Surga Tak Terindu

Surga Tak Terindu
Outlet baju...


__ADS_3

Seperti biasa, di hari minggu Emyr harus menilik outlet baju muslim dan muslimah miliknya yang memang ia sebar di setiap pusat perbelanjaan besar.


Mata sembab tak menghalanginya melakukan aktivitas hari ini. Tak ayal, malam tadi ia tak bisa tidur, tubuhnya hanya berbolak-balik tanpa mau pejam.


Pikirannya selalu tertuju pada Shanshan, Haikal dan putri kecil yang kemarin ia lihat.


Selepas subuh Emyr baru bisa tidur, itu pun tak sepulas yang ia mau, lantas setelah Dzuhur dia harus mendatangi outlet bajunya.


Meski demikian, dari parkiran basement sampai tiba di lantai enam mall ini, langkah kakinya terayun tegas.


Celana jeans biru terang dipadukan dengan kemeja putih polos yang tampak pas di tubuh tingginya sudah benar-benar membalutnya.


Kendati tanpa pasangan hidup, Emyr tetap tampan dan menawan. Gaya pakaian, arah sisiran, sinar wajahnya, semua masih sama seperti lima tahun yang lalu.


Bedanya, Emyr yang sekarang sudah bukan Emyr yang mengandalkan uang jajan orang tuanya. Emyr sudah berpenghasilan, Emyr sudah mengelola sendiri keuangannya.


"Siang Gus," sapaan khidmat nan akrab dari salah satu SPG brand fashion miliknya menyambut. Kebetulan SPG tersebut sedang bertugas sebagai greeter (penyambut) di depan outlet.


"Siang," sapa baliknya. Mau bagaimana lagi, Gus adalah sebutan yang sulit ia tepis sedari masih kanak-kanak.


Emyr mengedarkan pandangannya ke segala arah, rupanya outlet baju miliknya di mall ini sedang padat pengunjung.


"Sepertinya hari ini kalian keteteran," ujar Emyr kemudian. Jelas tak ada SPG atau SPB yang menganggur, semua sibuk dengan masing-masing customer.


Gadis greeter itu mengangguk. "Benar Gus, maklum, kan menjelang ramadhan," jawabnya ramah.


"Alhamdulillah," ucap Emyr. Lalu melangkah menemui supervisor area yang juga sedang disibukkan oleh pengunjung.


Pelan Emyr menepuk pundaknya. "Meskipun ramai, tetap usahakan pembagian jam istirahatnya cukup," pesannya.


"Tentu saja, Gus." Dengan sigap dan nyengir, laki-laki bernama Rayhan memberikan kode hormat dengan sebelah tangannya.


Emyr dan para karyawannya memang sedekat itu, mereka sudah seperti teman bahkan keluarga. Emyr tak seperti Hilman yang galak dan ditakuti karyawannya.


Satu SPG berlari mendekat, ia meringis seraya menyodorkan baju anak balita pada Rayhan.


"Si Ibu cantik yang di sana minta size S Pak, ini sudah ku carikan, tapi aku harus ke toilet," keluhnya sambil menunjuk wanita di sudut tempat.


Rayhan bingung, ia harus ke mana dahulu, karena ternyata ia pun dipanggil oleh pihak kasir yang tampaknya sedang ada masalah dengan mesinnya.

__ADS_1


Melihat itu Emyr mengambil alih baju balita tersebut. "Ya sudah biar saya saja, kamu ke kasir saja," ujarnya berbagi.


Rayhan mengacungkan jempol ke atas, lantas berlari ke arah kasir. Sementara Emyr, gegas melangkahkan kakinya menuju customer yang menanyakan gamis kecil size S tadi.


"Permisi," ucapnya sopan. Mata sayu miliknya membesar mendadak, setelah wanita cantik itu menolehkan kepalanya.


Tidak salah lagi, jantung kencang Emyr buktinya, jika wanita di depannya tidak lain dan tidak bukan adalah mantan kekasihnya.


"Shan," celetuknya begitu saja. Tak hanya Emyr yang terkejut, karena sepertinya Shanshan lebih tersentak mendapati mantan kekasihnya berdiri tegak di hadapannya.


"E-emyr!" Sedikit tinggi nadanya, Emyr tahu Shanshan canggung, sama seperti dirinya yang juga berdebar-debar melihatnya.


Emyr mengerling ke arah kiri Shanshan, di mana gadis cantik nan mungil yang sangat mirip Haikal, terdiam tenang di pelukan Sus-nya.


