
"King, cewek cengeng Lu tuh!"
Dewa melirik ke arah Aisha yang tergesa-gesa mendatangi mereka. King menautkan alis, tak biasa biasanya Aisha mau dekat-dekat Genk motornya.
Parkiran, tempat King dan sekumpulan anak elit tersebut menduduki masing-masing kuda besinya.
Mengingat, bapak-bapak mereka punya peran penting, sedari mereka masih kelas 8, hanya mereka yang terlihat dominan di gedung internasional school gabungan ini.
"Caila... Adem banget liatnya. Berjilbab, putih, serius, impian Roland banget, Aisha." Pemuda di sisi Dewa bergumam seraya menopang dagunya, menatap mendekatnya Aisha.
"Empang kali adem." Mahesa yang terkenal dengan sebutan Esa menyeletuk.
"Serius, jarang banget ada cewek yang modelan kayak Aisha di sekolah kita. Pakaiannya rapi, bicaranya sopan..."
"Ya elah... SPG di mall juga rapih rapih, sopan sopan, malah nyengir mulu." Esa yang paling anti Bucin terus menepis bualan Roland.
Lalu, semua yang tadi berisik terdiam seketika King menatap ke arah mereka.
"King " Aisha menunduk, bahkan berusaha tenggelam di sisi tangki motor milik King seperti sedang bersembunyi. "Bisa antar Aisha pulang?"
Dari raut wajah Aisha seperti ketakutan. King menatap ke arah lain, di mana ada pria tinggi celingukan menoleh ke kanan dan kiri.
"Lu kabur dari orang itu?" King menatap ke bawah, ke arah Aisha yang masih berjongkok di sisi Harley Davidson miliknya, dan gadis itu mengangguk angguk.
King melepas jaket hitamnya, melempar pada kepala Aisha. "Naik!" titahnya.
Aisha menurut, sambil jongkok dirinya mengenakan jaket King demi menutupi sebagian seragam dan hijabnya dengan hoodie.
"Cabut!"
Dewa dan lainnya mengangguk dengan kata beresnya. Lantas, Harley Davidson King segera melaju setelah Aisha duduk aman di jok belakang.
^^^{[<<>>]}^^^
{[<<>>]}
^^^{[<<>>]}^^^
Sore harinya....
Emyr berlari setelah turun dari mobil, suara ketakutan Zivanna membuatnya terpaksa meninggalkan meja kerja. Ia masuk ke dalam rumah lamanya, rumah yang ditempati Ziva.
__ADS_1
Pintu depan tak tertutup bahkan terbuka sangat lebar. Emyr cemas, dan benar saja Lukman ayah Aisha berdiri mengetuk ketuk pintu kamar kakaknya. "Mas."
Lukman terlihat menundukkan kepala, sedikit terlihat kelelahan. Tak ayal, Zivanna sudah membuat lelaki itu berjam-jam berdiri di depan pintu.
"Mas mau bicara, Gus. Biar Mas ketemu Aisha sama Ziva." Sangat lirih suara Lukman saat mengiba pada mantan adik iparnya.
"Kalian sudah bukan suami istri. Tidak pantas Mas berbuat seperti ini. Masuk ke dalam rumah tanpa ridho dari pemiliknya." Emyr menegur.
Lukman menunduk kembali. Dia tidak punya pilihan lain, hanya Aisha putri satu-satunya yang dia miliki dan gadis itu tak pernah mau bermanja manja dengannya lagi.
Ziva memang tak pernah melarang dirinya menghubungi Aisha, tapi Aisha sendiri yang tak sudi tinggal dengan ibu tiri. Terakhir, Aisha menangis dan minta dipulangkan saat dibawa menginap ke rumahnya.
Berulang kali Lukman merujuk mantan istrinya. Namun, Ziva tak pernah mau, bahkan terkesan lari darinya, sampai harus pindah kota membawa Aisha kesayangannya.
Belum satu tahun bercerai, Lukman merasa dunianya sudah tidak sempurna.
Saat pulang dari kampus tempatnya mengajar, sudah tak ada yang menyambut kedatangannya dengan senyum manis dan secangkir kopi, terlebih tak ada gadis cantik yang bergelendot meminta liburan.
Meski belum bisa menceraikan istri yang dinikahinya sembilan bulan lalu. Lukman sudah sibuk meminta rujuk pada Zivanna.
"Biar aku ketemu Ning Ziva, Gus."
"Keluarlah. Emyr di sini."
