Surga Tak Terindu

Surga Tak Terindu
Cemburu...


__ADS_3

Senja hadir melengkapi suasana sore Emyr yang mencemburu. Mata yang menyalak tajam itu tertuju pada gadis yang ia klaim sebagai kekasihnya.


Di ujung koridor rumah sakit sana Khaira tersenyum manis padanya. Namun, mata Emyr justru fokus pada pria gagah yang baru saja mengobrol dengan kekasihnya; Lexy Fernando, nama lelaki itu.


Emyr membuka pintu mobil miliknya, dan Khaira segera masuk. Ia sedikit merasa aneh dengan wajah Emyr yang tak seramah biasanya.


Brugh...


Keduanya sudah duduk di masing-masing tempatnya. Dan tanpa menyapa gadis di sisinya, Emyr bergegas melajukan mobilnya.


Sampai setengah perjalanan, tak ada yang mereka obrolkan. Ada raut kesal yang Khaira tangkap di wajah rupawan lelaki itu.


"Myr..." Setelah mobil mereka berhenti di area pom bensin, Khaira sengaja membuka perbincangan. Antrian masih panjang, masih ada sekitar lima mobil di depan sana.


"Hmm?" Emyr bergumam sembari melajukan sedikit-sedikit mobilnya ke depan.


"Dari tadi kamu diam. Kamu sakit?"


Emyr terkekeh tipis, sedari tadi ia berusaha diam menutup kecemburuannya, tapi kemudian Khaira sendiri yang bertanya.


"Are you Okay?"


"Tidak ada laki-laki yang baik-baik saja setelah melihat kekasihnya disatroni laki-laki lain, Khai."


Emyr menoleh saat kekesalannya hanya dijadikan bahan tertawa Khaira. "Apa aku selucu itu?" tukasnya.


"Jadi kediaman mu dari tadi karena kamu cemburu, Gus?"


Emyr berdecak. "Siapa yang tidak bisa cemburu? Bahkan Ali bin Abi Thalib saja cemburu pada siwak, karena berani menyentuh bibir istrinya."


"Sweet..." Khaira memiringkan kepalanya, dan tak dipungkiri senyum manis itu mampu meredam hati panas seorang Emyr.


"Aku tahu aku tidak sebanding dengan calon dari Papa mu yang sempurna, punya perusahaan besar, tampan, mapan, terpenting dia masih berstatus bujangan," lirihnya.


"Kamu insecure Mas duda?"


"Tentu saja," lirih Emyr kembali.


Khaira tergelak pelan. Namun, meski tergelitik dengan kecemburuan Emyr, ia tetap perlu menjelaskan bahwa tidak ada hubungan apa pun di antara dirinya dan Lexy Fernando.


Khaira dan Lexy sudah saling mengenal dari masih SMP. Khaira meladeni Lexy mengobrol, bukan karena merespon perjodohan yang Papanya tentukan, melainkan karena Khaira sudah sangat mengenal pria itu.


"Aku dokter, dan Lexy menemui ku untuk keponakannya, itu saja. But, aku suka cemburu mu, Gus." Khaira mencubit pinggang kokoh Emyr yang reflek mencekal tangannya.


Emyr lemah dengan sentuhan Khaira. Emyr tak bisa menepis rasa ingin yang lebih dari itu jika Khaira menggodanya.


Emyr menoleh, ia terdiam menatap dalam manik biru kekasihnya, dan entah lah, ia juga lancang menatap bibir Khaira yang merekah menggoda imannya. "Aku juga cemburu pada lipstik yang kau pakai itu," ujarnya pelan.


Khaira tersentuh, jantungnya berdetak lebih cepat mendengar ungkapan manis kekasih tampannya. Andai diperbolehkan, ia ingin melabuhkan sebuah kecupan di pipi pria itu.

__ADS_1


Tin.. Tin...


Klakson mobil di belakangnya berbunyi protes. Sontak, Emyr dan Khaira memutus pandangan lekat mereka.


Emyr memajukan kembali mobilnya, merapat pada gilirannya. Demi mengurangi canggung, Emyr fokus pada pengisian bensinnya.


Masih ada setengah perjalanan lagi, hingga pukul lima sore mobil Emyr sampai pada halaman luas keluarga besar Miller.


Seperti biasa Khaira mengucapkan terima kasih, hati-hati di jalan dan bergegas turun dari mobil. Emyr keluar, sekedar mengantar kekasihnya sampai ke depan pintu rumah.


"Khai..."


"Hmm?"


Emyr tersenyum lebar, ia sedikit menghela napas dalam. "Kalau dalam satu Minggu ke depan aku belum bisa membawa Abah melamar mu, aku yang akan datang sendiri ke sini, aku mau melamar mu," ucapnya.


"Kamu siap?" Khaira mengerut tipis keningnya. Bukan apa-apa, ia hanya takut Emyr berkecil hati saat Axel menolaknya.


"Demi menghalalkan mu. Apa pun resiko terburuknya. Aku siap Shan."


Khaira tersenyum simpul, tak seperti enam tahun yang lalu, kali ini kekasihnya cukup berani untuk memperjuangkan dirinya.


