Surga Tak Terindu

Surga Tak Terindu
Tugas istri... Modus...


__ADS_3

Selesai shalat Maghrib, Emyr tak melihat Khaira di belakangnya. Hanya ada mukena yang masih teronggok di atas sajadah.


Usai mengemasi seperangkat alat shalat yang barusan dipakai, Emyr keluar. Langkah gagahnya menuju ke dapur, tempat di mana suara kelontangan terdengar ramai.


Emyr tersenyum. Benar rupanya, Khaira tengah berkutat dengan kontainer-kontainer yang berisi masakan jadi buatan Ummi.


"Yank...," sapanya. Ia mengangkat satu persatu kotak kontainer transparan yang kemarin dikirim Ummi-nya. "Kamu ngapain?"


Khaira mendengus kesal. "Khai mau ngangetin masakan Ummi buat buka puasa kamu, tapi nggak bisa bukanya," cemberutnya.


Seketika Emyr menahan tawanya, sudah sebesar itu, Khaira bahkan tak bisa menangani dapur di rumahnya.


"Kamu ngapain ketawa gitu?" Sudah kesal oleh ketidak biasaan-nya, kini tawa Emyr menambah sungut di kepalanya.


"Biar aku saja." Emyr mengambil alih pekerjaan Khaira. "Sayang duduk gih," titahnya.


"Tapi Khai juga pengen bisa."


"Sudah..." Emyr menyuruh istrinya duduk di kursi yang menghadap dapur mereka. Lalu, mulai membuka kontainer yang sedari tadi hanya di utak-atik Khaira.


Sesekali, Emyr melirik Khaira yang menopang dagu dengan kepalan tangan, menatap dirinya secara melekat. "Apa yang Sayang lihat?"


Khaira tersenyum. "Kamu ganteng," pujinya.


Emyr terkekeh, ia sedikit menunjukkan tengilnya dengan mengangkat kedua kerah t-shirt putihnya. Dan itu berhasil membuat Khaira tertawa renyah.


Tak berselang lama, bel pintu berbunyi nyaring. Tanpa pikir lama, Khaira yang bergegas membukanya, tentunya setelah ia mengenakan jilbabnya.


"Assalamualaikum Khaira..."


Bibirnya tersenyum ramah, rupanya Ummi, Abah, dan satu lagi perempuan yang sepertinya adik Ummi. Mereka sengaja datang menyatroni rumah barunya.


"Waalaikumusalam."


Khaira mempersilahkan para mertuanya masuk. Mereka langsung menuju meja makan yang sekaligus terhubung dengan dapur.


Emyr sudah selesai menghangatkan masakan kiriman Ummi-nya. Bahkan sudah selesai mengemasnya di piring saji.


"Ummi bawa makanan loh, Khai." Ummi meletakkan beberapa kotak yang dia bawa, di atas meja makan panjang.


Tak seperti dulu, Kiyai Zainy bisa melihat kebahagiaan istrinya kali ini. Akhir akhir ini, Ummi jarang sakit-sakitan, sepertinya Ummi sudah ikhlas atas jodoh putranya.


"Terima kasih Ummi, sudah repot-repot, padahal rendang yang kemarin saja masih banyak." Khaira tak nyaman. "Itu Mas ajah lagi ngangetin yang Ummi kirim kemarin."


Lagi, Emyr menahan tawanya. Rasanya aneh saat Khaira menyebutnya dengan sebutan Mas, dia lebih terbiasa Emyr atau Sayang.


"Jadi kamu yang siapin makan Gus?" Adik Ummi, Bibik Emyr tiba-tiba menyeletuk dengan nada tak sewajarnya; seperti meremehkan Khaira.


Mendengar itu, seketika Khaira meredup ekspresi. Masih jelas ia ingat, wanita yang bicara itu, wanita yang sama, yang ikut mencaci dirinya saat pertama kali dia datang ke pesantren.


"Uuuh, beruntungnya kamu Dek Shanshan, bisa dapat suami sama mertua yang pengertian begini."


Wanita yang belum diketahui namanya oleh Khaira itu kembali menyerocos. "Jarang loh, ada mertua dan suami yang mau menerima apa adanya."

__ADS_1


Khaira menunduk, Emyr tahu, Khaira tak nyaman dengan kalimat sindiran halus bibiknya. Apa adanya, kalimat yang sangat tidak sopan.


"Koe salah," sela Ummi.


