Surga Tak Terindu

Surga Tak Terindu
[SEKIAN]


__ADS_3

Emyr dan keluarganya punya cerita. Banyak hal yang tidak bisa dinalar tapi perlu dipahami oleh semua kalangan, termasuk para Gus.


Kali ke tiga Emyr diminta silaturahmi dengan mantan Mas iparnya. Lukman yang juga seorang Gus berbicara dari hati ke hati dengannya, meminta pengertian dari seorang Gus juga yang sama sama harus menerima perjodohan dari para ayah Kiyai mereka.


Dahulu, Zivanna terpaksa dinikahi. Dan tak ada cinta yang menyertai hubungan mereka. Sama seperti saat Emyr menikahi Adeeva. Mungkin dengan penganalogian itu, Emyr bisa mengerti posisinya.


"Aku tidak bisa berbuat banyak. Apa pun alasan Mas berselingkuh. Tetap saja, aku tidak bisa membenarkannya. Aku tahu aku pernah berada di posisi yang sama dengan Mas. Tapi kita berbeda." Emyr sedikit menunda kata-kata yang lumayan sensitif bagi bibirnya.


"Mas meniduri dia yang Mas anggap sama sekali tidak Mas cintai. Mas dan Ning Ziva punya anak. Sekarang, Aisha yang jadi korban keegoisan dan keserakahan Mas."


Emyr menuntaskan kata yang sebenarnya malu untuk dia utarakan, sedang di sisinya ada Egi yang duduk menemani mediasi nya bersama Lukman.


"Bukankah manusia berhak memiliki kesempatan ke dua Emyr. Dan Mas minta kesempatan itu, Mas mau memperbaiki semuanya."


"Sayangnya sudah terlambat, Mas," geleng Emyr. "Sangat terlambat. Setelah tahu perbuatan zina mu, Ziva kekeuh untuk tidak memberimu kesempatan lagi."


Di sisinya, Egi cengar-cengir, sudah pasti Emyr menolak Lukman karena Zivanna akan kembali dijodohkan dengan laki-laki yang lebih baik.


"Kenapa?" Lukman bertanya serius.


"Ning Zivanna sudah memiliki kekasih. Dan mereka akan kami nikahkan secepatnya. Kalau tidak bulan depan mungkin Minggu depan."


Lukman terhenyak sesaat. Secepat itu acara yang akan Zivanna langsungkan. "Kau tidak bertanya dulu, Aisha setuju atau tidak?"


"Aisha setuju," angguk Emyr.


"Siapa?" Lagi-lagi Egi cengar-cengir, siapa lagi kandidat terbaik selain dirinya?


"Mas Rey." Jawaban yang membuat wajah songong Egi menguap lenyap. "Gus?" Dia pikir Emyr akan menyebutkan namanya 'Sialan!'


"Rey?" Ada yang lebih tersentak dari pada Egi rupanya. Lukman tak percaya nama yang Emyr sebutkan itu, akan menjadi pengganti dirinya. "Mantan Zivanna?"


"Benar." Emyr mengangguk. Saat dijodohkan, Zivanna memiliki kekasih dan harus putus setelah Abah mengutarakan dekritnya.


"Rey mantan anak motor. Rey mantan aktivis yang anarkis. Kau tahu, Rey tidak lebih baik dari Mas. Pikirkan gimana Aisha nanti, Myr," tegur Lukman menggebu.


Daripada Lukman, Emyr lebih paham bagaimana Rey Bagaskara. Mantan Zivanna yang sangat badung itu kini bekerja di BNN.


Dulu memang Rey anak motor, sering tawuran, dan jauh dari kata pantas untuk dijadikan menantu Kiyai, tapi Emyr memiliki feeling bagus pada duda ditinggal mati itu.


Emyr menyaksikan sendiri saat Zivanna dan Rey bertemu di toko buku. Anak badung yang katanya ketua Genk motor itu menemui Ziva dengan cara saling memunggungi di kursi masing-masing. Dan itu terlihat manis sekali.


"Keputusan ini bukan satu atau dua hari, Mas. Kami sudah memikirkan matang-matang, dan Rey jodoh yang terbaik untuk Ning Zivanna Insya Allah," kata Emyr.


