Surga Tak Terindu

Surga Tak Terindu
Manis...


__ADS_3

Di atas bentangan sajadah merah, Emyr baru menyudahi shalat isya-nya. Dilanjut dengan mengadu, bersyukur, dan yah ia tersenyum manis mengingat sujud panjangnya terjawab.


Matanya menghangat, ia terharu. Nama yang selalu dia sebut di sepertiga malamnya, kini resmi menjadi miliknya: Dhiya Khaira telah halal baginya.


Usai sudah dia menghadap, Emyr celingukan mencari sosok cantik yang seharusnya sudah menjadi makmum baginya.


"Yank...," panggilnya. Setahu dia, Khaira sendiri yang mengajaknya shalat, lalu sampai ia selesai gadis itu tak jua nampak.


Emyr melipat sajadah, meletakkannya di tempat semula sebelum akhirnya dia bertolak ke kamar mandi yang riuh dengan suara gemericik air.


"Yank..."


Pintu kamar mandi terbuka seiring dengan masuknya pria itu. Di depan cermin wastafel, Khaira baru selesai mencuci wajah yang tak biasa.


"Kamu sakit?"


Emyr mendekat, menempelkan punggung tangan pada dahi, leher dan pipi Khaira. Dia peka dengan ringisan wajah istrinya yang sering ditunjukkan dari sebelum mereka menikah.


Belum sempat Khaira menjawab, mata Emyr menangkap sebungkus pembalut wanita di sisi wastafel. "Datang bulan?" tanyanya.


Khaira mengangguk masih dengan wajah yang meringis memegangi perut. Emyr tahu, kebiasaan istrinya memang selalu sakit saat mendapat tamu.


Ada moment dimana saat kuliah dulu, dia yang kedapatan mengerjakan tugas-tugas Khaira hanya karena wanita itu mengeluh sakit bulanan.


"Istirahat gih..." Besok, mereka masih harus beres-beres rumah barunya; tempat di mana mereka akan tinggal mandiri tanpa orang tua.


Emyr meraih handuk kecil Khaira, lalu mengeringkan wajah cantik istrinya. Khaira tersenyum, lama mereka dekat, baru kali ini mereka bisa seintens itu.


Bahkan, Emyr tak segan menggendong tubuhnya hingga dibaringkan di atas ranjang pengantin mereka, lantas mengambil minyak kayu putih untuknya.


"Pakai sendiri." Khaira tergelak kecil, dia kira Emyr yang akan merawatnya. Tapi lihatlah, Emyr malah menyuruhnya membaluri perut sendiri.


Sedikit Khaira menyingsing piyamanya ke atas, Emyr hanya bisa menatap kemulusan kulitnya dan terlihat sedikit meneguk saliva.


Melihat itu, Khaira menyodorkan botol minyaknya pada Emyr, seakan-akan ingin menggoda suaminya. "Kenapa tidak kamu saja?"


Emyr terkekeh ringan. "Jangan menggoda suamimu, Sayaaang," tegurnya berbisik.


Damai, sejuk, yang Khaira rasakan. Hatinya menghangat mendengar teguran mesra suaminya. Seandainya saja tidak sedang halangan, mungkin Khaira sudah lebih dulu menerkam pria ber t-shirt hitam itu.


"Emyr."


Lekat, keduanya saling menatap. Seolah terbawa arus romansa, perlahan-lahan Emyr mengikis jarak hingga menyisakan satu helai rambut saja celahnya.


Bisa dirasakan gemuruh napas yang sahut menyahut memberi gelitikan di masing-masing wajah mereka.

__ADS_1


"Aku datang bulan, Emyr." Khaira membuka sedikit mulutnya. Namun, kedekatan yang begitu intens membuat Emyr dapat mencium aroma manis dari mulut wanita itu.


Tak perlu waktu lama, dipagutnya bibir Khaira dengan mata yang terpejam. Ah, rasanya manis sekali...


Setelah sekian purnama hanya bisa membayangkannya, kini Emyr telah menyerahkan ciuman pertamanya.


Tubuh kerasnya beringsut, tanpa melepas pagutannya, secara perlahan-lahan Emyr merangkak di atas Khaira. Datang bulan, bukan berarti tidak boleh bermesraan.


Dia diperbolehkan mencumbu istrinya, selagi masih dalam batas tertentu. Bagian pusar hingga lutut tak Emyr biarkan terbuka, sebab bagian itulah yang tidak boleh tersentuh kulit kulitnya.


"Emyr..."


Khaira melerai wajah mereka, menatap dalam manik berhasrat suaminya. Baru kali ini Khaira takut pada laki-laki itu, dan seperti apa yang ada dalam benaknya selama ini, ia masih polos sedang Emyr berpengalaman.


"Aku...," Sekali lagi Emyr mematahkan kata-kata Khaira dengan kecupan yang diarahkan pada lekuk lehernya. Sontak, perbuatan itu membuat Khaira mendongak pasrah, meremas sela-sela rambut pekat suaminya.


Khaira yakin Emyr tahu batasannya. Baru sore tadi Emyr berjanji, akan menggaulinya dengan cara yang sebaik-baiknya. Takkan mungkin, seorang Emyr melanggar aturan agamanya.


Di beberapa titik ceruk leher hingga ke tulang selangka Khaira, Emyr memberikan tanda cinta berupa cap-cap merah. Entah bagaimana ceritanya sampai kalung rantai kecil yang melingkar di sana terlepas patah.


Itu hal yang membuat Emyr semakin leluasa menyisir setiap lekukan mulusnya. Desah Khaira kian menggema beriringan dengan gerakan melekat tubuh mereka.


