
Cuaca tak menentu, sedang sulit ditebak, seharian ini cerah, lalu tiba-tiba awan hitam pekat bergumpal gumpal.
Belum lama Emyr dan Khaira masuk ke mobil, hujan tercurah deras. Baru saja keduanya melipir ke tempat peristirahatan; menunaikan ibadah sholat Maghrib, sekaligus istirahat makan.
Satu Minggu setelah resepsi pernikahan, Khaira ikut pulang ke kampung halaman suaminya, dengan SUV yang dikendarai Emyr sendiri.
Mereka sengaja tak bersama pengawal atau pun pelayan Tuan Axel. Keduanya sepakat, menikmati mudik bulan madunya layaknya orang-orang di luar sana.
Khaira menilik ke atas, tampaknya hujan kali ini akan lebih lama dari hujan kemarin. "Masih jauh kah dari sini?" Perempuan itu beringsut menatap suaminya yang bergeming di depan setir sembari mengamati hujan sekitar.
Khaira tersenyum, entah kenapa Emyr akhir akhir ini, selalu terlihat seksi. Rambut yang masih pendek, mata yang redup, bibir yang penuh, kulit yang jernih, juga paha kokoh itu.
Ah, semuanya terlihat seksi. "Emyr..."
"Yank." Emyr berjingkrak kaget, ketika tiba-tiba sebuah sentuhan sampai pada paha dan bagian sensitifnya.
Wanita itu tersenyum nyengir, ini kesekian kalinya Khaira menggoda iman Emyr dengan elusan dan usapan di bawah sana.
"Ngapain?"
"Mumpung hujan, sepi juga." Khaira menggeser duduknya hingga nyaris tak bersela. Terakhir, ia duduk di pangkuan Emyr yang agaknya tersentak dengan aksinya.
"Apa?" Emyr menelan sulit ludahnya, menatap serius raba tangan Khaira yang merayapi dada bidangnya. "Ya salam...," gumamnya.
"Ini tempat umum, Sayang." Emyr celingukan, memastikan sekitar mobilnya tak ada manusia yang mengamati mobil mereka.
Belum lagi, lampu dalam yang menyala akan membuat orang-orang di luar lebih bisa melihat kegiatannya. Walau hujan, tetap saja ini tempat umum.
Sementara tak dielakkan lagi, bagian intinya mengeras menerima rangsangan Khaira yang sebegitu kuatnya. Terlebih, cuaca cukup mendukung kegiatan romansa istrinya.
"Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini?" Sesekali terpaksa membalas pagutan Khaira, tapi sebisa mungkin menghalau gelenyar yang Khaira transfer padanya.
"Khai mau di sini, sekarang." Emyr meremang bahkan sampai mengedik kegelian menerima bisikan menggoda istrinya.
Emyr beristighfar lirih. "Ngapain hmm?"
Emyr tekan kepala Khaira, memeluknya dengan kelembutan. "Sebentar lagi sampai, di rumah, kamu boleh lakukan apa pun," bisik berat yang meredam.
Emyr bukan laki-laki yang akan menuruti kemauan aneh Khaira. Bercinta di dalam mobil, bisa saja dilakukan, tapi tidak di tempat umum seperti ini.
Emyr peka, ada yang berbeda dari istrinya, ada hal yang sepertinya bukan atas kendali istrinya. Ada dorongan yang memicu hasrat Khaira lebih menyala-nyala.
Khaira memberengut. "Maunya di sini, Hubby. Aku mau," rengeknya.
__ADS_1
Emyr tergelak kecil, di saat seperti ini, bisa saja Khaira menyebutnya Hubby. "Jangan ngerayu." Dia belai pucuk kepala Khai lalu mengecup keningnya.
Khaira terdiam di atas pangkuan Emyr, menyandar kepala di leher, berusaha meredam hasrat yang tengah menggebu menggebunya.
Sudah satu Minggu ini Khaira bersikap agresif. Dan Emyr tak pernah menolaknya, tapi tidak di sini dan saat ini.
Sepuluh menit Emyr menenangkan gairah istrinya, hingga hujan pun mereda. Emyr kembali merayu Khaira agar mau duduk kembali di kursinya.
Mereka masih perlu melanjutkan perjalanan yang hanya perlu waktu setengah jam lagi saja dari tempatnya beristirahat.
...{[<<>>]}...
Sejauh mata memandang, Khaira mengingat masa lalunya. Tempat yang sama, desain yang sama, juga suasana ramai yang sama.
Di sepanjang koridor, Khaira mendapati para muda mudi berbusana santri, mereka terlihat menikmati waktu malamnya.
Beragam aktivitas pun bisa Khaira lihat di setiap sisinya; ada yang merapal sesuatu hapalan, ada yang membaca kitab suci, ada pula yang tengah mendapat Ta'zir (hukuman).
Bedanya, hari ini kedatangan Khaira disambut apik oleh para pengurus pesantren. Sebab, Dhiya Khaira, sudah menjadi istri dari Gus tampan mereka: Emyr dzemir.
Kamar masa kecil Emyr, tempat yang Khaira naungi saat ini. Sembari menunggu Emyr keluar dari kamar mandi, Khaira berkelana dengan apa saja yang ada.
