
"Sayang..." Emyr menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Khaira. Wanita itu baru saja memejamkan mata, kini harus terbangun oleh uyelan suaminya.
Khaira bergeming dengan mata yang berkedip pelan untuk sesekali. Tak ada sahutan, tak ada sapaan, Khaira diam cukup lama demi menatap datar suaminya, lalu kembali menutup matanya.
Emyr tahu Khaira lelah menunggunya hingga kantuk menguasainya. Emyr kecup bibir istrinya, kali ini lembut dan terselip rasa bersalah.
Resepsi sudah dekat, orang bilang selalu ada rintangan di segala moment spesial. Di saat hari bahagia itu akan tiba, Khaira justru diuji oleh ketidak hadiran suaminya akhir-akhir ini.
Emyr, terkesan lebih banyak menuangkan waktu untuk bisnisnya, kasus-kasusnya, dan sekarang ditambah Aisha juga Zivanna.
Menikah belum genap satu bulan, Emyr sudah sering pulang malam, bahkan pagi.
Satu seri sebenarnya, Khaira disibukan dengan program spesialisnya, Emyr dengan pekerjaan yang bejibun dan menyita banyak waktunya.
Tak seperti saat masih kuliah dulu, satu Minggu ini mereka jarang sekali mengobrol, jarang berkomunikasi secara face to face, malah lebih sering chat daripada berhadapan.
Masih ingin menciuminya, Emyr merasa ada dorongan tangan Khaira sebelum perempuan itu berbalik arah membelakangi dirinya. Emyr menghela napas lalu terpaku sebentar.
"Apa aku terlalu sibuk, Yank?"
Khaira tak menimpalinya, lagi pula, apakah masih perlu dipertanyakan lagi, sedang waktu yang tersisa untuk Khaira hanya sedikit dari banyaknya menit yang Emyr miliki, itu pun saat terbangun dan akan beranjak tidur, lalu setelahnya mereka sama-sama sibuk dengan masing-masing aktivitasnya.
Kebetulan masih bulan ramadhan, waktu bermesraan pun terbatas. Jujur saja, Emyr tak pernah bisa menahan diri jika sudah menyentuh kulit-kulit istrinya, maka akan lebih aman jika dia tak merayunya sampai waktu berbuka sudah tiba.
__ADS_1
Tanpa disadari olehnya bahwa hal itu justru meninggalkan kesan cuek, karena saat malam, Emyr justru sering terpaku di hadapan laptop dan kegiatan meeting yang sering tiba-tiba dilakukan setelah penemuan bukti baru.
"Aku minta maaf kalau aku terlalu sibuk, Yank." Emyr terdiam sesaat sebelum menemukan ide bujukannya. "Gimana kalau kita pergi bulan madu setelah resepsi?"
"Nggak usah janji, kamu nggak mungkin ninggalin kasus-kasus kamu, bisnis kamu, juga kegiatan sosial kamu, Gus!"
Emyr tergelak di sela kagetnya, Khaira tiba-tiba saja terkekeh remeh. Kembali ia menarik lengan Khaira hingga keduanya saling menatap dalam-dalam.
"Aku janji deh, aku beneran ambil cuti. Demi kamu, istriku. Apa pun untukmu, Sayang."
Khaira meluluh. Dan Emyr tahu Khaira takkan pernah bisa marah padanya lebih lama lagi, terlebih jika dirinya sudah mengepakkan sayap rayuannya lewat rabaan mesra, takkan mungkin Khaira menolaknya.
"Sebelum waktu sahur, boleh yah." Emyr berbisik. Dress mengkilat yang hanya sekelumit itu Emyr singkap ke atas hingga terlepas dari raga mulus istrinya.
Bibir mereka beradu, dari yang pelan, beralih memanas, hingga tanpa sadar lidah keduanya berperang bebas di dalam sana. Belum lagi, suara cecapan mereka, kian memancing gairah dan hasrat yang tiba-tiba membara.
Saat mulai menegang, seketika itu pula Khaira dibuat kecewa oleh beringsut-nya pria itu, ia membuka mata, dan di sisi ranjang Emyr memupuskan seluruh kain yang menjadi penghalang.
Lagi, dirinya terhentak oleh tindihan yang menimpa pahanya, Khaira melenguh pelan kala dadanya dijadikan sasaran pertama yang dimainkan oleh benda tak bertulang.
Khaira tersenyum sambil menahan keluh yang tak ingin menjadi erangan, terlihat manja dan menggemaskan jika Emyr sudah di posisi seperti ini.
Sedang ia hanya sibuk bermain dengan rambut pria itu seraya mengendalikan tubuh yang bergerak tak menentu saat lidah itu semakin lincah merajai pucuk dadanya.
__ADS_1
Khaira meluapkan desahnya, setelah sekuat tenaga ia menahannya karena tubuh intinya terbelah dan mulai penuh serta sesak.
Suara seksinya memancing hasrat Emyr menjadi menggebu, hingga ingin hal yang lebih berani lagi daripada itu.
"Bilang kalo sakit." Emyr bersiap diri untuk melesak, dan disaat bersamaan cengkraman erat Khaira mengenai pundaknya.
Terlebih ketika deru dera napas Emyr bercampur dengan desah erangan berat, sungguh, Khaira dibuat melayang-layang oleh hentakan-hentakannya.
"Emyr..."
Pria itu tersenyum, dengan sapuan tangan yang menyinggahi ekor mata Khaira. Bisa disimpulkan seberapa puas Khaira oleh permainan yang masih berjalan ini.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya, merasai pertempuran sengit yang tengah berpacu di bawah sana.
"Tetap bersamaku dalam keadaan apa pun..., sesibuk apa pun kegiatanku, ingatkan, saat aku mulai membuat mu muak, ingatkan, saat aku mulai tidak tahu diri, dan ingatkan saat aku mulai acuh padamu. Aku mau kamu menjadi yang pertama dan terakhir bagiku, aku mau cuma kamu yang bisa melihatku segila ini, aku mau hanya aku yang bisa merasakan hangat dan manisnya tubuhmu."
Air mata di pipi Khaira mendadak bertambah, Emyr selalu mampu membuatnya luluh lantak seperti ini.... "Aku mencintaimu Shanshan."
Suara sengal dan ritme gila Emyr membuat Khaira tak mampu menahan ledakan besarnya. Khaira meletup-letup, dan sebentar lagi akan segera meledak.
Namun, Emyr masih berapi-api, sedang Khaira menggeleng saat dirinya mulai tak mampu menunggu siraman surgawi.
Dia memeluk suaminya, melepaskan buncahannya seraya menancapkan sepuluh kuku pada punggung lelaki itu; tanpa sadar.
__ADS_1
"I love you too..."
...📌 Setelah melakukan mediasi bersama si Om, Wkwk, saya memutuskan untuk merombak bab sebelumnya... bab yang mengangkat King dan Aisha... mereka akan dipisahkan di nopel bergenre remaja... thanks... KK readers sayang......