kapan kau pernah berpikir Eun Cha Nian. Toh hidupmu hari ini ya itu yang kau jalani.”



“pemikiran yang tepat. Tapi aku tidak merasa begitu. Ha..ha.. mungkin kegilaan pikirku kumat lagi”



“kau aneh sejak dulu”



“Hyo Mae...?”



“apa”



“andaikan reinkarnasi benar ada apa aku bisa menjadi bagian hidupmu dikemudian hari?”



“kau menjadi peliharaanku? Atau menjadi kerabatku..? “



“ha..ha.. tidak. Tidak keduanya. Aku hanya ingin jadi bagianmu Hyo Mae, tepat disini” ucap Eun Cha menunjuk dadanya, tepat di hatinya.



“itu tidak akan, Eun Cha Nian”



“tidak akan bukan berarti tidak mungkin kan? Aku bisa memintanya pada dewa jika kelak aku menghadap”



“ssstt, ckkk...ckkk.. kau berbicara berlagak mau mati saja. Itu tidak lucu!”



“ha..ha... apa salahnya. Kematianpun juga mendadak.”



Deg... suasana antara keduanya menjadi muram



“itu bukan candaan!”

__ADS_1



“menggodamu dan kau jadi khawatir itu sangat lucu, tau! Ha..ha..ha”



“huh...” hentak Hyo Mae mendahului langkah kaki mereka.



30 menit kemudian di Barat desa nampak kepulan asap.



“api...api..”



“awas. Jangan ke arah sana”



“kebakaran...tolong...kebakaran”



Suara gaduh dan banyak penduduk lari tunggang langgang.



“Eun Cha.. lihatlah kemana arah asap itu berasal”



“tidak. Itu tidak mungkin Hyo Mae” ucap Eun Cha berlari menuju tempat tinggal mereka.


Kobaran api nampak besar. Banyak orang berkerumun bergantian mengambil dan menyirami air.



“eomoni!!!!!!”



“Hyo Mae kau percaya padaku kan?” ucap Eun Cha memegangi Hyo Mae yang kalut.



“tolong. Tolong Eun Cha Nian. Ku mohon selamatkan eomoniku. Dia satu-satunya alasanku hidup”




“bagaimana aku menunggu eomoniku ada di dalam”



“Hyo Mae! Kau percaya padaku kan?”



“aku mohon Eun Cha apapun yang kau minta aku turuti. Akan aku ikuti dan pasti kusetujui tapi ku mohon. Itu eomoniku selamatkanlah”


“ya.” Ucap Eun Cha berlari menuju kerumunan mendekati sumber kebakaran.



Platak...platak...whuss


“tolonggg...” sayup-sayup terdengar suara dari dalam lemari.



“Ajumma!” teriak Eun Cha mengetuk pintu lemari



“siapapun diluar tolong” teriak ajumma lagi.



“Ajumma, Anda bertahanlah” seru Eun Cha membuka lemari yang terkunci.



Tangan dan kakinya terikat, pakaian dan penampilannya acak-acakan “ajumma apa yang terjadi dengan anda?”



“Eun Cha, tolong..” pandangannya memudar gelap.



Bruak....platak..platak...


__ADS_1


“hos...hos...hos... ajumma hanya kebanyakan menghirup asap. ambilkan air Hyo Mae” ucap Eun Cha kelelahan



“Eun Cha... ayahmu.. tuan Nian dia pulang. Dia terkurung di dapur”



“abeoji?”



“cepat tolonglah”



“baik”



Tapi dirinya dihadang oleh Hyo Mae


“kau sudah banyak menghirup asap. Kau juga kelelahan menolong eomoni. Berhentilah. Kau lihat kepulan yang membumbung itu sudah tidak mungkin Eun Cha”



“Hyo Mae! Dia abeojiku! Bagaimana mungkin aku tidak berbuat apapun”



“tunggulah petugas pemerintah”



“itu tak akan cukup waktu”



“Eun Cha! Ku mohon. Sebagai sejanim ku perintahkan engkau disini jangan kemana-mana lagi”



“hu! Aku tidak menyesal jika terjadi sesuatu lagi Hyo Mae”ucap Eun Cha berlari mengacuhkan Hyo Mae menerjang kobaran api.



“abeoji!”



Di dapur nampak seorang laki-laki tergeletak dengan perut tertancap pedang. “abeoji!!!!”



teriak Eun Cha tak percaya. Dicabutnya pedang dari perut sang ayah dan mengangkat tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa.



“kau mau membuat bukti?” tegur seseorang berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup.



“apa maumu. Aku tidak kenal kamu. Minggirlah!” gertak Eun Cha berjalan menepi.


Slash... pedang menancap dari belakang tubuhnya.



"membuat bukti dan mengabaikan teguranku. Cih. Kau pantas mati” ucap seseorang berpakaian hitam.



Bruk... Eun Cha tak bisa mempertahankan dirinya. darah yang mengalir terlalu banyak, pandangannya yang buram hanya ingat ujung pedang yang dipegang seseorang berpakaian hitam itu punya ukiran teratai dan naga. Ya. Hanya pedang milik kerajaan saja yang punya hal itu.



“bagaimana mayat-mayat ini?” ucap sosok hitam lain yang datang.



“Lempar ke rumah yang terbakar itu. Biarkan menjadi kecelakaan saja.”



“baik, yang mulia” ucap orang itu menyeret Eun Cha disisa kesadarannya.



Apa salah dirinya dan ayahnya. Kenapa harus terlibat konspirasi yang tidak tau asalnya.



Kilatan marah dan kecewa penuh dengan amarah dendam terpancar di kedua bola mata Eun Cha ‘yang mulia.. anda harus membayar ini semua.’ Batin Eun Cha sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


**********


__ADS_1


__ADS_2