"Seng bener kui, Mbak yu mu iki seng beruntung bisa jadi mertuanya, apa lagi Emyr, dia sangat beruntung bisa dapat Khaira, sudah cantik, baik." Ummi menatap putranya. "Iya kan Emyr?"


Emyr tersenyum, ia bersyukur, kali ini Ummi tidak ikut menghardik Khaira, melainkan mau membelanya. "Benar..., Emyr yang paling beruntung dari semua suami yang ada di muka bumi ini, Ummi," jawabnya bangga.


Abah tersenyum, akhirnya keluarganya bisa memiliki jalan yang sama: Harmonis. Begitu pun Khaira yang juga tersenyum menatap haru suaminya.


Sementara adik Ummi Fatimah, hanya diam tak lagi menyahuti perkataan mereka. Dia tahu, kali ini Abah dan Ummi Emyr, sudah sangat menyukai Khaira.


"Yo wes, saiki kita makan sama-sama. Kebetulan, Abah kalian juga belum buka puasa." Ummi lalu menatap menantunya.


"Ayok Khaira, Ummi sengaja simpan tenaga yang banyak, cuma buat masakin kamu sama Emyr. Sup ini bagus loh buat kesuburan. Semoga, kalian cepat kasih Ummi cucu lagi."


"Aamiin...," sambung Abah. Dia yang paling berharap, Emyr memberinya cucu laki-laki. Sebab, semua cucu dari Hilman dan Zivanna berjenis kelamin perempuan.


...{[<<>>]}...


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Emyr baru menyelesaikan rapat zoom bersama rekannya.


Di atas ranjang pengantin barunya, Khaira meringkuk berselimut, dengan mata yang terbuka kosong. Bukan tertidur, jelas, Khaira tengah asyik melamun.


"Sayang kenapa?" Emyr masuk ke dalam selimut, menilik wajah Khaira, lantas memeluknya dari belakang. "Belum tidur?"


Khaira menggeser tubuhnya, agar bisa menatap suaminya. Sejumput rambut yang menutupi sebagian wajahnya, di singkirkan tangan damai Emyr-nya.


"Aku takut, Emyr."


"Khai takut, selamanya Khai nggak bisa jadi istri yang baik buat kamu. Kamu lihat sendiri kan, masak ajah Khaira nggak bisa." Gadis bersuami itu memberengut.


Emyr terkekeh santai. "Sayang... Istri yang baik tidak harus pandai memasak bukan?"


Khaira tahu, Emyr berkata demikian hanya untuk menghibur dirinya. "Boleh Khaira tanya masa lalu mu?" tanyanya, Emyr mengangguk.


"Adeeva bisa masak?" Emyr kembali mengangguk. "Kamu suka masakannya?"


"Hmm." Kembali, Emyr mengangguk untuk mengiyakannya. Bohong, jika Emyr berkata tidak, karena nyatanya dia merasa Adeeva pandai menyenangkan perutnya.


Mengetahui hal itu, tentu membuat Khaira semakin hilang kepercayaan dirinya. "Aku bahkan nggak bisa membuka kontainer dari lemari es."


Emyr tertawa sedikit kelepasan. "Bukan itu tujuan menikah kan,? Karena yang wajib menafkahi itu suamimu, Sayaaang."


Khaira mengerucutkan bibirnya.


"Kalau istri tidak bisa masak, tidak bisa mencuci, tidak bisa berbenah, dan suami mampu membayar sewa pelayan, why not?"


"Kecuali, suamimu sudah banyak pekerjaan di luar, sementara gajinya pas-pasan, istri boleh membantu meringankan beban suaminya, dengan memasak sendiri, mencuci sendiri dan lain sebagainya. Itu semua dihitung ibadah tersendiri bagi si istri."


Khaira mendengus. "Itu karena kamu pernah tinggal di luar negeri! Makanya bilang begitu!"


Emyr terkekeh. "Hey, yang kita bicarakan tadi, itu hukum fikih, Sayang." Dia menyisir seluruh wajah Khaira dengan telunjuknya, dari dahi, hidung, hingga ke dagu. "Kamu mau tahu kewajiban istri apa?" tanyanya berbisik.

__ADS_1


"Hmm," angguk Khaira.


Emyr menyengir seraya membuka satu kancing piyama istrinya. "Salah satu tugas istri, paham dalam urusan ranjang."


Khaira tergelak kecil. "Aku mencium manipulasi di sini," tukasnya.