"Tapi Myr..."


"Sekarang Mas harus ikhlas. Ayah tiri tidak seburuk bayangan Mas. Aku lihat, Aisha sudah mulai bisa menerima kondisi perceraian kalian, dan aku harap, Mas juga terima perpisahan ini sudah tidak bisa dirujuk kembali," tambahnya.


Lukman bergeming. Bukan soal penolakan Emyr. Pikirannya justru berkelana sendiri. Bagaimana bisa Zivanna berhubungan dengan Rey kembali. Atau jangan-jangan Zivanna sudah lama mengkhianati dirinya?


Baru satu tahun lebih mereka bercerai, Zivanna sudah mau menikah dengan sang mantan. Kacau, otaknya mencemburui mantan istrinya yang tak pernah sekalipun mau bicara dengannya.

__ADS_1


...{[<<>>]}...


"Kau mengkhianati ku, Gus!" Di jok mobil yang melaju sedang, Egi memberondong Emyr dengan kalimat menyudutkan. "Kau tahu aku menyukai Zivanna!"


"Panggil Mbak, dia lebih tua dari mu!" tegur Emyr.


"Kau teman yang menyebalkan!"


Emyr terkekeh ringan. "Maaf, tapi Mbak yu ku tidak mau menikah dengan yang lebih muda darinya. Lagi pula, hubungan antara Ning Zivanna dan Mas Rey bukan sehari dua hari. Jauh sebelum itu. Mereka sudah pernah pacaran."


"Kau mematahkan ku!"


"Jangan lebay. Kau masih bisa cari yang lain. Yang sepantar dengan mu!"


Sempat terjadi keheningan, lalu Egi kembali bersuara. "Kau yakin calon Ziva baik? Kapan Ziva dan mantannya bertemu?"


Emyr mengangguk yakin. "Kau pasti masih ingat, setelah aku melamar Khaira. Ning Ziva tinggal di Jakarta, dan outlet baju kami yang mempertemukan kembali mereka."


Lagi, Egi tergelak. "Hanya karena kau bertemu Khaira di outlet itu, kau menganggap Ziva dan mantannya juga berjodoh?" tanyanya remeh.


"Gus! Kau dengar?" Egi memekik setelah tak cukup puas dengan jawaban Emyr. "Ziva tidak menyukai berondong, paham?"


"Aku tunggu Aisha saja kalau begitu," gerutu Egi. Bibirnya masih memberengut kecut.


Emyr tertawa. Apa pun itu, Emyr lega karena setelah sekian lama dilema, ia tak perlu lagi khawatir pada Zivanna. Dan sekarang, ia bisa lebih fokus pada istrinya yang sedang hamil besar.


...{[<<>>]}...


"Myr..." Emyr kaget mendengar panggilan seseorang dari arah ruang santai. Lampu mati seluruhnya, Emyr kira tak ada siapa pun di sana.


"Pa..." Meski belum melihat langsung wajah Axel, Emyr tahu dari suaranya laki-laki itulah yang menegurnya. "Papa belum tidur?"


"Belum."


Tak lama pandangan Emyr menjadi terang, dan Axel pun terlihat jelas di hadapannya sekarang. Lampu sudah dinyalakan.


"Assalamu'alaikum, Pa." Pria itu mencium punggung tangan mertuanya.


Axel menjawab salam pelan. "Kau baru pulang?" tanyanya setelah itu.


Emyr mengangguk. Ia tahu pertanyaan itu bukan karena Axel tak tahu kepulangan Emyr yang memang baru saja sampai. Tapi, lebih kepada menanyakan kenapa baru pulang.


"Kau tahu, Khaira hamil besar. Dan kau pulang selalu nya larut malam."


Emyr bergeming. Ia lantas melanjutkan langkah cepat menuju kamar istrinya, sesaat setelah Axel mendengus dan pergi dari hadapannya.


"Assalamualaikum calon Abi."


Di kamar, Khaira belum tidur. Seperti biasa Khaira susah tidur, miring kanan miring kiri sudah terasa sesak dan serba salah.


"Yank. Waalaikumusalam."

