
"Apa Kak Ziva tidak sekalian tinggal bersama kami saja?" Khaira menatap Zivanna penuh kepedulian.
Keduanya duduk di sofa ruang tamu rumah lama Emyr yang saat ini ditempati Zivanna dan Aisha. Sambil menyortir undangan pernikahan, mereka berbincang-bincang.
Teror sang mantan memang masih belum usai, tapi untuk sementara ini Ziva dan Aisha masih aman di tempat barunya. Terkecuali, jika mantan suaminya sudah tahu keberadaannya, mungkin akan beda cerita.
Zivanna tersenyum. "Tidak perlu Khai, kami lebih nyaman tinggal berdua, insya Allah, di sini juga aman kok."
"Tapi, kalau perlu apa-apa, nomor Khaira aktif dua puluh empat jam. Nomor Mas Emyr juga pasti siaga untuk Kakak dan Aisha."
Zivanna menyentuh lengan adik iparnya, ternyata ini yang membuat Emyr begitu menginginkan Khaira, selain cantik dia juga sangat baik. "Pasti Khai."
...{[<<>>]}...
Layaknya seorang wali murid, Emyr dan Khaira mengantar Aisha ke sekolah barunya.
Pendaftaran sudah dilengkapinya kemarin, maka untuk hari ini, Aisha sudah bisa masuk seperti murid-murid yang lain.
Dari jok belakang, Aisha mencium punggung tangan Emyr lalu beralih ke Khaira, sebelum kemudian ia turun dari mobil hitam tersebut.
Emyr tersenyum, menatap keponakannya dari balik kaca jendela. "Kalau ada apa-apa, hubungi Pak Lek, Ummi, atau King."
Aisha memutar maniknya heran, kenapa harus ada nama King di list peserta penjaga dirinya. Padahal semua tahu, pemuda itu sangat tidak layak dijadikan andalan, selain arogan, jutek, bicaranya nylekit, King juga sombong level dewa.
Apa pun itu, Aisha tersenyum melambaikan tangan pada mobil paman dan bibinya yang kian melaju menjauh darinya.
Segera ia bersiap masuk ke dalam gedung yang disebut-sebut sekolah internasional termahal se-Jakarta.
Pandangannya lantas berpencar, melihat-lihat seisi halaman sekolah barunya. Masih sedikit siswi yang berhijab, jika diakumulasikan, mungkin tidak ada sepuluh persennya dari yang tidak berhijab.
Memang agak kontras dengan sekolah sebelumnya, dan saking minoritasnya, dari tatapan mata siswa lain pun jadi lebih terkesan menyorotinya.
Tak apa, Aisha yakin, dua tiga hari ke depan ia menjadi tidak penting bagi mereka yang saat ini menatapnya penuh tanya.
Dia yakin, dia akan aman dengan atau pun tanpa King yang menjaganya. Namun, belum ada sepuluh langkah ia menginjakkan kakinya di sana, beberapa siswa senior mengarahkan dirinya untuk berkumpul di sisi lapangan.
__ADS_1
Aisha menukik alisnya tajam, seingatnya ini bukan hari besar, bukan hari Senin, bukan pula hari yang perlu mengadakan upacara.
Lalu, kenapa ada para senior yang mengumpulkan banyak murid di sisi lapangan? Dan sialnya salah satunya dirinya.
"Selamat bergabung di sekumpulan murid yang sedang digojlok." Perempuan di sisinya membisikan sambutan hangat.
Seketika, Aisha terpaku melihat senyum datar cewek tersebut. "Digojlok?"
"Ini tradisi." Lagi, gadis itu berbisik. "Untuk murid baru di sini, kita wajib menjalankan aturan yang dibuat senior, selama kurang lebih satu bulan, dan masa gojlokan ku sudah tinggal dua hari lagi," tambahnya senang.
Aisha bergeming menatap binar itu, dari raut bahagianya; bisa dilihat betapa traumanya gadis itu selama satu bulan ini. Lalu, apakah se- mengerikan itu?
Jadi rupanya, tak hanya dirinya yang masuk di pertengahan semester. Ada banyak murid pindahan yang sudah lebih dulu darinya, dan semuanya mendapat gojlokan.
"Ya Allah, tolong Aisha." Belum lagi reda getaran di sekujur tubuhnya, senior wanita yang terlihat paling galak di antara lainnya mendekatkan langkah padanya.