Emyr terkikik. "Beneran. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda; Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu shubuh'. Itu hadis riwayat Bukhori Muslim. Lalu, letak manipulasinya di mana?"


"Okay Khai percaya, tapi Khai lebih percaya, kamu pakai hadist ini buat modus!"


"That's not a problem, kamu istri ku!" sanggah Emyr seraya tergelak. Dia meneruskan membuka kancing di bawahnya, sampai tak sehelai pun benang yang Emyr sisakan di kulit-kulit mulus istrinya, juga dirinya.


Khaira tersenyum-senyum, pantas saja ekspresi Emyr saat menemukan mukena di tasnya berbeda. Jadi rupanya, ada udang di balik baskom.


"Jadi gimana? Siap bertugas?" Emyr berbisik mesra.


Khaira meremang mendengarnya, selain pasrah pada perlakuan suaminya, Khaira tak memiliki cukup alasan untuk menolak. Khaira terpejam, merasai kecup demi kecup yang menyisir seluruh lekukan raganya.


Tatapan mata damai itu terus menuju manik biru Khaira. Ada ketulusan, juga kegilaan yang menghiasinya. "Aku mencintai mu."


Khaira menaik turunkan dadanya. Dada yang dikuasai Emyr-nya. Dan di awali dengan basmalah, Emyr mulai melangsungkan aksinya.


Telah lama ia memimpikan hal ini, dan kesempatan malam ini takkan ia sia-siakan lagi.


"Ahh eugh!" Khaira tersentak, kini raba tangan Emyr sudah berani menyinggahi milik paling berharganya. Di balik selimut, sentuhan Emyr begitu menggila.


Khaira terbelalak, setelah cukup membuatnya gila akan kecupan dan remasan liarnya. Emyr menambahi kadar romansa mereka dengan membuka pelan-pelan segelnya.


Tak ayal, Emyr lulusan kedokteran, dia paham benar apa yang harus dia lakukan, agar tidak meninggalkan rasa nyeri yang berlebihan.


Lama memang, tapi ia harus bersabar. Karena baginya, kenyamanan Khaira prioritas paling utama. "Emyr!" Tapi yang namanya selaput dara, pasti berakhir sakit jika tersobek, Khaira menggeleng kesakitan.


"Relax, aku pelan-pelan." Emyr berbisik kembali. "Meski ini yang pertama bagiku, aku harap aku tidak menyakiti mu," ia mengerang kecil, lalu menderu dera napas yang mengacau.


Di tengah gemuruhnya Emyr, Khaira mengerut kuat keningnya. Apa yang Emyr bicarakan barusan? Pertama? "Maksudmu? Siapa yang pertama, Emyr?" desahnya.


Emyr terkekeh di sela usahanya. "Kamu yang pertama, aku sentuh seperti ini." Mata sedu itu menyejukkan Khaira.


"Lalu Adeeva?"


Emyr menggeleng. "Aku pernah bilang. Sedikitpun, aku tidak berpikir untuk menyentuhnya, aku hanya milikmu, Shanshan."


Dikecupnya mata Khaira yang menitihkan buliran keharuan. Khaira tersanjung, bahkan sampai delapan bulan menikahi perempuan lain, Emyr tetap setia padanya; menjaga, keutuhan perjakanya.


"Agh!" Lolos sudah pekikan yang Emyr tahan, ia menjatuhkan peluh dari pelupuk matanya, lalu mengenai bibir bergetar Khaira.


Emyr tahu itu tangis bahagia, kali ini ia takkan melarang istrinya menitihkan air mata. Gadis itu sudah dijadikan wanita olehnya.


Seakan tak peduli tangisan Khaira, Emyr melanjutkan tugas malam untuk yang pertama kalinya ia laksanakan.


Di bawah selimut tebal, keringat keduanya berbaur menjadi satu. Lenguh dan deritan ranjang, menjadi yang paling dominan di antara suara lainnya.


Sesekali Khaira mengeluh sakit, tapi tak jua dipungkiri, walau sesakit apa pun itu, tetap lebih banyak rasa nikmat yang membuat Khaira tak mau mengakhirinya.

__ADS_1


Bermenit-menit lamanya, berkali-kali aksinya. Semaleman ini, Khaira terus memandu Emyr, untuk tetap meneruskan gesekan-gesekan brutalnya. Bunga itu tidak layu, melainkan mekar...


...Bab ini sudah berkali-kali aku revisi, akhirnyaa bisa juga...😪...


__ADS_2