Surga Tak Terindu

Surga Tak Terindu
Makan orang...


__ADS_3

"SAH..."


Di dunia ini, seolah tak ada yang lebih bahagia daripada Emyr dan Khaira. Acara akad yang digelar sederhana sudah terlaksana.


Terkecuali Alex dan Caroline yang masih ada urusan penting di California, semua kerabat dekat mendapat undangan. Setelah lebaran, mereka baru akan mengundang banyak tamu untuk meramaikan acara resepsinya.


Ijab kabul telah mengantar Dhiya Khaira kepada status ISTRI. Ada yang mengintip dan tak bisa Khaira tahan di sudut netranya, ialah air mata bahagia yang lalu dibasuh sentuhan tangan halal suaminya.


Emyr tersenyum, ini kali pertama ia bahagia melihat tangisan Khaira. Tangisan haru, tanda bahwa gadis itu sangat mencintai dirinya.


"You're mine." Dia meraba pinggang Khaira seraya membisikkan kata-kata. "I love you," dengan mesranya.


Khaira membesarkan mata, seperti setengah tak percaya jika suaminya bisa berlaku demikian. Kemarin gerakan dan bicara Emyr masih kaku, kini lugas dan lebih agresif.


Positif thinking saja, mungkin pagi tadi kepala Emyr baru saja kepentok sesuatu. Benar, seorang Emyr tak mungkin seagresif itu.


Selesai akad dilangsungkan, Kiyai Zainy bangkit dari duduk, lalu menepuk-nepuk punggung besannya. Sedari tadi, manik biru Axel tampak berkaca-kaca.


Zainy tahu, Axel terharu. Sama, seperti saat dirinya melepas Zivanna untuk diperistri seorang pemuda.


"Kalau Tuan masih punya dendam padaku, caci maki saja aku. Tapi ikhlaskan Emyr menjadi imam Khaira," katanya.


Axel terkekeh. "Seandainya kita masih muda, mungkin aku sudah mengajakmu duel di ring tinju. Kiyai tahu, aku masih membenci mu."


Zainy terkikik, keduanya lantas saling memeluk khidmat. Doa dan harapan mereka tetap sama, yaitu kebahagiaan sepasang mempelai pengantin.

__ADS_1


Ada masa lalu, untuk masa yang saat ini dilalui. Axel tak menyesal telah memaafkan, karena sebagai gantinya; Khaira bahagia.


...{[<<>>]}...


Selesai menyiapkan hidangan makan malam, Lilyana memanggil seluruh tamunya ke meja panjang.


Satu baris untuk keluarga Khaira, satu barisnya lagi untuk keluarga Emyr. Terkecuali Khaira dan Emyr yang sudah masuk ke dalam kamar pengantinnya.


Semua anggota keluarga kedua mempelai mengisi masing-masing kursinya, duduk saling berhadap-hadapan.


Meski berbeda-beda tradisi keluarganya, mereka bersatu untuk saling menerima perbedaan itu sendiri.


"King...." Lilyana celingukan, putra bungsunya benar-benar tidak pernah bisa membuatnya tenang. Dalam keadaan ramai begini, King tak bersamanya.


Ia menatap karyawannya. "Cari King, biar dia ikut makan malam bersama kita."


Sontak, kedatangan King mendapat sambutan hangat dari berpasang-pasang mata yang ada. Meski sedemikian juteknya, King punya cara tersendiri untuk membuat orang lain betah menatapnya.


"Dasi kamu Sayang." King duduk di kursi yang Lilyana siapkan. Lily juga membetulkan dasi kendor putranya.


"Ck! Ribet Mom!" Alih-alih mau dibetulkan, King yang selalu menunjukkan wajah sengak justru melepas dan meletakan dasinya di atas meja makan.


Dhyrga Miller tertawa. "Biasakan pakai dasi King. Nanti, kalau Papa sudah nggak ngantor, kamu yang menggantikannya," tuturnya.


King tergelak samar. "Dan di saat itu pula, pegawai Millers-corpora boleh ngantor dengan bikini, Daddy!"

__ADS_1


"Astaghfirullah!" Tak sedikit yang beristighfar, tak sedikit pula yang tersedak mendengar celotehan Asyraf King Miller.


"King..." Axel menegur. "Sopan sedikit."


Kiyai Zainy tertawa. "Anak muda memang suka becanda," ujarnya.


Mendengar itu, King menatap ayah dari Kakak ipar barunya. "Tidak Kiyai, King serius."


"Bicara sekali lagi King! Papa kirim ke asrama!" Axel menyela ketus.


"Pesantren kan saja anak badung begitu mah. Upsz..." Gadis berkerudung hitam menutup mulut yang kelepasan.


"Ning!" Zivanna menegur putrinya. Aisha memang suka ceplas-ceplos. "Maaf Ummi, Aish cuma berpendapat."


"Kau..." Bocah perempuan itu berhasil mengalihkan atensi King Miller. Ia melotot seperti menunjukkan ancamannya.


Bagaimana jika ayahnya benar-benar menganggap usul dari gadis itu ide yang sangat cemerlang, tamatlah riwayatnya.


'Pesantren? Cih!' Batinnya.


"King!" Sebelum perang dingin terjadi di antara anak-anak mereka, Liliyana memutus perkara dengan mengambilkan makanan untuk putranya. "Kamu suka ayam kan?"


King berdecak. "Selera King berubah Mom! Tiba-tiba, King pengen makan orang!" ia melirik sinis anak gadis Zivanna sedang Aisha tampak menarik ujung bibirnya.


...{[<<>>]}...

__ADS_1


...Gaess, maaf kalo sedikit, biasa part sensitif sering dijegal wkwk... Mohon sabar nunggu part berikutnya yaaa... Oya, sambil nunggu, jam 00 malam ini, ada karya baru yaaa... hihi... Thanks doa kalian semua....💋❤️💋❤️...


__ADS_2