Tak lama pintu terbuka, Aisha yang membuka sedang Zivanna duduk terdiam di pinggiran ranjang kesepiannya.
Lukman segera memeluk putrinya sambil menatap nanar mantan istri yang telah lama tak ia lihat. Terakhir, saat dia mengikrarkan talak di pengadilan, ketika Ziva masih sangat kurus.
Sekarang, wanita itu sudah lebih berisi, cerah, segar dipandang. Berbeda dengan saat masih menjadi istrinya, ketika wanita itu masih diam di atas luka-luka yang dia torehkan.
"Kamu yakin tidak mau kembali? Setidaknya demi Aisha, kembalilah. Aisha tidak mau tinggal bersama ku, jika tidak dengan mu."
Ziva tak beringsut, tak menyahut, apa lagi membalas tatapan mantan suaminya. Lima belas tahun dirinya bertahan demi Aisha.
Berharap, lelaki pilihan Abah-nya itu benar-benar Sholeh seperti yang Abah-nya ucapkan. Berapa kali saja Lukman berkhianat.
Awal hubungan, Lukman berselingkuh dengan mantan kekasih. Alibinya, dia menikah dengan Zivanna tanpa rasa cinta.
Setelah putus, Zivanna kira itu akhir dari pengkhianatan Lukman. Rupanya tidak, Lukman masih sering tergoda murid-murid cantiknya.
Terakhir, Lukman menggugat cerai dirinya hanya karena selingkuhannya mengaku hamil dan minta dinikahi tapi tak mau menjadi madu. Yang mana itu berarti, Lukman harus menceraikan Zivanna terlebih dahulu.
__ADS_1
Disitu Zivanna melihat titik terparah dari ulah suaminya. Selama ini, Ziva kira suaminya takkan pernah berani menyentuh wanita lain.
Dia kira semua laki-laki seperti Abah-nya yang seumur hidupnya hanya pernah menyentuh Ummi-nya.
Seperti Hilman yang hanya pernah mengenal kakak iparnya dan seperti Emyr yang bahkan tak mau menyentuh Adeeva dengan alasan hanya mencintai Khaira.
Sedari awal pernikahan Lukman mau menyentuh dirinya meski Lukman bilang hanya untuk kewajiban. Dan bodohnya Ziva terima terima saja.
"Pulang lagi ke rumah. Aku janji akan ceraikan Iriani. Untuk mu." Kembali lelaki itu menghiba.
Ziva tahu itu hanya alasan. Ziva orang yang paling mengenal perangai lelaki itu. Ziva tahu bukan karena dirinya Lukman rela bercerai, tapi karena Iriani tidak hamil anaknya, Iriani telah berhasil menipunya mentah-mentah.
"Bicaralah, Ning."
Bermenit-menit sudah mereka melingkar di sana. Ziva tak mau mengeluarkan sedikit pun suaranya.
Hal itu lalu diputusi oleh Emyr, dia harus mengusir halus Lukman yang sudah bukan siapa-siapa bagi kakaknya. Karena seberapa pun merengek nya Lukman, Ziva tak bersahut.
Emyr menutup pintu rumahnya. Duduk lemas di atas sofanya. Sedikit bimbang, sementara Khaira tengah hamil dan butuh kehadirannya, sisi lain Zivanna butuh seseorang.
Di tengah ricuhnya hati, Egi sahabatnya menelepon. Jelas lelaki itu mencari setelah tanpa izin ia keluar dari kantor.
π "Kau di mana, Gus?"
"Biasa, Mbak yu ku."
π "Kan. Apa aku bilang, Ziva butuh suami. Sudah serahkan saja padaku. Kau tahu, aku lelaki baik-baik. Setidaknya, kau tidak bingung membagi waktu seperti beristri dua kan?"
"Ck!" Emyr berdecak di hamparan dilemanya.
π "Biar aku melamar kakakmu, kau jadi adik ipar ku. Bukankah itu seru, Gus? Tidak perlu repot-repot, aku punya anak gadis secantik Aisha."
"Sialan!" Tawa Egi menyulut emosinya.
π "Aku serius. Aku langsung bergerak kalau seandainya Neng Ziva mau."
Emyr mendengus. Hampir setiap menit Egi menanyakan tentang Zivanna.
Sebenarnya Egi kandidat yang baik untuk dijadikan pasangan, tapi usia Egi masih 26 tahun; sepantaran dirinya, terlalu muda untuk Zivanna yang sudah berusia 34 tahun.
π Masih betah kah kalian di sini? π
__ADS_1