Tak tahan dengan perlakuan suaminya, Khaira mendorong pria itu hingga terlentang, bukan untuk usai, melainkan giliran ia yang berada diatas, demi bisa melabuhkan kecupan lembut pada dahi Emyr-nya.


Wajah Emyr merangsek, di bawah kungkungan Khaira, hidung bangirnya tenggelam di antara kedua buah empuk yang membusung di atasnya.


Kembali Emyr mengambil alih posisi atas, kali ini dia sedikit menarik kerah piyama istrinya, mengecup pelan di beberapa tempat gundukan itu, sebelum menuju ujung berwarna pink untuk dipagut sedikit kuat.


Tak pelak, keduanya sama-sama lulusan kedokteran, pernah belajar bagian-bagian tubuh dan syaraf manusia. Tentu mereka tahu, apa dan di mana bagian sensitif yang akan membuat pasangannya menggelenyar.


"Emyr..." Khaira berbisik, lalu mengerling ke bawah, tempat di mana ia merasakan tusukan yang tiba-tiba saja menohok pahanya. "Sudah cukup, aku tersiksa."


Sontak, Emyr terkikik geli dibuatnya, rona merah yang Khaira tunjukan benar-benar menggemaskan di matanya.


"Sayang mau lebih?" Khaira memukul pundak lelaki itu. Bisa-bisanya dia bertanya demikian disaat dirinya sedang masa haid.


"Maaf." Emyr menyentuh perut Khaira dari luar piyamanya. "Sudah nggak sakit?"


Khaira mengangguk dengan menyertakan kekehanya. Ini minyak yang mulai berkhasiat, atau sentuhan suaminya yang mujarab, entah.


"Tidur saja, gimana?" pinta Khaira memelas.


Emyr menarik selimut tebal dari bawah betis Khaira untuk menangkup tubuh menggoda istrinya.


"Boleh minta peluk juga?"

__ADS_1


Emyr tergelak kecil, tanpa dipinta pun, Emyr akan dengan senang hati memeluknya. Ia masuk ke dalam selimut tebal yang sama, lalu memberikan lengannya untuk dijadikan sebagai naungan ternyaman kepala Khaira.


...{[<<>>]}...


Parkiran basement sebuah pusat perbelanjaan terbesar, di sana Khaira bersama suaminya. Mereka baru saja membeli banyak perintilan rumah barunya.


Pernikahan baru, rumah baru bahkan mobil pun baru. Mereka mendapat hadiah dari ayah ayah mereka: Papa Axel dan Abah Zainy.


Sebenarnya bukan hanya berbelanja saja alasan Emyr dan Khaira bertolak ke mall berlogo MCG. Ada outlet baju Emyr yang tengah digandrungi remaja-remaja muslimah, dan perlu pantauan khusus dari si pemiliknya.


Sedari jam 10 pagi mereka singgah. Di sela persiapan resepsi, mereka masih sempat membagi waktu untuk usaha-usaha yang sedang berjalan.


Senja yang terlihat dari dalam gedung menjadi alarm alamiah mereka. "Sudah mau Maghrib. Tapi masih bisa shalat di rumah," kata Emyr.


Ini Kamis terakhir Emyr berpuasa Sunnah sebelum nantinya mereka dihadapkan pada bulan suci Ramadhan.


Keduanya duduk bersisian di jok depan. Emyr mengemudi dan mobil segera melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibukota yang kebetulan tak terlalu terjeda kemacetan.


Syukurlah tak begitu padat sore ini, hingga saat sampai di lampu merah terakhir, suara adzan Maghrib merebak dari ponsel Emyr.


Selagi mobil berhenti tenang, Khaira memanfaatkan kesempatan untuk menilik dandanannya lewat cermin kecil, ia mulai mengelap sisa makeup dengan kapas yang dibasahi pembersih.


Sementara Emyr, lelaki itu sibuk sendiri merogohi tas-tas yang ada di belakang joknya, maklum, mobil masih baru, belum dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang cukup, masih terlalu berantakan isi dalamnya.


"Cari apa?" Khaira bertanya tanpa memalingkan wajah dari cermin miliknya.


"Minum."


"Di tas Khai ada."


Emyr meraih tas bahu istrinya, membuka, mengobrak-abrik isi dalamnya, kemudian menyeletukkan pertanyaan. "Sayang bawa mukena?" Dia melihat itu di tas istrinya.


"Em em...," angguk kecil Khaira.


"Udah shalat?" cecar Emyr.


"Em em." Kembali, Khaira mengangguk mengiyakan. Baru pagi tadi Khaira bersuci dari hadas haidnya, lalu Dzuhur tadi ia sudah mulai kembali shalat.


Emyr menyengir, seketika haus yang ia rasa menghilang entah ke mana. Bagi seorang suami, tiada yang lebih membahagiakan daripada berita shalat istrinya.


"Yank...." Khaira menoleh, sebuah pagutan lembut menyusul di bibir yang baru saja terhapus lipstiknya.


Tak seperti Emyr yang menikmati ciuman mereka. Khaira mendelik. "Ini tempat umum, Gus."


"Berbuka dengan yang manis. Di dunia ini tidak ada yang lebih manis daripada istriku." Emyr menyengir lantas berlanjut meneguk air mineral demi menutup puasanya.

__ADS_1


Khaira tersipu-sipu hingga pipinya kian merona merah. Meski irit bicara, suaminya paling bisa membuat dirinya tersanjung.


__ADS_2