Aisha gugup hingga tanpa sadar meneguk saliva tepat dihadapan gadis itu. "Kau, Aisha kan?" tanyanya.
"I-iya Kak..." Aisha mengangguk. Dia juga menunduk, jadi begini kah yang namanya peloncoan, lantas, apakah seseram yang diberitakan selama ini?
"Kau boleh masuk ke kelas mu."
Aisha sumringah, tapi kemudian ia berpikir, apakah ini bagian dari gojlokan yang disiapkan oleh seniornya? Senyum yang tadi sempat mengembang, seketika kuncup.
"Oh, jadi itu gadisnya King?"
"Mungkin calon tunangannya."
Berwajah gamang Aisha melirik kiri dan kanan. Mendadak, Aisha merasa menjadi buronan seantero gedung persekolahan.
Di mana-mana semua mata tertuju padanya dengan bisik-bisik yang masih samar-samar terdengar telinganya. "Ini beneran cewek King?"
Aisha melotot, ia terpaku bingung, apa yang barusan dibicarakan mereka? Cewek King?
Ia terus berjalan meski pelan, menerobos kerumunan yang terbuka seiring ayunan langkahnya.
__ADS_1
Masih berani dia merotasikan pandangan. Yang mana semua orang terlihat menerbitkan senyum, tapi lebih terkesan terpaksa tiada ketulusan.
Sampai tiba langkahnya di majalah dinding yang dikerumuni oleh para siswa-siswi. Aisha melenggangkan maniknya ke arah sana.
Daebak...
Dia terpaku dengan keterkejutannya. Foto wajahnya terpampang nyata di paling atas dinding dengan keterangan di bawahnya: Anak ini milik King.
Aisha bergeming dengan pandangan yang mengitari sisi-sisi tubuhnya. Tidak salah lagi, dia dikecualikan dari gojlokan karena alasan ini. Dirinya diklaim sebagai kepunyaan King.
"Aisha, kelas mu di sini." Aisha shock, bahkan, murid yang terlihat sangat cantik dan tampan sudi menunjukkan jalan padanya.
"Aisha, tempat duduk mu di sini." Oh tidak, Aisha semakin tak bisa berkata-kata, tempat duduknya pun sudah disiapkan siswa lainnya.
Terlalu lebay mungkin, tapi napas Aisha tercekat seakan oksigen di lingkungannya telah terkikis. Oya, jadi se- berpengaruh itukah nama King Miller di sekolah ini? Pantas saja, gelagat songongnya tidak tertolong.
Di tengah gamangnya, Aisha duduk sambil menyunggingkan senyum kaku yang lebih terkesan keki, pada semua teman satu kelas barunya.
Tak berselang lama, semua siswa dan siswi ikut tergesa-gesa duduk di masing masing kursinya; Aisha pikir mungkin ada guru yang datang, sampai di detik berikutnya, ia baru paham, bukan guru atau sejenisnya yang membuat kelas mereka tenang, melainkan pesona King Miller.
Pemuda berjaket hitam itu mengayun langkah ke arahnya. Sekilas iris legamnya bertemu dengan manik biru tersebut.
Keberadaan King, bukan untuk menegur, menyapa, atau pun berbasa-basi padanya, melainkan duduk di kursi yang terletak tepat di belakangnya.
Keheningan kelasnya benar-benar membuat Aisha merinding. Jadi apa saja yang sudah King lakukan selama ini, sampai semua murid seolah tunduk padanya.
Mungkinkah King sejenis Sumanto?
Penasaran membuat Aisha menoleh sedikit, lalu mengerlingkan matanya ke belakang, di sana, King tampak tenang dengan posisi menyandar, tangan bersedekap juga mata yang terpejam.
Klik....
Pesan teks mengejutkannya. Aisha sampai mengangkat seluruh bahunya karena terlalu histeris pada keadaan sekitar. Emyr yang mengirimkan chat padanya.
📩 {Gimana Nduk? Aman kan? Kamu tidak dibully kan? Ingat ya, kalau ada apa-apa, jangan segan bicara...}
__ADS_1
Aisha melayangkan desah ke udara. Sumpah demi tas barunya, dia lebih suka dibully daripada diperlakukan seperti ini.
Rasanya terlalu aneh, dia merasa sudah ada stempel bertuliskan milik King Miller di wajahnya yang sekarang.