Brakkk....


Emyr dan Khaira menoleh. Rupanya King tampan pewaris tahta Millers-corpora group datang dengan banyak barang bawaan.


King mengatur napas, sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya. "Letakkan di sana!" titah pemuda berseragam SMA itu pada beberapa pelayan.


"King?"


"Hmm!"


"Ngapain kamu?"


King menoleh datar. "Mom bilang akan ada acara keluarga," jawabnya.


"Acara apa?"


"Khotbah."


Pelayan di sisinya tertawa. "Khitbah Den Tuan muda. Bukan Khotbah." Kemudian King manggut-manggut dengan suara Oh-nya.


"Siapa?" Khaira justru semakin penasaran setelah mencium adanya ketidakberesan di dalam rumah besar ayahnya. "Siapa yang akan di Khitbah?" cecarnya.


King menghela. "Siapa lagi, tentu saja Kakak!"


"Ini nggak lucu!" Khaira mengetusi adiknya yang berekspresi seperti tak tahu apa-apa.


"Yang bilang lucu siapa? King bahkan sudah seperti sapi perah Tuan besar Axel yang terhormat seantero jagat Millers-corpora!" sanggah King. "Baru pulang sekolah langsung disuruh ini itu," rutuknya kembali.

__ADS_1


Emyr menengahi. "Kamu tenang dulu, Khai.


Khaira menderu dera napas yang mengacau setelah mendengar kabar tak baik ini. Bisa bisanya semua keluarganya tak bilang, jika malam ini juga akan ada acara yang melibatkan dirinya.


Ini pasti ulah ayahnya yang arogan dan seenaknya sendiri. "Kamu pulang gih, aku perlu ngomong sama Papa!" titahnya pada Emyr.


Emyr mengangguk. "Hubungi aku kalau ada apa-apa," pesannya.


...{[<<>>]}...


"Papa!" Tak butuh waktu lama, Khaira masuk ke dalam rumahnya. Ia meneriaki seisi ruangan dengan sebutan 'Papa!'


Axel sang Ayah berdiri dengan menyimpan kedua tangan ke dalam saku celana, tepat di tengah-tengah sibuknya para pekerja dekorasi rumah.


"Ini nggak lucu Pa!" Khaira melihat sikap santai yang menyebalkan dari sosok ayah dinginnya. "Ini apa-apaan ah?"


Axel beralih sekilas, sekedar menghiraukan pertanyaan gadis itu. "Kamu tidak lihat, banyak orang catering, dekorasi, dan lainnya, tentu saja ada acara keluarga," entengnya.


"Papa mau memaksa Khai?" tukas Khaira menyalak-nyalak. Baru saja Emyr bilang ingin berjuang untuknya, Axel sudah lebih dulu mematahkan hatinya.


"Maksud mu?"


"Aku nggak mau menikah sama siapa pun selain Emyr, Papa dengar?!"


"Ok," anggukan kepala Axel yang berhasil menyulut tanda tanya besar di kepala Khaira.


Wajah dingin itu seperti sedang mengiyakan permintaannya. Tapi..., "aku serius Pa!"


"Papa juga serius." Axel kembali mengangguk dengan wajah pastinya. "Malam ini juga, keluarga Emyr akan datang ke sini."


Khaira menatap Kakek dan Ibunya yang juga mengangguk seolah membenarkan ungkapan ayahnya. "Kalian becanda?" tudingnya.


"Barusan Emyr nganter Khai pulang, dia nggak bilang apa-apa!" seru Khai berapi-api.


Lily tersenyum. "Kiyai Zainy sendiri yang meminta mu untuk putranya. Jadi wajar saja kalau Emyr juga belum tahu soal acara ini."


Sontak, Khaira terperangah. Ia kemudian menatap wajah ayahnya yang masih datar saja. "Apa Abah ketemu Papa?" tanyanya.


"Hmm..."


Khaira tersenyum bahagia, ia memeluk lelaki itu, bahkan menghujaninya dengan kecupan di pipi. "Khai sayang Papa," ucapnya haru.


"Tapi lebih sayang Emyr. Ngaku saja." Axel membalas pelukan haru putrinya dengan elusan lembut.


Khaira kesayangannya, tapi ia sadar bahwa kelak, seorang ayah harus rela berbagi cinta dengan pasangan putrinya. Cukup menjadi cinta pertama untuk putrinya, sudah sangat membahagiakan bagi seorang ayah.


"Sayang Khai ke Emyr berbeda, Pa." Khaira mengusap air matanya sendiri, jika ini adalah mimpi, ia rela tak lagi terbangun demi bisa bersama dengan Emyr-nya.


Lily tersenyum, tak dipungkiri cinta Axel tak kalah besar daripada Alex; ayah kandung putrinya.

__ADS_1


Lihatlah, CEO dingin seperti suaminya, mampu memaafkan kesalahan Kiyai arogan yang dahulu menyakiti Khaira. Karena ia percaya, memaafkan adalah sedekah terbesar dalam kehidupan fana.


__ADS_2