__ADS_1


Khaira tersenyum. "Ambilkan bantal." Emyr segera tandang meraih dan meletakkan satu bantal lagi untuk menopang punggung Khaira yang ingin duduk.


Sementara dirinya, duduk berjongkok di sisi ranjang sang istri. "Belum tidur? Sesak napas hmm?"


Khaira tersenyum tipis, ia menangkap wajah peduli sang suami. "Yah beginilah, namanya juga bumil, pasti merasakan macam-macam."


Emyr meredup ekspresi. Sebagai seorang dokter, istrinya tentu lebih bisa bersikap, setidaknya ia paham apa yang diperbuat untuk mengurangi rasa tak nyamannya.


Namun tetap saja, ia suami yang harusnya selalu ada di masa-masa kehamilan tua istrinya. Sindiran halus dari tuan Axel yang dingin lumayan menohok barusan. Emyr jadi semakin merasa bersalah.


"Maaf," ucap Emyr.


"Kamu selingkuh??"


"Ada klien yang godain kamu?"


"Ditembak junior mu?"


"Lalu?" Khaira pada akhirnya menanyakan itu setelah gelengan demi gelengan Emyr berikan untuknya. "Buat apa minta maaf?"


"Lagi-lagi aku terlalu sibuk." Wajah Emyr mendusel ke punggung tangan Khaira, dari pangkuannya Emyr juga masih menatap dalam manik biru wanita itu.


"Maaf jarang berkomunikasi sama Baby Boy di perut." Tak lupa, Emyr juga mengusap dan menempelkan telinganya di dinding perut Khaira. Ada tendangan yang menyambut kedatangannya, Emyr terkekeh mendapatinya.


"Tidak perlu minta maaf. Meskipun jarang ada di rumah, Kau suami yang baik ... Kau bilang hidup itu ujian. Ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, semua itu ujian yang dilalui semua orang bukan? Aku terima ujian-ujian itu, asal tidak diuji oleh ketidak setiaan mu."


"Kau boleh kubur aku hidup-hidup jika aku melanggar janji setia ku," potong Emyr.


Khaira tersenyum lalu mengusap lembut kepala lelaki yang tengah membenamkan wajah di atas pangkuannya.


"Asal tidak kamu berikan aku surga yang tak pernah aku rindukan. Aku masih bisa setia menunggu pulang mu," kata Khaira.


"Tidak akan pernah terjadi hal seperti itu."


Emyr mengecupi telapak tangan Khaira yang berlabuh di pipinya. Terasa damai aroma wangi ini, begitu candu. "Aku mencintaimu dari dulu hingga nanti. Bismillah."


Khaira tersentuh. Sejak kehadiran Emyr hingga kini ruang hatinya terasa damai.


Khaira bersumpah pada diri sendiri, untuk tidak membiarkan Emyr sendiri. Hanya ingin memiliki satu, seutuhnya cinta sejati telah menjadi harga mati dan tidak bisa dunia ini tawar lagi.


Bentuk kesetiaan cinta itu beragam. Salah satunya adalah dengan selalu bersama orang yang dicintai untuk waktu yang lama.


Pernah Khaira dan Emyr berpisah, jujur ia hampa sehampa hampanya, meski banyak yang menemani, hatinya tetap sepi. Khaira memilih mengosongkannya sampai Emyr kembali mengisi relung hatinya.


Waktu lima tahun tanpa Emyr sudah lebih dari cukup. Meski pekerjaan acap kali menjadi penghalang kebersamaan mereka, Khaira ingin selalu jadi istri Emyr. Sekarang hingga ajal memisahkan.


Cinta Emyr yang ditinggalkan di hatinya semakin bersemi, tanpa layu bentuk kasih sayang itu tersirami.


Bulan madu ke luar negeri, insya Allah mereka akan melakukannya tapi setelah Emyr kecil sudah lahir ke dunia. Baby boy pasti suka bisa ikut pergi ke tanah suci.


Yah... Sebelum ke Paris, Khaira sudah menjadwalkan diri untuk bisa datang ke Mekkah bersama suami dan mertuanya.

__ADS_1


...{[<<>>]}...


__ADS_2