Surga Tak Terindu

Surga Tak Terindu
Kuah mie


__ADS_3

Bak durian runtuh, Kiyai Zainy mendengar berita dari putranya. "Khaira hamil, Bah." Kalimat kecil yang begitu besar pengaruhnya.


Zainy meworo-woro berita tersebut kepada semua tamu kehormatannya. Acara yang sempat terhambat karena Khaira tiba-tiba pingsan di tengah jalannya pengajian, kini kembali berjalan dengan hikmat.


Kembali Zainy mengajak para tamunya berdoa bersama, mendoakan menantu cantiknya yang kini dirawat di rumah sakit tentu saja. Semoga Emyr kecil kelak menjadi anak yang sholeh shalihah.


Zainy bahagia. Akhirnya, setelah banyak bidadari calon penghuni surga yang Emyr tolak, akan ada keturunan yang lahir dari istri shalihah Emyr kesayangannya.


"Hilman," panggilnya.


"Nggeh Bah." Meski terkenal galak, anak tertua dan terkenal paling menurut itu memberikan tundukkan kepala khidmat pada sang ayah.


"Kita bikin syukuran, potong sapi yang banyak buat santri santri kita, Gus." Abah bertitah dan Hilman mengangguk dengan kata Nggeh-nya.


...{[<<>>]}...


Mendengar kabar kehamilan Khaira, tentu keluarga Axel pun hadir, mengikuti sejumlah pengajian yang Zainy gelar khusus untuk mendoakan putri mereka.


Khaira sudah kembali ke pesantren sang mertua. Dan seperti malam-malam kemarin, Emyr tak tidur, istrinya terlalu rewel, minta ini minta itu. Tapi, tak sedikitpun Emyr merasa keberatan, dirinya justru menikmati momen momen langka ini.


Khaira sebelumnya tak pernah semanja setelah hamil, dan Emyr bisa maklum karena dulu saat Zivanna hamil, dia juga ikut ikutan kebagian repotnya.


Emyr jadi teringat perjodohan gagal yang juga terjadi pada Zivanna. Pantas saja saat hamil Aisha, Zivanna sempat tak mau pulang ke rumah suaminya, ternyata ada sesuatu yang Ziva alami tanpa sepengetahuan keluarganya.


Selama ini Zivanna tak pernah mengeluh atau sekedar mengadu, hingga di tahun kemarin Emyr baru tahu kalau ternyata suami Zivanna sudah memiliki bidadari lain dan menggugat cerai kakaknya.


"Emyr!" Suara Abah membuyarkan lamunan Emyr tentang masa depan Aisha dan Zivanna.


Lelaki itu menoleh ke arah lorong, di mana King dan Abah berjalan beriringan menuju dirinya yang membawa mangkuk berisi mie instan.


Emyr tentu kaget, malam-malam begini kenapa King dan Abah tampaknya dari luar lingkungan keluarga.


Abah sempat menegur Emyr yang belum tidur di jam satu pagi. Berani keluyuran padahal Khaira sedang hamil muda, terlebih dia juga membuatkan mie instan yang tidak baik untuk ibu hamil.

__ADS_1


Emyr tahu, tapi tak punya pilihan lagi selain menuruti kemauan istrinya, ngidam Khaira memang ada-ada saja.


Termasuk memakan makanan yang dulunya tidak sering Khaira konsumsi, gorengan, es, dan lainnya, Khaira menyukainya sekarang.


"Dari mana kalian?" Emyr balik bertanya setelah Abah selesai menginterogasi.


"Adik mu, dari pondok santriwati." Sedikit jawaban Abah yang lalu ditinggal pergi.


Emyr bergeming, ia menatap punggung Abah memasuki asrama santriwan yang sudah pasti untuk kembali berpatroli.


"Astaghfirullah, King." Emyr beristighfar lirih, ia menggeleng ringan menatap adik ipar yang ketampanannya setara dewa-dewa. "Kamu mau apa ke asrama santriwati?" tanyanya.


"Aku nyasar!" King berjalan mendahului, kemudian Emyr mengiringi. Mereka satu arah karena kebetulan kamar tamu King berjajar dengan kamar milik Emyr.


Emyr terkekeh. "Dinding pembatas mahram pesantren ini sangat tinggi King. Pintu masuk dan pintu keluar asrama santriwati dan santriwan berbeda, lalu kau beralibi nyasar?"


