Surga Tak Terindu

Surga Tak Terindu
Menyadarinya...


__ADS_3

Malam kian merangkul, dingin dan heningnya seolah-olah sedang berusaha menyudahi lelah yang dirasakan insan manusia.


Kenyamanan pun telah malam janjikan sepenuhnya, berharap di pagi hari nanti semua orang bisa kembali dengan rutinitasnya.


Kamar Emyr berada di lantai bawah, meski demikian, ada beranda yang bisa dia akses demi menikmati udara di luar.


Bunga-bunga yang tertancap di barisan pot berukuran sedang itu, hasil dari ketelatenan Zivanna sang Kakak.


Emyr mendekati kursi kayu goyang berwarna putih, ia duduk dan mengayun-ayun tubuhnya di atas sana.


Lekat sekali ia memandangi sepasang sepatu heels putih yang sengaja ia letakkan di meja yang juga putih.


Rupanya Khai meninggalkan sepatu di dalam mobilnya, dan Emyr baru sadar ketika sudah sampai di teras rumah miliknya.


Sejenak ia mengingat, bagaimana nalurinya menginginkan alur romansa saat berhadapan langsung dengan wanita tercintanya.


Emyr tahu dirinya terlalu melankolis, ia terus saja setia pada cinta yang tak pernah berkemungkinan bersatu seperti khayalannya.


Emyr bertanya entah pada siapa. Lelaki yang berdiri di sisi Papa Axel, siapa dia itu? Kenapa terlihat sangat peduli sekali pada Khai?


Emyr pikir, dengan menyerahnya Haikal, ia memiliki kesempatan mendekati gadisnya. Rupanya tidak, mati satu tumbuh lagi saingan yang baru.


Klik...


πŸ“₯ [Ini nomor Khai, Gus.]


Nama kontak bertuliskan ustadz Haikal juga menyampirkan sebuah kontak dengan nama Khaira. Emyr tersenyum lalu membalas chat Haikal dengan ucapan terima kasih banyak.


Beberapa saat yang lalu, Emyr menghubungi Haikal Sulaiman, demi meminta nomor Khai yang masih digunakan.


Mendapat balasan baik Haikal, segera Emyr simpan nomor Khai, lalu melayangkan panggilannya. Sempat ia bimbang dan mematikannya sekejap, sebelum ia berani mencobanya kembali.


...{[<<>>]}...


Sementara di tempatnya, Khai meringkuk di atas ranjang dan gulungan selimutnya, mata sembabnya menjadi pertanda bahwa dirinya baru saja menyudahi tangisnya.


Ia berpikir, jika saja Emyr tak mengikuti dirinya, mungkin George yang sudah lama terobsesi padanya, sudah mendapatkan apa yang tidak seharusnya.


Khai bersyukur, Emyr masih terlihat peduli padanya. Dan Khai juga merasa, Emyr masih memiliki rasa yang sama terhadapnya.


Ya Tuhan, sekali lagi Khai tepis jauh-jauh rasa itu. Bukankah sudah sangat mantap, jika dirinya takkan pernah mau merusak hubungan orang lain.


Lalu apa ini? Apakah setelah ini, dia juga akan rela dijadikan istri kedua bilamana nanti Emyr melamarnya?


"Astaghfirullah..."


Kriiiiiing... Dering yang bersumber dari telepon selulernya, ia hentikan dengan segera menekan tombol hijau di layarnya.


Mengingat, pekerjaan yang selalu bersangkutan dengan pasien, Khai tak pernah menolak panggilan seseorang. Meski nomor tak dikenal sekalipun.


"Assalamualaikum, selamat malam," ucapnya sopan seraya duduk bersandar pada kepala ranjang miliknya.

__ADS_1


πŸ“ž "Waalaikumusalam, Shan."


"Emyr?" Khai berkerut kening. Ia sentuh dadanya, di mana jantung yang berdetak mulai tak keruan.


πŸ“ž "Gimana kakinya?"


Khai mengangguk antusias. "B-baik, barusan Mama urut sedikit," jawabnya terbata.


πŸ“ž "Sepatu mu...," belum selesai ucapan pria di seberang sana, Khai sudah memekik sedikit nyaring. "Ya Allah, aku lupa, maaf Myr!"


Ia tepuk kepalanya, menyesal. Dan hening sempat melingkupi pembicaraan mereka, sebelum Emyr kembali bertanya.


πŸ“ž "Untuk apa minta maaf?"


Khai menggeleng menyesal. "Kau pasti takut Adeeva salah paham kan?" lirihnya. "Maaf, Myr. Kalau begitu aku tutup dulu. Salam buat anak dan istri mu," tambahnya.


Gegas Khai mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia sadar, posisinya tidak dalam lingkaran yang dibenarkan. "Emyr sudah beristri Khai."


Klik...


Sekali lagi, dering berbunyi. Kali ini sebuah pesan yang Emyr kirimkan dengan nomor tak dikenalnya.


πŸ“₯ [Aku sudah tidak bersama Adeeva.]


"Hah?" Khai mendelik penuh tanya. Kemudian, satu pesan lagi menyusul masuk.


πŸ“₯ [Kami bercerai lima tahun yang lalu. Saat itu kami saling sadar, bahwa tidak ada surga dalam pernikahan kami.]


πŸ“₯ [Kalau boleh aku jujur. Rasaku masih sama, dari dulu sampai sekarang, masih hanya padamu, Khaira.]


Pesan teks yang berhasil membuat Khai tersenyum. Bahkan saking bahagianya, air mata pun ikut merayapi pipi mulusnya.


Pesan itu bukan pesan terakhir. Karena mereka berlanjut saling membalas sampai azan subuh berkumandang.