Tuhan, kenapa pula mereka harus bertemu lagi, jika tidak berjodoh, kenapa alam seperti tak setuju untuk dirinya lupa pada wanita itu.


"Kau di sini?"


"I-iya," angguk senyum Shanshan, kikuk. Tampak kilatan peluh di dahinya yang mulus.


"Mmmh...," Emyr lalu menyodorkan baju balita yang mungkin di pesan Shanshan. "Ini size yang kamu cari, S kan?"


"Oh..." Shanshan lebih terkejut, ia lalu merotasi pandangannya, sejenak ia berpikir, apa yang Emyr lakukan di dalam sini.


"Hmm." Emyr mengiyakannya dengan anggukan dan gumaman kecil.


"Ibu..."


Shanshan dan Emyr menoleh pada arah yang sama. Yang mana bocah mungil itu tak suka dengan tatapan berbeda Emyr terhadap Shanshan, dan Shanshan kepada Emyr.


Adara tak menyukai kedekatan Shanshan dengan laki-laki lain, selain Haikal ayahnya tentu saja.


"Iya Sayang." Shanshan lalu meraih tubuh Adara. "Sudah ada size yang Adara cari loh. Jadi sekarang kita cari lagi model lainnya, ok."


"Ok!" Adara tersenyum riang.


"Myr." Kembali Shanshan menatap wajah tawar Emyr yang masih menatapnya dengan nanar.


"Hmm?"

__ADS_1


"Thanks," ucapnya tersenyum manis. Emyr mengangguk seraya berucap, 'sama-sama,' dengan lirihnya.


...{[<<>>]}...


Masih di dalam mall, pukul dua siang Emyr mendatangi restoran Kimmy food. Setelah pertemuannya dengan Shanshan barusan, sejujurnya Emyr tak berselera untuk makan, tapi sedari malam tadi perutnya belum terisi.


Cukup hatinya, jangan sampai fisiknya juga ikut sakit. Ada Ummi Fatimah yang akan khawatir melihatnya terpuruk.


Tiba di depan restoran, bukannya masuk dan duduk di kursi pelanggan, Emyr justru berhenti langkah mendapati sosok tampan teman kecilnya.


Di balik sekat kaca, Haikal Sulaiman sudah duduk di kursi pelanggan. Berkerut kening Emyr mengamatinya seksama.


Dari kedekatan yang hanya tersekat kaca saja, Emyr bisa tahu bagaimana Haikal menatap serius ponselnya. Emyr bahkan lancang menatap ke arah layar milik Haikal.


Yang mana foto-foto wanita berjilbab sedang Haikal pandangi satu persatu, sambil menggulir kan jemarinya di atas layar.


Beberapa pesan juga membuat Haikal terkikik kecil, tersenyum, persis seperti laki-laki yang sedang jatuh cinta lagi.


Emyr tak paham, apa yang sebenarnya sedang Haikal lakukan? Bukankah menatap foto wanita lain, saling chat, sama berarti menyakiti hati Shanshan?


Tak perlu berpikir lama, Emyr segera masuk ke dalam dan mendatanginya. Menunjukkan batang hidungnya yang tinggi. "Kal!"


Sontak Haikal menoleh, lalu terdiam sejenak sebelum ia bangkit dan tersenyum menyapa dengan rengkuhannya.


"Gus." Tak menyangka, setelah sekian tahun, mereka akan dipertemukan lagi. Dingin, Emyr tak membalas pelukan Haikal.


"Apa kabar, Gus?"


Emyr terdiam kecut. Entah kenapa, ia merasa perlu mengingatkan teman kecilnya ini; bahwa perbuatannya barusan sangat salah.


"Ada apa?"


Haikal mengernyit tipis, ia sendiri bingung mengartikan apa yang Emyr tunjukkan lewat tatapan itu. Tak bersua selama lima tahun, bukannya saling memeluk rindu, Emyr justru terkesan sinis padanya.


"Ada yang ingin kamu sampaikan?"


Emyr terkekeh samar. "Barusan aku lihat istri dan anak mu berbelanja, bukannya menemani mereka, kamu malah asyik dengan wanita di HP mu?" tukasnya.


"Apa begini cara mu memperlakukan Shanshan hmm?" tambahnya menyudutkan.

__ADS_1


"Gus." Haikal menggeleng pelan, ia masih bingung dengan apa yang Emyr maksudkan.


"Sampai kemarin aku yakin kamu yang terbaik untuknya. Tapi hari ini, aku meragukan mu!" Lagi ,Emyr menyerobot sementara Haikal hanya diam menelaah ucapannya.


__ADS_2