Mata Khaira berpencar, menyimak setiap inci dari kamar yang hanya berukuran empat kali enam untuk luas kamar yang sudah termasuk kamar mandi kecil di sudut tempat.
Hanya ada satu ranjang Queen size, satu lemari dua pintu, satu meja belajar yang bisa dilipat dan semuanya terbuat dari kayu jati ukiran Jepara.
Emyr bilang, tak pernah ada yang dirubah dari kamar ini, selalu sama dari tahun ke tahun. Dan semenjak Emyr kuliah, kamar ini sudah jarang ditempati.
Seakan tak puas melihat buku-buku usang Emyr, Khaira juga mendekati sebelah dinding yang dihiasi foto-foto masa kecil Emyr.
Khaira tersenyum seraya menyisir deretan foto-foto transformasi Emyr dari tahun ke tahun.
Semua foto Emyr sebelum kuliah, masih tampak manis, dan yah, harus diakui Emyr yang paling tampan dibanding santri lain.
"Sayang..." Khaira melirik ke belakang. Kalau bisikan mesra itu sudah merangsek di telinganya, Khaira siap dengan langkah berikutnya.
Emyr datang dengan handuk yang melilit di pinggang berototnya. "Sebelum isya," ajaknya.
Khaira hanya tersenyum saat pria bergelar suami itu menanggalkan penutup kepalanya, ia mendongak pasrah menerima kecupan kecupan lembut di kulit kulit lehernya.
"Gus..."
"Hmm?"
__ADS_1
"Khaira laper."
Sontak, Emyr memberhentikan kecupannya, menatap kesal perempuan itu. "Jadi mau anu dulu apa makan dulu? Tadi maksa-maksa."
Khaira terkikik. "Maunya anu, tapi kalo laper gimana bisa konsen?" Sudah makan di tempat peristirahatan, tapi Khaira sudah merasa keroncongan.
Emyr mendengus, sudah siap dengan kekuatan penuh, lalu Khaira menciutkan gejolaknya.
"Makan dulu. Laper." Khaira kecup bibir Emyr, berusaha meredakan kekesalan lelaki itu, meski Khaira tahu, milik Emyr sudah dalam mode tempur. "Gih, beliin makan, kayaknya martabak telor di depan pagar tadi enak deh."
Tercengang, Emyr mengernyit. "Sejak kapan Sayang makan lemak-lemak gitu?"
"Baru mau, makanya cepetan, Emyr." Khaira lantas meralat panggilannya dengan sebutan 'Hubby'. "Ayok, cepetan...," rengeknya manja.
"Iya..." Berwajah tak bersemangat, Emyr membetulkan handuknya, kemudian meraih pakaian dari dalam lemari kayu miliknya untuk lantas dikenakannya.
Melipat tangannya di depan dada, Khaira duduk mesam-mesem, matanya terpaku kagum, mengamati seksama makhluk rupawan itu dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
Emyr di matanya saat ini, seperti bukan Emyr yang dia kenal selama ini. Kemeja putih dengan bawahan berlapis kain sarung yang juga putih, serta peci hitam di kepalanya.
Seketika aura lelaki itu berubah setelah mengenakan pakaian santrinya. Bukan sepatu sneaker, melainkan sendal jepit hitam yang Emyr pakai.
Sepertinya, pakaian inilah yang biasa Emyr sandang ketika sudah berada di lingkungan pondok Abah-nya. Emyr sang jaksa seakan tak terlihat lagi, hanya ada Gus Emyr di sini.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Mata Emyr mengikuti arus tatapan Khaira yang menyisir sekujur tubuhnya. "Ada yang salah?"
"Ganteng." Satu kata Khaira yang membuat Emyr membuka pecinya lalu menggaruk kepalanya, tersanjung.
"Gus! Assalamualaikum!" Ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya. Dan Emyr membukanya setelah istrinya mengenakan jilbab.
Rupanya, salah seorang santri yang berdiri di balik pintu kayunya. "Waalaikumusalam." Pelan Emyr menjawab.
Pemuda itu menyengir. "Gus..., Gus Emyr di suruh datang ke Abah. Katanya disuruh makan bareng-bareng sama tamu tamu Abah Kiyai di depan," ucapnya medok.
Emyr menatap Khaira yang memberikan jawaban persetujuan dengan mengangguk, lalu kembali ia mengalihkan anggukkan kepala pada pemuda itu.
"Bilang ke Abah. Nanti, kami ke sana."
"Nggeh, Gus." Pemuda itu pergi, dan Emyr menutup pintu kamarnya kembali.
Di atas ranjangnya, Khaira menghela dalam lalu menatap lekat suaminya. "Aku harus terbiasa dengan budaya di sini kan, Yank?"
Emyr tersenyum, langkah pelannya mendekati Khaira, menarik lembut kepalanya, memberi kecupan manis di pucuk Khimar wanita itu.
__ADS_1
Emyr tahu, masih ada sisa trauma yang bersarang di ketakutan Khaira. "Jangan takut Shanshan... Sekarang, tidak ada yang akan menghina mu lagi. Aku janji."
📌 Hai mentemen, kemarin aku cuekin Emyr, maaf banget...