Sui Luo Shi Chu (air surut batu kan nampak)

Sui Luo Shi Chu (air surut batu kan nampak)
episode 6


__ADS_3

Di sisi lain, dalam sebuah ruangan hangat nampak seorang yeoja duduk menatap rembulan.



“haistt apa yang kau lakukan sejanim?” belai seorang ajumma dari belakang. “jung jeong mama.. maafkan saya. Saya tidak sadar ketika anda datang.” Ucapnya berlutut.



“kau kenapa memanggil aku seperti itu? Ini sudah berapa tahun sejanim. Apa kau tak bosan hidup menyendiri seperti ini.”



“anda tetaplah ibu raja, bahkan sekarang status anda sudah naik menjadi ibu suri agung. Lain halnya aku yang sudah tidak berhak lagi.”



“bagaimana mungkin? Aku kenal anakku. Dia hanya dan tetap menantimu sejanim.”



“entah kenapa hatiku tidak berkata seperti itu. Tolong jung jeong mama memanggilku dengan nama saja. Aku hanya akan bakti padamu”


“begitu pula aku. Panggil aku eomoni saja jangan yang lain, sayang”



Ucap keduanya tersenyum saling berpegangan menguatkan.



Tok..tok..tok..




“permisi, ini ada camilan untuk agi dan ajumma.” Ucap seorang namja membawa baki berisi kue kacang dan manisan.



“kau tidak banyak berubah ya” nilai jung jeong mama pada namja itu.



“terima kasih. Apa anak anda masih belum ingat semuanya? Hari ini aku pulang karena ku dengar di kota Onia ada tabib kerajaan yang membuka praktek untuk umum.”



“bagaimana mungkin ada tabib kerajaan yang boleh meninggalkan istana?”



“entahlah hanya kabar burung saja. Tapi banyak yang datang dari penjuru negeri menemuinya.”



“aku rasa tidak perlu merepotkan dirimu. Sudah 7 tahun kami menumpang dan membebani keluargamu. Semoga kehidupan kalian menjadi baik dimasa mendatang”



“tidak perlu sungkan. Kita sama-sama membantu dan berbagi itu sudah cukup”



“iya sebenarnya ada yang aku ingin katakan Eun Cha Nian, aku dan eomoni ingin segera pamit. Kami tidak ingin membebani kau dan ayahmu”


__ADS_1


“kenapa kau berkata seperti itu. Kau masih sakit dan kalian wanita, akan kemana hanya berdua saja.tinggallah semau kalian disini aku tidak keberatan”



“bagaimana mungkin, kamu sebagai namja yang sudah usia nikah, aku dan eomoniku bukan sanak saudara tinggal di satu atap? Lagi pula aku sudah sedikit ingat statusku yang lalu.”



“apakah benar jung jeong mama? Dia apa mengatakan yang sebenarnya?”


Jung jeong mama hanya mengangguk sebagai isyarat iya.



“lantas kau mau apa? Ini sudah terlalu lama.”



“aku dan eomoni akan membuka lembaran baru. Kami ingin mengisi hari-hari kami sebagai rakyat biasa”



“oh baiklah” ucap namja itu berdiri dan berlalu pergi.



Di belakang rumah nampak namja itu tengah membawa buntalan mau membakarnya



“apakah membakar kenanganku itu cukup Eun Cha Nian..?”



“apakah lembaran barumu denganku itu tak cukup sejanim ? ah bukan, Hyo Mae...?”





“aku bisa menanggung ketakutanmu”



“aku justru takut padamu Eun Cha Nian. Bagaimana pula kau menerima wanita yang hatinya sudah penuh dengan laki-laki lain..?”



“aku tak masalah. Raga pun tak apa”



“hatiku dan pikiran sudah lama menjadi miliknya. Apalagi ragaku. Ini hanya demi dirinya aku memilih hidup”



“oh”



Dinyalakannya pembakaran dan dilemparkannya buntalan yang berisi baju pernikahan sejanim.



“aku tak mengharapkan lebih. Hal itu tak akan menggoyahkan aku” ucap Hyo Mae menitihkan air mata.

__ADS_1



“aku masih memiliki kenangannya. Tanpa barang juga tak apa” sambungnya lagi



“maafkan aku Hyo Mae. Ku harap kau mau mempertimbangkan diriku.” Ucap Eun Cha Nian membungkuk sesal.



“maaf, aku permisi” ucap Hyo Mae meninggalkan pembakaran kenangan dan masa lalunya yang belum tersampaikan.



2 hari kemudian.



“Hyo Mae.. apa kau tak keluar kamar?” ucap seseorang dari balik pintu.



“maaf Eun Cha Nian.. aku masih tidak lapar. Jika aku butuh apapun eomoni yang akan mengurusku” ucapnya murung



Tok..tok..tok



“apa aku boleh masuk nak?” ucap jung jeong mama



“silahkan eomoni. Maaf aku tidak melayanimu dua hari ini. Aku sedang tidak enak badan”



“aku tau kenangan yang kau katakan mudah dihapuskan ternyata bekasnya lebih menakutkan bukan?”



“yee eomoni.” Ucap Hyo Mae bersandar dan menangis.



“eomoni, apakah dia baik-baik saja? Apakah dia melupakan kita ? bagaimana mungkin hingga 7 tahun berlalu tak terdengar prajurit mencari kita?”



“nak.. aku tau keinginanmu dihancurkan. Aku sebagai ibu juga tak bisa memihak siapapun. Kita hanya perlu melanjutkan hidup”



“aku tak mau melupakannya eomoni. Diriku sudah penuh dengannya. Bagaiamana ada orang lain yang mengisinya?”



“aku tak akan membujukmu. Tapi kau harus sadar dan melihat kenyataan nak. Tuan Nian sudah berbaik hati menerima kita walaupun tau kita orang dari kerajaan terdahulu.”



“aku juga ingin membalasnya. Tapi jangan meminta hatiku. Eomoni tolong mengertilah”



“aku bersyukur mendapatkanmu dikehidupanku saat ini nak” peluk jung jeong mama terharu.

__ADS_1


**********


__ADS_2