...{[<<>>]}...


Pagi melayangkan embun segar. Perlahan embun-embun itu terkikis, dan mekarnya senyum Emyr, sudah mengalahkan cerahnya mentari pagi ini.


Meja makan minimalis berbentuk kotak itu dihuni oleh Emyr, Abah dan Ummi-nya. Ketiga tiganya baru saja ingin memulai ritual sarapan pagi bersama.


Klik...


Emyr tersenyum mendapat pesan teks dari nomor yang ia simpan dengan nama SUN, atau matahari. Yah... Matahari di hatinya.


Mungkin angin bisa datang dari arah mana saja, tapi matahari selalu setia; yaitu terbit di timur dan terbenam di barat, seperti cintanya kepada Khaira.


Tak tidur semalaman, tapi entah lah Emyr bersemangat sekali pagi ini.


Ummi ikut tersenyum melihat senyum manis Emyr yang telah lama menghilang, kini seolah kembali bermekaran. Binar bahagia yang entah berasal dari mana, pastinya menambah ketampanan putra bungsunya.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri begitu, Gus?" Ummi pada akhirnya bertanya penasaran. Tak seperti biasa, Emyr tak berhenti tersenyum, bahkan sesekali terkikik kecil saat mengutak-atik ponselnya.

__ADS_1


"Tidak Ummi," sanggah Emyr. Ia menyudahi chat-nya, lalu benar-benar serius memulai ritual sarapan paginya.


Di atas kursinya, Abah Zainy Dahlan juga penasaran, tapi sebisa mungkin ia tahan sampai makan pagi mereka selesai.


Usai sarapan, Abah sengaja mengikuti langkah Emyr yang keluar dari rumah. Ia harus bicara dengan putra bungsunya tanpa diketahui istrinya.


"Gus." Emyr menoleh kaget, bahkan membalikkan tubuhnya menghadap sang Abah yang kini berdiri menatapnya.


"Iya Bah..." Emyr mengernyit tipis. Tumben sekali Abah mau mengantarnya sampai keluar rumah. "Ada apa?" tanyanya.


"Apa yang sedang kamu sembunyikan dari Ummi mu?" tanya Abah.


Emyr menghela pelan, meredup tatapan matanya. Ia tahu Abah pasti penasaran, dengan siapa dia melakukan chat barusan.


"Siapa yang kau dekati? Jangan mendekat pada zina, Gus," peringat Abah. "Di usia mu yang sekarang, kau sudah perlu istri untuk menghindari jahatnya syahwat mu."


Emyr menunduk. Abah benar, karena nyatanya, ia tak mampu mengendalikan diri saat bertemu dengan Khaira-nya. "Apa Abah siap mendengar pengakuan Emyr?" tanyanya.


Abah terdiam, jujur ia sedikit takut mendengar pengakuan Emyr yang tidak pernah sesuai dengan kemauannya.


Tak seperti Hilman dan Zivanna, Emyr selalu melakukan hal yang bisa dikatakan keluar dari tradisi keluarganya. Contohnya pekerjaannya yang jauh dari kebiasaan para Gus.


"Seperti Abah yang mengaku hanya pernah mencintai satu pasangan hidup, Emyr pun sama, hanya pernah memiliki rasa ini kepada satu wanita saja."


Abah berdesir mendengarnya. Ungkapan Emyr barusan, begitu membuatnya ketakutan.


"Selain Ummi dan Ning Zivanna, Shanshan wanita satu-satunya yang Emyr cintai, Bah."


Lagi, Abah hanya mampu bergeming.


"Abah pasti tahu betul, ustadz Haikal tidak jadi menikahi Shanshan."


Yah... Abah memang sudah tahu sedari awal, hanya saja, Abah sengaja tak memberitahu putranya. "Keluarganya pasti tidak menyukai kita, Gus," sanggahnya.


"Abah pasti tahu alasan mereka membenci kita," sahut Emyr dengan nada lirihnya. Dan Abah sadar betul apa yang membuat keluarga Miller membenci mereka.


Sudah jelas karena penolakan menyakitkan yang enam tahun lalu mereka lontarkan kepada putri berharga milik keluarga Miller.


Mereka memang keterlaluan, terlebih ucapan adik-adik iparnya. Belakangan Abah juga baru tahu, adik iparnya yang semula bersemangat menyatukan Adeeva dan Emyr telah mendapat ladang dari Kiyai Abbas; ayah Adeeva.


Emyr paham betul. Secinta itu Abah pada Ummi-nya, hingga Abah sengaja menutup mata dengan perilaku salah adik-adik Ummi Fatimah yang serakah.


"Nasi sudah menjadi bubur, Emyr."


Emyr menggeleng. "Tapi bukan berarti, bubur juga tidak layak kita nikmati, Bah," katanya.


"Hanya ada dua pilihan yang Emyr mau, Abah melamar Shanshan untuk Emyr, atau biar saja Emyr hidup dengan kekosongan."


Abah Zainy tertegun. Sikap dan watak putra bungsu kesayangannya itu, memang sangat berbeda dengan putra putri lainnya. Di balik kediaman dan ketenangan Emyr dzemir, ada keras membatu yang tak mampu ia pukul hingga hancur.


Namun, kembali ia berpikir waras, bukankah saat ia memberikan nama dzemir, ia tahu bahwa Emyr dzemir berarti raja yang kuat, tangguh, dan seperti besi maka sekeras itu lah kesetiaan Emyr putra bungsunya.

__ADS_1


πŸ“Œ Huaaa, thanks yg masih setia... Lopeee kalian semua pokoknya....


__ADS_2