"Awas tumpah kuahnya, Mas!"


"Mas tahu!" Emyr bertukas cepat. Bukannya merasa rikuh, King justru mengalihkan pembicaraan kepada kuah mie instan yang hampir tumpah. "Kenapa, penasaran sama santriwati di sini?" cecarnya.


Entah dari mana Aisha malam-malam begini, yang pasti anak itu menangis setelah turun dari mobil yang katanya milik Abi-nya.


Meski di sekolah Aisha sering merepotkan, King menjadi terbiasa menjaga gadis cengeng keponakan kesayangan kakak iparnya.


"Tapi King nggak habis pikir, kenapa mereka betah hidup di lingkungan yang bahkan lebih menyedihkan dari penjara," gumam pemuda itu.


Emyr tertawa pelan. "Di sini mereka dapat keluarga baru. Ilmu agama juga ilmu sosial. Bagi mereka yang sungguh-sungguh, ya pasti menikmatinya."


King terkekeh remeh. Yang namanya menikmati hidup itu bukan mengejar ilmu dan keluarga baru. Melainkan kebebasan hidup yang hakiki.


Seperti mendengar deru motor yang sahut menyahut, melihat seksinya Queen race saat mengibarkan bendera catur, menghirup aroma ban yang bergesekan dengan aspal hingga terpercik debu-debu sirkuit, itu baru nikmatnya hidup ala King Miller.


"Lama banget sih?" tegur Khaira. Wanita itu berdiri bersidekap di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


"Maaf maaf. Udah lama nggak pernah masak di sini, lupa tempat-tempat nya." Emyr lalu menyodorkan mangkuk mienya. Bukan sumringah, Khaira justru memberengut kesal.


"Kuahnya kamu kemanain Gus?"


Emyr menyengir, jujur, sedari kecil dia tak pernah membawa semangkuk makanan berkuah dari dapur pesantren sampai ke kamar yang jaraknya lumayan jauh, selain sudah dingin rupanya kuahnya pun sudah surut terciprat di sepanjang jalannya.


"Bocor mangkuknya, kan Mas?" King tertawa, lalu ngeluyur pergi, berlari masuk ke dalam kamar tamunya, sebelum menjadi sasaran ngambeknya sang kakak.


"Kamu gimana sih, Gus? Makan mie tanpa kuah, gimana enak coba?" Khaira menghentak satu kali kakinya sebelum kembali masuk ke dalam kamarnya.


Emyr menggaruk-garuk kepalanya. Menghela napas panjang, sabar sesabar sabarnya. Ini tidak sesulit saat berpisah dari Khaira.


"Mau dibuatkan baru?"


"Nggak usah udah nggak napsuu."


Emyr meletakkan mienya di atas meja kecil, berjongkok di depan Khaira yang duduk memberengut di sisi ranjang.


"Terus napsuunya apa?" Lelaki itu menyengir saat Khaira membuka satu kancing bajunya, menatapnya dengan bibir yang tergigit seksi.


"Tahu begitu tadi ngapain capek-capek bikin mie, Sayang. Harusnya bisa dua jam, energi nya jadi sisa satu jam."


"Nggak apa-apa. Satu jam saja, asal membekas," bisik Khaira.


"Tunggu, tutup dulu pintunya." Emyr menutup pintu, dan Khaira menyusul, memulai lebih dulu ritualnya.


Masih berdiri di permukaan pintu, Emyr hanya pasrah menerima ketika kedua tangan Khaira menjelajahi tubuhnya.


Entah lah meski hamil muda Khaira masih menggebu-gebu soal penyatuan raganya, yang jelas Emyr tahu dia tak bisa seliar saat sebelum hamilnya Khaira. Pelan asal sampai.


"Pelankan sedikit, suaranya Sayang. Kamar ini tidak kedap suara." Emyr menegur saat Khaira mulai berisik.


Berbeda dengan kamar Emyr dan Khaira yang kian memanas. Di bilik sebelah, King terdiam menatap langit-langit kamarnya.

__ADS_1


Barusan ia mengirim pesan pada nomor Aisha. "Lu tadi kenapa, Cengeng?" Dan King melepaskan remasan kedua tangan dari rambutnya setelah mendengar dering balasan dari Aisha. [Aku baik baik saja.]


__ADS_2